
"Maksud mu apa sayang? kenapa kamu berbicara seperti itu?"tanya Wina kepada Ella.
"Mam, dia itu genit, dia tadi godain kak Ray. Dia itu suka sama kak Ray."ujar Ella.
"Benarkah itu Carla?"Wina menatap Carla dengan penuh tanya.
"Aku gak godain Ray kok Tan."elak Carla.
"Bohong Mam, dia godain kak Ray tuh. Balonnya aja sampe di sembul-sembulin mana rok kurang bahannya terus di angkat lagi sampe keatas hingga tu paha burik terekpost."ucap Ella sengit.
"Dia bohong Tan, eh bocah kamu jangan suka ngarang ya."Carla menatap tajam Ella.
"Akunya gak bohong ya, aku tu jujur tau. Kan akunya gak mau menumpuk dosa, bohong itukan juga dosa."ujar Ella masih dengan tampang polosnya.
"Ck, sok suci banget lo. Dasar tukang pitnah."cibir Carla.
"Aku tu gak pitnah ya, yang pitnah tu, Pare, dia baru pitnah, pait ngeunah."cengir Ella.
"Tan, tante kok mau-maunya sih punya menantu gak waras gini."ucap Carla sembari memandang Wina.
"Stop Carla jangan terus berdebat, lagian Ella itu masih waras ya. Jangan pernah kamu bilang seperti itu lagi,"Wina menatap Carla dengan tatapan yang tidak suka.
Perdebatan semakin sengit kala Dewi ibu dari Carla ikut campur, dia tidak rela putrinya di marahi oleh Wina. Begitu juga dengan Andri, dia menyalahkan Samsul karna dia tidak bisa mendidik anak dengan baik, sehingga Ray tumbuh menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab. Samsul yang tidak terima pun membalas omongan tajam Andri, dia bilang jika Carla lah yang tidak provesional, bukan Ray yang lepas dari tanggung jawab.
Cukup lama mereka berdebat, hingga akhirnya Carla dan orang tuanya pun pergi meninggalkan kediaman Wardana dengan sejuta amarah yang memuncak.
"Maafin aku ya, Mah, Pah. Gara-gara aku semuanya jadi berantakan kayak gini."ucap Ella menunduk.
"Tidak sayang, ini semua bukan salahmu. Dari dulu kami memang tidak terlalu menyukai keluarga itu, mereka selalu ingin menang sendiri."ujar Wina.
"Sekarang kamu istirahat sana, kasian cucu Mamah pasti kecapean."sambungnya sembari mengelus perut rata Ella.
__ADS_1
"Iya Mam, aku ke kamar dulu ya."pamit Ella kemudian dia melangkah pergi darisana tanpa menoleh kearah Ray.
"Kalian lagi berantem?"Rina melirik sang putra.
"Hm."hanya itu yang keluar dari mulut Ray, kemudian dia melangkah pergi untuk menyusul sang istri.
Ceklek,
Ray membuka pintu kamarnya dengan pelan.
Glekk,
Dia menelan salivanya kasar, saat melihat Ella dengan santainya membuka satu-persatu kain yang menempel pada tubuhnya hingga polos. Lekukan tubuh Ella semakin hari semakin terlihat seksi padat dan juga berisi.
Setelah membuka pakaiannya hingga polos, Ella pun meraih sebuah handuk mini yang hanya menutupi sebagian gunung indahnya dan juga setengah paha mulusnya. Kemudian dia pun melangkah masuk kedalam kamar mandi tanpa memperdulikan tatapan liar Ray yang terus menatap lapar dirinya.
"Gila, makin hari makin asoy aja bini gue."gumam Ray kagum.
Dia pun melangkah menuju ke ranjang, kemudian dia merebahkan tubuhnya disana.
"Akhh, sial."teriak Ray.
Rupanya tubuh seksi Ella masih terngiang-ngiang dalam benaknya, bayangan benda bulat menggantung padat, paha putih mulus yang membuat birahinya memuncak, apalagi lembah kesukaannya semakin menggoda saja di matanya. Tubuh Ella sudah menjadi candu baginya, tiada yang lebih indah dan menggoda selain tubuh Ella.
Sedang asik membayangkan tubuh Ella, si empunya keluar dari kamar mandi dengan rambut kelimis dan juga wangi yang begitu menyeruak di indera penciuman Ray.
"Udah mandinya sayang?"tanya Ray basa-basi sembari duduk di tepi ranjang.
"Belum."Jawab Ella singkat.
Kemudian dia berjalan kearah lemari pakaian, Ella pun melepas handuk mini yang menempel di tubuhnya, lalu dia mengambil satu set dalaman yang berwarna senada yaitu hitam. Dia memakai dalaman itu dengan membelakangi Ray.
__ADS_1
Ray yang tak bisa lagi membendung hasratnya pun, dia langsung saja berdiri kemudian menghampiri Ella lalu dia memeluk tubuh Ella dari belakang.
"Masih marah, hm?"bisik Ray di telinga Ella.
"Hm."hanya itu yang keluar dari mulut Ella.
Ray pun membalikan tubuh Ella yang masih menggunakan dalaman saja untuk menghadap ke arahnya, Ray menatap Ella lekat dengan penuh cinta dan juga gairah. Perlahan-lahan Ray memajukan tubuhnya hingga begitu rapat dengan tubuh Ella.
Cup,
Ray mengecup lembut bibir ranum sang istri, kemudian dia menggerakan bibirnya untuk menyesap bibir manis Ella. Tidak ada perlawanan dari Ella, dia hanya diam saja sembari menatap manik mata sang suami yang berkabut gairah.
Ray menyesap lembut bibir itu, kemudian dia menggigit kecil disana supaya bibir itu terbuka, setelah terbuka, dia pun menelusupkan lidahnya untuk menyusuri setiap rongga mulut Ella, dia mengaksen seluruh isi yang ada di dalam sana, lalu dia membelit lembut lidah Ella dan sang empu juga membalas tautan lidah itu, mereka bertukar saliva dengan cukup lama, saling membelit, menyesap dengan debaran gairah di kedua insan itu.
Setelah puas bermain dengan bibir sang istri, Ray pun turun kebawah menyusuri leher jenjang Ella, dia mengecup lembut leher itu dan memberikan beberapa stempel kepemilikan disana, tangannya juga tak tinggal diam, dia membuka penghalang yang menutupi keindahan gunung kesukaannya. Setelah penutup itu terlepas, Ray pun mengarahkan tangannya untuk memainkan gunung kenyal yang sedari tadi terus menggodanya, dia mengelus pelan puncak himalaya yang masih merah muda itu, dia menggerakan tangannya dengan gerakan memutar di puncak itu.
Puas bermain dengan tangan, dia pun melahap puncak gunung itu dengan mulutnya, meraupnya perlahan, menyesap agak kuat seperti bayi menyusu di sebelah gunung dan sebelahnya lagi dia mainkan dengan tangan nakalnya.
"Emm, ahh, kak Ray, emm. Ah, eugh."leguh Ella kenikmatan.
Rasa nikmat itu, selalu menjadi candu baginya. Dia selalu ingin merasakannya lagi dan lagi. Ray begitu pandai dalam hal ini, permainannya selalu membuatnya terbuai dalam kenikmatan surga dunia yang membawanya terbang menuju nirwana.
"Euughhh."leguhan indah itu kembali terdengar saat Ray menciumi area lembah miliknya.
Ray membawa Ella untuk berbaring di ranjang, dia merebahkan tubuh istrinya dengan sangat pelan dan juga hati-hati. Setelah itu dia kembali menyentuh tubuh seksi sang istri, dari mulai mengecup bibir lalu turun ke leher, turun lagi ke gunung yang begitu menantang, menggoda untuk segera di sentuh. Ray pun kembali bermain di area gunung, dia berpiknik ria di puncak sana, dia menjulurkan lidahnya untuk menjilat puncak yang sudah mengeras itu seperti memjilat eskrim, Ray menjilat puncak itu secara bergantian dengan tangannya yang sibuk mengubrak-ngabrik dinding goa untuk mencari sesuatu yang bisa membuat si empunya gua meleguh indah.
"Berpiknik setelah bertengkar itu ternyata lebih asik,"bisik Ray di telinga Ella sembari menggigit cuping telinga Ella dengan lembut.
Cukup lama Ray bermain dengan tubuh indah sang istri, setelah puas, dia pun menanggalkan seluruh pakaiannya lalu mulai melakukan penyatuan cinta yang membawa sang istri terbang menuju nirwana dengan si bonar yang menantang menandakan siap untuk berpacu di dalam gua kehangatan meregup leguh kenikmatan cinta yang mendalam.
Like👍 Comen and Vote😚
__ADS_1