
"Dedel, gimana perasaan kamu sekarang setelah nikah sama Galang?"tanya Ella sembari melirik sang sahabat, mereka kini tengah berada di kebun teh menghirup udara segar.
"Aku bahagia Ell, sangat bahagia. Meskipun di antara kita masih belum ada rasa cinta, tapi aku sangat bersyukur, setidaknya sekarang aku punya tempat untuk bersandar."ujar Dela yang tengah memainkan pucuk teh yang masih kuncup.
"Semoga kalian selalu bahagia dan semoga cinta akan segera tumbuh di antara kalian."Ella tersenyum tulus.
Merekapun kembali berjalan menyusuri kebun teh itu, mereka memang hanya berdua, para pria itu tidak ikut karna mereka melarangnya, mereka ingin menghabiskan waktu berdua saja tanpa ada para pria yang merecoki.
Saat berjalan, mereka melewati sebuah Gajebo berukuran sedang yang sangat nyaman, apalagi letak Gajebo itu berada di tengah-tengah hamparan pohon teh. Mereka pun memutuskan untuk berehat sejenak disana menikmati semilir angin sepoi-sepoi.
"Akh, segarnya udara disini. Andai saja di tempat kita tinggal udaranya seperti ini, bukannya panas dan juga berpolusi asap kendaraan."ucap Ella yang tengah bersandar di tiang tepian Gajebo.
"Di tempat kita tinggal udaranya sudah tercemari Ell, jadi tidak se asri disini."ujar Dela.
"Hooh, btw kandungan kamu berapa bulan sekarang Del?"tanya Ella.
"Udah jalan empat bulan, Ell."Jawab Dela.
"Berati beda tipis ya sama aku, aku baru jalan tiga Del."Ella mengelus perutnya yang mulai menonjol.
"Semoga Baby kita sehat selalu ya Ell dan selamat sampai persalinan nanti."Dela juga mengelus perutnya yang sedikit lebih buncit.
"Amin."
Mereka pun terus berbincang, banyak sekali yang mereka bahas, dari mulai cuti kuliah setelah perut mereka membesar nanti. Di lanjut dengan saat nanti masuk kuliah kembali, mereka jug memikirkan bagaimana caranya membagi waktu antara mengurus Baby dan juga berkuliah, apalagi di semester akhir saat mereka magang, itu pasti akan menyita waktu sekali.
"Kamu denger suara orang teriak gak si Ell?"Dela menatap Ella serius.
"Enggak tuh, emangnya kenapa?"Jawab Ella.
"Coba kamu dengerin deh, suaranya kayak orang kesakitan gitu."Ella pun mendengarkannya baik-baik.
"Iya, suaranya dari balik semak sana Del."ujar Ella.
"Kita samperin gak ya, Ell."
"Samperin aja, siapa tau dia lagi butuh pertolongan."Ella bangkit dari duduknya.
"Kalo orang jahat gimana Ell."Dela merasa sedikit takut.
"Kalo kamu takut, kamu tunggu sini aja ya. Biar aku aja yang kesana."ujar Ella.
__ADS_1
"Gak mau, aku mau ikut aja."
"Yodah ayok."
Dela pun bangkit, kemudian mereka berjalan pelan untuk menghampiri asal suara itu. Semakin dekat dengan lokasi itu, suara itu semakin terdengar jelas.
"Lepasin gue, lepas. Hiks."tangisan seorang wanita begitu jelas terdengar di telinga mereka.
"Aku takut Ell, kayaknya cewek itu lagi di jahatin deh."bisik Dela yang sedang memegang erat tangan Dela.
"Suaranya dari balik pohon entu Del, kamu tunggu sini ya. Aku mau cek."ucap Ella.
"Tapi..."
"Tunggu sini, jangan kemana-mana. Kalo ada apa-apa teriak ya."Ella lansung pergi melangkah meninggalkan Dela karna tangisan wanita itu semakin kencang sepertinya dia sedang dalam bahaya.
Ella berjalan semakin mendekat pada suara itu, dia melompsti semak yang menghalangi jalannya dengan hati-hati.
"WOY, LEPASIN DIA."teriak Ella saat dia sudah berada disana.
Disana terlihat seorang wanita yang kira-kira seumuran dengan Satria sedang di pegangi oleh dua orang laki-laki berbadan tinggi besar dan juga berwajah sangar. Penampilan wanita itu sangat berantakan, wajah lebam, rambut acak-acakan, lengan baju dua-duanya robek dan juga terdapat beberapa luka di tangan juga kakinya.
"Rupanya ada bocah yang ingin ikut campur ya."Salah satu pria itu mendekat pada Ella, sedangkan yang satunya memegangi wanita itu.
"Nyampurin darah mu dan juga darah hewan setelah kamu mati."pria itu menyeringai tajam.
"Emang akunya bakalan cepet mati gitu? Om."Ella menatap polos pria itu.
"Tentu saja, karna kamu sudah berani mencampuri urusan kami. Itu artinya kamu mengantatkan nyawa mu sendiri kepada kami."pria itu semakin mendekat pada Ella.
"Akunya gak nganterin nyawa Om, karna aku bukan tukang paket. Lagi pula aku kan belum ikut nyampurin apa-apa. Tuh tangan aku masih bersih."Ella menunjukan kedua tangannya kehadapan pria itu.
"Dasar bocah tengik."kesal pria itu kemudian dia mengangkat tangannya untuk menarik tangan Ella yang di sodorkan itu.
"Eits, gak kena."Ella menarik kembali tangannya dengan cepat.
"Sial."umpat pria itu.
"Om cetek ih, masa gitu aja gak bisa."ledek Ella sembari menjulurkan lidahnya.
"Beraninya kamu meledeku bocah."marah pria itu dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
"Aku bukan bocah, Om."Ella menunduk untuk menghindari serangan pria itu.
"Ah, gak kena lagi. Om payah."Ella kembali berdiri.
"Kamu mau menantang ku bocah tengik, baiklah bersiaplah untuk mati."pria itu mengeluarkan sebuah belati tajam.
"Akunya enggak siap, gimana dong Om. Gimana kalo Om dulu aja yang mati."Ella tersenyum dengan begitu polos.
"Banyak bacoot."pria itu langsung saja menyerang Ella dengan menggunakan belati.
Ella pun dengan sigap menghindar, dia menunduk, melompat dan juga memutarkan tubuhnya saat pria itu menyerangnya secara membabi buta.
Srett,
Lengan sebelah kiri Ella terkena sedikit sayatan belati pria itu. Karna sekarang Ella tidak bisa leluasa untuk bergerak. Dia takut berudunya akan terguncang bila dia terlalu aktip.
"KURANG AJAR."marah Ella yang seketika merubah wajah polosnya menjadi mengerikan.
BRUKK.
Ella langsung menendang pria itu dengan amarah yang memuncak.
"Sial, ternyata bocah itu kuat juga."pria itu bangkit kembali.
"Om aku belum siap mati, jadi Om aja ya."Ella tersenyum menyeringai kemudian dia mengeluarkan sebuah pistol dari saku jaketnya, pistol itu selalu ia bawa kemanapun dirinya pergi beserta pisau lipat kesayangannya.
DORR,
Ella menembak tepat di jantung pria itu sebelum pria itu sampai dihadapannya, sehingga membuat pria itu mati seketika dengan darah yang mengalir dari tempat peluru panas itu bersarang.
Wanita yang tengah diikat oleh pria yang satunya lagi sampai terbengong. Dia tidak percaya gadis kecil yang terlihat polos dan juga sangat menggemaskan itu telah membuat seseorang meregang nyawa dalam sekali tembakan. Sedangkan pria yang satunya lagi juga melongo, dia buru-buru menyelesaikan ikatannya kemudian dia berjalan menghampiri Ella.
"Om mau mati juga ya?"Ella menatap polos pria yang telah berada dihadapannya itu.
"Kamu memang bisa melumpuhkannya, tapi tidak denganku."pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari balik jasnya.
"Wao, pistol Om sangat jelek, sama seperti orangnya. Dekil, item, buluk lagi. Kayak tempe busuk, bau badan Om juga bikin mual, Om belum mandi sebulan kayaknya inimah, atau jangan-jangan Om enggak pernah mandi lagi. Ih jorok."Ella menutup hidungnya.
"Bocah keparat, mati saja kau."pria itu emosi kemudian dia mengangkat tangannya yang sedang memegang pistol itu, kemudian dia mengarahkannya pada Ella yang tengah menutup hidung. Sepertinya dia benar-benar mual.
DOORRR,
__ADS_1
DOORRR.
Tap jempol, tinggalkan jejak😘😘😘😘😘