Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Jadian


__ADS_3

"Wiss, pertanyaan macam apa itu? Tentunya udah dong," jawab Galang Yakin.


"Hm, baguslah." ujar Ray lega.


"Sekarang giliran gue yang muter." Galang memutarkan botol itu dan berhenti tepat di hadapan Ray.


"Trut ore dare?" tanya Galang.


"Trut," jawab Ray yakin.


"Siapa cinta pertama lo?" tanya Galang lagi.


"Em.. Ya, siapa ya?" Ray terlihat berpikir.


"Siapa kak Ray?" Ella terlihat begitu penasaran.


"Kamu penasaran, ya?" Ray menaik turunkan alisnya.


"Ihh... Tinggal jawab aja apa susahnya, sih?" ketus Ella.


"Ok ok, cinta pertamaku adalah......"


"Siapa?"


"Penasaran ya?"


"Haiss... Au, ah."


"Cinta pertamaku adalah Stela Anandira yang cantik paripurna ini," ucap Ray sembari menatap Ella.


"Boong," sergah Ella.


"Kakak serius, Sayang. Cinta pertama kakak adalah kamu. Dulu itu semenjak kakak tau, kakak akan di jodohkan, kakak gak pernah deket sama cewek manapun apalagi pacaran. Kakak jatuh cinta cuma sama kamu seorang." Ray menggenggam lembut kedua tangan Ella.


"Udah kek gombalnya, ayok cepet puter," ucap Rendi.


"Ok." Ray memutarkan botol itu dan ujungnya tepat mengarah ke arah Rendi.


"Trut ore dare?" tanya Ray.


"Karena dari tadi trut mulu, gue dare deh," jawab Rendi.


"Aku yang ngasih tantangan ya, kak Ray," pinta Ella yang di jawab anggukan kepala oleh Ray.


"Ok, jadi tantangannya adalah....."


"Mulai nggak enak nih perasaan gue," ujar Rendi.


"Kamu harus menyatakan cinta pada cewek yang kamu suka saat ini juga," tantang Ella.


"Harus ya, Ell?" Rendi terlihat ragu.


"Nggak harus kok, tapi kamu tau kan kalo nolak hukumannya apa?" Ella melirik botol berisi air garam dan juga rebusan air jengkol.


"Semangat bro, buktikan lo bukan pengecut!" sorak Galang.


"Kak Rendi punya cewek yang kakak suka?" tanya Kiana yang entah mengapa dadanya terasa begitu sesak.


"Ya, aku punya." Rendi menatap lekat mata Kiana.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Kiana, dia langsung mengalihkan atensinya ke arah lain karena tidak mau betsitatap dengan Rendi.


Kiana merasa kecewa dengan Rendi, dia merasa di permainkan. Buat apa Rendi mendekatinya jika dia mempunyai perempuan yang di sukainya. Apa hanya untuk membuatnya berharap dan ujungnya sakit hati?


"Ki," panggil Rendi.


"A-pa?" Kiana masih tidak mau menatap Rendi.


"Madep sini dong....." pinta Rendi.


"Gak mau." Kiana nampak menunduk.


"Hey... Kamu kenapa, hm?" Rendi mengangkat dagu Kiana supaya menghadap dirinya.


"Ki, aku nggak tau sejak kapan rasa ini singgah. Yang aku tau, saat ini hati aku sudah terpaut padamu. Aku mencintaimu Kiana, apa kamu mau menerima cinta dari lelaki yang tidak sempurna ini?" Rendi menggenggam kedua tangan Kiana.


"Ja-di, cewek yang kak Rendi suka itu aku?" Kiana menatap Rendi tidak percaya.


.


"Ya, itu kamu. Gadis manis yang sudah menggetarkan hatiku. Jadi... Apakah kamu mau jadi kekasihku?" tanya Rendi lagi.


"E-mm, ya. Aku mau." Kiana mengangguk samar.


"Serius?" tanya Rendi memastikan.


"Iya." Kiana nampak tersipu malu.


"Yeeee! Akhirnya populasi jomblo berkurang satu," seru Ella bahagia.


"Selamat melepas masa jomblo, Ren." Ray turut bahagia.


"Akhirnya sahabat gue udah nggak jomblo lagi," ucap Galang.


"Sahabat aku juga nggak jomblo lagi," tambah Dela.


"Berati sekarang kita pacaran, Kia manis." Rendi menaik turunkan alisnya yang mana membuat Kiana tersipu malu.


"Udah, ah. Sekarang lanjutin lagi mainnya." Kiana mengerucutkan bibirnya.


"Game nya udah selesai. Lebih baik sekarang kita tidur," ujar Ella enteng.


"Udah selesai? Oh, gue tau. Lo sengaja ya mau jebak gue," todong Rendi.


"Jebak apaan? Harusnya lo tu bersyukur ya, karena berkat gue lo jadian kan sama cewek yang lo suka. Bukannya malah nuduh yang enggak-enggak." Cebik Ella.

__ADS_1


"Ya, maaf dan terimakasih," ucap Rendi dengan tersenyum manis.


"Gak usah senyumin bini gue!" sengit Ray.


"Ck, dasar posesif."


Malam semakin larut, merekapun masuk ke kamar masing-masing karena sudah mengantuk. Galang tidur bersama Rendi, sedangkan Dela bersama Kiana. Untuk Ella dengan Ray tentunya.


Tak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Cahaya matahari sudah menerpa bumi kembali. Setelah selesai bersiap dan juga sarapan mereka langsung berangkat ke kampus. Dela dan Kiana memakai baju Ella, sedangkan Rendi dan Galang memakai baju Ray.


"Kak Rendi emangnya nggak kerja?" tanya Kiana, sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju kampus. Rendi mengantarkan Kiana berangkat kuliah.


"Kerja kok, Yang."


Bluss, pipi Kiana memerah. Ini pertama kalinya dia di panggil seperti itu oleh lawan jenis.


"E-mm, emangnya kak Rendi nggak kesiangan kerjanya kalo harus nganterin aku dulu?" tanya Kiana lagi.


"Nggak dong, aku kan masuknya agak siangan," ujar Rendi.


"Oh." Kiana manggut-manggut.


Sesampainya di kampus, ternyata Dela dan Ella sudah menunggunya. Kiana pun langsung menghampiri mereka. "Yuk masuk." Mereka masuk ke dalam gedung kampus dengan beriringan.


"Wih, wih, wih. Kau rakyat jelata baru dateng nih," ucap Jesika yang menghadang langkah mereka sembari menatap penuh ejekan.


"Wah, wah, wah. Kaum obralan ngapain nih pagi-pagi udah ngalangin jalan orang?" balas Ella santai.


"Gue cuma mau ngasih tau lo, kalo gue nggak Terima atas perlakuan lo kemaren." Jesika menatap Ella penuh kebencian.


"Terus?"


"Gue akan bales apa yang telah elo lakuin ke gue dengan hal yang nggak pernah lo bayangin dan pastinya lo bakalan nangis darah karena itu."


"Oh, ya? Gue tunggu."


"Cabut guys." Ella menyenggol kasar Jesika kemudian dia berlalu begitu saja.


"Ahh! Tunggu aja pembalasan gue!" Jesika terlihat begitu murka.


**************


"Ell, gimana kalo Jesika berbuat hal yang macem-macem? Aku takut dia nekat," ucap Kiana cemas.


"Kamu tenang aja, itu hanya masalah kecil. Aku bisa atasi kok," ujar Ella santai.


"Tapi dia itu orangnya nekat, Ell. Dia bakalan ngelakuin apa aja untuk mencapai ke inginannya termasuk melukai orang lain."


"Hanya melukai kan? Bukan membunuh?"


"Ell, aku serius."


"Kia, dengerin aku. Kamu nggak usah mikir yang macem-macem, kamu nggak perlu cemasin aku. Aku bakalan baik-baik aja, ok. Percaya sama aku."


"Tapi tetep, kamu harus hati-hati."


Beberapa saat kemudian, Ella sudah kembali dari toilet. Untung saja dia tepat waktu, telat sedikit saja dia akan terlambat dan tidak bisa masuk.


"Materi yang akan saya terangkan kali ini masih berhubungan dengan materi kemarin, jadi di mohon untuk menyimaknya baik-baik supaya kalian mengerti." ucap Ray tegas dan berwibawa.


"Baik, Pak."


Satu jam berlalu, kini Ella dkk sudah keluar dari ruangan dan berjalan menuju ke restoran depan kampus. Mereka sengaja pergi kesana karena penasaran dengan makanan yang di bilang para siswi sangat lezat dengan bentuk yang sangat menarik. Bisa di bilang makanan ini sedang viral maka dari itu mereka tertarik untuk mencobanya.


"Ngapain nih para kaum rakyat jelata kesini?" Lagi-lagi mereka bertemu dengan Jesika yang selalu membuat keributan dan membuat mod buruk.


"Mau nyari capung, ya jelas mau makanlah," sewot Ella sembari duduk di kursi yang tidak jauh dari Jesika.


"Emangnya kalian mampu bayar? Makanan di sini bukan makanan murahan seperti yang sering kalian konsumsi."


"Oh, ya. Tapi nggak peduli tuh. Mau harganya selangit pun kami nggak perduli. Yang penting makan."


"Miskin aja belagu!" Cibir Jesika.


"Tau darimana gue miskin?" Sungguh Ella merasa geram pada Jesika yang selalu merendahkan nya.


"Udah keliatan dari tampilan lo yang nora dan wajah lo yang kampungan."


"Mata lo katarak ya? Cantik gini di bilang kampungan! Tampilan norak? Norak darimananya coba?" Delik Ela.


"Udah, Ell. Jangan dengerin orang gaje kayak dia. Bikin napsu makan hilang aja," ucap Kiana.


"Mbak!" Ella langsung memanggil pelayan.


"Iya kak." Pelayan yang usianya masih muda menghampiri mereka.


"Pesen semua makanan yang paling spesial di sini," ucap Ella.


"Baik, kak. Minumannya?"


"Yang paling spesial dan favorit di sini."


"Baik kak, mohon di tunggu."


Beberapa saat kemudian dua pelayan datang membawakan pesanan Ella. Begitu banyak nampan yang mereka bawa.


"Silahkan kak, selamat menikmati hidangan kami," ucap pelayan itu ramah.


"Terimakasih, Mbak."


"Kuy... Santap guys," seru Ella.


"Kamu nggak salah mesen, Ell?" Kiana ternganga melihat hamparan hidangan yang dia perkirakan harganya tidaklah murah.


"Nggak, ini semua untuk kita. Spesial."

__ADS_1


"Sultan mah bebas..." Dela sedikit berteriak supaya terdengar oleh Jesika.


"Cih, mana ada Sultan kere." Benar saja, Jesika langsung menyahut.


"Kalo gue kere, nggak mungkin gue bisa makan di sini," Kesal Ella.


"Palingan juga ngutang!"


"Hello! Lo pikir ini warung bisa ngutang?" Ella yang geram langsung berdiri.


"Denger ya, Jasjus gopean. Jangankan makanan di sini, restorannya sekalipun bisa gue beli kalau mau!" Ella menghampiri Jesika yang berada di samping mejanya.


"Jangan menghayal terlalu tinggi, nanti jatuh sakit." Jesika masih tidak percaya.


"Gue gak ngayal kok, ini memang kenyataan. Bukan mimpi atau pura-pura kayak padahal kenyataannya. Miskin," ucap Ella dengan penuh penekanan pada kata miskin.


"Maksud lo apa?" Jesika merasa Ella menyindir dirinya.


"Harusnya omongan lo itu bukan buat gue, tapi buat diri lo sendiri," ucapan Ella seketika membuat Jesika bungkam.


Ella pun kembali ke mejanya, dia langsung menyantap makanan yang di pesan tadi. Sungguh energinya terkuras untuk meladeni Jesika. Dia sungguh kesal dan juga geram pada Jesika yang selalu saja mencari masalah dengannya.


"Sumpah, Ell. Aku kenyang banget," ucap Kiana yang sudah menyantap empat porsi makanan.


"Abisin, Ki. Masih banyak itu," ujar Ella.


"Gak sanggup, Ell. Udah kenyang banget." Kiana menyandar di kursi sambil mengusap perutnya.


"Ini gimana sayang banget, Ell. Masih banyak," ucap Dela.


"Iya juga ya." Ella menatap hamparan makanan yang masih berjejer rapih di hadapanya.


"Mbak!" Panggil Ella pada pelayan.


"Iya kak, ada yang bisa saya bantu?" Pelayan itu menghampiri Ella dengan tersenyum ramah.


"Tolong bungkusin makanan ini, dan bagiin ke orang-orang di depan sana," ucap Ella.


"Baik kak."


"Sekalian minta bil nya, Mbak."


"Ini kak, totalnya jadi empat juta delapan ratus," ucap si Mbak pelayan.


"Ini, Mbak." Ella menyerahkan kartu Black Cardnya.


"Baik, kak. Tunggu sebentar," ucapnya kemudian berlalu pergi.


Jesika yang melihat itupun hatinya terasa panas, black card? Dari dulu dia menghayal ingin mempunyai itu. Bisa belanja bebas sepuasnya, bisa membeli ini, itu. Liburan kemana aja tanpa takut kehabisan uang. Dan sekarang dia melihat kartu itu di orang yang bisa di bilang adalah musuh bebuyutannya. Orang yang sangat dia benci. Bukannya mengakui jika Ela adalah Sultan real, tetapi Jesika justru malah semakin membenci Ella.


"Ini kak, kartunya. Terimakasih sudah singgah di restoran kami," ucap pelayan itu ramah sembari menyerahkan kartu Ella.


"Oh iya, Mbak. Ini tips untuk Mbaknya." Ella menyerahkan uang cas sebesar dua juta.


"Ini untuk saya kak?" Pelayan itu menganga tak percaya.


"Iya, itu untuk Mbaknya. Tapi tolong makanan ini di bagikan, ya." Ella tersenyum tipis.


"Ya alah, kak. Terima kasih banyak. Semoga kakak senantiasa di berikan kebahagiaan dan juga rezeki yang melimpah. Berkali-kali lipat dari apa yang kakak berikan pada saya." Pelayan restoran itu nampak begitu senang.


"Sama-sama, Mbak. Amin, Terima kasih do'anya." Ella tersenyum tulus.


Setelah itu merekapun pergi meninggalkan restoran itu. Sementara Jesika yang melihat apa yang di lakukan Ella semakin membuatnya jengah. Dia semakin membenci Ella tanpa alasan, awalnya dia benci karena Ella dekat dengan Diego. Namun setelah melihat Ella tidak terlalu akrab dengan Diego pun kebencian itu masih ada dan semakin meningkat.


"Lihat saja, sebentar lagi hidup kamu akan hancur!" Jesika tersenyum menyeringai.


**********************


"Kamu liat gak tadi wajah, Jesika?" Dela tertawa puas.


"Melongo, bahkan air liurnya hampir ngeces saat dia ngeliat kartu, Ell," sahut Kiana.


"Puas banget ngeliat tampang jengkelnya." Dela mendudukan bokongnya di kursi.


"Dia pikir kamu orang gak mampu, Ell. Padahal kenyataannya kamu anak dan juga istri Sultan." Kiana juga duduk di kursinya.


"Awalnya aku gak mau pamer. Tapi ngeliat sikap dia, huhh, rasanya muak. Jadi terpaksa deh ngelakuin ini biar dia gak ngerendahin aku lagi," ujar Ella.


"Orang kayak gitu memang gak bisa di diemin, sekali-kali harus di kasih pelajaran, Ell. Biar nyaho." Dela menatap ke arah sahabatnya.


"Tentu, aku akan memberinya pelajaran yang sangat sulit di lupakan." Ella tersenyum penuh makna.


"Duh, kenapa perut aku mules.. Ya? Bentar, aku mau ke toilet dulu." Ella bangkit dari duduknya kemudian dia melangkah pergi.


"Kenapa tu anak?" Kiana melirik Dela.


"Salah makan kali," jawab Dela.


"Perasaan bener kok, tadi dia nyuap nya ke mulut bukan ke hidung."


"Huhhh, serah!"


Sementara itu, kini seorang wanita tengah berdiri di luar toilet. Sepertinya dia sengaja mengikuti Ella sampai ke sini. Dia tidak sendirian, melainkan dengan dua orang pria yang di perkirakan umurnya sekitar 30 tahunan.


"Target sebentar lagi keluar, kalian langsung bekap dia dan bawa ke tempat yang sudah aku siapkan," ucap wanita itu.


"Siap, Bos."


"Awas! Jangan sampe gagal." Peringat wanita itu.


Beberapa saat kemudian, terlihat Ella sudah keluar dari toilet. Dia berjalan dengan santai untuk pergi darisana, tetapi....


"Hmmmm."


Sebuah sapu tangan yang telah di bubuhi obat bius membekap mulutnya dari belakang, membuat pandangannya buram dengan tubuh yang melemas hingga membuatnya tak sadarkan diri.

__ADS_1


Heloww😘😘


Jejak😍😍😍😍


__ADS_2