
Perasaan Ella saat ini sangatlah kacau, dia bingung, benar-benar bingung. Apakah dia harus menghabisi Rafly dengan cara menerima tantangan untuk duel? Entahlah, di sisi lain Ella merasa kasihan akan nasib hidup Rafly, tetapi saat melihat sikapnya yang tidak mau berubah dan masih menyimpan belenggu dendam yang mendarah daging, itu membuat Ella ingin segera menghabisinya. Jiwa pisikopatnya seakan terbangun kembali dari tidur panjangnya.
"Apa lo bakalan tetep ngabisin dia?" tanya David yang sudah tampak segar.
"Sepertinya begitu, karena tidak ada harapan untuknya berubah. Di bebaskan pun akan bahaya bagi kita. Dia akan selalu mencari celah untuk menghabisi kita," ujar Ella.
"Kenapa gak di kurung aja, Ell. Sampai dia mati, gak usah di bunuh gitu, kan ngeri," saran Dela.
"Markas gak selamanya aman, Del. Bisa saja ada musuh masuk menyelinap, lalu membebaskan Rafly. Bahaya akan mengintai kita, karena pasti mereka akan bekerja sama untuk menghancurkan AOD," tutur Ella.
"Ternyata dunia hitam begitu mengerikan, banyak sekali rintangan dan juga bahaya," ucap Dela.
"Makannya, kamu jangan sampai terjerembab masuk ke dunia hitam, Del." Ella melirik Dela sekilas.
"Gak lah, Ell. Jaga diri sendiri aja gak bisa, gimana mau masuk ke dunia hitam."
Karena hari sudah menjelang sore, Ella pun memutuskan untuk pulang setelah dia berpamitan kepada para anggota. Ella melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan sepi dan juga jejeran pohon rindang yang mengelilingi markas AOD. Untuk bisa mencapai jalanan ramai dari markas memanglah cukup jauh, karena markas AOD letaknya di tengah hutan belantara.
"Ell, sepertinya mobil hitam itu mengikuti kita," ucap Dela sembari menunjuk mobil yang ada di belakang mereka.
"Shitt, ternyata kedatangan ku terendus oleh para musuh." Ella mendengus kesal.
"Gimana ini, Ell? aku takut mereka akan menyakiti kita." Dela terlihat begitu panik.
"Kamu tenang, Del. Kita akan baik-baik saja," ucap Ella menenangkan.
Cekitttt!
Ella mengerem mobilnya mendadak kala mobil hitam itu menyalip mobilnya dari depan. "Sialan, rupanya mereka ingin bermain denganku," umpat Ella dengan seringai tajamnya.
"Kamu tunggu di mobil, Del. Jangan keluar dari mobil, ok. Ingat jangan keluar," peringat Ella sembari mengambil senjata dan juga jaket anti pelurunya yang selalu dia persiapkan di dalam mobil.
"Tapi kamu gimana, Ell?" cemas Dela.
"Aku akan baik-baik saja." Ella membuka pintu mobil dan keluar dengan santainya.
"Kenapa aku tidak mengenali kelompok gangster ini? Apakah mereka gangster baru?" gumam Ella sembari menatap jejeran pria berjaket hitam corak putih.
"Wah, wah, wah. Rupanya seorang wanita cantik," ucap salah satu dari mereka.
"Hey, manis. Mau ikut dengan kami? kita akan bersenang-senang," sambungnya.
"Aku emang manis, Om. Tapi aku gak mau ikut sama, Om. Aku takut di culik, terus di jahatin, ih cerem." Ella polos mode on.
Ella berubah polos karena dia bingung dengan anggota gangster ini, sebenarnya apa tujuan mereka mencegatnya? Apakah mereka tau jika dirinya Quin AOD? tapi itu tidak mungkin jika dilihat dari gelagat mereka. Lalu untuk apa? itu menjadi tanda tanya besar dalam benak Ella.
"Kamu tenang saja, Manis. Aku tidak akan menyakiti mu, tapi aku akan memberimu kenikmatan yang tiada tara." Pria itu terlihat menyeringai.
__ADS_1
"Apa itu kenikmatan tiada tara, Om?" tanya Ella polos.
"Kalau kamu mau tau, ikutlah dengan kami. Dan serahkan mobil mewah mu kepada kami, Manis."
Ternyata dugaannya salah, Ella pikir mereka adalah kelompok gangster karena penampilannya begitu rapih dan jaket yang mereka gunakan juga seiras.
"Hanya gerombolan begal rupanya, aku pikir gangster," ucap Ella dalam hati sembari mendelik.
"Oh, Om mau mobilku ya?" Ella masih berlagak polos.
"Benar sekali, tidak hanya mobil. Tapi juga barang-barang berharga mu," ujar Pria yang lainnya sembari mendekati Ella.
"Barang berharga ya, Om? Sebentar." Ella terlihat membuka tas selempang kecil yang dibawanya dan membuat para pria begal itu tersenyum senang.
"Aku cuma punya ini, Om." Ella menunjukan satu pack pembalut dan juga dua buah permen kaki.
"Kurang ajar! beraninya kamu mempermainkan kami, Bocah!" marah pria itu.
"Aku gak lagi mainin, Om kok. Kan aku gak tau caranya gimana buat mainin, Om. Memangnya Om ada tombolnya yah buat main, dimana? terus kenapa, Om marah? Kan tadi, Om minta barang berharga. Nah, ini juga berharga. Ini ceban dan ini cebu," ucap Ella sembari mengangkat pembalut dan juga dua permen kakinya.
"Kamu pikir kami wanita, hah? Pake di kasih begituan segala!" murka para Pria itu yang terlihat bersiap untuk menyerang Ella.
"Aku pikir begitu, soalnya, Om kayak orang pms, sih. Marah-marah mulu." Ella menatap mereka dengan tatapan mengejek.
"Kurang ajar! tangkap dia!" perintah salah satu Pria yang sepertinya ketua mereka.
Krekkk!
Bughh!
Bughh!
Setelah dia memelintir tangan kedua orang itu sekaligus, Ella pun langsung saja menendang mereka hingga tersungkur di aspal. "Jangan harap kalian bisa menyakitiku." Ella menatap lima orang Pria yang masih berdiri tegak dengan tatapan tajam nan membunuh.
"Bunglon!" cibir salah satu pria sembari mengeluarkan sebuah belati tajam dari saku jaketnya.
"Kali ini kamu akan habis, Bocah tengik," lanjutnya sembari melempar belati itu kearah Ella.
Kreng!
Ella menendang belati yang hendak menuju kearahnya dengan kuat, dia yakin belati itu mengandung racun yang sangat mematikan jika menggores kulit.
"Serang!" Pria itu terlihat murka karena serangannya gagal.
Keempat pria langsung menyerang Ella secara bersamaan, di tambah lagi dua orang yang tadi tersungkur di aspal. Mereka segera bangkit untuk ikut menyerang Ella, hanya satu Pria yang tidak ikut menyerang, bisa di perkirakan itu adalah ketuanya.
Bughh!
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Dughhh!
Dakhh!
Perkelahian tak dapat terelakan lagi, mereka menyerang Ella secara membabi buta, hingga membuat Dela yang berada di dalam mobil menjadi cemas, dia tidak tau harus berbuat apa untuk membantu Ella.
"Hais, beraninya keroyokan. Tapi okelah, gue jabanin! tapi gimana ini, apem gue? robek lagi gak yah? gimana kalo jaitannya lepas? Bodo amatlah, ntar bisa jait lagi ke tukang sol biar kokoh," gerutu Ella di sela perkelahian nya.
Brugh!
Bugh!
Ella memukul, menendang para Pria yang sedang menyerangnya. Bughhhhh! Perutnya terkena pukulan telak. "Asu lu, kurang ajar! mati kalian!" murka Ella kerena perutnya yang sedang dalam masa pemulihat terasa begitu ngilu.
Ella yang murka pun langsung saja mengambil Katana dari balik jaket yang dia kenakan. "Gue harus cepet mengakhiri perkelahian ini sebelum gue terluka," gumamnya dan...
Blasss!
Blasss!
Blamm!
Bless!
Duggh!
Dughh!
Dughh!
Ella melompat, lalu memutar tubuhnya untuk menebas kepala keenam pria itu secara bersamaan sehingga membuat kepala ke enam pria itu lepas dan menggelinding di aspal panas dengan darah yang mengucur begitu deras seiring tubuh mereka yang ikut tumbang.
"Terpaksa gue bunuh kalian, daripada gue mati. pan gak lucu orok belum genap empat puluh hari udah jadi yatim," ucap Ella sembari memandangi para mayat yang tergeletak.
Tapi sayang, Ella tidak menyadari jika masih ada satu pria yang masih hidup dan kini dia tengah bersiap untuk melenyapkan nyawanya. Pria itu terlihat menyeringai karena Ella tidak menyadari keberadaannya.
"Mati kau!"
Dooorrrr!
Akhhhhh!
Mana jempolnya guys? komen?😎😎
__ADS_1