
"Ganggu aja lu, Bangsat," dengus Ray kesal.
Pletak!
"Sakit bego!" Ray mengelus keningnya yang kena jitak Satria.
"Lagian lu kagak ada ahlak bener, adek gue lagi sakit ege. Ngape lu mesumin dah. Harusan lo itu jagain adek gue." Satria mendorong Ray untuk menjauh dari Ella.
"Elah, nyicip dikit doang tadi." Ray mendudukkan bokongnya di sebuah kursi.
"Lu nggak pa-pa kan, Dek? Mana yang sakit, hm?" Satria menilik Ella dari atas sampai bawah.
"Aku nggak pa-pa kok, Bang," jawab Ella dengan tersenyum manis.
"Apa yang terjadi?" tanya Satria.
Ella pun menceritakan semuanya prihal yang terjadi padanya, sampai kehamilannya pun tak luput ia ceritakan. Satria turut bahagia saat mendengar sang adik mengandung kembali. Pria sableng itu pun memeluk Ella dengan begitu erat mencurahkan rasa sayang yang teramat besar untuk sang adik.
"Abang ikut bahagia." Satria mengecup seluruh wajah Ella dengan bertubi-tubi kecuali bibir.
"Apa nih? Stop! Stop!" Ray menarik Satria supaya menjauh dari istrinya.
"Sensi amat ni bapak-bapak, Ella 'kan adek gue," sewot Satria.
"Tapi dia bini gue." Ray tak mau kalah.
"Udah-udah, aku SCTV," sahut Ella.
"Apaan tuh, Dek?"
"Satu untuk semua."
Dua hari berlalu, Ella sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Begitu sampai di rumah, Ella langsung di sambut antusias oleh si Kembar. Kedua bocah itu begitu merindukan sang Mimom, terlihat dari wajah keduanya yang sangat berbinar begitu Ella datang.
"Mimom jangan sakit lagi, Zua sedih," ucap Zura dengan wajah imutnya.
"Iya, Sayang. Maafin Mimom ya." Ella mendekap erat tubuh sang putri.
"Mimom udah nggak pa-pa 'kan? Terus, apa benar di sini ada adik bayi?" Zam yang bertanya sembari memegang perut Ella.
__ADS_1
"Kamu benar, Boy. Di sini ada adik bayi, calon adik kalian," jawab Ella.
"Holee! Zua mau punya adik!" Heboh Zura.
"Udah mau punya adik, tapi belum bisa ngomong R." Cibir Satria.
"Huaa, om sesat. Jahat, dia ledekin Zua mulu. Huhuhu." Zura menangis kencang.
"Makanya belajar ngomong, R. Biar nggak di ledek mulu," ucap Satria.
"Susah, om." Kelasnya lirih.
"Kamu nih, Sat. Sukanya ngeledekin ponakan mulu." Rina yang baru saja datang bersama Dalina dan juga Sasa langsung menjewer telinga Satria.
"Terus jewel, oma. Jewel yang kelas sampe telinga om sesat putus." Kompor Zura.
Satria meringis kesakitan kala Rina menjewer kedua telinganya yang mana membuat Zura senang bukan kepalang. Karena bocah itu merasa sang omah membelanya. Puas menjewer sang putra, Rina pun langsung menghampiri putrinya, memeluknya dengan rasa khawatir. Rina baru tau tadi pagi saat tiba dari luar kota bersama sang suami jika Ella di larikan ke rumah sakit. Sedih dan juga senang bercampur menjadi satu, sedih karena dia tidak mendampingi sang putri saat di rumah sakit dan juga senang ketika mengetahui Ella hamil lagi.
"Kamu jangan beraktivitas yang berat dulu, Ell. Istirahat aja, soal magang kamu nggak pa-pa lah izin. Toh magangnya di kantor suami kamu ini," ucap Rina sembari mengelus kepala sang putri.
"Benar kata, Mamih. Kamu harus banyak istirahat supaya cepat pulih," timpal Ray.
"Jangan banyak pikiran juga, makan yang sehat dan teratur. Pokonya jangan memikirkan hal apapun dulu, fokus aja sama kesehatan kamu," tambah Wina.
"Papih seneng, karena sebentar lagi cucu papih bakal jadi empat," ucap Andi mendudukkan bokongnya di samping Ella.
"Jaga kesehatan dan juga kandungan kamu," lanjutnya kemudian mengecup kening Ella sayang.
"Iya, Pih."
Menjelang sore, Ella mengajak Ray untuk bersantai di belakang rumah. Tak membiarkan sang istri kecapean. Ray menggendong sang istri menuju ke sana. Mendudukannya di sebuah kursi panjang yang menghadap ke arah kolam.
"Kak Ray."
"Iya, Sayang."
"Aku bakal lulus kuliah nggak ya? Soalnya 'kan aku magangnya bolos mulu," lirih Ella.
"Pasti lulus, Sayang," hibur Ray yang melihat istrinya sedih.
__ADS_1
"Gimana kalau nggak lulus?" tanyanya sedih.
"Nggak pa-pa, yang penting kamu udah lulus jadi seorang istri dan mendapat gelar ibu," jawab aray dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Aku serius, Kak Ray." Cebik Ella.
"Kakak juga serius, Sayang."
Ella pun cemberut, mod nya menjadi buruk karena dia merasa Ray mengabaikan ucapannya. Tak lama wajah cemberut itu berseri kembali saat melihat kedua sahabatnya datang menghampiri.
"Kamu baik-baik aja kan, Ell?" Dela langsung memeluk tubuh Ella erat.
"Maaf ya, aku nggak sempet jenguk ke rumah sakit," ucapnya merasa bersalah sembari menatap lekat wajah sang sahabat yang terlihat masih sedikit pucat.
"Nggak pa-pa, Del. Gue udah baik-baik aja kok," ujar Ella.
"Syukurlah, aku juga ikut seneng atas kehamilan kedua kamu," kata Dela.
"Jadi pengen hamil juga," celetuk Kiana yang saat ini berdiri di samping Ella.
"Minta halalin sono ama si Ragil, biar cepet melendung," sahut Ella.
"Nggak usah di minta, orang bentar lagi aku di halalin kok," ucapnya bangga.
"Seriusan?" tanya Ella yang di jawab anggukan oleh Kiana.
"Kapan?" tanya Ella lagi.
"Secepatnya," jawab Kiana.
"Tante Udel!" teriakan Zura seketika membuat atensi mereka teralihkan pada bocah itu.
"Kenapa, Sayang?" tanya Dela sembari mendekati Zura.
"Gagal mana? Kok ndak ikut?" tanya Zura.
"Ah itu, Sayang. Galanya lagi nggak enak badan," jawab Dela berdalih karena sesungguhnya Gala tidak mau ikut karena dia tidak mau di tempeli terus oleh Zura.
"Aku boleh ikut ke lumah tante kan? Aku mau jenguk Gagal," ucap Zura yang mana membuat Dela bingung harus menjawab apa? Pastilah Gala akan kesal jika dirinya membawa Zura ikut pulang ke rumah.
__ADS_1
Sebenarnya Dela senang Zura menyukai Gala dan selalu ingin dekat dengannya namun sayang Gala tidak menyukai itu, pasalnya Zura selalu menempel padanya jika bertemu seperti lintah yang tak ingin di lepas.
Jejak😘