
Brukkk!
"Sorry, sorry," ucap orang yang menabrak Ella.
"Ok, gue juga minta maaf. Tadi gak liat jalan soalnya." Ella mendongkak untuk melihat wajah pria itu.
"Kayak pernah liat, tapi di mana ya?" gumam Ella.
"Lo gak pa-pa kan?" tanya Pria itu karena melihat Ella melamun.
"Gak pa-pa kok, gue duluan." Ella berlalu pergi dari hadapan pria itu.
Sedangkan kedua sahabatnya entah masih dimana? Sepertinya mereka tertinggal kerena langkah Ella yang terlalu cepat.
"Huhh!" Menghela napas kasar lalu mendudukan bokongnya di kursi.
"Gue masih penasaran tentang Kiana, kenapa gue jadi kepo gini ya?" Monolog Ella.
Tak lama kemudian kedua sahabatnya telah datang, terlihat Dela datang dengan begitu heboh. Sementara Kiana, dia biasa saja.
"Ell, lo tau gak?" Seru Dela.
"Nggak!"
"Ih... Aku kak belum ngomong." Bibir Dela mengerucut.
"Hm."
"Tau gak Ell, tadi tu kita ketemu sama Aksa. Ya ampun... Dia ganteng banget kalo dari deket." Heboh Dela.
"Aksa?" Ella menaikan sebelah alisnya.
"Itu loh, Ell. Artis yang kemarin kita liat."
"Owhh, yang itu." Ella teringat sesuatu.
"Jadi yang gue tabrak tadi, artis yang kemaren? Pantes aja mukanya Pamiliar," gumam Ella.
"Ganteng banget ih, jadi pengen poto, tapi malu." Dela terlihat seperti anak abg yang kasmaran.
"Inget lakik, Del," peringat Ella.
"Inget kok, masa lupa."
Beberapa saat kemudian, Ray datang seperti biasa dengan wajah dingin dan juga datarnya.
Materi kedua pun berlangsung, kali ini tidak ada interaksi seperti tadi. Hanya mengerjakan tugas yang telah di siapkan oleh Ray saja.
Setelah semuanya beres, merekapun langsung saja pulang. Namun tidak dengan Ray, dia masih harus mengajar semester lain dengan Pakultas yang sama. Ella dkk langsung saja menuju ke rumah keluarga Wardana. Sebelumya dia sudah menghubungi Galang dan juga Rendi. Sengaja tidak mengajak para jomblo, supaya tidak ada yang iri dengan kemesraan mereka nanti. Rendi? Memang dia jombo, tapikan ada Kiana.
"Wih, udah nyampe aja nih," sapa Ella pada kedua pria yang sedang duduk di sofa.
"Loh, Gala mana, A? Kok nggak di ajak?" tanya Dela yang langsung duduk di samping Galang.
"Gak di bolehin sama Mamah, katanya dia kesepian kalo Gala di bawa. Ya udah lah gak pa-pa biar kita bisa pacaran." Galang merangkul bahu Dela.
"Ekhem." Rendi berdehem.
"Apa Ren? Sirik lo? Noh ada di samping rangkul sono," ucap Galang.
Tanpa basa-basi Rendi langsung merangkul Kiana yang berada di setelahnya sehingga membuat Kiana kaget sekaligus berdebar.
"Eh!"
"Kita juga bisa rangkulan, iyakan manis?" Rendi mengedipkan sebelah matanya sembari menatap Kiana.
"Kak Rendi genit!" Seru Kiana.
"Awas Ki, nanti terjerat jebakan buaya," goda Galang.
"Sue lu! Gak bisa apa? Liat temen seneng dikit," delik Rendi.
"Kalian pada di rangkul, nah aku. Di rangkul siapa?" Ella menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Si Ray, emang gak ikut balik?" tanya Rendi.
"Masih ngajar." Ella menghela napas panjang kemudian dia bangkit lagi.
"Aku ke kamar twins dulu, ya. Kalian ngobrol aja sama tuh kuenya pada di makan jangan di anggurin kesian." Ella menunjuk kue yang tertata rapi di atas piring.
Kemudian dia melangkah masuk ke dalam kamar twins. "Loh, kalian mau keman?" Ella menatap Samsul dan juga Wina yang nampak sudah rapih sedang berkemas.
"Kita mau reunian di rumah Mamih kamu, Ell," jawab Wina.
"Reunian apa? Sekolah?" tanya Ella lagi.
"Reunian sama temen kuliah se Pakultas kita dulu," ujar Wina.
"Oh... Terus, kenapa pakaian twins juga di masukin ke tas?" Heran Ella.
"Karena twins mau kita bawa, kita mau pamer sama mereka. Kalau kita punya cucu kembar," jawab Samsul cepat.
"Apa? Di bawa? Kalo gitu aku ikut deh, ke rumah Mamih," putus Ella.
"Gak usah, Ell. Twins aman sama kita. Lagian di sana juga. Kamu gak akan kebagian gendong twins. Mamah sama Papah juga terpaksa harus satu berdua, kan Rina sama Andi satu. Kamu bikin lagi dua dong, Ell. Biar pas ngumpul gini gendongnya jadi satu-satu," ucap Wina enteng.
"Di pikir gampang apa brojolin anak? Bikinnya emang enak, nah pas ngeden. Sakitnya nauzubillah. Apa lagi ini langsung dua. Mamah mah kalo ngomong se enak dengkul bae. Gak mikirin apa mantunya ini kesakitan," ujar Ella dengan wajah ketus.
"Cesar aja, Ell. Biar gak usah ngeden," saran Wina.
__ADS_1
"Sama aja sakit, Mam. Yodah kalo gitu Mamah aja sono yang bikin anak lagi. Biar anak aku nggak di kuasai kalian," Sewot Ella.
"Bikin mah setiap hari juga ngadon, tapi ya. Karena Papah udah tua, jadinya adonannya encer mulu gak jadi-jadi," ujar Wina.
"Cari yang muda dong, Mam. Biar kentel kek susu kental manis," kelakar Ella.
"Sembarangan, Papah juga masih muda loh ini. Mamah kamu aja kalau, bahkan sampe sakit pinggang," ujar Samsul sembari membusungkan dada.
"Dah ah, di denger twins nanti. Bisa tercemar pendengaran mereka." Ella menghampiri kedua anaknya, lalu dia menciumi mereka satu-persatu dengan gemas.
"Hati-hati ya, kesayangan Mimom. Jangan nakal, jangan rewel juga. Kalian baik-baik sama Opa dan Oma kalian yang pelitnya nauzubillah itu ya." Ella tersenyum simpul.
"Mertua baik gini di bilang pelit, dasar menantu durhakim," delik Wina.
"Buktinya twins di kuasain mulu, akunya gak kebagian." Cebik Ella.
"Hehe, makannya bikin lagi. Kita kan lagi seru-serunya main sama twins." Cengir Wina.
"Di luar kan ada, Dela, Rendi, Galang sama Kia. Kamu suruh aja mereka nginep. Lagian orang tua Galang juga mau ke rumah Mamih kamu, dia mau pamer cucu juga kayaknya," ujar Samsul.
"Pantesan Gala gak di bolehin di bawa ke sini. Tau nya mau di ajak reunian to." Ella manggut-manggut.
"Ya udah, kami pergi dulu ya, Ell. Keburu Sore, kamu hati-hati di rumah. Maaf ya, twins kami bawa. Tenang aja, mereka aman kok, kami juga bawa stok asi banyak." Wina mengusap bahu menantunya.
"Iya, kalian juga hati-hati. Dadah twins."
Sesungguhnya Ella merasa kehilangan saat twins di bawa pergi, namun dia juga senang melihat keceriaan mertuanya. Mereka begitu antusias membawa twins. Ella senang mertuanya tidak jahat seperti yang ada di sinetron ikan terbang. Dia bersyukur punya mertua sebaik mereka meskipun kadang debat.
Setelah mertuanya pergi, Ella pun masuk ke dalam kamarnya. Dia memutuskan untuk mandi saja biar segar. Setelah selesai mandi dan juga berganti pakaian, dia pun melangkah keluar untuk menemui para sahabanya.
"Mau kemana?" Baru juga sampai di ambang pintu kamar, tatapan mengintimidasi Ray sudah menyambutnya. Rupanya Ray baru saja sampai.
"Keluar nemuin mereka," jawab Ella.
"Ganti." Tegas Ray.
"Apanya?" Ella tidak mengerti.
Ray pun menatap ke arah kaki jenjang Ella yang hanya terbungkus hotpants setengah paha yang begitu ketat. Ella yang melihat arah pandang Ray pun seketika tersenyum kaku, dia langsung ngacir kembali ke dalam kamar.
"Udah, sekarang aku boleh keluarkan?" Ella sudah berganti bawahan dengan celana jeans panjang berwarna hitam.
"Ok, kakak mandi bentar ya." Ella pun mengangguk kemudian berjalan keluar.
"Dah seger aja kamu, Ell," ucap Dela.
"Kalian mau mandi juga? Kalau mau, mandi aja di kamar tamu. Nanti bajunya pake punya aku," ujar Ella.
"Nanti deh, masih cape," jawab Dela.
"Kalian nginep ya, di sini? Lagian Gala dan orang tua Galang nginep di rumah Mamih aku, mereka reunian di sana." Ella mendudukan bokongnya di sofa.
"Kamu, Ren?" Ella menatap Rendi.
"Nginep aja, kebetulan gue lagi nyantei," ujar Rendi.
"Kamu, Ki. Gimana? Nginep ya?" tanya Ella pada Kiana.
"Aku harus izin dulu," ucap Kiana.
"Ok, kamu izin dulu aja."
"Bentar, aku telepon ibuku dulu." Kiana mengambil ponselnya dan segera menelepon sang ibu.
"Nggak aktip," ujarnya.
"Keluarga kamu yang lain?"
"Ada abangku, tapi.."
"Ya udah, kamu telepon dia aja. Suruh bilangin ke ibu kamu," ucap Ella.
Dengan ragu, Kiana pun menelepin sang abang. Ternyata nomor abangnya aktip dan tersambung.
π Apa?!
π Bang.. Aku mau nginep ya, di rumah temen aku.
π Serah! Jangan pulang aja sekalian!
Deg!
Jantung Kiana seakan berhenti, segitu bencinya kah sang abang pada dirinya. Jujur, rasanya sakit, tapi dia mencoba untuk baik-baik saja.
"Gimana?" tanya Ella tak sabaran.
"Di bolehin, kok," jawab Kiana menahan tangis.
Rendi yang berada tepat di samping Kiana, bahkan tubuh mereka hampir menempel. Dia mendengar apa yang di katakan oleh abangnya Kiana. Hatinya merasa tersentil atas ucapan abangnya Kiana, apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa abang Kiana sepertinya sangat membenci Kiana? Banyak sekali pertanyaan yang bersarang di benak Rendi.
"Yeee! Berati malam ini rumah bakalan rame," seru Ella.
"Seneng banget sih, Sayang." Ray yang baru saja datang langsung duduk di samping sang istri.
"Iya dong, kan mereka bakal nginep. Ya, walaupun gak ada twins."
"Twins juga pasti happy di sana sama Oma Opanya."
"Kak Ray tau? Kan aku belum bilang."
__ADS_1
"Tadi Mamah sama Papah nelepon kakak dulu untuk minta izin."
"Oh, pantesan."
Hari sudah berganti malam, kini mereka sedang berada di halaman belakang. Mengadakan barbeque-an kecil-kecilan. Dela dan juga Kiana sudah mandi sebelumnya, jadi mereka sudah segar dan juga fresh denga memakai baju Ella.
"Ki, aku boleh nanya kan?" ucap Rendi ragu.
"Nanya aja, emang kak Rendi mau nanya apa?" Kiana menatap Rendi yang sedang duduk di hadapannya sembari menatanya lekat.
"Em, sebenarnya. Kamu ada masalah apa sama abang kamu?" Rendi berucap dengan hati-hati karena takut menyinggung perasan Kiana.
"Huuhh, bukan ada masalah. Tapi tepatnya, akulah pembawa masalah." Kiana menarik napas sepenuh dada.
"Maksudnya?" Rendi menatap lekat manik mata Kiana.
"Kak Rendi nggak perlu tau." Kiana memalingkan wajahnya, dia seperti menghindari tatapan Rendi.
"Kenapa? Apa karena aku hanya orang lain?"
"Memang kak Rendi orang lain kan?"
"Ya, aku memang orang lain." Entah mengapa dada Rendi rasanya sakit ketika Kiana hanya menganggapnya orang lain.
"Yuhuu! Sosis jumbo mateng nih!" teriak Ella dengan membawa nampan berisi sosis berukuran jumbo.
"Cuma bakar sosis aja, Ell?" tanya Galang yang sedang mengobrol dengan sang istri.
Memang yang membakar sosis itu adalah Ella dan juga Ray sembari bermesraan dengan Ray memeluk Ella dari belakang.
"Iya, tapi ini banyak kok. Gede lagi. Cukup kok buat kita ber-enam." Ella meletakan nampan itu di hadapan Dela dan Galang.
"Kia, Rendi. Sini... Sosisnya udah mateng." Ella memanggil Kiana dan Rendi yang jaraknya lumayan jauh dari mereka.
"Makannya di gazebo aja, Sayang. Biar lebih terang." Ray datang membawa saos dan mayones.
"Ok deh." Merekapun pindah ke gazebo yang lebih luas dan juga terang.
"Perasaan dari sosisnya nggak ada yang keluar deh," celetuk Ella yang membuat mereka seketika berhenti mengunyah.
"Emangnya kenapa, Sayang." Ray melirik sang istri yang duduk di sampingnya.
"Alot, kan kalo sosis kak Ray alotnya pas udah keluar. Nah ini, yang keluarnya apa? Kok jadi alot begini?" Ella memainkan sosis yang lemas lunglai itu.
"Karena sosisnya dingin, Ell. Jadinya alot. Kalo di panasin lagi ya, mengembang." Galang yang menjawab.
"Kebalik ya, kalo sosis cowok. Mengembangnya pas kedinginan. Pas kepanasan layu kaya ini." Ella masih memainkan sosis itu.
"Makan, Sayang. Kalo mau mainin, nanti aja punya kakak," ujar Ray.
"Kalian ngomongin apa si? Sosis cowok? Bentuknya kayak apa? Emang beda sama ini?" Sahut Kiana yang sedari tadi hanya menyimak saja.
"Beda dong, Ki. Sosis cowok lebih nikmat, malah bisa bikin cewek merem melek." Galang lagi yang menjawab.
"Merem melek? Kelilipan sosis kah?" tanya Kiana.
"Mana ada kelilipan sosis, Ki. Adeuhh.. Polos banget si kamu," ucap Ella.
"Gak sadar bu.... Dulu situ juga polos, malah polosnya ke bangetan." Cibir Galang.
"Tapi kamu suka, kan?" imbuh Dela.
"Ya, su-ka sih. Tapikan itu dulu," ujar Galang.
"Sekarang?"
"Sekarang sukanya sama, Neng Del."
"Gombal..."
"Ciusan deh, Neng Del."
"Daripada gombal-gombalan, mending kita main game yuk?" ajak Ella.
"Game apa?" tanya Dela.
"Trut ore dare, gimana?"
"Ayok," jawab Kiana semangat.
Merekapun mengatur posisi duduk melingkar. Rendi, Kiana, Galang, Dela, Ella, Ray. Mereka sudah bersiap dengan satu botol untuk di putar dan juga air garam yang sudah di campur dengan air rebusan jengkol. Bisa kalian bayangkan gimana rasanya? Ella sengaja membuat itu supaya mereka tidak bisa menolak pertanyaan maupun tantangan tersebut. Entah apa tujuannya? Sepertinya ada udang di balik bakwan.
"Ok, mulai, ya." Ella mengambil botol itu lalu memutarnya.
"Galang!" seru Ella.
"Biar kakak yang ngasih pertanyaan," ucap Ray cepat.
"Trut ore dare?" tanya Ray.
"Trut," jawab Galang.
"Ok."
"Jangan yang aneh-aneh Ray," sergah Galang.
"Tenang aja, gak bakal yang aneh-aneh kok."
"Apa bini gue udah hilang sepenuhnya dari hati lo?"
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak okππ otor udah bikin part nya panjang2 iniπ like ya, komen and Voteππ