Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Malesnya lagi jalan-jalan


__ADS_3

Brukk!


Ella menendang pria berambut ikal sampai dia tersungkur, tetapi dengan cepat dia segera bangkit kemudian menyerang Ella dengan kilatan amarah yang memuncak.


Bugh!


Bugh!


Dugh!


Dakk!


krak!


Brughh!


Mereka saling menyerang dengan keringat yang sudah bercucuran membasahi pelipis, akan tetapi raut wajah Ella terlihat begitu santai. Dia malah tersenyum ketika pukulan pria itu mengenai perutnya, harusnya dia merasa sakit, apalagi perutnya belum sembuh total pasca lahiran.


"Menyerahlah!" Pria berambut ikal menodongkan pistolnya kearah Ella.


"Tidak semudah itu keriwil." Ella menyeringai tajam dengan wajah angkuhnya.


Dorr!


Suara tembakan begitu menggema di telinga, Pria itu berhasil menembak tepat sasaran. Tetapi tangan mungil Ella telah menangkap peluru itu sebelum menembus dadanya.


Treng!


Ella melempar peluru yang dia genggam. "Kau pikir mudah untuk membunuhku." Ella melangkah mendekati pria itu.


"Peluru dari dalam pistol murahanmu tidak akan bisa menembus tubuhku yang teramat berharga ini." Ella merebut paksa pistol itu dari genggaman pria yang tampak membeku.


Prakk!


"Cih, pistol macam apa itu? Di lempar saja hancur," ucap Ella dengan mencebik setelah dia melemparkan pistol milik pria itu.


"Si--apa kamu sebenarnya?" Pria itu menatap Ella penasaran sekaligus takut, keringat dingin bercucuran membasahi kening dan juga wajahnya. Tubuhnya tampak gemetar, dengan jantung berdegup kencang.


"Siapa aku? Bukankah aku bocah yang kau bilang sialan." Ella menarik kerah baju pria itu.


"Le-paskan aku," ucap pria itu gemetar.


"Mau di lepaskan, hm?" ucap Ella dingin tanpa ekspresi dengan sebelah tangannya yang mengangkat tubuh pria itu keatas.


"A-mpuni aku, ma-af." tubuh pria itu seketika melemas tak berdaya, bahkan ia tidak berani melawan. Dia begitu takut dan juga ngeri dengan aura yang di pancarkan Ella.


"Le-pa-s." Napas pria itu kian tercekat manakala Ella semakin memperkuat cengkramannya di leher pria itu dengan cara menarik kerah bajunya.


"Baiklah."

__ADS_1


Bruukk!


Ella melempar pria itu dengan cukup jauh. Ah, pria itu mengerang kesakitan. Ella tidak perduli dia berjalan mendekati pria itu. "Sakit bukan?" Ella mencengkram kuat dagu pria itu.


"Inilah yang mereka rasakan saat kau menyakiti mereka, apakah kau pernah berpikir dahulu sebelum menyakiti dan juga menindas orang yang lemah? Tentu tidak, karena kau bukan manusia. Tidak ada manusia sekeji dirimu yang tega pada orang lemah!" Ella melepaskan cengkramannya dengan kasar.


"Kalian akan ku buat menyesal karena telah memeras hasil jeripayah orang lain, menindas tanpa pandang bulu. karma itu ada, sebelum Tuhan memberikan karma itu, biarlah aku memberikannya terlebih dahulu."


Bughh!


Pukulan telak Ella layangkan sehingga membuat pria itu tak sadarkan diri. Setelah itu Ella bangkit, lalu dia menelepon Ragil untuk menyuruhnya membawa para sampah ini ke markas.


"Lo gak pa-pa?" tanya Ella dingin kepada Alvin setelah dia menghampirinya.


"Gue gak pa-pa, thank," ucap Alvin tersenyum tipis.


"Udah gak ngirit lagi nih ceritanya," sindir Ella.


"Mungkin," jawab Alvin sembari berusaha bangkit.


"Sorry gak bisa ngulurin tangan, bukan muhrim," ucap Ella sembari tersenyum manis.


"It's okey." Alvin sudah bisa berdiri.


"Sebenarnya lo siapa?" Alvin menatap Ella dengan penuh rasa penasaran, tapi dia yakin Ella bukanlah orang biasa jika di lihat dari kemampuannya yang tidak di miliki semua orang.


"Ya ampun! kamu raflesia Vivin. Dengkul kamu ke jedot kayaknya inih, gaswat, Vivin kudu segera di bawa ke dukun beranak supaya cepat di periksa, takutnya dengkul Vivin retak makannya Vivin raflesia!" cerocos Ella yang kembali ke mode seperti biasa.


"Maaf Vivin, aku gak bisa. Aku udah ada yang punya." Ella berlagak seperti orang sedih.


"Maksudnya?" Alvin jadi bingung.


"Bukannya Vivin mau serius sama aku?" Ella menatap Alvin.


"Astaga, sumpah Ell. Baru kali ini gue nemu cewek berkepribadian ganda kayak lo." Alvin geleng-geleng kepala.


"Kayak barang aja nemu, lagian aku bukan waria yang berkepribadian ganda Vivin," cebik Ella.


"Maksud aku bukan kepribadian ganda seperti itu, tapi kamu kayak bunglon, berubah-ubah," tutur Alvin.


"Enggak kok, aku tetep jadi manusia gak jadi alien atau robot," ucapan Ella membuat Alvin semakin bingung.


"Udahlah, Ell. Gue capek ngomong sama lo." Alvin terlihat prestasi.


"Kalo capek jangan ngomong, lagian sejak kapan Vivin ngomong mulu? Udah punya banyak stok suara ya sekarang? Makannya gak ngirit lagi," ledek Ella.


"Atau jangan-jangan... Kamu suka beneran sama aku? Kan kalo di novel-novel yang aku baca, cowok dingin dan irit bicara itu akan hangat dan bawel kalo sama cewek yang di sukainya. Di dunia nyata ada juga kok." Ella jadi teringat Ray yang dulu begitu dingin terhadapnya.


"Gak gitu juga, gue cuma males bicara aja," ujar Alvin.

__ADS_1


"Terus kenapa sekarang jadi ngomong mulu?"


"Mungkin malesnya lagi jalan-jalan," ucap Alvin sembari melangkah pergi untuk menghampiri teman-teman yang lain.


Ella mendelik saat mendengar ucapan Alvin, tapi dia lega, Alvin tidak lagi menginterogasi dirinya. "Tapi dia pasti masih kepo sama aku," gumam Ella kemudian dia melangkah menyusul Alvin.


Sebelumnya Ella juga menyuruh Ragil mengerahkan anggota AOD untuk membereskan kekacauan yang di ciptakan para pereman tadi. Untuk nasib para pereman itu entahlah akan seperti apa jadinya setelah mereka sampai di markas, mungkin akan menjadi santapan hewan peliharaan Ella.


 


"Udah sore gini kenapa dia belum pulang?" Ray yang baru saja pulang dari kampus nampak mondar-mandir di depan lemari.


"Apa gue susul aja?" pikir Ray.


"Mending gue susul deh, takutnya terjadi apa-apa," putus Ray kemudian dia melangkah ke kamar mandi.


Seteleh selesai mandi dan juga berganti pakaian, Ray langsung berangkat menyusul Ella dengan mobil dia yang satunya, karena mobil yang dia pake biasanya di pakai oleh Ella.


"Pak Ray mau kemana?" tanya Zela yang sepertinya baru tiba di depan pintu rumah Ray.


"Kamu ngapain di sini?" tanya balik Ray dingin.


"Em, saya mau ketemu bapak. Saya mau konsul masalah skripsi saya, Pak," ujar Zela dengan tersenyum manis.


"Untuk urusan skripsi bisa di kampus saja, di rumah saya sibuk dengan keluarga saya," ucap Ray tegas.


"Tapi, Pak. Saya hanya ingin lebih santai aja gitu," dalih Zela.


"Kalau mau santai, jangan mengerjakan skripsi. Ngopi saja di kafe sembari mendengarkan musik," ketus Ray sembari melangkah pergi.


"Tunggu pak! bapak mau kemana?" Zela berlari menyusul Ray.


"Saya mau mencari istri saya." Ray menjawab tanpa menghentikan langkahnya.


"Ikut ya, Pak," pinta Zela.


"Saya ini dosen kamu, bukan teman kamu. Jadi bersikaplah sopan." tegas Ray penuh penekanan.


"Memangnya kenapa kalau bapak adalah dosen saya? Asal bapak tau, saya itu suka sama bapak," ungkap Zela dengan lantang.


"Gak waras." Ray langsung masuk kedalam mobil tanpa menoleh kearah Zela.


"Lihat aja nanti, aku bakal ngerebut kamu dari wanita itu," gumam Zela menyeringai.


Mana suaranya😘😘😘


Lalala dududu, Up lagi gak nih?


Otor punya rekomendasi cerita nih, masih tentang perjodohan yang berbuah manis seperti kisah Ella. Namun di cerita ini ada kendala dari orang tua yang di sebabkan karena hasutan. Lebih lengkapnya bisa lihat du bawah dan kepoin novelnya👇

__ADS_1



__ADS_2