Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Menuju opening gua


__ADS_3

Larangan keras untuk bocil, ok. 🤗


Happy Haredang🤭


"Jadi kalian adalah kelompok gangster dan lo Quin dari gangster itu." Alvin mentap Ella tak percaya setelah mendengar ungkapan Ella tentang siapa dirinya.


"Ya, kenapa? Lo takut? Atau gak mau berteman lagi sama gue? Faint, gue gak masalah," ujar Ella.


"Justru gue mau gabung," ucap Alvin serius.


"What? Gabung? Lo serius?" Ella tampak kaget.


"Dunia gangster sangat berbahaya, Vin. Hidup lo akan terus di intai dan di kelilingi bahaya, hidup lo gak bakalan setenang sekarang," timbrung Satria.


"No problem, Bang. Gue pengen jadi orang yang kuat dan gak mudah di tindas. Supaya orang gak ngeremehin gue lagi," yakin Alvin.


"Lo beneran udah yakin? Lo gak bakalan nyesel?" Ray juga ikut menumbrung untuk memastikan.


"Yakin pak," jawab Alvin cepat.


"Santai aja lah jangan kaku gitu ngomongnya, tadi sama si Bangsat biasa aja, nah ke gue kaku bener." Kini Ray sudah tidak berbicara pormal lagi kepada Alvin.


"Karena Bapak Dosen saya," ujar Alvin.


"Ya, kalo di lingkungan kampus. Kalo di luar, anggap aja gue Abang lo kek si Bangsat," ucap Ray.


"Beneran, Pak?" Alvin nampak berbinar.


"Abang." Koreksi Ray.


"Beneran, Bang?" Alvin nampak begitu senang.


"Ya, lo boleh anggep gue, Ragil dan juga Satria abang lo, kecuali bini gue, gak mungkin kan lo panggil Abang," Kelakar Ray.


"Makasih, Bang," Alvin begitu bahagia.


Ella bisa melihat jelas jika Alvin mempunyai masalah besar dalam hidupnya, yang membuat dia dingin dan tak tersentuh selama ini. Maka dari itu dia selalu menghindar dari orang-orang di kampus dan lebih suka menyendiri, berbicara pun seperlunya.


Apa dia anak broken home? Pikir Ella, karena Alvin terlihat begitu senang saat Ray memperbolehkan dia menganggap tiga sekawan itu abangnya. Entahlah, sepertinya Ella harus memerintahkan AOD bayangan untuk mencari tau latar belakang Alvin. Bukannya dia lancang, melainkan dia ingin membantu Alvin dengan cara menemukan titik akar masalahnya jika memang ada.


"Hai, adek," goda Ella di sela perbincangan Alvin dan juga Ray.


"Geli banget si, Ell," delik Alvin.


"Sebagai adek yang baik, lo harus jagain kakak ipar lo. Jadi saat lo di kampus, jagain istri gue, jauhin dia dari para pria mata keranjang," Pintar Ray.


"Siap," ucap Alvin semangat.


"Lo bakalan gue latih sampai lo kuat dan menguasai ilmu bela diri plus senjata. Tapi ingat, jangan sampai lo berkhianat, Karena gue paling benci akan penghianatan. Kalau itu sampai terjadi, gue pastikan kepala lo akan terlepas dari badan." Ella menatap Alvin dengan megintimidasi membuat Alvin bergidig ngeri dengan aura yang di keluarkan Ella.


" Gue janji, Ell. Gue gak akan pernah berhianat. Lo bisa pegang janji gue, nyawa gue taruhannya," ucap Alvin yakin.


"Ok, gue percaya."


"Tegang banget si, dah lah kalian pulang sono istirahat. Dan buat lo Vin, lo boleh datang kesini kapan aja untuk latihan atau hanya sekedar bermain," Sahut Ragil.


"Siap, Bang."


"Pulang yok, tuan markas udah ngusir. Yok, Bang, Vin," ajak Ella.


"Kakak gak di ajak, Sayang?" Ray memelas.


"Kak Ray gak di ajak juga pasti ngikutin." Ella berhak keluar dari markas dengan di ikuti tiga curut.


***************


Kini mereka telah sampai di rumah, hari sudah berubah gelap tandanya malam sudah datang menyapa. Tidak terasa seharian ini mereka habiskan untuk menjelajahi hutan dan juga bertarung. Satria tidak lagi menginap di sana, dia memutuskan untuk pulang karena rindu dengan sang pujaan hati sekaligus mengantarkan Alvin ke rumahnya.


"Kamu gak ada yang terluka kan, Ell?" Wina menilik sang menantu yang sedang menyusui Zam.


"Gak ada kok, Mam. Aku baik-baik aja." Ella tersenyum tipis.

__ADS_1


"Syukurlah, Mamah hawatir sekali takut kalian kenapa-napa. Lagi pula kenapa coba temen kamu itu bisa di culik?" tanya Wina.


"Panjang ceritanya, Mam. Next time aku bakal ceritain." Ella memindahkan Zam ke dalam box setelah dia selesai menyudu, kemudian dia beralih menggondong Zura dan menyusuinya.


"Besok kita ke butik ya, kita cari gaun buat datang ke acara pernikahan abang kamu," ajak Wina.


"Ok, Mam. Besok kan aku libur ngampus dan Kak Ray juga, tapi twins nanti di rumah sama siapa? Gak mungkin kan kalo di bawa ke Mall?" ujar Ella.


"Besok kan, weekend. Jadi Papah gak pergi ke kantor. Biar saja Ray dan Papah jagain twins di rumah, lalu kita pergi shopping," ide Wina.


"Edi bagus, Mam." Menindurkan Zura di boxnya karena sudah tertidur.


"Jadi fixs ya, besok kita shoping?" Menatap kearah sang mertua.


"Iya, jangan telat bangunnya."


"Asiap, kalo gitu aku bobo dulu. Bay, Mam." Melangkah pergi meninggalkan kamar twins.


**************************


"Kak Ray kemana?" Ella tidak menemukan ke beradaan sang suami di dalam kamar mereka.


"Mungkin di ruang kerja." Melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


Kemudian dia mengisi bathtub dengan air, tak lupa juga menuangkan sabun cair dan juga aroma terapi. "Tubuhku rasanya begitu pegal." Melangkah masuk kedalam bathtub.


"Apa aku opening gua malam ini, y? Kasihan kak Ray, pasti dia sangat menati saat itu tiba," dia bergumam sembari sembari menggosok tengkuknya.


"Ok, Quin ranjang siap beraksi malam ini." Tersenyum smirik membayangkan adegan yang akan terjadi malam ini.


"Pasti kamu akan puas dengan permainanku." Menyandar dengan mata terpejam.


Dirasa sudah rileks, dia bangkit keluar dari bathtub. Lalu melangkah ke arah shower untuk membersihkan diri. "Segar." Meriah handuk kemudian berjalan keluar dari dalam kamar mandi.


"Em, Kira-kira mana ya, yang cocok untuku?" Ella memilih lingerie yang berjejer tersembunyi di bagian paling belakang pakaiannya.


"Hitam? Ok, aku mau pakai yang ini supaya terlihat lebih dewasa." Meraih lingerie berwarna hitam dan juga kacamata beserta segitiga yang senada.


Puas menatap dirinya di cermin, dia pun lanjut memoles make up tipis pada wajah cantiknya. Lingerie yang Ella gunakan begitu tipis dan juga transparan, bahkan dia nyaris terlihat telanjang. Kaca mata dan juga segitiganya saja terlihat menerawang. Malam ini Ella terlihat seksi, dewasa dan juga menggoda.


Ceklek!


"Sa..." Ray tidak mampu melanjutkan ucapannya, bibirnya seakan bungkam. Dia hanya bisa menelan saliva kasar dengan jakun yang naik turun.


"Kamu darimana, Honey?" Ella menghampiri Ray dengan berjalan melenggak-lenggok sensual.


Honey? Mengapa istrinya mendadak menjadi romantis? Pikir Ray namun tidak dapat berkata.


"Kamu kenapa, hm?" Mengelus lembut rahang tegas Ray, sampai membuat si empunya merinding.


Cup!


Mengecup bibir Ray sekilas, kemudian satu tangannya dia gunakan untuk membuka kancing kemeja Ray, satunya lagi dia kalungkan pada leher Ray. "Kamu mandi dulu sana, bau." Ella mendorong Ray setelah kemejanya terlepas.


"Mandiin," lirih Ray dengan suara serak, dia baru bisa bersuara dengan pandangan yang tidak teralihkan dari tubuh seksi Ella.


"Mandi sendiri, aku menunggu di sini, Honey." Ella duduk di tepi ranjang dengan kaki yang dia silangkan sehingga membuat paha mulusnya terekspos dengan belahan gunung yang menyembul.


"Tunggu aku, Sayang." Ray bergegas masuk kedalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Ray telah keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun. Jangan lupakan si Bonar yang sudah berdiri tegak dan juga menantang.


"Astaga lakik siapa itu," gumam Ella yang melihat Ray berjalan dengan santainya, padahal dia tidak mengenakan kain sedikitpun.


"Hais, kenapa makin gede? Aku jadi ngeri." Ella menatap si Bonar yang nampak mengeras, bahkan kini ukurannya terlihat lebih besar.


"Aku sudah siap, Sayang." Ray berdiri di hadapan Ella.


"Tapi aku gak siap," Cengir Ella.


"Apa?!" Pekik Ray yang langsung lemas seketika, tapi tidak dengan si Bonar, justru dia semakin tegak berdiri, apa lagi saat melihat gunung dan lembah terpampang indah di hadapannya.

__ADS_1


"Sayang... Kamu tega, kamu sudah menjatuhkan hayalanku yang sudah melambung setinggi langit." Memelas dengan wajah yang di tekuk.


"Tapi, boong. Aku siap kok, Honey. Siap lahir batin." Ella meraih si Bonar yang membuatnya bergidik ngeri, apa lagi melihatnya dari dekat. Sungguh besar dan ber urat.


Ah!


Suara itu langsung mengalun ketika Ella memainkan jemari lentiknya di sana, kedua tangannya kini bermain, satu di area si Bonar, satu lagi pada dada bidang Ray. "Aku pikir hanya bakso saja yang ber urat, ternyata belalai juga ber urat. Akan lebih baik jika urat belalai di buat bakso saja separuh, agar tidak terlalu banyak. Aku jadi ngeri kalau terlalu banyak seperti ini," bisik Ella dengan sensual di telinga Ray.


Eughh!


Ray tidak menggubris perkataan Ella, saat ini dia sedang melayang tinggi dengan permainan Ella yang membuatnya lupa akan daratan. Ray begitu terbuai, sangat terbuai. Baginya Ella kini sudah semakin pandai dalam urusan ranjang.


Cup!


Ray meraih Ella kedalam pelukannya, lalu dia menautkan bibirnya pada bibir sang istri. Menggerakannya pelan dan juga lembut tetapi penuh pengnayatan. Ella tidak tinggal diam, dia membalas ciuman itu dengan begitu lihai. Kini lidah mereka saling membelit, mengecap manisnya bibir masing-masing.


Suara decapan terdengar memenuhi ruangan kamar tidur mereka, Ray membaringkan Ella di ranjang yang empuk. Kemudian dia menatap lekat tubuh sang istri dari atas sampai ke bawah.


Srekk!


Ray merobek lingerie yang di kenakan oleh Ella sampai lingerie itu terbelah dua. "Lingerie ku!" Pekik Ella.


"Kenapa di robek? Itukan mahal belinya." Bibir Ella tampak mengerucut dengan wajah yang kesal.


"Bukannya itu sekali pakai?"


"What? Sekali pakai? Kamu pikir itu kond*m hah?" teriak Ella.


"Ya, bahannya begitu tipis seperti lapisan gorden. Jadi aku pikir sekali pakai." Ray menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa? Lapisan gorden? Berani ya, kamu samain lingerie mahalku dengan lapisan gorden?" Ella tampak tidak Terima.


"Kamu tau gak? Ini tu....."


Ray membungkam mulut yang masih mengoceh itu dengan menggunakan bibirnya, tangannya juga tidak tinggal diam. Tangan itu berkelana membuka penutup gunung dan juga lembah yang siap dia jelajahi.


Ah!


Desah Ella kalau mulut Ray meraup lembut puncak gunungnya. "Jangan di sedot, nanti asinya keluar." Ella menahan kepala Ray yang sedang menyusu seperti bayi.


"Kok gini rasanya." Ray mengecap rasa air yang keluat dari sumber pegunungan.


"Iss, itu punya twins jangan di minum," Cebik Ella.


"Enak juga."


"Ikh, jorok!"


Emh!


Ray kembali bermain, kali ini dia menyusuri lembah dengan pelan dan juga hati-hati. Karena di dalam lembah itu baru saja selesai proses perbaikan.


Ah!


Ella begitu kenikmatan saat lidah Ray menari dengan indahnya di pinggir gua, memancing hasraat birahiya sampai ke puncak tertinggi.


"Kamu siap?" Ray mensejajarkan tubuhnya dengan Ella.


"Siap." jawab Ella yakin.


Ray pun menggesekan si Bonar ke depan pintu gua yang nampak sedikit becek itu. Dia memasukannya perlahan.


"Stop." Suara itu membuat aktipitas nya terhenti.


"Pending dulu, aku takut gua ku roboh." Ray membeo seketika, apa katanya? Pending?


Gak sadar nulis part panjang, ke asikan nulis hote hote🤣


Jangan lupa jejaknya, wajib lo ya. 🤭


Ok, otor yang lagi haredang ini punya rekomendasi novel bagus, bikin dag dig dug dan juga penasaran dengan alurnya. Tidak percaya? cus atu kepoin😘

__ADS_1



__ADS_2