
"Jawab dulu apanya yang gawat?" Ray tidak menjawab pertanyaan Ella.
"Gak mau, pokoknya kak Ray harus jawab dulu kenapa kak Ray ganti baju?" Ella menatap Ray tajam.
"Ok, kakak ganti baju karena tadi mampir dulu ke apartemen dan mandi di sana," ujar Ray.
"Kenapa mandi?" Ella sepertinya masih curiga.
"Karena gerah dan juga supaya si bonar yang kamu bangunkan tidur kembali," ucap Ray sembari mendudukan dirinya di ranjang.
"Kak Ray gak bohongkan?"
"Engak Sayang, kenapa kakak harus bohong? memangnya kamu pikir kakak habis ngapain?" Ray menatap lembut manik mata Ella, sepertinya kekesalannya sudah hilang terhadap sang istri.
"Abis menjelajah gua," ketus Ella.
"Gua siapa yang kakak jelajahi? Kan gua favorit kakak ada di sini," ucap Ray.
"Guanya si ulet keket yang gatelnya gak ketulungan itu," delik Ella.
"Sayang...." Ray menarik Ella kedalam pangkuannya.
"Dengerin kakak baik-baik, di kampus kakak memang banyak ber interaksi dengan wanita. Tetapi, perlu kamu tau. Kakak gak pernah ada sedikitpun niatan untuk menghianati kamu. Jangankan untuk menyentuh wanita lain sampai sejauh itu, menatap tubuh mereka saja kakak enggan. Percayalah pada kakak, hilangkan pikiran negatip itu dari pikiranmu." Ray menghela napas panjang.
"Kamu harus bisa percaya sama kakak, karena salah satu pondasi rumah tangga selain cinta adalah kepercayaan. Apa kamu pernah melihat kakak dekat dengan wanita? bercanda tawa, dengan akrab? tidak kan, tersenyum pada wanita lain saja tidak pernah selain pada keluarga dan teman terdekat. Lain hal nya dengan kamu, baru sehari kenal sudah akrab saja dan terlihat dekat," imbuhnya.
"Maaf, aku janji. Aku gak bakalan nuduh kak Ray yang macem-macem lagi," sesal Ella sembari menunduk.
"Kamu juga jangan terlalu dekat dengan pria di kampus, meskipun kalian hanya berteman. Tapi kita tidak tau kan isi hati seseorang, karena kedekatan yang terjalin setiap hari bisa menimbulkan sebuah rasa. Contohnya Galang dan Yuda dulu, apa kamu tidak ingat? kakak harap kejadian seperti itu tidak ter ulang lagi."Ray mengangkat dagu Ella.
Cup!
Kecupan mesra mendarat di bibir yang nampak mengerucut. Ella kembali tersenyum manakala melihat sang suami tersenyum begitu manis padanya, mereka berpandangan dengan mesra, saling menatap penuh cinta, menyalurkan rasa yang menetap di dalam hati sanubari. Berawal dari tatapan berakhir pada sebuah ciuman kerinduan, meraup, mengecap menyelusuri kenikmatan dalam ciuman mesra penuh cinta.
Tok! tok! tok!
"Dek!"
Suara ketukan di sertai panggilan membuat aktipis mereka terhenti, Ella langsung saja turun dari pangkuan Ray kala suara nyaring yang dia kenal memanggilnya.
"Bangsat!" geram Ray kesal karena aktipis nya terhenti.
Ceklek!
"Abang sama siapa ke sini?" tanya Ella begitu dia membuka pintu.
"Berdua," jawab Satria.
"Sama Kadal?" tanya Ella lagi.
"Gak, kadalnya lagi ganti kulit."
"Terus Abang kesini sama siapa?"
__ADS_1
"Rendi."
"Oh."
"Si Ray mana?" Satria nampak celingukan.
"Dia ada di dalem kok," Ella melangkah untuk pergi ke ruang tamu.
"Loh, kok Abang ngikut? bukannya mau nyamperin kak Ray?" Ella melirik Satria yang berjalan di belakangnya.
"Males ah, kayaknya dia kesel sama gue," ucap Satria karena dia tadi sempat bersitatap dengannya sewaktu dia mau menghampiri Ray.
"Hay, karen," sapa Ella pada Rendi yang sedang duduk di sofa sembari bermain ponsel.
"Gak sekalian aja lo manggil gue Karin, Ell. Biar lebih cuco," cebik Rendi.
"Ide bagus, patut di coba," cengir Ella.
"Twins mana, Ell?" tanya Rendi.
"Ada di kamar sama Mamah," jawab Ella.
"Gue pengen ketemu mereka, boleh gak?" ujar Rendi.
"Boleh dong, ayok."
Mereka pun berjalan ke kamar twins, sesampainya di sana, Rendi langsung menggendong Zura yang ternyata sudah bangun dan tengah di gendong Wina.
"Iya, Ren. Zam mah tidurnya lama, beda sama Zura yang cuma sebentar," tutur Wina.
"Kayaknya nurun sama bapaknya, nih. Tulor," ucap Satria.
"Apaan tuh tulor, Bang?" bingung Ella.
"Tukang molor," ujar Satria sembari tertawa.
"Enak aja, lo tuh yang tulor plus *****," sahut Ray yang baru saja masuk ke dalam kamar twins.
"Wih, Papah muda udah dateng nih." Rendi langsung menatap kearah Ray.
"Kemana aja lo, Ren? kok jarang kesini?" Ray mendudukan bokongnya di sambing Ella yang sedang duduk di karpet bulu.
"Sibuk gue, Ray. Ini aja nyempetin kesini pengen ketemu twins," jawab Rendi.
"Sibuk apaan lu? sok sibuk banget kayak bos sja."
"Sibuk nyari bini dia Ray, malu kali jombo sendirian. pan bentar lagi gue kawin, lah masa iya dia jadi jones bae," timbrung Satria.
"Gue emang jomblo, tapi gue pernah ngerasain kawin menyelusuri gua kenikmatan. Nah, elo belum pernah kan?" ejek Rendi.
"Parah Karin, belum nikah tapi udah menjelajah gua. Kasian banget yang jadi istrinya Karin, dia bakalan dapet barang bekas." Ella yang sedang memangku Zam karena terbangun pun ikut nimbrung, sedangkan Wina masih mode nyimak.
"Astaga, Ella. Masa ganteng gini di samain sama barang bekas," kesal Rendi.
__ADS_1
"Percuma ganteng, kalo seken. Mendeng jelek tapi ori," Ella menciumi pipi Zam gemas.
"Yodah, lo sama orang gila aja sana, pasti masih ori." Rendi nampak menekuk wajahnya.
"Ogah, kan aku udah punya kak Ray yang tampan, baik hati tidak simbong dan juga gede..." Ella tidak melanjutkan ucapannya.
"Ekhem, gede apa nih, Ell?" Wina yang nyimak pun ikut menimbrung.
"Em itu, gede kasih sayangnya Mam," cengir Ella sembari melirik skearah Ray.
"Oh, jadi itunya kecil nih?" pancing Wina.
"Gede dong, Mih. Panjang lagi, ups.." Ella langsung menutup mulutnya dengan wajah malu.
"Bibit siapa dulu dong!" bangga Samsul yang baru saja tiba.
"Papah," semakin bertambah malu saja Ella kali ini.
"Bibit Papah memang hebat, sekali semprot langsung dua," ucap Samsul kemudian dia meraih Zam dari pangkuan Ella.
"Mana ada sekali semprot, orang kak Ray nyemprotnya berkali-kali," ujar Ella tanpa sadar.
"Ganas juga ya, kamu Ray. Seperti Papah." Samsul menepuk pelan bahu Ray yang berada di sampingnya.
"Astaga ni mulut, kenapa lemes banget sih," gumam Ella yang memukul pelan mulutnya.
"Bukannya dari dulu kamu lemes, Ell? udah gitu polos banget cuplas-ceplos. Atau polos kamu udah hilang ya, gara-gara di polosin mulu," ledek Wina.
"Mam..." Ella tampak malu.
"Gak usah malu, biasanya juga malu-maluin. Btw Ray ganas kan?" Wina menaik turunkan alisnya.
"Pasti ganas lah, Mah. Orang Ray bibit Papah, kalo gak ganas perlu di pertanyakan. Masa bapaknya ganas anaknya melehoy," sahut Samsul.
"Makannya Mamah tanya sama istrinya, biar kita tau Ray ganas apa engga?" ujar Wina.
"Ray ganas kan, Ell?" kali ini Samsul yang bertanya.
"Jawab aja Dek, biar diem tuh si tua kepo." Satria menimbrung.
"Jangan dengerin obrolan mereka ya, Zura. Gak ada faedah nya, cuma merusak otak suci kita." Rendi yang sedang mengajak main Zura pun bersuara.
"Bentar." Ella bangkit dari duduknya dah berjalan keluar.
Beberapa saat kemudian dia sudah kembali dengan membawa dua buah nanas di tangannya, "Kenapa kamu bawa nanas, Sayang?" tanya Ray heran.
"Biar mereka tau jawaban dari pertanyaan unfaedah nya," jawab Ella.
"Apa hubungannya sama nanas?" bingung Wina.
"Kalian searching aja di google, apa bahasa sundanya nanas. Itulah jawabanku dari pertanyaan unfaedah kalian."
Jejaknya mana nih? mau lanjut gak? kalo mau dobel komen ya😘😘😘😘
__ADS_1