Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Rencana pernikahan


__ADS_3

~Bukan harta maupun tahta kunci kebahagiaanku, melainkan dirimu dan buah hati kita, berlian terindah yang Tuhan titipkan untuku~Ray~


----------Happy reading----------------


"Sayangnya, Papah. Eh, sekarang udah bisa senyum, manis banget sih." Ray begitu gemas saat mengajak bermain Zura.


"Cantik banget kamu, 'Nak. Kayak Mamah kamu," ucap Ray.


"Kak Ray... Kan aku udah bilang, panggilannya itu Mimom, Pipop. Bukan Mamah, Papah. Kak Ray ngeyel ih," protes Ella.


"Iya, Mom. Maaf Pipop lupa," Ray tersenyum paksa karena menurutnya panggilan itu sangatlah aneh.


"Nah gitu dong, awas kalo lupa lagi," ancam Ella.


"Yang, kok anget sih?" ucap Ray saat dia merasakan sesuatu yang jangan menembus celana jeans selututnya.


"Apanya yang anget?" Ella tidak mengerti.


"Ini." Ray menunjuk bawahnya dengan dagu.


"Oh, Zura kayaknya ngompol deh," ujar Ella.


"Ais, Zura ngompolin Pipop ya," Ray menatap anak perempuannya yang tengah tersenyum.


"Zura ngejek Pipop nih kayaknya." Ray mencium gemas pipi Zura.


"Sini Zura nya biar aku gantiin popoknya dulu, nih kak Ray gendong Zam." Ella mengambil alih Zura dan menyerahkan Zam kedalam pangkuan Ray.


"Uluh, uluh. Tampan sekali anak Pipop." Ray menciumi Zam gemas.


"Nanti kalo udah gede, Zam pasti jadi rebutan wanita deh, Sayang," ucap Ray sembari melirik sang istri yang tengah menggantikan popok Zura.


"Zura juga pasti jadi primadona kayak aku, banyak yang suka dan ngejar-ngejar," ucap Ella pede.


"Iya deh, kamu memang banyak yang suka," ucap Ray yang mana membuat Ella tersenyum.


"Suka kesel," lanjut Ray sehingga membuat senyuman Ella pudar seketika.


"Piks, aku gak mau main kocok-kocokan lagi," tukas Ella.


"Eh, bercanda Sayang," ucap Ray cepat.


"Au, ah."


Ella kembali melanjutkan aktipitas nya untuk mengganti popok Zura, dia melakukannya dengan pelan dan juga telaten. Awalnya Ella sempat takut untuk menggantikan popok bayi-bayinya, mengingat tubuh mereka yang masih rapuh dan juga renta. Ella takut jika dia akan menyakiti sang buah hati. Namun Wina dan Rina terus memberi semangat dan mengajarkan Ella sampai Ella berani mengurus bayinya sendiri.


Puptt!


"Eh, Zam kentut ya?" ucap Ray saat mendengar suara ledakan yang lumayan besar yang berasal dari Zam.


"Bau ya, kentutnya Zam." Ray menjawil hidung mancung Zam.

__ADS_1


"Iyalah kentut mah bau, mana ada kentut yang wangi," delik Ella yang sudah selesai mengganti popok Zura.


"Yang...," lirih Ray.


"Apa?"


"Kayaknya kentut Zam bukan hanya angin deh yang keluar," tebak Ray.


"Maksudnya Zam pup gitu?" tanya Ella.


"Sepertinya iya," Ray mengangguk samar.


"Puptz, hahaha. Kak Ray di ompolin sama di pup pin sekaligus," tawa Ella pecah seketika.


"Bukannya prihatin malah di ketawain," gerutu Ray.


"Anggap aja itu perkenalan dari Zura dan juga Zam, jangan cemberut," ujar Ella.


"Itu tanda perkenalan Zam ke Pipop ya? gak papa kok, Pipop iklas, seneng malah," Ray kembali menciumi pipi gembul Zam.


Puptttttz!


Zam kembali meledakan bom plus pelurunya, yang mana membuat Ella semakin tertawa terpingkal-pingkal. Dia begitu senang melihat nasib mengenaskan Ray yang berturut-turut di beri ledakan sang putra.


"Nih Yang, kakak mau mandi dulu." Ray hendak menyerahkan Zam kepada Ella.


"Bersihin dulu pup nya," perintah Ella.


"Iyalah masa setan, 'kan aku udah gantiin popok Zura. Sekarang giliran kak Ray," jawab Ella.


Ray pun menghela napas panjang, kemudian dia menidurkan Zam diatas kasur kecil, setelah itu Ray mulai membuka popok Zam yang sudah dipenuhi peluru ledakan. Ray sedikit menahan napas kala mencium aroma menyeruak yang berasal dari peluru itu.


"Kok bau sih, Yang?" ucap Ray yang kini tengah menutup hidungnya.


"Iyalah bau, namanya juga pup," delik Ella. "Yang bener, itu bokongnya di angkat. Pup nya di belakang masih pada nempel," lanjutnya.


Ray pun menuruti perkataan Ella, dia mengangkat bokong Zam dengan lembut dan juga hati-hati. Setelah bersih Ray langsung saja mengambil sebuah popok berwarna biru muda.


"Kenapa?" Ella menatap Ray yang tengah membulak-balikan sebuah popok.


"Ini mana bolongnya, Yang? kenapa bentuknya juga kayak gini? ini tuh celemek bukan celana," ucap Ray yang tengah kebingungan.


"Itu emang bukan celana kak Ray, tapi popok. Tau gak sih popok?" Ella menggeleng.


"Enggak," cengir Ray.


"Ya amplop, kak Ray taunya apa sih," ketus Ella.


"Nen, mimi cucu." Ray menirukan suara anak kecil.


"Awas ah, kak Ray mandi aja sono. Bisa-bisa anak aku jadi buntelan kalo di pakein popok sama kak Ray." Ella menidurkan Zura kedalam box, lalu dia mengambil alih Zam untuk di pakaikan popok.

__ADS_1


Ray melangkah pergi kedalam kamarnya saat sang istri sudah mengambil alih Zam, dia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Β 


"Apa kalian setuju?" tanya Andi kepada dua sejoli di hadapannya.


Mereka kini tengah berkumpul di ruang keluarga, disana ada Dalina, Rina, Satria dan juga Andi. Saat ini mereka tengah membicarakan perihal pernikahan Satria dan juga Dalina yang akan di laksanan tiga minggu lagi, yaitu setelah acara selametan empat puluh hari baby Zam dan Zura.


"Aku sih setuju aja, Pih. Kan lebih cepat lebih baik," jawab Satria.


"Kamu, Lin?" Andi melirik Dalina.


"Aku juga setuju, Om," jawab Dalina yakin.


"Baiklah, pernikahan kalian akan di laksanakan tiga minggu lagi. Jadi mulai besok kita harus priper untuk menyiapkan acaranya," ucap Andi.


"Kamu ada keluarga yang ingin di temui?" lanjutnya sembari menatap Dalina.


"Gak ada, Om. Aku udah gak punya keluarga," jawab Dalina lirih.


"Mulai sekarang, kami adalah keluargamu. Jadi jangan ya," ucap Rina.


"Iya Tante,"


"Mamih, panggil Mamih ok," pinta Rina.


"Iya, Mih."


"Panggil saya juga Papih, ya," tambah Andi.


"Iya, Pih." Dalina tersenyum bahagia.


Dalina sangat bersukur bisa mengenal Ella yang berakhir tinggal bersama keluarga yang begitu tulus menyayanginya. Bersama keluarga ini, dia bisa merasakan kasih sayang orang tua kembali. Dia juga bisa tersenyum lepas tanpa beban, apalagi saat ini sudah hadir Satria di dalam hidupnya yang mana membuat kebahagiaannya semakin bertambah.


"Tiga minggu lagi, Beb!" riang Satria yang hendak memeluk Dalina.


"Eits, belum halal." Andi langsung menarik kerahasiaan baju Satria.


"Elah, Pih. Meluk dikit napa sih, pelit amat," gerutu Satria.


"Dikit-dikit, tetep aja gak boleh, Sat. Belum muhrim pamali, tau gak pamali." Andi menatap tajam Satria.


"Aku gak kenal siapa tuh, pamali, bumali, mamali, mamae kek. Aku gak kenal Pih," ujar Satria.


"Sontoloyo, orang tua lagi ngomong serius malah di candain," kesal Andi.


"Aku serius, Pih. Kagak ngejandain, males. Mending merawaninn."


"Bang saat! congormuu di jaga," marah Andi.


"Di jaga kok, Pih. Ini ada gak kelayapan."

__ADS_1


Like ya, like like. Komen fav and vote😘😘😘😘


__ADS_2