Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Takjub.


__ADS_3

Ella pun mengangguk setuju jika twins ikut masuk kedalam ruangan tersebut, dia langsung menggenggam lengan kedua anaknya erat. Ella takut terjadi sesuatu pada twins.


Ella berjalan pelan, dia mengendap-endap dan twins pun melakukan hal yang sama. Sementara David, dia mengamaknkan poky terlebih dahulu ke dalam ruangan yang aman. Ella memberi kode pada twins untuk diam dan tak lama Ella mengeluarkan beberapa pisau runcing yang sudah di lumuri oleh racun, lalu dia mengambil ancang-ancang untuk melemparkan pisau tersebut tepat kearah jantung beberapa musuh.


"Hey! Siapa itu?" teriak salah satu orang yang tersisa setelah melihat teman-temannya tumbang dengan tubuh yang membiru.


Pria itu melihat Ella dan hendak menghampirinya bersama dengan ketiga temannya namun tembakan yang Ella layangkan sudah terlebih dahulu mendarat di jantung mereka.


Setelah keempat orang itu tewas, satu pria keluar dari dalam ruangan untuk memeriksa keadaan diluar yang terdengar gaduh. Tanpa bertele-tele Ella langsung saja menembak orang itu saat dia menampakan diri.


"Ayoo kita masuk." Ella menggandeng tangan kedua anaknya untuk masuk kedalam ruangan tersebut.


"Siapa kamu?!" teriak seorang pria berjas hitam yang tengah duduk di kursi dengan kaki yang dia silangkan.


Ella tidak kaget ataupun takut saat melihat pria berwajah sangar itu, dia lebih kaget saat melihat Ray, Galang dan juga Satria terikat tak jauh dari posisi pria itu berada. Tak hanya terikat, mulutnya pun tersumpal sehingga mereka tak dapat berbicara.


"Kau tak perlu tau siapa aku," jawab Ella dingin dan penuh dengan kemarahan.


"Jelas aku harus tau karena kamu telah mencampuri urusanku," ucapnya dingin.


"Jelas aku harus ikut campur! Karena kamu telah menghancurkan perusahaan suamiku dan juga menyandranya!" teriak Ella dengan emosi yang meledak namun tangannya terus menggenggam lengan kedua anaknya.


"Oh, jadi kamu adalah istrinya. Si Ray sialan itu? Emm, cantik juga. Manis, seksi lagi," ucap Pria itu dengan nada penuh naf*u saat menatap tubuh Ella dari atas sampai bawah.


Sontak saja hal itu membuat Ray yang melihatnya geram, namun apalah daya. Dia tak bisa berbuat apa-apa, tangannya terikat, kakinya juga dan mulutnya tersumpal. Ray seharusnya bisa melawan mereka, akan tetapi mereka berbuat curang denga menyemprotkan obat bius kearah dirinya, Satria dan juga Galang sampai ketiga pria itu tak sadarkan diri dan berakhir terikat di tempat ini.


Untung saja para karyawan sudah diliburkan oleh Ray dari beberapa hari yang lalu, dari semenjak dirinya mendapat laporan dari David jika musuhnya Gilbert akan menyerang rumah, kantor dan juga markasnya. Sebenarnya Ray sudah menyiapkan rencana namun semua itu gagal, rencana yang sudah dia susun dengan rapih tak berjalan mulus dan malah mencelakainya.


"Bagaimana kalau kita bermain-main dulu, Cantik? Biarkanlah suamimu itu menderita disana sambil menyaksikan permainan panas kita," ujar Gilbert seraya berjalan menghampiri Ella.


"Baiklah, kita akan bermain." Ella tersenyum penuh arti saat Gilbert berjalan mendekatinya.


Di dalam ruangan itu hanya ada Gilbert sebagai musuh, tidak ada anak buahnya yang lain dan mungkin para pria yang Ella binasakan di depan itu adalah anak buah Gilbert yang tersisa disini.


"Kalian pergi kesana dan lepaskan papih sama yang lain," titah Ella pada twins.


"Diam disana atau kalian akan aku binasakan sekarang juga!" Gilbert mengangkat pistolnya lalu dia todongkan kerarah twins membuat mereka yang hendak melangkah langsung terhenti.


"Turunkan senjata murahanmu itu sialan!" bentak Ella yang tak suka anak-anaknya di perlakukan semperti itu.


"Oho! Jangan marah-marah cantik, nanti kecantikanmu akan luntur," ucap Gilbert dengan tangan yang hendak menyentuh wajah Ella namun langsung ditepis dengan kasar oleh Ella.


Dan sontak saja hal itu membuat Gilbert marah lalu dia mendekat hendak menyentuh tubuh bagian depan Ella namun sang queen Aod dengan sigap menendang Gilbert sampai pria itu jatuh tersungkur. Kemarahan terlihat jelas di wajah cantik Ella yang semula putih kini berubah menjadi merah.


"Jangan pernah bermimpi untuk menyentuh tubuhku, Bajingan! Karena tangan penuh dosamu tak pantas untuk menyentuhku!" teriak Ella murka.


Gilbert yang mendengar teriakan Ella pun langsung bangkit kemudian berlari untuk menyerang Ella, pria itu sangat marah dan tak Terima saat Ella membentaknya karena selama ini para wanita selalu menghormati dan juga menyanjungnya, bahkan mereka berlomba-lomba untuk naik keatas ranjang Gilbert.


"Let's start this game." Ella menyeringai kemudian dia langsung mengeluarkan katana dari balik punggungnya supaya permainan ini cepat berakhir.


Twins yang melihat mimomnya hendak bertarung pun langsung menyingkir dan menjaga jarak dari sang mimom. Mereka mulai menyaksikan mimomnya bertarung dengan sengit bersama Gilbert. Ella terlihat lihai dan juga lincah walau dia tengah berbadan dua.


Ella menyerang Gilbert bertubi-tubi menggunakan katana sedangkan Gilbert hanya menggunakan pistol untuk menangkis serangan Ella membuat pria itu kewalahan. Dan..


Tembakan menggema di luncurkan oleh Gilbert untuk menembak Ella, akan tetapi sayang seribu kali sayang. Ella sangat pasih dalam menghindari serangan sehingga tembakan itu melesat.


Gilbert nampak menggeram kesal, tangannya terkepal kuat. Sudah gagal menikmati tubuh Ella karena ternyata wanita itu sangat kuat dan kini dia jua harus gagal membunuh Ella. Gilbert tidak mau menyerah begitu saja dan dia harus menghancurkan Ray dengan cara melihat istrinya meregang nyawa di hadapannya sendiri akan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan sang istri.

__ADS_1


"Untunglah kalian datang! Cepat bantu aku menyerang wanita ini," teriak Gilbert para 2 orang pria yang baru saja datang dan entah siapa mereka.


Melihat itu Ella tak gentar sama sekali, melawan banyak musuh sudah biasa baginya. Bahkan dulu dia pernah melawan 50 orang seorang diri dan dia masih selamat walau terdapat banyak luka.


Justru yang panik adalah Ray, dia takut sang istri kenapa-napa dan tak bisa melawan ketiga orang itu seorang diri. Berkali-kali Ray memberi kode pada kedua anaknya untuk membantunya melepaskan ikatan namun mereka tak mengerti akan kode itu. Mereka malah asik menyaksikan pertarungan sang mimom. David juga entah kemana, pria itu belum munculkan batang hidungnya sedari tadi.


Kini Ella bertarung dengan tiga orang pria dan salah satunya adalah Gilbert. Ella nampak santai dia menangkis dan juga melawan dengan tenang. Tak ada raut wajah ketakutan sama sekali sampai muncul lima orang pria lagi dari balik pintu dan itu membuat Ray semakin panik dan terus metonta supaya ikatannya terlepas agar bisa membantu Ella. Begitu juga dengan satria yang tak kalah cemas, dia juga ingin membantu sang aduk namun apalah daya dirinya juga terikat..


Twins menyadari kecemasan sang pipop, mereka hendak berjalan untuk melepaskan ketiga orang pria itu namun melihat rantai yang melingkar melapisi ikatan tali membuat mereka bingung dan akan memakan waktu lama untuk melepaskannya, apalagi rantai itu di gembok.


Gilbert tersenyum penuh kemenangan saat Ella di kepung oleh delapan orang, namun Gilbert tidak suka dengan ekspresi Ella yang masih terlihat tenang. Dia ingin Ella menyerah dan bersimpuh memohon ampunannya.


Beberapa kali tembakan menggema di dalam ruangan itu dan beberapa saat kemudian Ella dan yang lainnya melihat 4 pria tergeletak di lantai dengan darah yang mengucur deras dari bagian dadanya. Kemudian tatapan Ella beralih pada Zam yang tengah membulak-balikan pistol dan pistol itu adalah pistol yang Ella kenakan untuk menembak mobil musuh saat di jalan tadi, Ella lupa untuk mengamankan pistol itu kembali dan kini pistol itu sudah berada di tangan Zam.


"Wah! Ternyata ini pistol beneran," seru Zam.


"Pantes aja mereka mati," lanjutnya santai.


Sontak saja hal itu membuat Ella kaget, begitu juga dengan Ray namun tidak dengan Satria yang terlihat biasa saja seakan hal itu sudah sering terjadi.


"Awas, Mom!"


Brukk!


Zura melemparkan satu buah kursi tunggal kearah Gilbert saat pria itu hendak menusuk mimomnya dari belakang.


Ella yang kaget pun langsung menoleh dan melihat Gilbert sudah tersungkur di lantai.


Belum sempat Ella tersadar dari keterkejutannya, sekarang dia sudah di kejutkan lagi dengan apa yang Zura lakukan. Dia merebut pistol dari tangan sang abang lalu menembakannya pada ketiga anak buah Gilbert yang tersisa sampai mereka tumbang karena Zura menembaknya berkali-kali.


"Ula juga bisa, Bang. Meleka mati juga kan." Zura tersenyum senang saat dia telah berhasil melakukan apa yang abangnya lakukan tadi.


"Oho! Mom! Olang jelek itu bangun, Mom! Ayok hajal dia sampai gepeng kayak bakwan, Mom! Telus goleng!" teriak Zura yang melihat Gilbert sudah bangkit kembali.


"Kita akhiri permainan ini."


Blass!


Tanpa basa-basi lagi, Ella langsung saja menebas pria itu sampai darahnya muncrat ketibuhnya, dia harus mengakhiri permainan ini secepatnya karena perutnya mulai keram. Sepertinya dia kelelahan hingga membuat perutnya keram.


"Wah! Kepalanya buntung, Mom. Kayak kepala sapi yang di jadiin hewan kulban," heboh Zura.


"Awh!" Ella langsung terduduk di lantai setelah mengakhiri permainan.


"Mom!" teriak twins serempak kemudian mereka berlari menghampiri mimomnya.


"Mom kenapa? Pelut Mom sakit ya?" Zura terlihat begitu khawatir begitu juga dengan Zam.


"Pop! Momom kesakitan! Tolongin mimom, Pop jangan diem aja!" teriak Zura pada pipopnya yang sedang meronta.


"Pop jahat! Om setat juga! Om Alang-alang juga! Kenapa nggak pada bantuin mimom Ula! Kalian kejam, hiks! Tolong mimom ula, dia kesakitan." Zura bersimpuh menangisi mimomnya yang meringis kesakitan.


"Sutt! Jangan nangis, Dek. Mereka nggak jahat, me---"


"Meleka jahat! Meleka nggak nolongin mimom!" teriak Zura.


"Ck! Gimana mereka mau nolongin, Dek? Mereka aja masih diikat begitu, mulutnya juga masih disumpal," ucap Zam seraya melengkah menghampiri pipopnya dan juga yang lain.

__ADS_1


"Oh iya, Ula lupa. Meleka masih diikat ya." Zura menepuk keningnya sendiri.


Zam membuka sumpalan ketiga orang pria itu terlebih dahulu, karena untuk membuka rante, dia kesusahan. Kuncinya tidak ada.


"Akhirnya ni sumpelan bau terasi busuk lepas juga," seru Satria.


"Makasih, Boy," ucap Ray kemudian dia melirik sang istri yang masih meringis.


"Sayang ... Bertahanlah," ucap Ray cemas.


"Gimana ngelepasin rantai ini?" ucap Ray lagi bingung dan terus meronta.


"Rantainya geda, Ray. Sulit buat di putusin, ini kudu dicari kuncinya buat buka gemboknya," sahut Satria.


"Biar Zam cari kuncinya," ucap Zam lalu dia melangkah untuk mencari kunci tersebut.


Zam menggeledah ruangan itu dari mulai nakas, lemari hingga meja dan juga saku para musuh termasuk Gilbert yang tergeletak tanpa kepala.


"Kuncinya nggak ada, Pop," ujar Zam.


"Ck! Gimana ini." Ray semakin kalut apalagi saat melihat istrinya masih meringis dan kini wajahnya memerah menahan sakit.


"Cari akal, Ray. Gue nggak mau sampe tua keiket dimari," Kata Satria.


"Lo juga bantu nyari, jangan cuma ngoceh bangsat!" kesal Ray.


"Betul itu bangsat!" tambah Galang.


"Ck! Kalian ini. Gimana gue mau nyari, guenya aja keiket gini," delik Satria.


"Cari pake otak bangsat! Bukan pake kaki, emang lo pikir nyari jarum dalam jerami," geram Galang.


"Emang dasal om sesat! Omongannya juga sesat gaada yang benel." Zura bangkit seraya membawa katana sang mimom.


"Belum bisa ngomong R aja sok ngomentar." Satria meledek keponakannya.


"Masalah buat om sesat klo aku nggak bisa ngomong L hah?" seru Zura seraya menatap Satria tajam.


"Ngomong R, bukan L," koreksi Satria.


"Iya, Om! Aku belum bisa ngomong, L. Puass!" Zura mengangkat katanya keatas.


"Eh, i-ya, kagak bis ngomong, L." Satria ketakutan saat Zura hendak mengayunkan katananya.


Trekk!


Trekk!


Treekk!


Zura menyabet ikatan rantai yang melilit di badan ketiga pria itu dengan katana tajamnya membuat ketiga orang pria dewasa itu memejamkan mata karena takut kepala mereka tertebas bocah itu. Dan sedetik kemudian mereka membuka mata dengan takjub saat melihat rantainitu terlepas. Zura berhasil melepaskan ikatan rantai itu tanpa melukai mereka.


"Good! Kamu sangat mengagumkan, Princess," puji Ray yang langsung bangkit kemudian memeluk Zura dan beralih ke Zam, lalu dia berlari menghampiri sang istri.


"Masih mau ngejailin ponakan lo, Sat?" tanya Galang meledek Satria yang masih terkejut dengan apa yang dia saksikan.


"Nggak! Udah biasa," sahut Satria namun tak bisa di pungkiri dia juga terkejut karena ternyata twins bertambah hebat saja.

__ADS_1


__ADS_2