
Ella tidak langsung masuk, melainkan dia malah memperhatikan wanita yang dia sebut ulat keket itu di ambang pintu. Kenapa Ella menyebutnya ulat keket? Karena wanita itu terlihat seperti ulat yang tengah meliuk. Dia terus mendekati Ray, sepertinya dia sedang menggoda Ray dengan tubuh yang lumayan berisi lah. Tapi lebih seksi Ella tentunya, wajah? lebih cantikan Ella ke mana-mana.
"Ist, dasar cewek gatel," gerutu Ella kesal karena wanita itu membuka kancing kemeja ketatnya sehingga belahan dadanya terlihat begitu jelas. Dia juga menyingkap sedikit rok nya supaya paha mulusnya terlihat oleh Ray. Disana Ray nampak sedang menjelaskan sesuatu pada wanita itu, Wina juga ada disana, tapi dia tidak memperhatikan mereka, karena dia sibuk bermain bersama twins.
"Gak bisa di biarin, nih." Ella langsung masuk kedalam begitu melihat wanita itu semakin menjadi.
"Ekhem." Ella berdehem sembari bersidekap dada kala dia sudah berada di hadapan Ray.
"Sayang... Kamu sudah pulang? kamu darimana saja, hm? kenapa lama sekali?" Ray langsung memberondong Ella dengan berbagai pertanyaan.
"Dari mall," jawab Ella singkat.
"Kenapa lama banget, Ell? Mamah cemas tau, takutnya kamu kenapa-napa. Ray tadi udah mau nyusul, tapi gak jadi karena ada siswinya kesini untuk bimbingan skripsi," ujar Wina.
"Aku ada urusan bentar sama Dela, Mam. Makannya lama." Ella tersenyum tipis.
"Kamu baik-baik saja kan?" Ray bangkit dari duduknya lalu memutar-mutarkan tubuh Ella.
"Aku gak pa-pa kok." Ella langsung menepis tangan Ray sebelum dia melihat luka di tangannya.
"Syukurlah. Oh iya, Sayang. Kenalin, dia Zela. Mahasiswi baru di pakultas manajement," ucap Ray sembari melirik wanita yang bernama Zela itu.
"Stela," ucap Ella sembari mengulurkan tangannya.
"Zela." wanita itu menyambut uluran tangan Ella sembari tersenyum, dalam hatinya dia heran akan sikap Ray yang langsung berubah hangat terhadap Ella tidak dingin seperti pada dirinya.
"Cih, senyuman palsu," ucap Ella dalam hati.
"Twins anteng, Mam." Ella langsung menghampiri Wina yang tengah mengajak main twins.
"Anteng Ell, apalagi Abangnya, dia kalem banget," jawab Wina.
"Hay twins kesayangan Mimom, maaf ya, Mimom perginya lama." Ella menatap anaknya satu-persatu.
"Eh, Zura senyum, Mam." Ella terlihat begitu senang.
"Sepertinya Zura seneng banget ya, karena Mimomnya udah pulang." Wina menjawil lembut pipi Zura.
"Zura Sayang, kangen Mimom ya? nanti ya gendong nya. Mimom belum mandi, masih bau acem," ucap Ella sembari menatap Zura.
__ADS_1
"Abang Zam, kangen Mimom juga gak?" Ella beralih menatap Zam.
"Kangen dong." Wina yang menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
"Ya sudah, Ell. Kamu mandi dulu sana, bau acem." Wina melirik sang menantu.
"Ok, Mam." Ella langsung melang pergi kedalam kamarnya tanpa melirik kearah Ray yang masih sibuk berbincang.
×××××××××××××××××××
"Kesel ikh! aku di kacangin gara-gara si Zela Zeli. Awas aja kalo dia berani macem-macem. Aku penggal tuh kepalanya," gerutu Ella setelah dia berada di dalam kamarnya.
"Kancing di turun-turunin, rok di singkap-singkapin. Dia mau belajar apa ngelont3. Kesel gue, ada aja yang ngincer laki gue. Mesti waspada 07 ini." Ella absurd come back.
Ella melangkah masuk kedalam kamar mandi dengan mulut yang masih menggerutu. Dia merasa di abaikan oleh Ray, bahkan Ray tidak menyusulnya kedalam kamar untuk memastikan jika dirinya baik-baik saja.
"Gua cepatlah kembali bisa di jelajahi, sebelum kak Ray menjelajah gua yang lain. Huaa, itu gak boleh terjadi, kak Ray cuma milik aku seorang! Seminggu lagi, gua opening kembali," Ella masih saja mengomel sembari menggosok tubuhnya yang terasa begitu lengket.
Beberapa saat kemudian Ella telah selesai mandi, kemudian dia membuka lemari untuk memilih pakaian yang akan dia kenakan. Pilihannya langsung tertuju pada dres merah dengan lengan terbuka, panjangnya setengah paha.
"Cantik, kok. Badan gue juga gak jelek-jelek amat." Ella mematut dirinya di cermin setelah dia memakai dress itu.
Setelah selesai, dia pun langsung berjalan keluar untuk menemui twins. Untuk tangannya yang terluka, dia hanya menutupinya dengan plaster saja. Toh, luka segitu tidak ada apa-apa nya untuk Ella.
"Zura, Zam. Mimom, coming. Mimong sekarang udah wangi, jadi udah bisa gendong kalian." Ella langsung menghampiri twins tanpa melirik Ray sedikit pun.
"Mimom gendong Zura dulu, ya." Ella mengangkat Zura dari dalam box.
"Ell, tangan kamu kenapa?" tanya Wina saat melihat tangan Ella di tutupi plaster.
"Gak pa-pa kok, Mam. Hanya tergores aja," jawab Ella.
"Kamu yakin? lukanya gak dalam kan? periksa ya, takutnya impeksi," ujar Wina.
"Gak usah, Mam. Ini beneran cuma ke gores kok. Mama tenang aja, ya." Ella tidak terlihat kesakitan sama sekali, dia bersikap biasa saja saat menggendong Zura.
"Mana yang luka? kenapa kamu gak bilang, Sayang?" Ray langsung menghampiri Ella ketika mendengar dia terluka.
"Hanya luka kecil," ucap Ella tanpa menoleh kearah Ray.
__ADS_1
"Bohong, mana sini kakak lihat." Ray meraih tangan Ella.
"Aku lagi gendong, nanti Zura jatuh." Ella menepis pelan tangan Ray.
"Lihat, dulu," kekeh Ray.
"Nanti aja, bimbing lagi sana mahasiswi kamu," ketus Ella.
"Zela, lanjutin next time ya. Di kampus," ucap Ray pada Zela, dia menyadari bahwa istrinya tidak suka akan kehadiran Zela.
"Nanti malam saja, bagaimana Pak?" tawar Zela.
"Tidak bisa, malam adalah waktunya berkumpul dengan keluarga kecil saya. Bukan bekerja,"tolak Ray secara halus.
" Saya kasih tips, mau ya, Pak. Soalnya saya pengen skripsi nya cepet kelar," bujuk Zela.
"Kamu ngerti bahasa Indonesia gak sih? Kan suami aku udah bilang, dia tidak bisa. Karena waktu bersama keluarga lebih berharga daripada ngajarin mahasiswi ganjen kayak kamu!" ucap Ella menimpali dengan tatapan sengitnya.
"Maaf ya, aku gak ganjen. Aku kesini cuma mau bahas skripsi ku," sangkal Zela.
"Oh, ya? Mana ada bahas skripsi pake acara kancing baju di turun-turunin, supaya apa? supaya gunung peyot bekas penjelajah kamu itu terlihat? Rok juga di singkap-singkapin, murah amat tu paha. Kayak paha ayam aja di obral. Situ mau bimbingan apa ngelont3, Mbak," cibir Ella pedas sepedas satu ton cabai.
"Maaf, Pak. Saya permisi. Dan bilang pada istri bapak yang sok kecantikan itu. Hati-hati dalam berbicara, kalau gak saya akan buat perhitungan," ucap Zela kesal dan juga penuh penekanan.
"Eh, Mbak. Aku emang cantik ya. Kalo mau buat perhitungan, buat aja yang banyak. Nanti aku hitung pake kalkulator biar cepet," sinis Ella.
"Udah Sayang, lihat tuh Zura sampe melongo liatin kamu," ucap Ray sembari merangkul Ella.
"Lebih baik kamu cepat pulang, urusan skripsi nanti saja di kampus," lanjut Ray sembari menatap Zela dingin.
Mimom Ella😍
Zela😘
Like, komennya mana nih? sepi amat kek kuburan baru🤣
__ADS_1
Vote juga ngapa biar mangat ni otor, 😁