
Sepanjang mata kuliah berlangsung, Ella terlihat tidak fokus. Entah kenapa? Kepalanya terasa pening dengan tubuh yang mulai tidak nyaman. Tubuhnya terasa ngilu. Ella terlihat beberapa kali menggeleng, guna memperjelas pandangannya yang mulai kabur.
'Ah! Kenapa kepala gue makin sakit si?' gerutu Ella dalam hati, namun dia tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Hingga mata kuliah pertama berakhir, Ella tetap menahan rasa sakit di kepalanya dan juga tubuhnya yang mulai meriang dengan keringat dingin yang mengaliri dahinya. Ella memang pandai menyembunyikan rasa sakit, terlihat dari tatapan Ray yang tidak curiga sama sekali karena Ella bersikap seperti biasa dan melontarkan senyuman manis kala Ray akan keluar.
"Kantin yuk, Ell," ajak Dela.
"Ok." Ella bangkit dengan ekspresi tenang.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke kantin, sesampainya di sana, Ella langsung saja memilih tempat duduk, dia tidak ikut memesan bersama kedua temannya.
"Pening banget pala gue." Ella menyandarkan punggungnya di kursi.
"Eh, ada ibu dosen. Ngapain di sini, Bu?" Misya datang menghampiri Ella.
"Makan," jawab Ella singkat karena dia sedang tidak ingin berdebat.
"Kok sendirian? Nggak punya temen ya? Pantes sih, lagian mana ada orang yang mau temenan sama lo. Secara 'kan, lo itu songong dan belagu." Misya mulai mencari gara-gara.
Ella tidak menanggapi, dia hanya diam saja sembari merasakan kepalanya yang semakin berdenyut sakit.
"Baru jadi istri dosen aja belagu, cih." Cibir Misya kesal karena Ella mengacuhkannya.
Lagi-lagi Ella hanya diam, tidak menanggapi ucapan Misya.
"Woy! Lo denger gue ngomong nggak sih? Atau lo budek? Iya?!" Bentak Misya emosi.
"Gue lagi males debat." Ella merebahkan kepalanya di atas meja.
Brakk!
"Beraninya lo ngacangin gue." Misya menggebrak meja.
"Lo kenapa sih? Selalu aja cari masalah sama gue." Ella berbicara dengan suara yang lemas.
"Karena gue nggak suka sama cewek songong kayak lo," jawab Misya dengan bersidekap dada dan menatap Ella sinis.
"Songong? Songong darimananya? Yang ada elo tuh yang songong dan sok berkuasa," bantah Ella.
"Apa lo bilang? Sok berkuasa? Helow! Lo nggak ngaca, harusnya julukan itu untuk diri lo sendiri. Mentang-mentang lo menantu dari pemilik kampus ini, lo berlagak songong dan angkuh. Harusnya lo nyadar, lo itu cuma sekedar menantu. Lebih baik lo sadar dan tau diri." Misya menatap Ella dengan penuh kebencian.
"Gue nggak tau lo mandang gue sombong dan angkuh darimana? Karena gue nggak ngerasa seperti itu. Ya, gue sadar kok, kalo gue cuma menantu pemilik kampus ini. Maka dari itu gue nggak punya wewenang ataupun sok berkuasa." Ella menatap malas ke arah Misya.
"Bagus kalau elo sadar! Karena di posisi menantu pun elo nggak pantes. Lo itu pantesnya jadi pembantu," ucap Misya dengan menatap remeh Ella.
"Ya ampun... Gini amat sih jadi orang yang penuh iri dan dengki. Selalu aja mencari-cari kesalahan orang lain yang ujung-ujungnya merendahkan. Gue saranin, stop deh berlagak kayak gini. Iri kok di pelihara. Pelihara tu kucing, dogy, semut kek kalo perlu. Ngapain melihara iri, yang ada bakal ngerugiin diri lo sendiri tau nggak?" Ella hendak bangkit karena dia sudah bosan meladeni Misya.
"Mau kemana lo?!" Misya menarik pergelangan tangan Ella dengan begitu kuat.
Karena kepala Ella semakin pusing dan juga sakit dengan tubuh yang tak karuan. Ella pun tidak dapat menompang tubuhnya lagi sehingga membuat ia limbung dan tak sadarkan diri. Misya yang melihat Ella tergeletak di lantai pun seketika panik. Dia pun dengan segera beranjak pergi dari sana.
"Ell, kamu kenapa?" salah satu siswi yang melihat kejadian itu pun segera menghampiri Ella.
__ADS_1
"Dia pingsan," sahut siswi lainnya.
"Kita bawa ke UKK aja."
"Gimana ngangkatnya? Berat. Mana di sini sepi lagi, siswa-siswi udah pada masuk kembali."
"Gini aja, kamu panggil kedua temennya yang lagi mesen makanan. Aku mau panggil suaminya," usul satu siswi.
"Pak Ray?"
"Iya, siapa lagi? Masak pak satpam."
Siswi itu pun segera berlari menuju ke ruangan Ray, dan siswi satunya memanggil Dela dan Kiana yang masih belum kembali.
Tok! Tok! Tok!
Siswi itu mengetuk pintu ruangan Ray dengan tergesa-gesa, sampai suara sahutan dari dalam menyuruhnya untuk masuk.
"Ada apa?" tanya Ray dingin tanpa mengihkan atensinya dari laptop.
"Itu, Pak. A-nu." Siswi itu terlihat gugup saat melihat ekspresi menyeramkan Ray.
"Apa? Bicara yang jelas." Masih terfokus pada laptop.
"Em, istri, Bapak pingsan." Dengan ragu dia berucap.
"Oh, istri saya pingsan." Ray masih mengetik di keyboard laptop miliknya.
"Apa?! Istri saya pingsan!" Seketika Ray langsung bangkit dengan atensi yang menatap tajam pada siswi itu.
Tanpa berkata apapun, Ray langsung beranjak pergi dengan terburu-buru dan juga panik.
"Huhh, rasanya seperti berada di kandang harimau... Menyeramkan," gumam siswi itu kemudian dia melangkah keluar dari ruangan Ray.
"Astaghfirullah! Harimau datang lagi." Kaget siswi itu, karena pada saat keluar dari pintu, dia sudah mendapati Ray berdiri dengan wajah datar dingin plus tatapan yang menghunus.
"Dimana istri saya?" tanya Ray dengan atmosphere yang begitu mencekam.
"Di-di kantin, Pak."
"Huhh, dosen jelangkung." Siswi itu menarik napas sepenuh dada saat melihat Ray sudah melangkah pergi.
Sesampainya di kantin, Ray melihat sang istri tergeletak di lantai dengan kepala yang di pangku oleh Dela.
"Sayang...." Wajah dinginnya berubah dengan ekpresi cemas penuh kekhawatiran.
"Kenapa istri saya bisa pingsan?" Ray menatap Dela dan Kiana secara bergantian.
"Ka-mi nggak tau, Pak," jawab Kiana gugup.
"Bukankah istri saya sedang bersama kalian? Kenapa bisa tidak tau?" Ray mengangkat tubuh Ella yang tergeletak di lantai.
"Ma-af, Pak." Hanya itu yang bisa di ucapkan Kiana. Jujur saja dia begitu takut saat melihat raut wajah Ray.
__ADS_1
"Ella mau di bawa kemana, Pak?" tanya Dela memberanikan diri.
"Rumah sakit," jawab Ray singkat.
"Kami boleh ikut?" tanyanya ragu.
"Ya."
Dela dan Kiana pun mengikuti Ray dari belakang, setelah sampai di parkiran. Ray menyuruh Dela untuk menyetir dan Kiana duduk di depan bersama Dela. Sedangkan dirinya duduk di kursi belakang tanpa melepas Ella dari dalam gendongannya.
"Untung aku udah jago nyetir," gumam Dela yang melajukan mobil Ray dengan kecepatan tinggi, karena itu permintaan Ray.
"Jangan ngebut-ngebut, Del. Kalo kaya gini caranya. Bisa-bisa kita semua masuk rumah sakit," ucap Kiana yang ketakutan.
"Udah, kamu diem deh. Pegangan yang kuat, percaya sama palentini Rosi. Ok," ujar Dela.
"Bukannya Rosi itu pembalap motor?"
"Bukan, pembalap karung."
"Lagian kamu dapet istilah darimana sih? Palentini Rosi?"
"Dari yang lagi di gendong noh, waktu kebut-kebutan pas mau mergokin kamu sama lakik aku."
"Haiss, masih di bahas. Kan itu cuma prank." Delik Kiana.
"Lebih cepat lagi, Del," pinta Ray.
"Ini udah ngebut banget, Pak. Mau ngebut gimana lagi? Yang ada bukannya nyampe rumah sakit, malah nyampe akherat, Pak," tutur Dela.
Ray pun hanya diam saja sembari mengecupi kening panas sang istri. Rupanya istrinya itu demam tinggi. Suhu tubuhnya terasa begitu panas.
"Kamu bertahan, ya, Sayang... Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sakit." Ray mendekap erat tubuh mungil Ella.
"Ella panas, Pak?" Kiana menatap ke arah belakang.
"Iya, dia demam tinggi."
"Bapak coba pake teknik, apa ya. Kin so klin, nah iya. Bapak coba pake teknik itu sebelum kita nyampe rumah sakit," saran Kiana.
"Kin to skin, Bakia. Lagian mana bisa lakuin itu di sini. Bisa-bisa mata suci kita ternodai." Dela mendelik.
"Emangnya mata situ masih suci? Yakin?"
"Nggak deng, soalnya mata ini udah sering ngeliat gagang cangkul." Cengir Dela yang membuat Kiana menepuk jidat.
"Kalo itu, aku juga udah sering liat, Del," ujar Kiana.
"Astaga! Serius kamu, Ku?" Pekik Dela tak percaya.
"Iya serius. Aku sering liat gagang cangkul pas ke taman belakang rumah. 'Kan di sana ada beberapa cangkul yang sering di gunain Mang Udin berkebun."
"Adeuh!" Kali ini Dela yang menepuk jidat.
__ADS_1
Jejak😘😘😘😘