
"Aku tidak mengerti, kenapa mata ini selalu terpaut padamu, bapak dosen. Entah mengapa mata ini selalu ingin menatap kearah mu," benar saja dugaan Ray, pertanyaan Ella tidak ada sangkut pautnya dengan materinya.
"Jawabannya satu," jawab Ray.
"Apa itu bapak dosen?" tanya Ella.
"Karena saya tampan," ucap Ray percaya diri.
"Aish, ternyata bapak dosen cukup percaya diri sekali ya," delik Ella.
"Tentu, percaya diri itu harus. Daripada percaya omongan orang yang gak jelas dan tidak tentu benar." Ray menjawab sembari menatap Ella dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Baiklah, jika tidak ada yang bertanya. Itu artinya kalian sudah pahan," lanjut Ray sembari menatap mereka semua.
"Sekarang kerjakan tugas ini, saya kasih waktu lima belas menit." Ray membagikan tugas yang sudah dia persiapkan semalam.
Setelah membagikan tugas, Ray pun berjalan kembali ke depan. Sekilas dia melirik Ella yang tengah memperhatikan tugas darinya. Ella tidak terlihat kebingungan meski dia lama tidak kuliah, sebab Ray selalu mengajarinya ketika di rumah.
"Cantik," gumam Ray dalam hati sembari mendudukan bokongnya di kursi, tetapi pandangannya masih terpaut pada wajah cantik Ella.
Para mahasiswi yang mengagumi Ray nampak saling pandang, mereka heran akan sikap Ray terhadap mahasiswi lama yang kembali baru itu. Mereka terlibat cukup akrab, dari tatapan Ray juga nampak berbeda dari tatapannya terhadap wanita lain. Mungkin Ella adalah kekasih dari sang dosen. Pikir mereka.
"Waktunya habis. Cepat kumpulkan," ucap Ray tegas.
"Baik, Pak." Mereka berjalan ke depan untuk mengumpulkan tugas yang Ray berikan. Tugas itu ada sangkut pautnya dengat materi yang dia terangkan tadi.
"Tugas untuk besok, kalian harus terjun ke lapangan untuk mewawancarai para pedagang kaki lima. Kalian akan di tugaskan perkelompok. Satu kelompok empat orang," tutur Ray.
"Sekarang kalian pilih kelompok masing-masing. Kalian bebas memilih mau berkelompok dengan siapa saja," imbuhnya.
"Bsik, Pak."
Mereka segera memilih orang untuk di jadikan satu kelompok, kecuali Ella, dia hanya diam saja. Dia bingung mau berkelompok dengan siapa? tidak ada yang dia kenal akrab di sini.
"Lo satu kelompok bareng gue aja, Ell," tawar Diego.
"Emang boleh?" tanya Ella.
"Boleh kok, Stel. Lagian kelompok kita baru tiga orang." Kiana yang menjawab.
"Ok deh, aku satu kelompok sama kalian," ujar Ella.
"Berati kelompok kita udah pas, ya. Gue, Stela, Kiana, sama lo, Al." Diego melrik sahabatnya Alvin.
"Ok." Alvin mengangguk.
"Apakah semuanya sudah mendapat kelompok?" tanya Ray.
"Aku belum, Pak." Salah satu siswi mengangkat tangannya.
"Kenapa?" Ray menatap siswi itu.
__ADS_1
"Semuanya udah pas, Pak. Kelompok Diego juga udah pas epat sama siswi baru itu. Lalu gimana sama aku, Pak? aku gak dapet kelompok," ujar siswi yang bernama Jesika.
"Kamu bisa ikut kelompok mana saja terserah, jadi nanti satu kelompok ada yang berjumlah lima," ucap Ray.
"Aku mau ikut kelompok Diego aja, Pak," jawab Jesika cepat.
"Ok, jadi semua sudah mendapat kelompok ya. Besok sebelum berangkat ke lapangan, ketua kelompok temui saya di ruangan untuk mengambil catatan apa saja yang harus kalian tanyakan pada pedangang kaki lima."
"Baik, Pak."
"Untuk pelajaran hari ini selesai, kalian boleh pulang."
Mereka pun keluar karena pelajaran sudah usai, termasuk Ella. Dia berjalan ke arah kantin untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
"Mau ke kantin juga, Ell?" tanya Kiana yang berjalan di samping Ella.
"Eh, ada Kia. Ia nih, aku mau ke kantin laper banget," jawab Ella sembari memegang perutnya.
"Bareng aja, yuk," tawar Kiana.
"Hayuk." Mereka pun berjalan ber iringan menuju ke kantin.
Sesampainya di sana, ternyata meja penuh. "Mejanya penuh, Kia," ucap Ella.
"Kita gabung sama mereka aja." Kiana menarik tangan Ella menuju meja Diego dan juga Alvin.
"Kita boleh gabung kan?" tanya Kia saat mereka sudah berdiri di depan Diego.
"Boleh, duduk aja," jawab Diego.
"Dulu lo sempet kuliah kan? kenapa cuti? harusny lo semester tiga ya?" tanya Diego.
"Aku cuti melahirkan. Iya, harusnya gitu," jawab Ella.
"Bisa aja bercandanya," ujar Diego sembari tertawa.
"Siapa juga yang bercanda, aku itu udah emak-emak Gogo," ujar Ella.
"Gak percaya tuh," Diego terlihat tertawa.
"Bodo amat, lagi pula jangan percaya sama aku musrik. Percaya itu sama Tuhan."
"Berati tadi lo bercanda kan?" Diego menatap Ella serius.
"Serah lu aja dah, mau percaya apa kagak. Mau ngomong panjang kali lebar jidan Vivin dingin juga percuma kalo aku imut begini gak ada yang percaya aku emak-emak," ucap Ella.
"Vivin siapa sih?" bingung Diego.
"Tuh, kulkas berjalan." Ella menunjuk Alvin yang tengah bermain ponsel.
"Ada-ada aja lo. Masa Alvin jadi Vivin, mana di sebut kulkas berjalan lagi," tawa Diego pecah.
__ADS_1
"Abisnya dingin banget, datar lagi," cengir Ella.
"Masalah." Alvin menatap Ella dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Gogo, ini orang apa robot? kaku amat." Ella melirik Diego.
"Entahlah, manusia jadi-jadian kali."
"Eh, tadi lo manggil gue apa?" Diego menatap Ella.
"Gogo."
"Sejak kapan nama gue ganti? perasaan gue gak pernah selametan ganti nama deh?" ujar Diego.
"Abisnya namanya susah," cengir Ella.
"Yuhuuu, makanan coming!" teriak Kiana.
"Pecah dah gendang telinga gue," gerutu Diego.
"Kok bisa pecah? perasaan telinga Gogo gak jatuh deh," ucap Ella yang mendengar gerutuan Diego.
"Bukan pecah karna jatuh, tapi karna denger suara cempreng dia. Lagian gak mungkin juga telinga jatuh. Ada-ada aja lo, pewangi ruangan." Diego tampak mendelik.
"Huaa, Gogo jahat. Masa akunya di bilang pewangi ruangan," cemberut Ella.
"Nama lo siapa?" tanya Diego.
"Stela."
"Nah, itu. Yang ngegantung di depan kipas namanya apa?" Diego menunjuk pewangi ruangan yang di gantungkan ibu kantin di depan kipas.
"Stela," jawab Ella lirih.
"Nah kan, berati lo pewangi ruangan."
"Mamihh! Aku mau ganti nama. Mamih tega ih namain aku kayak pewangi ruangan kan akunya di ledekin," ucap Ella mendramatis.
"Berisik." Alvin menatap Ella sekilas.
"Ya alah, dulu emaknya ngidam apa si? sampe anaknya dingin begini. Ngidam makan kulkas kali ya?" Ella berucap sembari menatap Alvin yang nampak acuh.
"Dulu emaknya nyemilin es balok mulu, jadi anaknya dingi begini," sahut Kiana.
"Sama ngidam guling-guling di lapangan, makannya dia datar begitu," timpal Diego.
"Gogo, guling-guling nya gimana? kan perutnya gede kalo hamil. Apa ngegelinding kayak bola?"tanya Ella.
" Muter kayak kincir," jawab seseorang yang berdiri di belakang Ella.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1
Cuplikan Bukan suamiku yang mencintaiku, siapa tau ada yang mau mampir😍