
"Tumben lo datang ke markas?" David menatap Ella dari atas sampai bawah.
"Nggak usah gitu juga kali ngeliatinnya, emang gue nggak boleh dateng kesini, hah?" Ella mendudukan tubuhnya di sofa yang di mana di sana juga ada Ragil yang tengah mengutak-ngatik laptop.
"Nggak gitu, lo boleh datang kapan aja kesini. 'Kan lo peminpin kita. Cuma gue heran aja, lo tiba-tiba nongol setelah sekian purnama nggak pernah mampir," ujar David.
"Dia mampir pasti ada maunya," sahut Ragil tanpa mengalihkan atensinya dari laptop.
"Wah, hebat lo. Tau aja kalo gue kesini emang ada maunya." Ella melirik ke arah Ragil dengan terkekeh.
"Karena nggak mungkin, orang sesibuk elo mau datang kesini tanpa tujuan."
"Ok ok, jadi karena lo udah tau tujuan gue kesini apa. Gue langsung to the point aja ya," ucap Ella.
"Hm."
"Kalian berdua selidiki kasus kematian nyokap kandungnya, Kiana. Cari barang bukti yang kuat untuk bebasin, ayahnya, Kia dari penjara. Gue kasian sama si Kia, dia terlihat sedih dan juga terpukul banget pas tau, ayahnya di ponis penjara seumur hidup," tutur Ella.
"Kok bisa? Emangnya bokap si Kia terjerat banyak kasus sampe di penjara seumur hidup gitu?" pekik David.
"Iya, tapi gue curiga itu cuma jebakan."
"Maksud lo?" Kali ini Ragil yang bertanya.
"Bokapnya si Kia di jebak. Begitu juga dengan pembunuhan itu."
"Lo yakin?"
"Gue yakin, pokonya kalian selidiki aja kasus ini. Dan gue juga bakalan kerahin anggota AOD bayangan supaya kasus ini segera terungkap."
"Itu lebih baik, supaya semuanya cepat selesai."
"Hm. Gue balik." Ella bangkit dari duduknya.
"Lo dateng kesini cuma merintah doang? Terus balik gitu aja?" David menatap Ella tak percaya.
"Hm." Ella berlalu pergi.
"Sopan sekali anda, Nona!" teriak David.
*******************
"Lama banget pulangnya, Sayang? Katanya cuma ke makam Rendi aja." Ray menyambut sang istri di depan pintu kamar.
"Tadinya sih gitu, tapi aku kasian liat, Kia. Dia itu sedih banget, Kak Ray," ujar Ella.
"Pasti dia kangen sama, Alm Rendi." Ray memeluk Ella dari belakang.
"Iya, makannya aku ngehibur dia dulu. Aku ajak dia nonton filem komedi," ujar Ella.
"Sampe sore gini?"
"Nggak lah, aku pulang sore karena mampir dulu ke rumah, Kia. Terus pergi ke markas deh."
"Ngapain ke markas?" Ray membalikan Ella sehingga mereka saling berhadapan.
__ADS_1
"Aku nyuruh Ragil dan David buat nyelidiki kasus, ayahnya, Kia," jawab Ella.
"Kenapa nggak ngerahin AOD bayangan aja?"
"AOD bayangan juga di kerahin kok, aku nyuruh duo curut itu biar kasusnya cepet terungkap dan selesai."
"Hm, ide yang bagus. Ya udah, kamu mandi dulu sana. Twins pasti kangen sama kamu," ucap Ray.
"Ay ay siap kapten!" Ella berlalu pergi menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan juga berpakaian, Ella langsung pergi menuju ruang keluarga. Di mana di sana sudah ada mertua dan juga suaminya sedang bermain bersama dengan twins. Ella pun langsung saja menimbrung.
Berhubung ulang tahun twins sudah dekat tinggal menghitung hari saja. Jadi mereka pun membicarakan persiapan pesta yang akan berlangsung sekaligus memperkenalkan Ray ke publik sebagai penerus dari Wardana Group. Samsul juga akan mengumumkan tentang pernikahan Ella dan Ray yang sudah berlangsung cukup lama. Dia juga ingin memperkenalkan kedua cucu kesayangannya pada kolega-kolega bisnisnya.
Saking asiknya berbincang, membuat mereka tidak sadar jika twins sudah tertidur. Dengan segera Ray dan Samsul menggendong kedua bocah itu menuju kamar mereka. Setelah kedua anaknya tidur, Ray segera mengajak sang istri untuk ber-istirahat pula.
"Sayang," panggil Ray.
"Hm." Ella menjawab sembari memejamkan matanya.
"Kakak boleh keluar sebentar?" tanya Ray hati-hati.
"Mau ngapain? Ini udah malem." Seketika Ella membuka matanya kembali.
"Ada kerjaan yang harus, Kakak urus," ujar Ray.
"Nggak boleh! Ini udah malem, besok aja ngurus kerjaannya." Ella memeluk tubuh Ray erat.
"Ya udah, deh. Yuk kita bobo." Ray ikut memejamkan mata.
"Iya, Sayang."
Beberapa saat kemudian Ella pun tertidur begitu juga dengan Ray namun getaran ponsel yang berada di saku Ray membuat mata Ray terbuka kembali.
"Hallo," ucap Ray dengan suara serak.
"Lo di mana, Ray? Gue udah nungguin lo hampir dua jam," ujar orang di sebrang sana dengan nada yang kesal.
"Astaga! Sorry, gue ke tiduran." Ray segera beranjak dari tempat tidur setelah menyingkirkan tangan Ella dari perutnya.
"Maaf ya, Sayang. Kakak tinggal bentar." Ray mengecup kening Ella kemudian dia buru-buru meraih jaket dan juga sepatunya.
****************
"Sorry gue telat," ucap Ray setelah dia sampai di sebuah Cafe yang buka 24 jam.
"Lo tau, kita nungguin lo di sini udah dua jam. Ray," sungut David.
"Ya elah sorry, gue ketiduran." Ray mendudukan bokongnya di sofa.
"Kita nungguin di sini sampe jamuran dan lo enak-enakan tidur? Sungguh terlalu." Kali ini Ragil yang berbicara.
"Nggak usah di bahas lagi. Sebenarnya kalian kenapa nyuruh gue kesini?" tanya Ray.
"Ni curut bikin ulah lagi." Ragil menunjuk seseorang yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Seketika atensi Ray langsung tertuju pada orang itu. "Lo nggak kapok dengan apa yang gue lakuin? Sampai berani bikin ulah lagi." Ray menatap tajam orang itu.
"Ma-af, Kak," ucap orang itu dengan terbata dan menunduk takut.
"Apa yang dia lakuin kali ini?" Ray menatap Ragil dan juga David secara bergantian.
"Lo bisa lihat sendiri." Ragil memberikan ponselnya yang berisi sebuah video kepada Ray.
"Kurang ajar!" Ray melempar ponsel itu untung saja dengan sigap Ragil menangkapnya.
"Marah si boleh. Tapi jangan banting ponsel gue dong," gerutu Ragil.
"Lo udah bosen hidup, ya?" Ray menatap nyalang orang itu.
"Am---" Omongan orang itu tercekat yang tadi wajahnya di rundung rasa takut seketika berubah memerah bukan menahan sakit melainkan menahan rasa ingin tertawa.
"Kenapa lo?" David menatap orang itu heran, pasalnya orang itu mati-matian menahan tawanya.
"Nggak pa-pa, kak." Orang itu menunduk dengan ekspresi wajah yang masih sama dan sekilas menatap ke arah kaki Ray.
Karena penasaran, David pun mengikuti arah pandang orang itu dan...
"Buahaha." Seketika tawa David meledak.
"Lo konyol banget, Ray. Buahaha." David tak bisa menghentikan tawanya.
"Lo kenapa?" Ray menatap David heran begitu juga dengan Ragil.
"Lo gila?" seru Ragil.
"Lo liat kaki si Samurai. Buahaha kocak." David menunjuk ke arah kaki Ray.
Ragil pun menatap ke arah kaki Ray begitu juga dengan Ray.
"Buahaha! Lo kenapa Ray? Kocak banget sumpah." Ragil ikut tertawa begitu juga dengan Aksa.
Ya, orang itu adalah Aksa, Aksa Bagaskara seorang artis sinetron yang sempat Dela kagumi. Tentu masih ingat bukan?
"Ck! Kenapa bisa gini." Ray menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kala melihat penampakan kakinya. Sebelah kanan mengenakan sepatu cats putih dan sebelah kiri mengenakan sandal rumah milik Ella yang berwarna pink bermotif hello kitty.
Sungguh rasanya ingin sekali Ray menenggelamkan diri ke lubang semut saat ini juga, dia sangat malu sekali. Pantas saja sepanjang jalan dari pertama turun dari mobil hingga masuk ke dalam cafe. Orang-orang terus menatapnya sambil menahan tawa. Ternyata ini penyebabnya, kenapa dirinya tidak sadar?
"Alas kaki keluaran baru ya, Ray. Hahaha," ledek Ragil.
"Boleh di coba nih, Gil. Gaya trendy terbaru," seru David menimpali.
"Diem lo!" bentak Ray.
"Caelah, malu niye."
"Bisa diem nggak lo? Lo juga, kalo mau ketawa, ketawa aja nggak usah di tahan!" Ray melirik ke arah Aksa.
"Ma-af, Kak," ucap Aksa gugup.
Ray hanya menatap Aksa dingin, jujur saja dia begitu marah. Bahkan sangat marah. Ingin rasanya Ray memenggal kepala pria muda di hadapannya ini jika mengingat hal yang telah dia lakukan terhadap istri kesayangannya.
__ADS_1
Jejak😘 tap like comen and Vote jika suka cerita ini biar otor semangat ngetik lagi😍😍