Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Nenek lampir jahat.


__ADS_3

"Napa tu muka? di tekuk bae."tanya David sembari memperhatikan Ella yang sedang cemberut.


"Aku lagi kesel sama kak Ray."Jawab Ella ketus.


"Emang dia kenapa?"


Ella pun menceritakan apa yang tadi terjadi di restoran.


"Kalau menurut pandangan gue niye, si Ray entu kagak sepenuhnya salah. Dia cuma meeting di tugaskan sama bokapnya dan dia juga udah berusaha menghindar dari tu cewek. Berati yang kudu lo salahin ya entu cewek bukan lakik elu, lu kudu waspada ama tu cewek, apalagi dia kenal deket sama keluarga lakik lu."ujar David.


"Tapi tetep aja, aku kesel pake banget sama kak Ray."ucap Ella.


"Kagak boleh gitu, pasti lakik lu lagi nyariin lu sekarang. Telpone gih, bilang kalo elu lagi di markas."perintah David.


Memang setelah dari restoran tadi, Ella langsung pergi menuju ke markas AOD.


"Nanti ajalah."Ella malah merebahkan dirinya di sopa.


"Sekarang, kasian lakik lu nyariin."


"Kamu aja deh Dave, yang nelpone dia."ucap Ella.


David pun menuruti perintah Ella, dia menelpone Ray untuk mengabarinya bahwa Ella sedang berada di markas dan benar saja, di sebrang sana suara Ray terdengar begitu prustasi, mungkin dia pusing mencari Ella.


Beberapa saat kemudian Ray telah sampai di markas AOD.


"Istri gue dimana Dave?"tanya Ray pada David yang tengah berdiri di halaman markas, entah apa yang sedang dia lakukan.


"Tidur noh, di sopa."Jawab David.


Ray pun langsung saja melangkahkan kaki jenjangnya masuk kedalam markas.


"Sayang, jangan tidur disini, nanti badan mu sakit, hm."Ray mengelus pelan surai panjang Ella, kemudian dia mengecup lembut kening istrinya.


"Kak Ray."lirih Ella sembari membuka matanya.


"Maafin kakak ya, lagi-lagi kakak membuat kamu kecewa."ucap Ray memelas.


"Kak Ray gak salah kok, akunya aja yang terlalu lebay. Aku juga minta maaf ya, aku udah kesel sama kak Ray tadi."ujar Ella sembari tersenyum tulus.


"Jangan pergi lagi, kakak gak tau apa jadinya hidup kakak jika tanpa kamu."

__ADS_1


Mereka berdua pun berpelukan, saling menumpahkan rasa sayang dan juga rasa takut kehilangan.


Setelah puas berpelukan, mereka pun pulang dengan menaiki mobil Ray, kali ini mereka akan pulang ke kediaman keluarga Wardana.


Sesampainya disana Ella langsung saja turun terlebih dahulu, tapi dia heran mengapa ada mobil yang tidak ia kenali terparkir disini.


"Mobil tamunya Papah kali ya?"monolog Ella sembari melangkah masuk kedalam rumah.


"Ck, ngapain tu pelokor di mari."ucap Ella dengan dada yang kembali bergemuruh.


"Kenapa sayang?"tanya Ray yang melihat Ella berhenti di ambang pintu.


"Pelokor itu ada disini kak Ray."Ella menunjuk kumpulan orang yang berada di ruang tamu.


"Ayok masuk,"Ray merangkul Ella dan membawanya menuju ke ruang tamu.


"Eh, kalian udah pulang. Sini sayang duduk deket Mamah."ucap Wina sembari menuntun Ella untuk duduk disampingnya di ikuti oleh Ray yang duduk di samping Samsul.


"Perkenalkan Jeng Dewi, pak Andre, ini menantu saya Ella."Wina memperkenalkan Ella pada orang tua Carla.


"Oh, ini mantu mu, Jeng."ucap Dewi.


"Iya, cantikan?"ujar Wina, Dewi hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Kalian berdua sama cantiknya."Wina tersenyum kepada Carla sembari mengusap surai panjang Ella.


"Iya atuh kita sama cantiknya, imutnya juga sama iya kan? Mih."ucap Ella polos.


"Iya, sayang."


"Yah, itu tuh cewek yang tadi aku bilang. Dia udah bikin meetingnya jadi berantakan."adu Carla kepada ayahnya.


"Apa benar kamu telah membuat meeting anak saya dan juga Ray menjadi berantakan?"tanya Andre sembari menatap Ella tajam.


"Engga om, akunya cuma duduk aja kok tadi. Akunya juga gak berantakin apa-apa, suer deh."Jawab Ella polos.


"Lantas, kenapa Ray pergi meninggalkan meeting begitu saja? pasti kamu kan yang mengajaknya pergi."ucap Andre.


"Akunya gak ngajak kak Ray pergi, dia yang ngajak aku, dia bilang gini. Ayok sayang kita pergi. Nah gitu, berati dia kan yang ngajak aku pergi."ujar Ella berbelit.


"Maaf om, semua masalah ini tidak ada hubungannya dengan istri saya. Saya membatalkan meeting bukan karna permintaan istri saya, tapi karna keinginan saya sendiri."ucap Ray menyela.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa dong membatalkan meeting begitu saja. Aku dan ayah mu sudah lama sekali bekerja sama dan sekarang hanya karna wanita itu, kamu dengan gampangnya membatalkan meeting yang begitu penting."marah Andre.


"Begini Andre, saya rasa anak saya membatalkan meeting karna suatu alasan. Dia tidak mungkin membatalkan meeting begitu saja tanpa alasan yang jelas dan satu lagi jangan pernah libatkan atau menyalahkan menantu saya dalam hal ini."ucap Samsul tak kalah emosi,


"Om, kenapa om malah membela wanita itu, jelas-jelas dia yang telah membuat meeting kita berantakan."sahut Carla sambil menatap Ella dengan tatapan penuh kebencian.


"Dengar Carla, dia adalah istri Ray dan juga menantu Om, sekali lagi om minta jangan salahkan dia, dia tidak tau apa-apa, dia hanyalah seorang gadis polos dan untuk meeting lebih baik kita atur jadwal ulang saja."ucap Samsul tegas.


"Tante juga setuju, lebih baik atur jadwal ulang saja daripada masalah ini semakin memanjang."timpal Wina.


"Tapi yang mewakili meetingnya tetap Ray kan, Om?"tanya Carla penuh harap.


"Tidak, biar om sendiri yang turun tangan bersama Ayah mu, jadi kita sendiri yang akan mengurus tentang proyek ini."Jelas Samsul.


"Yah,"rengek Carla kepada Andre.


"Sul, bagaimana kalau kita biarkan saja anak-anak kita yang menghendel proyek ini sekaligus membahas tentang kerja sama perusahaan yang baru."nego Andre.


"Maaf Ndre, sepertinya Ray tidak akan ikut campur lagi dalam masalah perusahaan, dia sangat sibuk di kampus dan juga mengurus istrinya yang sedang hamil muda."ucap Samsul.


"Cih, masih bocah udah hamil."cibir Carla.


"Akunya udah gede ya kakak galak, aku bukan bocah."cebik Ella.


"Lo itu masih bocah, nyadar gak sih lo?"


"Enggak, karna akunya udah gede. Yang masih bocah itu kakak galak, masa enggak malu sih dari tadi marah-marah terus, kan yang biasanya gak tau malu itu bocah."skakmat, Carla kalah telak hanya dengan tingkah polos Ella.


"Lo, sekali lagi lo manggil gue kakak galak, gue gorok leher lo."marah Carla.


"Kakak kan emang galak, buktinya itu kakak mau gorok aku. Tapi akunya gak mau ah di gorok, entar akunya .jadi kayak sapi kurban."


"Jangan panggil gue kakak, karna gue bukan kakak Ello."


"Kan kata Mamih aku, kalau manggil orang yang lebih tua itu harus sopan, kamu kan udah tua, jadi aku panggil kakak biar sopan."ucap Ella penuh penekanan pada kalimat tua.


"Ngadepin bocah kayak lo bikin gue naik darah, amit-amit deh gue ketemu sama orang kayak elo lagi."


"Bagus tuh kalau naik darah, kan bisa di donorin ke PMI lumayan nabung pahala, jangan dosa mulu yang di tabung."ujar Ella.


"Lagian akunya juga gak mau ketemu sama kamu lagi, nenek lampir jahat, genit, ganjen, gatel kayak ulat bulu. Tangannya gak bisa diem culak-colek lakik orang mulu, udah gitu matanya jelalatan kek orang cacingan, pakek segala balon udara di sembul-sembulin, udah kayak lont3 aja."sambungnya emosi dan itu sukses membuat orang di sekitarnya melongo dengan ucapan Ella.

__ADS_1


Mohon untuk tinggalkan jejak,😘


LikeπŸ‘ Comen and Vote yaπŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


__ADS_2