
Karena kesal di ledek oleh dua bocil, Kiana pun berlalu pergi ke taman belakang untuk menelepon Ragil, bukan mau ngadu namun karena Kiana Rindu pria itu.
"Kalian sih, Tante Kian nya di ledekin. Jadi pergi kan?" Ella menatap kedua anaknya.
"Zua kan ngomong pakta, Mom," bela Zura.
"Pakta apaan sih? Siapa juga yang ngajarin kamu ngomong kayak gitu?" tanya Ella.
"Om Tia, Mom. Katanya kalo pelempuan nggak nikah-nikah bakal kalatan, Mom. Sama kayak piso kalo di bialin nggak di pake pasti kalatan. Begitu juga dengan tempe, kalo di bialin pasti bulukan. Jadi, kalo pelempuan nggak nikah-nikah pasti kalatan plus bulukan," terang Zura.
"Makannya, Zua mau cepat nikah sama Gagal, bial Zua nya enggak kalatan dan bulukan," sambung bocil bawel itu.
"Bangsattt!" geram Ella.
"Mimom kenapa?" tanya Zura heran karena mimomnya terlihat marah.
"Nggak pa-pa, lain kali jangan dengerin omongan Om kamu ya, dia itu sesat," ucap Ella memperingatkan.
"Oke, Mom." Bocah bawel itu mengacungkan jempolnya.
"Ada-ada aja abang kamu, Ell." Dela terkekeh.
"Heran deh sama, Bangsat. Ada aja kelakuannya yang bikin kesel," gerutu Ella.
"Bukan Bangsat namanya kalo nggak bikin kesel," ucap Dela.
"Oh ya, Ell. Katanya kamu mau cerita tentang Nando," sambungnya sambil melirik Ella.
"Sekarang?"
"Taun depan, ya sekarang lah. Aku udah penasaran nih," ucap Dela tak sabar.
"Ciee, balik lagi ke aku. Nggak gue," ledek Ella.
"Iss, malah ngeledekin lagi. Suka-suka gue dong. Cepetan cerita," kesal Dela.
"Tanpa Kia?"
"Iya, nggak pa-pa. Biar gue ceritain ke si Kia nanti," ujar Dela.
"Ok, jadi apa yang mau lo tau?"
"Kenapa lo kayaknya benci sama, Nando?"
"Karena sebuah alasan," jawab Ella.
"Iya apa, Markoneng!"
"Jadi gini.... Dulu itu, gue punya sahabat namanya Vanya, gue deket banget sama dia. Bahkan udah kayak sodara. Gue juga deket sama Nando, bisa di bilang suka tapi nggak cinta kek nya. Nando itu baik banget, perhatian. Dia sering ngajak jalan gue, traktir makan, belanjain ini itu dan setiap pagi, dia selalu ngasih gue coklat, bunga, boneka dengan kartu ucapan yang di dalamnya tertulis kata-kata manis. Otomatis gue melting dong, gue jadi mikir dia suka sama gue dan gue selalu cerita tentang semua itu kepada Vanya. Pada suatu hari gue di ajak Nando kelapangan, di sana banyak banget anak-anak ngumpul. Gue pikir Nando bakalan nembak gue." Ella mengentikan ucapannya.
"Dia nggak nembak lo gitu? Terus dia mau ngapain bawa lo ke lapangan?" tanya Dela.
"Nyuruh gue jadi penonton saat dia nembak Vanya, lo bisa bayangin gimana sakitnya di posisi gue saat itu," ujar Ella.
"What? Ternyata si Nando diam-diam menenggelamkan," ucap Dela.
"Emangnya dia deket sama siapa? Tanya, ah sama wanita itu?" tanya Dela lagi.
__ADS_1
"Itu dia, Nando tuh nggak pernah deket sama si Vanya, bahkan saling bertegur sapa aja nggak pernah," heran Ella.
"Kok aneh ya?"
"Nggak aneh, mungkin itu cara Nando buat nyakitin gue. Dah lah jangan bahas hal ini, lagian sekarang udah ada kak Ray yang jauh lebih baik dari Nando," ucap Ella.
"Jadi cinta pertama lo bukan pak Ray dong? Tapi Nando."
"Kan gue udah bilang, gue nggak cinta sama Nando. Gue cuma suka doang sama dia, suka bukan berarti cinta, Del. Cinta gue cuma buat Kak Ray seorang, dosen kulkas yang paling menyebalkan," ujar Ella.
"Sepeda!" teriak seorang begitu menggelegar.
"Astaga bangsat! Nggak usah teriak-triak ini bukan hutan." Ella ikutan teriak.
"Abang kamu tu, Ell. Kerjaan nya teriak-teriak mulu. Di rumah juga gitu, marahin aja, Ell. Kalo perlu gergaji pita suaranya," ucap Dalina yang berjalan di belakang Satria.
"Kadal ikut kesini juga? Horee! Rumah ini jadi rame," seru Ella saat melihat Kadalnya.
"Iya, Ell. Bete di rumah," jawab Dalina sembari menghampiri Ella.
"Hai Micin, udah gede ya kamu." Ella menjawil pipi gembul bocah berusia 2 lebih itu.
Bocah itu hanya terdiam sembari menatap Ella, kemudian bocah itu menatap ke arah kedua orang tuanya.
"Kenapa, Sayang? Tante kamu jahat ya? Nama bagus-bagus di panggil penyedap," ucap Satria sembari meraih Sasa ke dalam gendongannya.
"Ate aat," ucap Sasa.
"Iya, Tante kamu jahat. Cuma ayah yang super baik." Satria mengecupi pipi gembul Sasa.
"Cih, baik katanya. Ayah somplak iya," cibir Ella.
"Sirik sama lo? Ogah!"
"Ponakan gue pada kemana, Ell?" tanya Satria.
"Nggak tau, pada kemana ya tadi? Del, Anak-anak kemana?" Ella melirik Dela yang sedang bermain ponsel.
"Pada ke taman belakang nyusulin Kiana. Katanya mau minta maaf," jawab Dela.
"Yodah, kita susulin aja yok."
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke taman belakang, di sana terlihat Zura sedang menggelar karpet bersama dengan Kiana di atas rumput hijau.
"Kalian lagi ngapain?" tanya Dalina.
"Gelal kalpet, Tan," jawab Zura.
"Iya, tau. Maksudnya buat apa gelar karpet di situ? Kan ada kursi," ucap Dalina.
"Kalo tau kenapa nanya? Harusnya Tan itu, nanya nya gini. Buat apa gelal kalpet, itu balu benal," koreksi Zura.
"Iya iya, Zura memang pintar."
"Kita duduk disini sambil menikmati cemilan." Dalina mengeluarkan berbagai makanan ringan dan juga perkuehan dari dalam kantong yang dia bawa.
Mereka pun duduk di karpet yang tergelar itu lesehan sembari menikmati aneka cemilan.
__ADS_1
"Cin, sini duduk sama dedek gemoy," ucap Zura pada Sasa.
"Cin cin, cin. Anak Om itu namanya Sasa, bukan micin apalagi bucin," ucap Satria membenarkan namun tidak di gubris oleh Zura.
"Abang, buka." Zura meraih susu kotak di hadapannya kemudian menyerahkannya pada sang abang.
"Ya elah, Zuzur! Ketimbang tojos aja pake sedotan masa kagak bisa." Cibir Satria namun lagi-lagi tidak di gubris oleh Zura.
"Nih." Zam menyerahkan susu kotak yang sudah di tusuk sedotan .
"Tumben nggak minta tolong ke Gala?" tanya Ella karena putrinya selalu saja mencari perhatian Gala dan membuka cemilan pun pasti minta tolong pada Gala.
"Zua nggak mau jadi ulat, Mom," jawab Zura.
"Hah? Apa hubungannya minta tolong sama ulat?" bingung Ella.
"Tadi Zua liat di TV, pelempuan yang deketin plia mulu itu katanya gatel. Jadi Zua nggak mau gatel kayak ulat," ujar bocah itu.
"Ya ya ya, baguslah. Biar putri Mimon nggak ganjen," ucap Ella.
"Palingan cuma bentaran doang nggak ganjen nya, abis itu kamu pasti ngejar-ngejar Gala lagi dan nempelin dia kayak prangko," ujar Satria sembari menatap wajah cantik Zura yang begitu mirip dengan Ella.
"Ekhem, sian ada yang di kacangin." Dalina mengejek suaminya yang omongannya tidak di gubris oleh Zura.
"Zura, kamu mau ini nggak?" Dalina menunjukan satu batang coklat berukuran sedang.
"Mau, Tan. Zua mau coklat," jawab Zura cepat.
"Nih." Dalina memberikan coklat itu.
"Zur, mau ini juga nggak?" Satria menunjukan kinder joy kesukaan Zura.
"Abang buka." Zura malah meminta tolong untuk membukakan coklatnya kepada Zam bukan menjawab omongan Satria.
"Anak lu kenapa si, Dek? Kenapa gue di kacangin mulu?" Satria menatap sang adik.
"Nggak tau, mungkin dia gegek liat wajah abang. Jadi males ngomong," Jawab Ella.
"Zura, cantik. Keponakan, Om yang paling baik. Zura kenapa, hm? Zura marah sama, Om? Kok Zura nggak mau ngomong sama, Om?" Satria mendekati Zura.
"Hey, sini liat, Om. Om lagi ngomong sama Zura, loh." Satria mulai kesal karena di cuekin bahkan Zura terlihat seperti tidak mendengar ucapannya.
"Ra, Om lagi bicara sama kamu tuh. Kamu kenapa sih diem mulu? Kamu sakit?" tanya Ella.
"Tapi yang lain tadi di tanggepin kok," lanjutnya.
"Kan kata, Mimom. Jangan dengelin omongan Om Tia, omongan nya sesat. Jadi Zua ndak dengelin," ucap Zura polos.
"Astaga! Ternyata gara-gara tadi." Ella menepuk keningnya.
"Wah! Ternyata elu biangnya, Dek!" Satria menatap sang adik.
"Bukan gitu, Bang. Maksudnya--- Aduh ampun, Bang geli. Udah, Bang ampun!" teriak Ella saat Satria menggelitiki pinggangnya.
Hay hay, jan lupa jejak. Tap like, komen and vote ya gus😘
Otor punya rekomendasi novel lagi nih. Ini nggak kalah seru dari yg kemaren2. Coba deh cuss kepoin sembari nunggu Ella up😍
__ADS_1