
"Kapok udah punya pacar. Iyakan Kapok?" Ella melirik Poky yang sudah berada di sampingnya.
"Eh, eng-gak. Siapa bilang," jawab Poky gugup karena melihat wajah dingin David.
"Mau kemana lo, Dave?" Ella berteriak saat melihat David melengos pergi.
"Taman," jawabnya singkat.
Taman yang di maksud David adalah taman yang terletak di belakang markas, taman yang sangat cocok di jadikan tempat untuk bersantai. Tanpa basa-basi Ella pun menarik Poky untuk mengikuti David ke taman itu. Ternyata di sana sudah ada Ragil, Kiana dan juga Dela. Bukan hanya mereka, Ray, Galang dan Satria pun juga ada di sana.
"Loh, kalian ngapain di sini?" Ella kaget melihat ketiga pria itu.
"Mancing," jawab Satria ngasal.
"Kita sengaja nyusulin kalian, abisnya ke markas nggak bilang-bilang. Kita kan panik, Sayang. Takutnya kalian pergi ke klub lagi," ujar Ray.
"Nggak lah, kita kapok," sahut Ella.
"Terus, Abang ngapain di sini?" Ella menatap sang abang.
"Serah gue dong, emangnya gue nggak boleh kesini?" Sewot Satria.
"Bukan gitu, aneh aja. Sih, kan, Abang jarang ke markas," ujar Ella sembari mendudukan bokongnya di pangkuan Ray.
"Duduk, Kapok. Berdiri mulu ntar jadi tiang listrik," ucapnya pada Poky yang masih mematung canggung
"Iya, Neng." Poky duduk di samping David karena hanya di sanalah ada celah untuk duduk.
"Lo ambeyen ya, Dek? Perasaan tiap duduk di pangkuan mulu kagak mau di kursi," cibir Satria.
"Lo nggak liat, Bang. Kursi penuh noh." Memang benar kursi panjang yang mereka duduki penuh.
"Atau lo sirik ya? Karena gue nggak duduk di pangkuan lo lagi." Ejek Ella.
"Paan si, siapa yang ngiri. Gue malahan seneng kagak di timpah gajah buntel lagi," ujar Satria.
"Enak aja gajah buntel, gue udah langsing ya, seksoy lagi," koreksi Ella tak Terima.
"Ya ya ya."
Sepanjang mereka berbincang, nampak David sekilas mencuri pandang pada Poky. Di antara mereka hanya Ella yang menyadari itu. Dengan sengaja, Ella terus membicarakan kedekatan Poky dan Diego di kantor sehingga membuat wajah David terlihat kesal. Mungkinkah David cemburu? Pikir Ella. Atau mungkin juga David telah menaruh hati pada Poky namun dia tidak menyadari itu. Syukurlah kalau memang begitu, itu artinya Ella tidak menjadi obsesi David lagi yang membuat David enggan membuka hati.
"Kalian kapan nih naik pelaminan?" Ella menggoda pasangan Ragil dan Kiana.
"Secepatnya," jawab Ragil cepat.
"Iya kapan, Dodol?" tanya Ella penasaran.
"Setelah Kia lulus kuliah," ujar Ragil.
"Wah! Kurang dari setaun lagi dong? Asik! Kia bakalan melepas masa lajang nih," ucap Dela.
"Si David keduluan nih," ejek Galang.
"Kurang gercep sih lo, Vid," tambah Satria.
__ADS_1
"Emangnya, Kak David udah punya pacar?" Dela yang bertanya.
"Dia Jodi, jomblo abadi." Ella yang menjawab.
"Cintanya bertepuk sebelah kaki," celetuk Ragil.
"Kak David emang cinta sama siapa, By?" tanya Kiana penasaran sembari menatap wajah sang kekasih.
"Sama orang," jawab Ragil asal.
"Iyalah sama orang, masa sama kambing. Maksud aku David cinta sama siapa? Aku kenal nggak?" Kiana sungguh tidak sabaran karena penasaran.
"Em dia----"
"Apasih? Kenapa jadi bahas gue coba?" potong David.
"Kalo nggak mau di bahas, makannya move on dong. Cari cewek laen, cewek kan banyak. Apa perlu gue cariin?" ucap Ray.
"Move on dari siapa coba?" kisah David ketus.
"Lo pikir gue nggak tau? Kalo elo itu terbelenggu dalam cinta yang salah!" ucapan Ray seketika membuat David membeku, apa Ray tau jika dia menyimpan rasa pada istrinya? Pikir David.
"Ngomong apa si lo? Gaje banget." David berusaha untuk tenang.
"Ah! Daripada bahas cinta yang salah. Entah apa salahnya? Mending lo sama Poky aja, Vid. Dia kan jomblo. Iya kan, Pok? Lo mau ama ni curut? Mau lah ya, dia kan lumayan nggak tampan," ucap Ragil mengalihkan pembicaraan sembari menatap David dan juga Poky secara bergantian.
"Kapok punya, Diego." Ella menyahut.
"Yodah lo sama si Markonah aja dah, Dave. Tetangga gue," timpal Satria.
"Ogah! Mending lo jadiin bini kedua tuh si Markonah. Bukannya dia terobsesi sama lo," ketus David.
"Buat lo aja, Dave. Bangsat kan cuma buat, Kadal seorang." Ella melirik abangnya yang sedari tadi tidak bisa diam. Dia terus merubah posisi duduknya.
"Abang kenapa, sih? Nggak bisa diem kayak belatung nangka. Abang lagi pms ya?" tanya Ella kepada sang abang.
"Gue bukan pms, Dek. Tapi pbs," jawab Satria.
"Ternyata cowok juga punya istilah ya, kalau kita pms. Cowok pbs, tapi pbs itu apa?" Dela yang bertanya.
"Posisi burung salah," jawab Satria sembari membenarkan celananya.
"Buahahaha, gue sering ngalamin tuh kaya gitu. Nggak nyaman banget rasanya." Galang tertawa puas.
"Salah arah," timpal Ray ikutan tertawa.
"Kalo salah arah, suruh puter balik aja, Sat. Takutnya nanti melanggar rambu-rambu lalu lintas." David menyahut.
"Takut keluar jalur juga," tambah Ragil.
"Gue cuma salah parkir," ucap Satria.
"Gue juga sering tuh salah parkir, salah burungnya apa CDnya ya?" timpal Galang.
"Salah parkir terus dia bangun, beuh. Sakit bro!" ujar Satria.
__ADS_1
"Salah CDnya, tuh. Harusnya bisa memberi tempat ternyaman untuk para burung," ucap Ragil sembari terkekeh.
"Tenang aja, nanti gue bikin produk cd dengan brand tunjukan kami jalan yang benar. Biar para burung nggak pada salah arah lagi," sahut Ray.
"Edi bagus Ray." Galang mengacungkan jempolnya.
"Gue setuju, biar mengurangi popularitas burung salah arah." Satria.
"Tapi gue nggak pernah ngerasain tuh," celetuk David.
"Yang bener lo?" Ragil.
"Masa sih?" Ray.
"Kok bisa?" Galang.
"Apa burung lo udah tau jalan yang benar?" Satria.
Para pria kompak menatap ke arah David dengan serius, pasalnya mereka sering mengalami itu. Sementara para wanita, mereka hanya mendelik jengah dengan pembahasan unfaedah ini.
"Gue nggak pernah ngalamin itu, karena gue nggak pernah pake cd," terang David dengan santainya.
"Suee lu!"
"Gila!"
"Ngegantung dong?"
"Mentang-mentang cinta lo ngegantung. Burung juga lo gantungin, gila lo Vid!" Ray.
"Gue cuma ngasih kebebasan udara pada burung gue, biar dia nggak pengap."
"Tapi ngegantung bego! Kayak cinta lo!"
"Nggak kebayang kalo semak belukar nya kejepit resleting," celetuk Ella.
"Mending semaknya, kalo pentungan nya gimana? Buahaha, sakitnya nyampe ke ulu ati kek sakit hati," timpal Dela.
"Ternyata diam-diam kalian nyimak," ucap Ray.
"Lucu aja sih, baru tau kalo burung juga bisa salah arah, salah parkir. Emang posisi yang bener kemana arah nya? Ke timur, barat? Selatan? Utara?" tanya Ella.
"Ke dalam gua," jawab Ray dengan tersenyum jahil ke arah sang istri.
"Hiss, dasar!" Ella memukul bahu sang suami.
"Kalian sebenarnya bahas burung apa? Burung siapa? Emang siapa yang pelihara burung?" celetuk Kiana.
"Perlu di polosin nih, Gil. Biar nggak polos lagi."
Yuhhuuuu! Otor imut come back. Jan lupa jejak ya biar otornya mangat lagi😍
Otor punya rekomendasi cerita bagus nih, jan lupa mampir ya, kepoin. Ceritanya bagus, keren nggak ngebosenin.😘
__ADS_1