
"Ganti." Satu kata yang keluar dari mulut Ray seketika membuat Ella mendelik.
"Apa coba yang salah sama baju aku? Udahlah ini aja, kalo ganti nggak bakal sempet. Aku udah telat, Kak Ray," ujar Ella dengan wajah kesal.
"Ganti. Nggak ada bantahan," tegas Ray.
"Aku udah telat, Kak Ray ...."
"Telat bagaimana? 'Kan dosennya masih disini."
"Loh, bukannya hari ini ada kelas pagi?"
"Siang." Ray menarik Ella untuk duduk di ranjang.
"Bukannya kemarin, Kak Ray bilang pagi?" Ella menatap Ray yang sedang mengukungnya.
"Hm, tapi kakak ubah lagi jadwalnya jadi siang." Tangan nakal Ray mulai menjamah benda-benda yang tercetak dan juga menonjol.
"Kak Ray mau apa?" Ella menahan kedua tangan Ray yang mulai tidak bisa di kondisikan.
"Semalem 'kan kamu ke tiduran, padahal kakak mau minta jatah. Ya udah ganti sekarang aja," jawab Ray yang mulai terbakar gairah.
"Tapikan aku udah mandi, udah rapih lagi," keluh Ella.
"Tinggal mandi lagi aja, nanti kita mandi bareng."
Ella tak bisa berkata lagi, dia sudah pasrah dengan apa yang di lakukan oleh suaminya. Menolak pun percuma, karena Ray tidak akan ke habisan akal untuk membujuk sebelum dia mendapat apa yang dia inginkan. Jadilah pagi itu mereka awali dengan pagi yang panas.
*************
"Udah?" Ray yang sedang duduk di kursi kemudi menatap sang istri yang baru saja masuk ke dalam mobil.
"Udah, lega banget. Tiga bayi udah aku susui, Kak Ray," ujar Ella dengan tersenyum simpul.
"Tiga? Bukannya anak kita dua?" heran Ray.
"Emang anak kita dua, tapi aku punya bayi gede. Mana dia rakus banget lagi," sungut Ella.
"Hmm, tapi lebih enak ngasih nen bayi gede 'kan? Geli-geli gimana gitu, bener nggak?" goda Ray.
"Au, ah! Cepetan jalan. Nanti kita telat!" sembur Ella.
Ray pun hanya terkekeh kecil saat melihat wajah sang istri yang nampak begitu kesal. Kemudian dia menyalakan mesin mobil dan melakukannya menuju ke kampus.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kampus, seperti biasa. Ray akan menggandeng tangan Ella menuju ke dalam gedung kampus yang tinggi menjulang itu. Sekarang mereka tidak perlu kucing-kucingan lagi saat bertemu. Bahkan Ella sering kali masuk ke dalam ruangan Ray secara terang-terangan di saat jam istirahat.
"Ciee yang punya rumah baru," ucap Ella saat dirinya masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
"Iya dong, tau nggak, Ell. Aku tu seneng banget," ujat Dela dengan wajah yang berseri.
"Gimana rasanya di kasih kejutan yang begitu memacu adrenalin hati?" tanya Ella sembari mendudukan bokongnya di kursi.
"Campur aduk banget, Ell. Pertama aku di buat kesel, sedih, marah dan galau yang berkepanjangan. Lalu aku di buat kaget, bahagia dan juga ah! Pokonya nggak bisa di ungkapin dengan kata-kata deh," seru Dela antusias.
"Meski si Kia yang jadi korban ya? Wkwkww." Ella menatap ke arah Kiana yang sedang mengerucutkan bibirnya.
"Hehe, maaf ya, Ki. Aku udah nuduh kamu yang enggak-enggak." Cengir Dela.
"Huuh, nggak pa-pa. Udah resikonya berperan jadi pelakor. Lagian si duo curut ini, ngasih ide yang nggak-nggak. Mana aku ikut terlibat lagi," gerutu Kiana sambil menatap Diego dan Alvin yang nampak begitu santai.
"Latihan, Ki." Diego terkekeh pelan.
"Latihan apa? Latihan jadi pelakor maksudnya?" Kiana melotot.
"Lah bukan, latihan pentas drama maksud gue."
"Gue penasaran deh, kok bisa kalian terlibat dalam rencana ini?" Ella menatap ke arah Duo curut.
"Jadi 'kan awalnya, Bang Galang cuma meminta Kia untuk buatin desain rumah sekaligus taman yang sekiranya si Dela sukai. Secara 'kan si Kia jago desain. Terus pas semingguan pasca, Bang Rendi meninggal. Bang Galang baru sadar kalo si Dela bentar lagi ultah. Nah dia nanya sama kita berdua, surprise apa yang kira-kira bakalan bikin si Dela berkesan. Pokonya dia pengen surprise yang beda," ujar Diego.
"Dan lo ngasih ide rencana itu?"
"Iya, tapi gue ngasih ide itu setelah denger curhatan, Bang Galang. Kalo dia itu nggak pernah di cemburuin sama ni anak." Diego menoyor kepala Dela.
"Sakit oncom!" bentak Dela.
"Gila sih emang, malahan gue sempet ngira di antara, Galang sama Kia ada main," ucap Ella.
"Kalo butuh ide buat surprise, kalian bisa minta bantuan kita. Di jamin nggak akan kecewa," ujar Diego.
"Ogah!" Ella mendelik.
Obrolan mereka terhenti manakala Ray datang, seperti biasa. Dia akan datang dengan wajah yang datar tanpa ekspresi apa lagi senyuman. Tetap saja meskipun begitu Ray selalu terlihat tampan, di tambah lagi dengan karisma dosen muda itu yang tak pernah memudar.
"Sayang, tolong kamu bagiin tugasnya, ya. Kakak mau meriksa ini dulu bentar," ucap Ray kepada sang istri tanpa ragu di hadapan para siswa/siswinya.
"Asiap, Bapak dosen." Ella bergegas mengerjakan perintah dari dosen sekaligus suaminya itu.
"Bu dosen boleh nyontek nggak?" ucap Alvin bercanda.
"Boleh... Boleh banget malah. Tapi kamu pulangnya bakalan nggak bawa kepala ya." Ella tersenyum manis.
"Kejem amat, Buldoser!" Cibir Alvin.
"Nggak usah banyak cingcong, kerjain aja napa tugasnya. Sebelum elo yang gue kerjain." Ella berlalu pergi dari samping Alvin.
__ADS_1
"Kamu udah cocok, Ell jadi dosen beneran," ucap salah satu siswa.
"Males gue, mending jadi dosen boongan aja," ujar Ella kemudian dia memberikan tugas pada siswa itu.
"Nih kerjain, jangan nyontek ya. Kalo nyontek tu jambul katulistiwa lo bakal ra'ib."
"Iya, iya. Di pikir gue anak SD apa pake nyontek segala."
Setelah selesai membagikan tugas, Ella pun duduk kembali di kursinya.
"Lapor, Doyang. Tugas selesai," seru Ella riang.
"Doyang?" Ray menautkan ke dua alisnya.
"Desen sayang." Cengir Ella.
"Bisa aja kamu." Ray tersenyum tipis.
"Senyum aja kali, Bapak dosen. Nggak usah di tipis-tipis gitu senyumnya kayak kembang tahu aja," ledek Ella.
"Nanti kalo kakak senyumnya lebar bisa gawat, Sayang," ujar Ray.
"Gawat kenapa?" tanya Ella.
"Nanti semua yang ada di sini bisa diabet," jawab Ray.
"Acieee, ternyata, Pak Ray bisa ngegombal juga," seru para siswi.
"Akhirnya... Kelas ini nggak bakal horor lagi," celetuk salah satu siswi.
"Di pikir ini kuburan apa?" Delik Ella.
"Kan sebelum ada kamu kelas ini tu hawanya begitu horor, apa lagi pas liat wajah datar, Pak Ray yang kayak vampir itu. Beuh, kita jadi merinding banget sumpah," ucap mereka blak-blakan.
"Kalian mau belajar apa gibahin saya?" Ray menatap mereka dingin.
"Nggak takut lagi kita, Pak. 'Kan sekarang bapak udah ada pawangnya." Mereka melirik ke arah Ella.
"Etdah, di pikir lakik gue monyet apa? Pake pawang segala."
Tak terasa satu jam telah berlalu dan pelajaran pertama telah usai. Merekapun berhamburan keluar dari kelas, ada yang ke taman, ke perpus, ada juga yang pergi ke kantin. Namun tidak untuk Ella, dia memilih pergi ke ruangan sang suami untuk makan siang bersama.
"Enak ya, jadi istri dosen? Bisa keluar masuk ruangan tanpa segan," ucap Misya saat Ella hendak membuka pintu ruangan Ray.
"Kenapa emang? Masalah buat lo?" Ella menatap Misya dengan bersidekap dada.
"Ya, nggak sih. Cuma lo nggak usah segitunya juga kali. Mentang-mentang istri dosen, jadi lo bisa berbuat seenak jidat." Misya berkata dengan sinis.
__ADS_1
"Seenak jidat? Emang jidat itu ada rasanya ya? Setau gue jidat itu hambar. Kalo keringetan baru berasa asin. Oh, gue tau! Menurut lo jidat asin itu enak ya? Ok, kalo gitu nanti pas jidat gue keringetan. Gue bakal nyuruh lo jilatin."
Jangan lupa like, Comen dan juga Vote. Jika suka dengan karya iniπππ