
Setelah pertemuan nya dengan Poky hari itu, David selalu uring-uringan. Pikirannya tak pernah lepas dari wanita yang pernah menjadi istrinya itu walau hanya satu jam saja.
"Kenapa perasaan ini baru hadir sekarang? Saat dia udah jadi milik orang lain," gumam David yang kini sedang bersandar di sofa.
"Ngelamun aja, Bro." Ragil yang baru saja datang menepuk bahu David
"Yang ngapel baru balik." David menatap Ragil sekilas.
"Abisnya betah banget gue di rumah calon bini. Pengen buru-buru halal rasanya, biar bisa barengan terus," ucap Ragil.
"Tinggal sebulan lagi juga," delik David.
"Itu dia, sebulan kok berasa setahun ya," ucap Ragil lesu.
David hanya tersenyum miris mendengar ucapan Ragil, kini sahabatnya itu akan menikah. Meninggalkan dirinya yang jones seorang diri. Andai saja waktu itu dirinya tidak mengambil keputusan dengan terburu-buru, mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini.
"Lo kenapa?" Ragil menatap sang sahabat yang nampak murung.
"Gue nyesel, Gil," lirih David.
"Apa yang lo sesalin?" Ragil menautkan kedua alisnya.
"Gue nyesel, kenapa saat itu gue buru-buru menalak Poky setelam 1 jam usia pernikahan kita. Kenapa gue nggak nyoba jalanin dulu, kayak Galang sama Dela." David menghela napas kasar.
"Apa yang membuat lo nyesel? Apa lo udah cinta sama, Poky?" tanya Ragil.
"Ya, gue baru sadar. Ternyata hati gue bukan di isi oleh Ella lagi, tapi sama Poky," ujar David lesu.
"Kalau emang lo cinta sama, Poky. Perjuangin dia," saran Ragil.
"Nggak bisa, gue nggak mau jadi orang ketiga di antara Diego dan Poky," tutur David.
"Masa seorang David gampang nyerah gini, semangat dong, Bro. Sebelum janur kuning melengkung, tikung menikung masih bisa lah," ucap Ragil
"Gue bukan pecanor!" sarkas David.
"Apaan pecanor?"
"Perebut pacar orang!"
.
.
.
Hari ini Ella sudah kembali ke kantor seperti biasanya, dia bersemangat pergi ke kantor karena sebentar lagi magangnya akan segera usai dan dirinya akan menjadi sarjana pula. Senyuman manis menghiasi wajah cantik itu, dia sudah tidak sabar menanti saat di mana dirinya akan lulus kuliah.
"Tumben kerjaan aku dikit, Kak?" Tanya Ella pada kepala divisinya.
"Itu perintah, Pak Rayen. Beliau tidak mau ibu kelelahan," jawab kepala divisi itu.
"Jangan panggil bu napa, berasa jadi ibu-ibu aku," keluh Ella.
Dia tidak sadar, memang dirinya sudah menjadi ibu-ibu. Ibu dari dua anaknya, eh sebentar lagi tiga dengan yang masih dalam perutnya. Karena pekerjaannya sedikit, dalam waktu sebentar Ella sudah menyelesaikan semuanya.
"Bete, ke ruangan kak Ray ajalah," gumamnya seraya berlalu menuju ruangan sang suami.
Sampai di sana, Ella langsung masuk kedalam. Dia melihat suaminya yang sedang memijat pelipis, sepertinya pria itu pusing dengan kerjaan yang menumpuk.
"Mau aku bantu?" tawar Ella yang sudah berdiri di samping Ray.
__ADS_1
"Mau dong." Ray mendongak saat mendengar suara sang istri.
"Ok, apanih yang bisa aku bantu?" tanya Ella.
Tanpa menjawab, Ray menarik lembut sang istri ke dalam pangkuannya. Dia langsung menyerang bibir sang istri dengan lembut tetapi menuntut. Ella hanya pasrah saat sang suami menyerang, karena menolak pun percuma. Sebenarnya Ella sedang malas melakukan ini namun dia tidak mau menolak.
"Kak! Mau ngapain?" Ella menahan tangan Ray yang hendak membuka pakaiannya
"Bantuin kakak ngilangin penat," bisik Ray dengan suara serak.
"Nanti ada yang masuk gimana?" Ella melirik kearah pintu.
"Pintunya udah kakak kunci."
Ray kembali menyerang sang istri dengan tangan yang sudah berkelana di area gunung favorit nya. Desa**han dan eranga**n kecil keluar dari bibir mungil Ella saat Ray memainkan puncak gunung Himalaya nya. Ella meleguh di kala bibir Ray menyusuri leher jenjangnya, menghi*sapnya kecil meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
"Emmh kak..." Ella mencengkram erat rambut Ray saat mulut pria itu meraup puncak Himalaya nya dengan rakus seperti bayi kehausan.
"Kak Ray, a-ku laper," ucap Ella di sela leguhannya.
"Sebentar ya, Sayang."
Karena mendengar istrinya lapar, Ray langsung saja mengeluarkan burungnya yang sudah berdiri tegak macam keadilan itu. Lalu dia menurunkan rok span yang di pakai Ella. Di pagi yang menjelang siang itu mereka melakukan Penyatuan, suara legugah saling bersahutan menggema di ruangan itu.
"Si Ray lagi ngapain ya? Tumben pintu di kunci," gumam Ragil yang hendak menyerahkan berkas.
Mencoba menguping namun tak terdengar karena ruangan Ray kedap suara. Akhirnya Ragil memilih menunggu saja seperti seorang bodyguard di dekat pintu.
Tak lama pintu ruangan terbuka menampilkan Ella dan Ray yang sudah rapih kembali. Ella tampak menempel di lengan kekar Ray.
"Pantes di kunci, ada ayang rupanya." Ragil menatap pasutri itu dengan mendelik.
"Tanda tangan." Ragil menyodorkan beberapa berkas.
"Sekarang?"
"Taun gajah, ya sekarang lah, Ray. Kalo nanti nggak mungkin gue nungguin di mari. Mana yang di tungguin lagi nganu lagi." Ragil tau apa yang mereka lakukan karena melihat tanda merah di leher putih Ella.
"Makannya cepet, halalin do'i lo. Biar bisa nganu," ucap Ray.
"Sebulan lagi halal, hanya tinggal menunggu," ujar Ragil.
"Nih, gue mau nyari makan dulu. Kesian bini gue kelaparan." Ray merangkul Ella kemudian berlalu pergi.
.
.
.
"Oma, Abang mana?" Si cantik Zura menghampiri Wina yang sedang membuat puding di dapur.
"Abang kamu di belakang rumah," jawab Wina menatap Zura sekilas.
Tanpa menyahut lagi, Zura pun segera beranjak ke belakang rumah untuk mencari sang abang. Di lihatnya saat ini Zam sedang melukis sembari duduk di kursi kecil.
"Abang ngelukus apa?" Zura menatap lukisan yang di buat abannya namun dia tidak tahu apa yang abangnya lukis.
"Abstrak," jawab Zam singkat.
"Abtak itu apa?" tanya Zura tidak mengerti.
__ADS_1
"Kamu tu kapan sih bisa nyebut, R." Zam menatap wajah imut sang adik.
"Nggak tua, Abang. Tanya aja sama pencipta suala. Kapan hulup L di sematkan," jawab Zura.
"R jadi, L. Ara, ara." Zam mengusak rambut sang adik gemas.
"Ala?" Kening Zura mengerut.
"Iya, Ara. Nama kamu kan Zura. Jadi nama panggilan kesayangan kamu, Ara," ujar Zam.
"Bagus tuh, Bang."
Atensi Zura teralih kepada laptop sang abang yang masih menyala. Sepertinya Zam lupa mematikan laptop, karena sebelum melukis, dia bermain laptop terlebih dahulu.
"Abang ini apa?" Zura menunjuk layar laptop yang berisi gambar beraneka senjata.
"Am, itu. Mainan, ya. Mainan," jawab Zam gugup.
"Kok Ala, nggak pelnah liat di toko mainan," bingung Zura.
"Karena ini mainan antik, Ara."
"Antik tu apa?"
"Langka."
"Oh, telus abang mau ngapain sama mainan ini? Apa abang yang gambal?" tanya Zura lagi.
"Em, Zura tadi abang beli eskrim. Kamu mau nggak?" Zam mengalihkan pembicaraan.
"Mau abang, mana eskim nya?" seru Zura.
"Di kulkas, ayok kita ambil."
Zam segera menutup laptop nya dan juga membereskan alat lukis, lalu dia menggandeng sang adik menuju ke dapur untuk mengambil eskrim.
.
.
.
"Hai Kak, aku datang. Kamu apa kabar di sana?" Kiana berjongkok di hadapan makam Rendi.
"Liat, Kak. Aku udah nggak nangis lagi sekarang. Aku udah bahagia di sini, semoga Kakak juga bahagia di sana." Kia mengusap nisan Rendi dengan tersenyum tipis.
Tak dapat di pungkiri, rasa sesak itu masih ada walau hanya sedikit. Kia berusaha untuk tersenyum, dia mengingat sudah ada Ragil di samping nya. Memberi warna pada hari-hari nya yang selama ini kelam setelah di tinggal Rendi.
"Dulu kamu pernah bilang, kalau aku merindukan kamu, tataplah bintang yang paling terang. Aku selalu melakukan itu setiap malam saat rindu kamu. Tapi sekarang, aku udah punya bintang yang persis sepertimu, Kak. Dia baik, penyayang. Dan menerima aku apa adanya. Meskipun begitu, kamu masih tetap ada teluk hati aku yang paling dalam." Kiana bercerita di selingi senyuman.
"Sebenarnya aku kesini mau izin sama kamu, Kak. Aku sama Kak Ragil mau nikah kurang lebih satu bulan lagi, restui kami, Kak. Do'akan supaya acaranya berjalan lancar," ucap Kiana.
Jujur, dalam hatinya terbersit rasa rindu kepada pria yang selalu membuatnya tertawa dengan berbagai candaan konyolnya. Kiana rindu Rendi menggombalinya, dia juga rindu senyuman manis pria itu.
"Aku nggak boleh sedih, inget, Ki. Kamu udah punya Ragil," gumam Kiana yang matanya sudah berembun.
Halo guys, beberapa part lagi tamat ya cerita ini. Sebenarnya pengen cepet tamat. Tapi sayang kata nya belum cukup buat reward. Jadi terpaksa otor perpanjangan dikit hehe.
Dan oh ya, cerita Zura udah brojol nih. Baru 2 episode, kepoin ya. Like komen di sana. Biar otor semngat ngelanjutin cerita Zura nya. Judulnya Kepentok Cinta pak Guru. Jan lupa nengok jejak juga ya😘
__ADS_1