
"Galang overdosis minuman, Ray, Sekarang dia dirawat karna tidak sadarkan diri."Jelas Wina panik.
"What, kok bisa Mam. Perasaan si Galang kalo minum gak pernah berlebihan, paling mentok juga dua gelas."Ucap Ray dengan wajah tak kalah paniknya.
"Mama juga gak tau, tadi om Adi yang ngabarin. Mending kalian kesana aja liat bagaimana kondisi Galang, nanti Mama nyusul sama Papa."Ujar Wina.
"Iya, Mam. Kita kesana sekarang. Ayok."ucap Ray sambil melirik Satria dan juga Rendi tak lupa juga dia menggandeng sang istri.
Mereka pun melangkah keluar dari rumah, mereka pergi dengan menaiki mobil masing-masing.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka dirumah sakit tempat Galang di rawat. Sebelumnya tadi Ray menghubungi om Adi terlebih dahulu untuk menanyakan di rumah sakit mana Galang dirawat.
"Bagaimana keadaan Galang, om?"tanya Ray pada om Adi, ayah dari galang saat mereka sampai di depan ruangan Galang.
"Masih belum sadar, Ray."Jawab om Adi lesu.
"Tante kemana, om?"tanya Rendi.
"Tante masih ada di bandung, rencananya hari ini Om mau menjemputnya!"ujar om Adi.
"Kalau Om mau menjemput Tante, tidak papa. Biar kami yang menjaga Galang."ucap Satria.
"Apa tidak merepotkan?"
"Tidak om, kami juga sedang tidak ada pekerjaan."
"Baiklah kalau begitu om titip Galang, ya."ucap om Adi.
"Iya, om. kami akan menjaga Galang."
"Kalau begitu, om pamit, ya."
"Hati-hati, om."
Om Adi pun melangkahkan kakinya, pergi dari hadapan mereka.
"Kak Ray, kenapa kak Alang bisa overdosis minuman? bukan kah banyak minum itu baik ya, untuk tubuh?"tanya Ella yang sedari tadi diam saja.
"Galang bukan overdosis minum air putih, sayang."Ray menatap sang istri.
"Lalu, minum apa dong?"
"Alkohol."Satria yang menjawab.
"Bukankah alkohol itu, untuk mengobati luka, ya?"tanya Ella lagi.
"Bocil mah, diem aja dah. Belibet gua ngejelasin sama elu."Satria menatap Ella sengit.
"Ih, akunya bukan bocah, ya."ucap Ella tidak terima.
"Udah-udah, mending kita kedalam liat Galang."lerai Ray.
"Ya udah, nyok kita masuk."ajak Satria.
Merekapun masuk kedalam ruang rawat Galang, terlihat disana Galang terbaring lemah dan masih belum sadarkan diri.
"Lang, lo ngapa sih? ngapa bisa jadi kayak gini?"Satria mendekat kearah Galang.
"Lo, ada masalah apa bro? sampai lo berbuat kayak gini? kenapa lo gak cerita sama kita kalo elo lagi punya masalah. Kenapa malah minuman yang jadi pelarian lo."ucap Rendi yang berdiri disamping kanan Galang.
__ADS_1
"Cepet sadar, Lang. Kita semua kangen sama elo yang ceria tanpa beban. Sorry selama ini gue gak peka, kalo elu lagi ada masalah."Ray menatap sahabatnya dengan tatapan bersalah, dia merasa jadi sahabat yang tidak peka, padahal Galang selalu membantunya dikala dirinya sedang ada masalah.
"Kak Alang, bangun dong. Kakak gak kangen apa? sama Ella yang imut ini."Ella mendekati Galang, lalu dia duduk di kursi yang berada di samping ranjang Galang.
"E..lla,"suara Galang terdengar begitu lirih.
"Kak Ray, kak Alang sadar, ya? tadi dia manggil aku."ucap Ella berbinar.
"Iya, sayang. Sepertinya Galang sudah sadar."Ray langsung mendekati Galang, tapi ternyata dia belum membuka matanya.
"Lang, bangun."Satria juga ikut mendekat.
"Lah, kok kagak ada suaranya lagi,"ucap Rendi.
"Coba lu panggil dia, dek. Sapa tau nyaut lagi."Satria melirik sang adik.
"Kak Alang, bangun dong."ucap Ella sambil memegang tangan Galang.
"E..lla a..ku men..cin..tai mu."lirih Galang terbata-bata, dia masih berada di alam bawah sadarnya.
Deg!
Jantung Ray terasa tercubit saat mendengar lirihan Galang. Dia berharap semua ini tidak benar, tidak mungkin kan? jika Galang mencintai istrinya.
"E..lla,"lirihnya lagi.
"Ini gak mungkin kan? Sat."Ray melirik kearah Satria.
"Mungkin aja Ray, dan ini adalah alasan dia selama ini gak pernah mau lagi di ajak kerumah lo. mungkin dia takut gak bisa menahan perasaannya pada Ella."ucap Satria.
"Kenapa harus istri gue, Sat?"lirih Ray.
"Gue harap, kejadian ini tidak akan membuat persahabatan kalian menjadi renggang. Gue yakin Galang juga gak mau memiliki rasa itu."sambungnya sambil menepuk bahu Ray.
"Kak Ray kenapa?"Ella melihat wajah suaminya yang tampak lesu, karna tadi Ella tidak mendengarkan ucapan Galang, dia sedang tidak fokus.
"Apakah kamu mendengar, apa yang di ucapkan Galang tadi?"tanya Ray.
"Engga, tadi aku gak dengerin. Karna akunya lagi fokus liatin ini."Ella meunjuk infusan yang terpasang di tangan Galang.
"Lah, ngapa lo malah ngeliatin entu?"tanya Satria gemas.
"Akunya heran, kenapa kak Galang dikasih minum lewat tangan? bukannya lewat mulut."ujar Ella yang terlihat penasaran.
"Itu infusan bego, gue heran kenapa banyak yang suka sama elo dah, padahal otak lo itu kurang se'ons."cibir Satria.
"Dasar abang luknut, masa adek sendiri di katain. Abang tau gak? abang itu adalah abang terdurjana yang ada di muka bumi ini."Ella menatap tajam Satria.
"Emang itu kenyataannya, Dan elo juga adalah adek yang paling menyebalkan di dunia ini."Satria membalas tatapan Ella.
"Kalian ini ribut gak tau tempat. Lo juga Sat, kelakuan lu kayak bocah tau gak."sengit Rendi.
"Bodo amat."
"Kalian bisa diem gak, ini dirumah sakit."ucap Ray.
"Siapa juga yang bilang ini di pasar malem."ujar Satria.
"Shut, liat tuh, jari kak Alang gerak."ucap Ella.
__ADS_1
"Iya iya, jari si Galang gerak."heboh Rendi..
"A..ir."ucap Galang serak sambil perlahan-lahan membuka matanya.
"Lo udah sadar, Lang?"Rendi langsung mendekat.
"A..ir."
"Ah, iya. Ni minum lang."Rendi langsung membantu Galang untuk minum.
"Lagi?"
"Sudah."lirih Galang.
"Kak Alang, mana yang sakit?"tanya Ella sambil menatap Galang.
"Aku baik-baik saja, Ell."Jawab Galang tersenyum tipis.
"Kenapa lo bisa sampai kayak gini, Lang? "tanya Satria.
"Gue lagi banyak pikiran aja, Sat."Galang tersenyum kaku.
"Lo punya masalah apa? sehingga lo lampiasin ke minuman kayak gini. Kenapa lo gak cerita sama kita?"Satria pura-pura tidak tau apa masalah Galang.
"Hanya masalah pekerjaan."Jawab Galang.
"Yakin? cuma masalah pekerjaan?"ucap Ray sinis dan juga penuh penekanan.
"Iya, Ray. Hanya masalah pekerjaan."Galang menatap heran Ray, dia merasa Ray sedari tadi selalu menatapnya sinis.
"Lo gak boleh kayak gini lagi, Lang. Kita hawatir banget tau gak saat denger lo overdosis."ujar Rendi mencairkan suasana yang mulai menegang.
"Sorry. Mungkin otak gue terlalu kacau, sehingga gue memilih melampiakannya pada minuman."ucap Galang menyesal.
"Aku gak mau ah, banyak minum. Ntar kayak kak Alang lagi masuk rumah sakit."celetuk Ella.
"Ya ampun, ni Maemunah. Tetep aja dia mikir kalo elo kayak gini kebanyakan minum air putih."ucap Satria.
"Makannya, abang jawab dong. Kak Alang itu minum air apa? air comberan kah? makannya dia jadi sakit."ujar Ella dengan polosnya.
"Adek manis, kak Galang itu sakit bukan karna kebanyakan minum air putih. Tapi karna kak Galang meminum minuman keras."Jelas Galang.
"Emang ada ya minuman yang keras? oh aku tau, pasti es batu kan?"tanya Ella menatap Galang serius,
"Buk.."
"Dah, gak usah nanya mulu. Sini duduk bareng kakak."Ray langsung memotong ucapan Galang.
"Ih, belum juga di jawab sama kak Alang, Kak Ray main serobot aja."gerutu Ella.
"Biarin aja, mending nyerobot daripada nikung."ucap Ray sambil melirik Galang sinis.
"Lo, kenapa sih Ray? dari tadi gue perhatiin lo sinis mulu sama gue?"ucap Galang menatap Ray penuh tanya.
"Lo gak sadar dengan kesalahan lo?"Ray membalas tatapan Galang dengan sinis.
"Gue salah apa sama lo? perasaan gue gak salah apa-apa."tanya Galang.
"Gak salah apa-apa lo bilang? apa mencintai istri orang itu tidak salah?"
__ADS_1