Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Hal yang tak terduga


__ADS_3

"Jangan bercanda mulu, Ell. Ayok kita masuk. Aku udah nggak sabar mau pergokin Galang sama Kiana," ajak Dela.


"Bentar."


"Apalagi, Ell?" Kesal Dela.


"Mau ngambil gunting kuku dulu."


"Ellla!"


"Udah ketemu, ayok." Ella menarik pergelangan tangan Dela.


"Aku deg-degan, Ell," ucap Dela saat Ella hendak meraih pintu gerbang.


"Rileks, Del. Nih pegang gunting kuku."


"Buat apaan, Ella? Kamu ngelawak mulu, ih."


"Gue nggak ngelawak, ini tuh buat...."


"Nggak bakal bisa, Ell. Entunya Galang kan gede. Sedangkan ini, ya ampun. Segede uprit, palingan cuma bisa motong selembar bulu burungnya." Dela langsung memotong ucapan Ella.


"Main serobot aja kayak orang berburu layangan. Ini tu buat buka ini, Del." Ella menunjuk gembok yang menggantung di dalam celah pagar.


"Oh, bilang dong. Cepetan buka, biar kita bisa masuk!"


"Ini juga mau buka, kamu diem dong!"


"Ok ok."


Ella pun memasukan tangannya ke dalam celah pagar, lalu dia mengarahkan ujung gunting kuku yang runcing ke arah pembuka gembok. Tak lama kemudian gembok itu berhasil terbuka.


"Kamu hebat, Ella," seru Dela.


"Siapa dulu dong! Quin AOD gituloh!" Bangga Ella.


Mereka pun membuka pagar itu perlahan, lalu masuk ke dalam dengan mengendap-ngendap. Perasaan Dela sudah tidak karuan. Sedih, marah, pokonya campur aduk. Ella terus menggenggam tangan Dela seolah memberinya dukungan.


"Aku nggak sanggup, Ell," lirih Dela setelah mereka sampai di depan pintu.


"Kamu harus sanggup, Del. Jangan kayak Bu Juleha, katanya nggak sanggup bayar Bang emok, tapi tetep bae minjem. Pan dia jadi pusing sendiri, sampe kolor aja di gadein," ucap Ella.


"Ell ... Kamu bisa serius nggak sih?" Kesal Dela.


"Aku serius, Del. Kalo nggak serius, nggak mungkin aku sama Kak Ray sampai punya baby," ujar Ella.


"Dah lah, Lama-lama bisa gila aku."


"Jangan gila, Del. Rsj penuh. Nanti aja ya, gilanya. Kalo Rsj udah kosong," kelakar Ella.


"Elll!"


"Canda, Del. Yok kita masuk. Lo udah siap 'kan?" Ella menatap manik mata Dela yang merah karena terus menangis.


"Nggak siap, Ell," lirih Dela dengan menunduk.


"Yodah, yuk balik aja kalo nggak siap."


"Maksud aku, akutuh nggak siap ngeliat mereka nanti lagi. Hiks huaa! Aku nggak bisa bayangin, Ell." Dela kembali menangis.


"Ya udah, jangan di bayangin. Mending liat aja langsung." Ella menarik tangan Dela.

__ADS_1


"Ell!"


"Shuutt! Jangan berbisik!" teriak Ella.


"Itu kamu teriak?"


"Lupa," cengir Ella.


"Ayok!"


Ceklek!


Ella membuka pintu bangunan yang cukup besar dan juga luas itu. Dela sempat heran, kenapa pintunya tidak terkunci. Namun pikirannya kembali negatif kembali saat dia masuk ke dalam dan ternyata ruangan itu sangatlah gelap. Bahkan Dela tidak melihat apapun. Hanya ke gelapan lah yang ia lihat, bahkan pintu pun sudah tertutup kembali, mungkin itu ulah Ella. Pikirnya.


"Kok gelap, Ell. Mereka lagi apa, Ya?" lirih Dela.


"Mungki lagi..."


"Jangan lanjutin, aku nggak siap dengernya!"


"Ok, tapi lepas dulu ya tangan gue. Bentar aja, pegel ini," ucap Ella.


"Nggak mau, aku takut, Ell." Dela semakin memper-erat genggamannya pada lengan Ella.


"Bentar aja, Del. Pegel ini. Janji deh, aku nggak bakal ke mana-mana."


"Tapi bentar, ya."


"Iya."


Dela pun melepaskan tangan Ella walau dia sangat takut. Dia begitu takut akan ke gelapan. Kini kedua tangannya saling bertaut, dia meremas jari jemarinya guna menghilangkan rasa takutnya.


"Ell!"


"Tangan kamu mana? Aku takut, Ell." Suara Dela terdengar bergetar.


"Bentar, Del. Aku lagi garuk ketek, gatel ini," ucap Ella.


"Aku takut, Ell." Dela sepertinya sudah menangis.


"Ella, hiks. Kamu di mana? Hiks, jangan tinggalin aku." Kini Dela berjongkok dengan kepala yang di telusupkan di celah lutut karena dia begitu takut.


"Ell! Hiks, kamu jahat. Kamu sama aja kayak Galang, Sama-sama ninggalin aku. Hiks," racau Dela.


"Aku benci kalian, hiks. Aku benci Galang! Aku benci Kia!" Dela masih meracau.


Deg!


Jantung Dela seakan berhenti saat tiba-tiba ada sebuah lengan memeluk tubuhnya. Seketika dia langsung merinding lalu mendorong kuat lengan itu. Namun karena tenaganya tidak memadai dengan tenaga besar orang itu. Alhasil Dela tidak dapat menyingkirkan lengan yang merangkul tubuhnya.


"Ell, ini kamu 'kan?" Suara Dela semakin parau.


"Tapi kok jarinya gede-gede kaya sumo." Dela meraba jari jemari orang itu.


"Elll! Hiks, jangan bercanda aku takut. Hiks!"


Ceklek!


Lampu tiba-tiba menyala.


"Happy birthday too you, happy birthday too you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Della!!" Suara riuh terdengar dari hadapan Dela.

__ADS_1


Seketika Dela langsung mendongkak, dia langsung terpaku saat melihat siapa orang-orang yang berada di hadapannya. Mereka nampak bernyanyi dengan riang. Lalu atensinya beralih ke samping untuk melihat siapa orang yang merangkulnya.


"Aa...," lirih Dela saat melihat siapa orang yang merangkul tubuh mungilnya.


"Happy birthday, Neng Del kesayangan, Aa," ucap Galang dengan tersenyum manis.


"Apa ini maksudnya?" Dela masih belum konek.


Dela menatap orang-orang yang ada di hadapannya dengan wajah cengo dan juga tidak percaya. Di sana ada Mamah dan juga Papah Mertuanya yang sedang menggendong Gala sembari tersenyum ke arahnya. Tak hanya itu, di sana juga ada orang tua Ray, Orang tua, Ella. Adit, Alvin, Diego dan juga Ragil, David. Ray juga ada di sana bersama dengan Ella dan juga twins. Lalu tatapan Dela tertuju pada Kiana yang sedang memangku kek berbentuk love yang sudah di hiasi lilin angka 20 yang sudah menyala.


"Happy birthday, Dela. Semoga kamu panjang umur, sehat selalu dan senantiasa di beri kebahagiaan," ucap Kiana yang berjalan menghampiri Dela.


"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga! Sekarang juga!" Kiana bernyanyi seraya menyodorkan kek ke hadapan Dela.


"Make wis dulu," ucap Kiana.


Dela pun memejamkan mata, setelah itu dia membukanya kembali lalu meniup lilin yang hampir habis itu.


"Ada yang bisa jelasin?" Dela menatap mereka semua yang berada di sana.


"Gue nggak ikutan ya, Del. Gue juga taunya dari seminggu yang lalu," ucap Ella.


"What seminggu yang lalu, terus kalian? Dan Mamah Papah juga, bukannya lagi ke luar kota?" Dela menatap ke arah mertuanya.


"Ini semua rencananya si Galang, Del. Dia rencanain ini semua dari berbulan-bulan yang lalu, bahkan dari sebelum Rendi meninggal," ucap Mamah mertua Dela.


"Kamu bisa jelasin ini semua, A?" Dela menatap sang suami.


"Jadi, sebelum Rendi meninggal. Aku udah kerja sama dengan Kiana," ujar Galang.


"Kerja sama? Kerja sama apa?"


"Kiana itu sangat ahli dalam bidang arsitek, jadi aku memintanya untuk membuat desain yang bagus dan juga elegan untuk pembuatan rumah kita. Aku ingin sesuatu yang berbeda. Dia kan cewek, dia pasti tau apa yang di sukai oleh kamu."


"Jadi kalian udah kerja sama dari sebelum Kak Rendi meninggal?"


"Ya, dan pada saat Rendi meninggal. Pembangunan ini sudah berjalan 80 persen. Dari situ aku mulai buat rencana untuk memberi kamu kejutan bersama dengan kedua curut ini." Galang menunjuk Diego dan Alvin.


"Mereka?"


"Iya, mereka juga yang ngusulin rencana ini."


"Owh, jadi kalian dalangnya." Giliran Ella yang berbicara.


"Hehe, kita kan mau buat suasana berbeda gitu. Bikin si Dela cembukur, pan jarang tuh dia cembukur." Cengir Diego.


"Acting kalian bener-bener hebat, gue aja sampe ketipu," ujar Ella.


Ya, dia sempat berpikir di antara Kiana dan Galang ada sesuatu, dia menyadari saat Diego menegur Kiana saat di parkiran yang berujung dirinya menemui Galang di kantor. Dari situ dia mulai menyelidiki dan tau apa yang terjadi. Ternyata Galang tengah mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk Dela beserta hunian baru yang begitu cantik dan elegan hasil desain Kiana.


"Kalian bener-bener bikin aku sport jantung," ucap Dela.


"Aku pikir kamu selingkuh sama Kia, terus kamu telponan sama siapa kok sembunyi-sembunyi?"


"Sama Alvin dan Diego, kita membahas tentang rencana ini. Semuanya udah di atur sama mereka dan juga Ella walau dia taunya di akhir."


"Dan satu lagi, aku nggak mungkin selingkuh, Neng Del, Sayang. Apa lagi sama sahabat kamu. Aku nggak sebejat itu. Aku 'kan udah pernah bilang. Hatiku, cintaku. Sudah menjadi milikmu sepenuhnya." Galang menggenggam kedua tangan Dela.


"Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa belah dada aku. Di sana sudah terukir nama kamu, Neng."


"Nggak mau, nanti kamu mati. Aku nggak mau jadi janda."

__ADS_1


Pasti kalian nggak nyangka 'kan? sama dong kayak Dela🤣🤣


jejak😘


__ADS_2