
Kini Ray dan yang lainnya sudah pulang ke kediaman Wardana yang nampak berantakan, sebelumnya Ray telah membawa Ella kerumah sakit dan Ella sudah diperiksa, dia baik-baik saja perutnya hanya keram karena kecapean dan setres.
Wina dan Samsul berikut keluarga Ella juga hadir di kediaman Wardana membantu membereskan kekacauan yang di ciptakan oleh Gilbert beserta anak buahnya. Ray juga sudah menghubungi Ragil menanyakan kondisi markas dan kondisi markas memang sama hancur tetapi semuanya dapat teratasi, semua anggota AOD sedang berjibaku membereskan kekacauan markas.
Memang banyak sekali anggota AOD yang berguguran karena kejadian ini, dan dalam beberapa minggu ini juga perusahaan Ray akan ditutup sementara waktu sampai keadaan kembali normal dan rencananya Ray juga akan memindahkan gedung Wardana group karena di gedung itu sudah banyak kesialan dan kematian anggotanya dan juga anggota musuh. Jadi sudah bisa di pastikan gedung itu akan mencekam jika kembali di gunakan.
"Papih akan membantu mengurus pemindahan perusahaan kamu, Ray. Kamu tenang aja," ucap Andi.
Kini mereka sudah selesai bebenah dan mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Makasih, Pih," sahut Ray yang tengah mengelus kepala Ella.
Wanita itu tidak mau beristirahat dikamar, di mau ikut bergabung bersama mereka. Jadilah kini wanita itu berbaring di sopa dengan selimut yang membungkus tubuhnya dan paha Ray dijadikan sebagai bantal.
"Gue juga bakal bantu lo, Ray. Semoga ini jadi cobaan terakhir di keluarga kalian," tambah Satria.
"Semoga aja, karena sekarang musuh gue cuma Gilbert dan itupun udah mati ditangan istri gue," ujar Ray.
Memang semuanya sudah tau prihal siapa Ella, jadi mereka sudah tidak kaget lagi seperti di awal mereka mengetahui semuanya. Terutama Rina dan Wina, mereka dulu menganga tak percaya setelah mengetahui pakta itu.
"Sekarang fokus dulu sama keluarga kecil kamu, Ray. Luangkan waktu untuk mereka. Perusahaan biar papah dan papih yang atasi, setelah semuanya pulih, barulah kamu turun tangan kembali," ujar Samsul.
"Iya, Pah." Ray mengangguk.
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, Ray benar-benar membuktikan ucapannya. Hari-hari yang dia jalani saat ini sibuk bersama keluarga kecilnya tanpa memikirkan prihal perusahaan. Sontak saja hal itu membuat Ella senang, karena suaminya sekarang punya waktu banyak untuknya dan juga kedua anak-anaknnya.
"Pop, main kelumah Gagal yuk," ajak si cantik Zura yang setiap harinya selalu minta main kerumah Gala sampai Ray bingung harus mencari alasan apalagi supaya bisa menolak keinginan Zura.
"Emm, Gala nya lagi diluar kota ikut om Galang kerja, Sayang," jawab Ray pada akhirnya kembali mencari alasan.
Bukannya tidak mau mengantar Zura kesana, tetapi Ray malu pada Galang dan Dela jika setiap hari dia dan Zura kesana hanya untuk menemui Gala. Bahkan Gala juga nampak risih saat Zura mendekatinya. Dia seolah enggan didekati oleh Zura, dan hal itu juga yang membuat Ray tidak mau mengantarkan putrinya kesana. Dia takut setelah Zura dewasa dan masih mengejar Gala seperti ini, dia akan jatuh cinta pada Gala namun justru cintanya malah bertepuk sebelah tangan.
"Pop boong." Zura cemberut dengan tangan yang dilipat di dada.
"Pop nggak bohong, Zura sayang. Gala memang sedang pergi keluar kota," ujar Ray.
"Ula nggak percaya," sergah bocah itu.
"Gini aja deh, kalo pop boong pop bakalan jadi apapun yang Zura mau," tawar Ray.
"Oke, kalo gitu pop halus pake hill mimom kalo pop ketauan boong," kata Zura.
"Oke siapa takut," seru Ray.
Sedangkan Zam, dia tak tertarik menimbrung pembicaraan mereka karena sesuatu di layar komputernya lebih menarik.
"Pop, tolong anterin ini dong ke mamih sama kadal," ucap Ella yang baru saja tiba bersama Wina, mereka membawa bebrapa paper bag di tangannya.
"Apa itu, Sayang?" tannya Ray penasaran.
"Ini tas sama kosmetik yang aku pesen dari miss Angelica," jawab Ella.
Ray pun mengangguk dan siap mengantarkan beberapa paper bag itu kerumah mertuanya. Tetapi Zura juga ingin ikut, dia ingin bertemu dengan Sasa. Dan beberapa saat kemudian mereka berdua pun berangkat ke kediaman Wirawan. Zura terlihat begitu senang karena setidaknya walaupun dia tidak bisa main kerumah Gala, tetapi dia bisa bermain dengan sepupunya Sasa.
"Pop," panggil Zura saat mereka sedang di perjalanan menuju kerumah sang omah.
"Apa, Sayang?" Ray melirik putrinya sekilas lalu dia kembali fokus menyetir.
"Ula, haus. Jajan dulu di indomalet yuk," ajaknya.
"Boleh, bentar ya. Kita cari indomaretnya dulu," sahut Ray.
Zura mengangguk kemudian dia menyandar sembari menatap jalanan di depannya, dalam hati kecil bocah itu masih ingin bermain bersama Gala. Tetapi apalah daya Gala sedang pergi keluar kota.
Sesampainya di indomaret, Zura dan Ray langsung turun. Zura berlari dengan cepat masuk kedalam indomaret membuat Ray geleng-geleng kepala. Ray terus memperhatikan putrinya yang sudah mengambil keranjang lalu memasukan banyak sekali snack coklat ciki dll termasuk kinderjoy.
"Katanya haus, tapi yang dibeli makanan semua." Ray terkekeh saat melihat Zura mengambil keranjang lagi setelah keranjang yang satunya penuh terisi jajanan.
"Ara, Ara. Dia masukin makanan lagi bukan minuman." Ray kembali geleng-geleng kepala di buat putrinya.
Ray pun berjalan menghampiri Zura yang masih sibuk memilih jajanan dan Ray melihat dua keranjang Zura yang sama sekali belum terisi minuman. Semuanya makanan dan kebanyakan coklat sama ciki.
"Minumannya mana, Sayang?" tanya Ray seraya tersenyum menatap putri kecilnya.
"Minuman?" Zura malah terlihat bingung.
"Katanya tadi kamu haus, hm? Kok nggak beli minum? Malah beli makanan semua," ujar Ray.
"Oh itu, maksud Ula tu Ula haus pengen jajan bukan pengen minum," sahutnya tanpa dosa.
Ray terkekeh mendengar jawaban putrinya lalu dia mengusak gemas puncak kepala sang putri.
__ADS_1
"Ada-ada aja kamu, yaudah lanjutin milih jajanannya sekalian buat Sasa juga," titah Ray.
"Siap, Pop!" serunya.
Zura kembali memilih jajanan namun dia terhenti saat atensinya menatap seseorang yang sangat dia rindukan, siapa lagi kalau bukan Gala. Anak laki-laki itu terlihat memasuki indomaret bersama dengan Galang lalu Zura menatap sang pipop yang tengah asik bermain ponsel.
"Telnyata pop boong, kesel Ula," gumamnya.
"Ray, lo disini juga?" Galang menepuk bahu Ray yang membuat pria itu menoleh.
"Eh elo, Lang." Ray memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Sama siapa lo kesini?" lanjutnya bertanya.
"Sama Gala," jawab Galang yang di angguki oleh Ray.
Lalu atensinya teralih pada Zura yang sudah menempel di lengan Gala membuat Ray untuk kesekian kalinya geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya dan sedetik kemudian Ray teringat ucapannya pada Zura dan juga janjinya.
"Mampus gue, semoga aja tu bocah lupa sama janji gue kalo ketauan boong," lirih Ray.
"Kenapa lo?" heran Galang.
"Nggak!" ketus Ray.
"Lagian ngapain sih lo pake kesini segala?" sewot Ray.
"Lah, ngapa lo sewot bener dah? Suka-suka gue dong mau kemari apa kagak, emang ni indo ada plang kagak boleh dimasukin Galang begitu." Galang memutar bola matanya malas.
"Hm."
Ray berlalu pergi untuk menghampiri puteinya.
"Gue ngomong panjang lebar dia cuma nyaut, hm, hm. Dasar samurai," gerutu Galang.
Ray terlihat mengambil dua keranjang yang sudah Zura penuhi dengan jajanan, kemudian dia membawanya ke kasir, setelah membayar Ray kembali menghampiri Zura dengan menenteng dia kresek besar jajanan bocah itu.
"Ara, udah kan jajan nya? Kita jalan lagi yuk," ajak Ray.
Bukannya menjawab, Zura malah menatap pipopnya kesal dengan bibir yang mengerucut. Ray tau pasti putrinya marah karena dia ketahuan berbohong prihal Gala. Ray menghela napas panjang kemudian tersenyum kearah putrinya.
"Ayok, Sayang. Omah udah nungguin," ucap Pria itu.
Ray bukannya marah, dia malah terkekeh. Zura terlihat lucu dan tingkahnya mengingatkan dia pada sosok sang istri pada saat dia masih berlagak polos.
"Nggak sekalian mogok bicara?" goda Ray.
"Ula mau mogok jalan aja," sahutnya.
"Kode minta di gendong nih," ledek Ray.
"Tapi tangan pop penuh, Sayang. Nanti aja ya gendongnya, sekarang jalan dulu," sahut Ray.
"Ula nggak jadi kelumah Omah," ucap Zura tiba-tiba.
"Kenapa? Tadi semangat banget mau ketemu Sasa, kok sekarang nggak jadi," heran Ray.
"Ula mau main kelumah Gagal aja," ucap bocah itu.
"Galanya mau pergi, Sayang. Iyakan, Gal?" Ray melirik Gala dengan mata yang berkedip.
"Siapa yang mau keluar kota, Ray? Anak gue nggak akan kemana-mana, jadi Zura boleh main kerumah," sahut Galang yang membuat Ray menggeram kesal.
"Lo! Euh!" Ray menggeram kesal.
"Ayok, Ara. Kita pergi." Ray menggigit satu kantong keresek besar di mulutnya, satu lagi tetap di tenteng dan sebelah tangan yang lain memangku Zura dengan paksa.
"Tu orang kenapa? Aneh bat dah." Galang melongo melihat kelakuan Ray.
"Om Ray kenapa ya, Gal?" Galang melirik putranya yang hanya menjawab gedikan bahu pertanda tidak tau.
Sesampainya di mobil, Zura cemberut dan tidak menatap kearah Ray. Dia sangat kesal pad pipop tampannya itu, gagal sudah rencananya untuk bermain kerumah sang pujaan hati. Sepanjang perjalanan Zura hanya terdiam dan masih tidak mau berbicara pada Ray sampai akhirnya mereka tiba di kediaman Wirawan.
"Ayok turun, Princess," ucap Ray lembut.
Zura melirik Ray sekilas kemudian dia segera turun dari mobil sendiri namun yang membuat Ray heran Zura malah kembali masuk kedalam mobil bagian belakang membuat Ray yang hendak turun pun urung.
Ray awalnya bingung dengan apa yang dilakukan oleh sang putri namun setelah melihat apa yang di ambil oleh putrinya kini Ray mengerti dan dia langsung menghela napas panjang.
"Tepatin janji, Pop," ucap Zura seraya menyerahkan hills sang mimom yang cukup tinggi dengan kepada pipopnya.
"Pending aja ya, Ra. Jangan sekarang, masa pipop masuk kerumah omah pake hills, kan nggak lucu," nego Ray.
__ADS_1
"Nggak ada bantahan, siapa suluh boong. Ayo pake cepet pop, kalo enggak, Ula lapolin mimom," ancam Zura.
Dengan sangat amat terpaksa Ray mengangguk lalu mengambil hills tersebut dari tangan mungil Zura. Membuka sepatu yang tengah dia kenakan dan menggantinya dengan hills sang istri yang bawahnya runcing plus tinggi berwarna merah menyala.
Zura tersenyum senang melihat wajah pipopnya ditekuk, kemudian dia langsung mengajak Ray keluar. Zura berjalan terlebih dahulu sementara Ray berjalan dengan begitu lambat, sudah jalan susah karena pakai hills ditambah lagi kedua tangannya menenteng kantong kresek besar berisi jajanan Zura dan tak hanya itu. Di kedua Pergelangan tangannya juga diisi beberapa paper bag yang berjejer. Lengkap sudah penderitaan papah muda itu.
"Omah! Opah! Om sesat ante kadal, micin! Ula cantik datang!" teriak Zura begitu memasuki rumah Wardana.
"Nggak usah triak-triak, Zur! Ini rumah bukan rimba," sahut Satria si om sesat.
"Hay om Sesat? Apa kabal? Semoga kabalnya buluk ya, sebuluk muka, Om," sapa Zura cengengesan.
"Dasar ponakan luknut, nggak emaknya, nggak anaknya. Sama aja nyebelin," gerutu Satria namun tetap saja pria itu menggendong Zura lalu menciumi pipi gembulnya gemas.
"Om Sesat bau, belum mandi ya?" celetuk Zura.
"Enak aja, Om udah mandi ya," sewot Satria.
"Cucu omah!" teriak Rina menggelegar dari atas tangga begitu dia melihat Zura.
"Pantes anak cucunya pada suka teriak, neneknya aja tarzan," gumam Satria yang masih terdengar oleh Zura.
"Omah! Om sesat ngatain omah talzan," teriak Zura yang langsung melompat dari gendongan Satria.
"Satria!" Rina memelototi putranya.
"Hehe, ampun, Mih canda," ucap Satria cengengesan.
"Boong omah, om sesat selius tadi ngomongnya," ucap Zura memprovokasi.
"Belum bisa nyebut R aja sok-soan provokasi orang lu bocah," delik Satria.
"Diam, Satria! Kamu tu kayak bocah aja kerjaannya debat mulu," lerai Rina.
"Eh ada cucu opah, kapan datang, Sayang?" Andi yang baru keluar dari ruang kerja menghampiri mereka.
"Balu aja, Opah," jawab Zura.
"Sama siapa kesini, Ra?" tanya Dalina yang baru keluar dari kamar bersama dengan Sasa.
"Eh iya, Sayang. Kamu kesini sama siapa?" Rina melirik kesana kemari dan tidak terlihat keberadaan Ray maupun Ella.
"Sama pipop Omah," jawab Zura.
"Pipopnya mana?" Andi yang bertanya.
"Masih dilual kali," kata Zura.
"Ngapain tu samuray diluar? Lama amat masuknya, lagi smedi di teras kali ya," ucap Satria.
Tak lama kemudian munculah sosok Ray yang berjalan pelan seperti semut, dengan tangan penuh dengan kresek dan juga paper bag. Kedua Tangan Ray menjulur kedepan seperti vampir dengan jalan yang sama pula.
Semua orang yang ada disana melongo melihatnya, apalagi saat pandangan mereka tertuju pada kaki Ray. Setelah atas ok, kemeja rapih dengan kancing sedikit terbuka di bagian dada dan celana bahan hitam panjang. Tetapi saat melihat kebawah, pakai hills yaampun. Mereka geleng-geleng kepala.
"Ray, lo sehat?" celetuk Satria.
"Alhamdulillah otak gue miring," sahut Ray kesal membuat Satria cengengesan.
"Jangan cengengesan, mending bantuin gue," sungut Ray.
Satria pun bergegas membantu Ray begitu juga dengan Andi, mereka mengambil semua barang yang menggantung di tangan Ray. Setelah semua barang ditangannya terlepas, Ray bernapas lega kemudian dia merentangkan kedua tangannya yang terasa pegal.
"Berat juga jajanan kamu, Ra," ucap Ray seraya melangkah menghampiri putrinya.
Brukk!
Belum sempat Ray sampai di depan Zura, pria itu sudah jatuh tersungkur karena hills yang dipakainya tersangkut di karpet.
"Kalpetnya nggak pa-pa kan, Pop?" tanya Zura pada Ray yang masih nungging di atas karpet.
"Karpetnya baik-baik aja, Ra. Nggak luka apa lagi berdarah," sahut Ray meringis tetapi bukan karena sakit namun karena malu di tambah lagi sang putri malah menanyakan keadaan karpet bukan keadaan dirinya.
'Sakitnya tak seberapa, tapi malunya luar biasa,' batin Ray tanpa bergerak sedikitpun.
"Ray bangun, apa kamu mau nungging terus sampe bertelur?" ucap Andi membuat Ray semakin malu saja.
.
..
Jejak guyssss! Apa masih ada yang baca setelah sekian lama aku bersemedi 😁😁
__ADS_1