
"Abangnya lebih rakus, ya Ell," ucap Rina saat melihat bayi laki-laki Ella menyusu karena yang pertama kali menyusu tadi adalah yang perempuan.
"Lebih rakus Pipopnya, Mih." Ella terlihat sedikit meringis karna belum terbiasa menyusui.
"Asi nya masih dikit ya, Ell."Wina melihat bayi itu sepertinya kurang kenyang.
" Iya, Mam. Gimana ini ya? kasian baby nya pasti masih lapar,"ucap Ella cemas.
"Nanti kita tanya dokter Vivi ya, baiknya gimana. Kamu tenang saja jangan hawatir," hibur Rina.
"Iya, Mih." Ella tersenyum tipis.
Ceklek,
Pintu ruang rawat Ella terbuka, rupanya para pria sudah selesai sarapan di kantin rumah sakit. Hari memang sudah pagi, jadi perut merekapun sudah keroncongan, tapi ada bagusnya untuk Ella jika mereka keluar, karena dia bisa menyusui bayinya dengan leluasa.
"Sarapan nya kok belum dimakan sih, sayang?" tanya Ray yang kini sudah berada disisi Ella, dia melihat nampan berisi bubur yang di antar oleh Suster masih utuh.
"Belum mau, nanti aja," jawab Ella.
"Ya sudah, tapi nanti makan ya," ucap Ray yang dibalas anggukan oleh Ella.
"Hey boy, udah nyusu, ya." Ray menoel pipi gembul bayi pertamanya.
"Udah, rakus dia nen nya, kayak kamu," ucap Ella yang membuat pipi Ray memerah karna malu, bagaimana tidak, mertua dan orang tuanya kini tengah menatap kearahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Cantiknya Papah, sini Papah gendong." Ray menatap putrinya yang berada dalam gendongan Rina.
"Hati-hati Ray," ucap Rina yang tengah menyerahkan bayi itu kedalam gendongan Ray.
"Cantik banget, sih." Ray menimang-nimang bayi itu.
"Siapa dulu dong Mimomnya!" seru Ella bangga.
"Iya, Mamanya kan cantik ya." Ray tersenyum manis kepada Ella.
"Oh ya, Ray. Kamu udah nyiapin nama buat mereka?" tanya Samsul.
"Udah Pih," jawab Ray.
"Siapa?"Wina begitu penasaran.
" Azzam dan Azzura,"ucap Ray dengan bahagia.
"Azzam dan Azzura?" ulang Rina.
"Iya Mih, Azzam artinya kebulatan tekad dan Azzura adalah langit biru yang cerah. Jadi Azzam dan Azzura jika disatukan artinya menjadi kebulatan tekad untuk menuju langit biru yang cerah," tutur Ray.
"Bagus namanya," ujar Wina.
__ADS_1
"Azzam putra Wardana, Azzura putri Wardana," tambah Samsul.
"Nama yang cantik," puji Andi.
"Panggilan yang baby Zam dan baby Zura," sahut Ella dengan tersenyum riang.
"Setuju, iyakan baby Zura," ucap Ray pada baby Zura yang nampak tertidur dalam gendongannya.
"Dia tidur Ray, sini Mamih tidurin." Rina mengambil alih baby Zura untuk di baringkan.
Setelah baby Zura tertidur nyenyak, baby Zam juga ikut tertidur dan dibaringkan juga. Kini giliran Ray menyuapi Mimom Ell yang belum sarapan, Ella merengek tidak mau, karna buburnya tidak enak, tetapi karena Ray banyak akal dan juga punya banyak cara untuk membujuk sang istri, akhirnya Ella pun mau memakan bubur itu. Setelah buburnya habis, Ray membantu Ella meminum obat yang di berikan oleh dokter Vivi.
"Gak bisa nelen," Lagi-lagi Ella mengeluarkan obat itu dari mulutnya karna tak kunjung tertelan.
"Ya ampun dek, air aja abis seleter, tapi obat masih belum lu telen," cibir Satria yang memang sudah berada di ruang rawat kembali, karena tadi dia menjemput sang kekasih untuk dibawa kesini.
"Kalo susah, ya, susah. Abang gak ngerti sih," cemberut Ella.
"Udah jadi emak, masih aja kayak bocah lu." Satria mendudukan dirinya disopa yang tak jauh dari ranjang Ella.
Sementara para orang tua kini sedang keluar sebentar untuk mencari cemilan dan juga makanan lainnya buat menemani mereka berjaga nanti, mereka juga sekalian pulang kerumah untuk membawa baju ganti Ray dan juga untuk mereka tentunya. Di ruang rawat itu hanya ada Satria, Dalina, Ray, Ella dan juga twins A yang tengah tertidur pulas.
"Buka mulutnya," perintah Ray lembut dan Ella pun menurut.
Setelah mulut Ella terbuka, Ray pun langsung saja memasukan obatnya kedalam mulut Ella, dia juga memberi Ella minum. Setelah obat dan air itu sudah berada di dalam mulut Ella...
Ray membungkam mulut Ella dengan ciuman.
Glekk,
Ella yang kaget pun langsung saja menelan air dan obat yang ada di mulutnya.
"Mata suci gue ternodai njir!" pekik Satria.
"Astaga!" Dalina juga kaget.
"Cara ampuh buat yang susah minum obat." Ray tersenyum tanpa dosa.
"Kak Rayy!" kesal Ella.
"Jangan teriak, nanti twins A kebangun," ucap Ray.
"Tapi aku malu, ih," cebik Ella.
"Idih, gaya-gayaan sok malu. Biasanya juga malu-maluin," cibir Satria.
Ceklek,
Pintu ruang rawat Ella kembali terbuka, ternyata yang datang kali ini adalah Galang dan juga Dela.
__ADS_1
"Hai Ell, selamat ya, sekarang kamu udah resmi jadi ibu." Dela langsung menghampiri Ella dan memeluknya.
"Mimom, Dedel. Bukan ibu," koreksi Ella.
"Iya, iya. Baby nya pada bobo ya?" Dela melirik twins A yang sedang tertidur pulas.
"Iya, mereka abis nen, jadi bobo deh," ujar Ella.
"Yah, gak bisa gendong mereka dong." Dela tampak lesu.
"Next time bisakan, Neng. Jangan sedih," ucap Galang yang berada di samping Dela.
"Baby Gala mana? kok gak ikut?" tanya Ella.
"Gala masih kecil Ell, jadi mamah gak ngizinin dia untuk dibawa kerumah sakit," ujar Dela.
Gala adalah baby dari Galang dan juga Dela, usianya kini baru satu bulan lebih. Waktu Dela lahiran Ella juga menjenguknya meskipun dengan perutnya yang buncit dan susah untuk berjalan, dia juga sering main ke rumah Dela saat Dela sudah pulang dari rumah sakit, dia selalu ingin bertemu dengan baby Gala yang menurutnya sangat tampan dan juga gemoy.
"Nanti kalo aku udah pulang kerumah, ajak baby Gala kerumah ya?"pinta Ella.
" Sip, nanti aku bawa main kerumah ya."Dela mengacungkan jempolnya.
"Kak Ray, aku mau pipis." Ella melirik suaminya.
Ray pun segera membantu Ella untuk turun dari ranjang dan memapahnya menuju ke kamar mandi, setelah sampai di dalam kamar mandi, Ella malah diam mematung.
"Kenapa?" tanya Ray.
"Gak mau pipis," lirih Ella.
"Loh, kenapa? tadi katanya mau pipis," Ray merangkul bahu Ella.
"Iya, tapi itunya sakit huu, perih tau mana di jahit lagi sama dokternya," ujar Ella memelas.
"Apa? di jahit?" kaget Ray yang memang tidak tau, karena pas proses penjahitan Ray hanya fokus pada wajah Ella, dia pikir Dokter Vivi hanya membersihkan inti Ella saja.
"Iya, makannya sakit banget huuu. Ini semua gara-gara kak Ray!" Ella memukul dada Ray.
"Kenapa gara-gara kakak?" heran Ray.
"Karna kak Ray cuma mau enaknya aja, tapi gak mau ngerasain sakitnya! sekarang rasain si bonar gak bisa lagi masuk gua karna guanya udah di perboden." Ella menjadi kesal pada Ray.
"Kamu bercanda kan? guanya gak di jait semua kan?" Ray menjadi panik, bagaimana kelangsungan hidup si bonar kalau gua nya di jahit semua.
"Aku serius, dua rius malah!"ucap Ella yang berusaha untuk duduk di kloset.
" Oh no, bagaimana dengan si bonar sayang? dia gak bisa kalo gak masuk gua. Kalo gini puasanya bukan empat puluh hari dong? tapi selamanya,"ucap Ray memelas sembari membantu Ella.
Jejak ya sayang😍 like komen jangan lupa😘
__ADS_1