Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Di serang.


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Ella masih mondar-mandir didepan pintu kamar menunggu Ray pulang. Tidak biasanya pria itu pulang larut seperti ini, padahal biasanya dia selalu pulang tepat waktu.


"Mom." Zura membuka sedikit pintu kamar sang Mimom.


"Kenapa, Sayang? Masuk sini." Ella membuka pintu kamarnya lebar lalu dia meraih tangan putrinya.


"Mom, besok main yu ke lumah Gagal," ajak Zura penuh harap.


"Kangen ya sama Gala?" goda Ella.


"Ndak Mom, Ula mau main aja," elak bocah itu.


"Yaudah, besok kita main kerumah Gala ya," kata Ella.


"Oke, Mom. Telus satu lagi, Mom," ucap Zura.


"Apa itu?" Ella mengelus puncak kepala putrinya sayang.


"Ula mau sekolah, Mom. Kapan Ula sekolah?" tanya Zura yang sudah tidak sabar ingin masuk sekolah.


"Setelah taun ajaran ini habis nanti Ara sama abang Zam masuk sekolah Tk ya," sahut Ella.


"Masih lama ya, Mom?"


"Sebentar lagi kok, sekarang Ara bobo ya. Kan besok kita mau kerumah Gala."


"Antelin ke kamal, Mom," pinta Zura dan Ella pun langsung menurutinya.


Setelah mengantar Zura ke kamarnya dan menemani gadis itu sampai tertidur, Ella berjalan ke ruang keluarga dimana kedua mertuanya sedang menonton televisi.


"Belum tidur, Ell?" Wina melirik menantunya yang kini sudah duduk disofa.


"Kak Ray kenapa belum pulang juga ya, Mam?" keluh Ella sedih karena dia tidak bisa tidur tanpa Ray.


"Sebentar lagi juga pulang, dia kejebak macet kayaknya, Ell. Soalnya dia habis meeting dari luar kota kan."


Beberapa saat kemudian terdengar deru mesin mobil di halaman rumah dan Ella pun segera bergegas pergi kedepan dan ternyata itu adalah Ray. Begitu Ray keluar dari mobil, Ella langsung memberondong pria itu dengan berbagai pertanyaan.


"Kakak ada meeting di luar kota, Sayang. Tadi kakak udah hubungin kamu buat ngasih tau tapi nggak di angkat," tutur Ray.


"Meeting sama siapa?" cecar Ella dengan wajah cemberut.


"Sama pak Rama, Sayang. Klien yang dari bandung ituloh," jelas Ray.


Cup!


"Jangan cemberut gitu, nanti cantiknya ilang," goda Ray seraya mencubit hidung mancung Ella.


"Biarin!"


Ray pun merangkul istrinya membawa sang istri tercinta masuk kedalam kamar setelah menyapa orang tuanya. Ella duduk bersila di atas ranjang sembari bermain ponsel, dia menunggu Ray yang tengah mandi.


"Besok aku sama twins mau pergi kerumah Dela ya, Kak," ujar Ella saat Ray sudah keluar dari dalam kamar mandi.


"Cuma bertiga?" tanya Ray yang di angguki oleh Ella.


"Nanti kakak hubungin David buat ngawal kamu dan twins, Poky juga ikut," ujar Ray yang membuat Ella heran kenapa harus di kawal segala? Padahal biasanya dia dan twins selalu pergi bertiga kemanapun tanpa kawalan.


"Apa ada masalah?" tanya Ella curiga.


Ella juga menangkap ke khawatiran di wajah Ray, sepertinya ada masalah yang tengah menimpa keluarganya namun Ray tak mau berterus terang.


"Nggak ada, Sayang. Kakak cuma kecapean aja," sahut Ray seraya memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


Saat ini Ray masih mengenakan handuk yang melilit di pinggang kekarnya, dia belum mengenakan pakaian.


"Beneran? Kakak nggak bohong 'kan?" tanya Ella lagi untuk memastikan.


"Bener, Sayang. Kakak cuma kecapean dan butuh amunisi." Ray tersenyum penuh arti.


"Nggak kak Ray, aku tau tatapan kakak itu---"


Ocehan Ella terhenti kala Ray membungkam mulut wanita hamil itu dengan ciuman rakus dan juga menuntut, dengan senang hati Ella pun membalas ciuman Ray. Mereka berciuman cukup lama sampai akhirnya ciuman Ray merembet ke yang lain.


Keesokan harinya Ella dan twins berangkat kerumah Dela bersama David dan juga Poky yang sudah Ray perintahkan untuk mwnemaninya. Diam-diam juga Ella mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena wanita itu menangja5 perubahan yang sangat signifikan pada sang suami. Dan Ella yakin ada sesuatu yang pria itu sembunyikan darinya.


"Dave, lo jujur deh sama gue. Ada sesuatu yang kalian sembunyiin kan dari gue?" todong Ella membuat David yang tengah menyetir terdiam.


"Nggak ada, Ell," jawab pria itu namun Ella tak percaya.


Ella tak lagi bertanya, tetapi dia yakin David dan suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Tidak biasanya Ray seperti ini, dia sering pulang pergi kerumah Dela, sendiri atau bertiga sama twins, namun tak harus di kawal oleh siapapun.


Dor!


Suara tembakan menggema mengenai mobil yang tengah mereka kendarai membuat mereka yang berada di dalamnya kaget.


"Mom, suala apa itu?" tanya Zura yang nampak biasa saja padahal Poky tengah ketakutan setengah mati.


"Suara tembakan." Zam yang menjawab dengan santainya.


"Sepertinya mereka mulai menyerang," ucap David dengan atensi yang masih terfokus ke jalanan.


"Maksud lo apa, Dave? Apa ini ada kaitannya sama keanehan Kak Ray?" tanya Ella bingung.


"Nanti gue jelasin, Ell. Sekarang kita harus menyelamatkan diri dulu," sahut David.


Pria itu melajukan mobilnya ke jalanan yang sepi supaya tidak ada pengendara lain yang menjadi korban. Suara tembakan terus di lontarkan ke mobil mereka oleh pengendara mobil jeep di belakang. Untung saja mobil yang Dave bawa adalah mobil anti peluru.


"Gimana ini? Aku nggak mau kita celaka," ucap Poky ketakutan.


"Kamu tenang ya, semua akan baik-baik aja," ujar David menenangkan sang kekasih.


"Mereka makin deket, Dave. Lo bawa senjata 'kan?" tanya Ella ragu, dia takut kedua anaknya akan ketakutan jika dirinya menggunakan senjata untuk melawan para musuh.


"Ada pistol dan beberapa senjata lainnya," jawab David.


Ella melirik kedua anaknya yang tengah menatap kebelakang dengan tenang, tak terlihat sedikitpun raut ketakutan di wajah mereka membuat Ella sedikit tenang.


"Mana pistolnya?"


David meraih pistol yang berada di bawah kursinya dengan sebelah tangan lalu memberikannya pada Ella.


"Kalian berdua tutup mata sama telinga ya, ini demi keselamatan kita." Ella menatap kedua anaknya.


Mereka mengangguk cepat menuruti perintah sang mimom. Setelah itu Ella mulai membuka sedikit jendela mobil itu lalu dia menekan peletuk pistol yang sudah dia arahkan tepat di mobil jeep tersebut.


Dor!


Dor!


Dua kali tembakan Ella berhasil membuat mobil itu oleng karena Ella menembaknya tepat di dua ban depan mobil tersebut, karena kalau di badan mobil, Ella yakin mobil itu sama halnya dengan mobil mereka yaitu mobil anti peluru.


Brakk!


Mobil jeep itu oleng dan menabrak pembatas jalan namun Ella tidak memperhatikan kearah depan dimana ada dua mobil perari hitam menghadang mobil mereka dan sontak saja hal itu membuat David mengerem mendadak.


Poky semakin ketakutan dan si kembar langsung membuka mata maupun tangan yang menutupi telinga mereka.

__ADS_1


"Kalian nggak pa-pa?" tanya David yang kepalanya terbentur stir mobil walau tak terlalu keras.


"Nggak," jawab Ella singkat.


Namun dalam benak wanita itu sedang mencari cara untuk mengalahkan para pria yang berjejer di hadapan mobil mereka. Para pria itu baru saja keluar dari dalam perari hitam itu.


"Apa AOD bayangan mengikuti kita?" Ella melihat sekitar yang tak nampak kehadiran anggota AOD satupun.


David terlihat menghela napas panjang dan dari helaan itu Ella yakin jika saat ini sedang teejadi masalah yang cukup besar. Tetapi kenapa dirinya tidak tau dan tidak ada satupun anggota yang melapor padanya. Memang selama ini Ella jarang aktif dalam dunia gangster, dia sibuk dengan dunianya yang baru bersama twins dan juga teman-temannya apalagi sekarang dirinya sedang mengandung lagi, jadi dia tidak sempat mengurus gangsternya lagi.


Brakk!


Brakk!


"Keluar kalian!" teriak salah satu dari mereka.


"Gimana ini? Mereka banyak dan kamu nggak mungkin bisa melawan mereka sendiri." Poky menatap David dengan penuh ke khawatiran.


"Hanya sepuluh orang," ucap Ella santai seraya menatap 4 pria yang keluar dari mobil jeep yang menabrak pembatas jalan tadi.


"Itu banyak, Ell. Dan kamu juga lagi hamil, mana mungkin bisa melawan mereka," kata Poky.


"Nggak ada yang nggak mungkin," sahut Ella dengan seringai yang sudah lama tak dia tunjukan.


"Mom, jangan kelual bahaya," ucap Zura saat melihat mimomnya hendak keluar.


"Iya, Mom. Mereka banyak dan akan bahaya untuk keselamatan mimom," tambah Zam khawatir.


"Iya, Ell. Lo lagi hamil, bahaya kalo elo keluar. Biar gue aja yang ngadepin mereka," sambung David.


"Hubungi anggota yang lain, Dave. Suruh mereka kesini bantu kita, nggak mungkin lo bisa ngelawan mereka sendirian. Skil lo aja jauh dibawah gue. Atau telepon kak Ray, dia pasti langsung datang kesini," saran Ella.


David menatap Ella kemudian dia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi walau belum semuanya karena ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan.


"Jadi sekarang markas lagi di serang? Kantor sama rumah juga?" kaget Ella.


"Ya, makannya gue nggak nyegah lo pas minta di anter kerumah Dela. Ray juga. Karena kita pikir disana akan aman, tapi ternyata kita malah diserang juga di jalan," tutur David.


"Untung kedua mertua gue lagi dirumah mamih, tapi kak Ray gimana? Dia di kantor sama siapa? Apa semua anggota ada di markas ngadepin penyerangan di markas? Kenapa penyerangannya harus barengan gini sih? Dan kenapa juga kalian nggak ngomong masalah ini ke gue dari awal. Mungkin kalo gue tau, gue bisa cari solusi. Sekarang kalau udah gini gimana coba?" Ella memberondong David dengan berbagai pertanyaan tanpa mempedulikan musuh yang terus menggedor kaca mobilnya.


"Di kantor ada Satria sama Galang yang bantuin, sedangkan Ragil dia ngehendel penyerangan di markas. Kita nggak ngasih tau semua ini kare---"


"Keluar atau kita pecahin ni kaca mobil!" teriak musuh di luar membuat ucapan David terhenti.


"Kita hadapi mereka, Dave. Dan kalian tunggu disini. Kunci mobil dari dalam dan ingat jangan pernah keluar dari mobil ini." Ella menatap kedua buah hatinya dan juga Poky.


"Katana, Dave," pinta Ella.


"Dibelakang kursi lo," jawab David yang sudah bersiap akan keluar.


Ella mengambil katana dari belakang kursunya, dia sedikit menunduk untuk mengambil itu. Dia juga mengambil jubah anti peluru yang kebetulan ada di mobil itu. Disana ada beberapa jubah, Ella melemparkannya pada David satu lalu dia juga memakainya.


Setelah itu Ella dan David keluar dari dalam mobil, David langsung menyuruh Poky untuk mengunci pintu mobil tersebut. Ella keluar dari mobil dengan wajah datar tanpa ekspresi namun aura yang di keluarkannya sangat berbeda membuat atmosfer di tempat itu menjadi terasa mencekam. Katana panjang yang Ella pegang membuatnya semakin mengerikan dan perut buncit nya tak terlihat karena jubah yang di kenakannya.


"Akhirnya kalian keluar juga," ucap pria botak yang berkumis baplang.


"Tentu saja aku akan keluar untuk menghadapi kalian! Karena aku bukan pecundang!" sarkas Ella dingin.


"Kamu hanya seorang wanita yang pastinya tidak akan bisa melawan kami," ucap yang lainnya.


"Aku memang wanita, tapi bukan berarti aku tidak bisa membuat kalian binasa!"


"Kurang ajar! Serang!"

__ADS_1


Sepuluh orang musuh itupun langsung menyerah Ella dan juga David dengan brutal, namun semua itu tak membuat seorang Ella gentar.


__ADS_2