Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Mamut


__ADS_3

"Emm, sebenernya...." Rendi tampak menarik napas sepenuh dada.


"Sebenarnya apa? Ayoo jawab kak." Kiana menatap Rendi lekat.


"Yang, aku udah bilangkan. Kalo aku bukanlah pria yang sempurna," ucap Rendi sembari menggenggam kedua tangan Kiana.


"Lalu?"


"Aku mau jujur tentang masalaluku," ucap Rendi.


"Jujur aja, aku siap denger. Apapun itu," ucap Kiana yakin.


"Sebenarnya.... Aku adalah pria bejad, pacaranku dulu nggak sehat. Bisa di bilang... Aku ini nggak perawann lagi." Rendi tampak menunduk.


"Hahaha." Tidak sesuai ekspetasi Rendi, dia pikir Kiana akan marah, tapi justru dia malah tertawa.


"Kenapa ketawa? Emang ada yang lucu?" Heran Rendi.


"Kamu yang lucu." Kiana tersenyum manis.


"Aku?" Menunjuk dirinya sendiri heran.


"Iya, habisnya kamu ngomong nggak perawann lagi. Emangnya kamu cewek apa?" Kiana tergelak.


"Ya, terus cowok apa dong?"


"Nggak perjaka lagi gitu maksud kamu?"


"Ya... Gitulah." Rendi terlihat sedikit murung.


"Aku udah tau kok, aku nanya gitu cuma mau liat aja, kamu jujur nggak sama aku? Ternyata kamu jujur."


"Kamu udah tau?" Kaget Rendi.


"Iya, aku udah tau dari semenjak pertama kali ketemu kamu," jawab Kiana.


"Tau dari siapa?" Rendi terlihat penasaran.


"Ella."


"Sudahku duga. Dia ngomong apa aja sama kamu? Dia jelekin aku nggak?" tanya Rendi beruntun.


"Dia cuma bilang, kalo kamu itu perjaka kw," ucap Kiana jujur.


"What? Perjaka kw?"


"Iya, perjaka tapi udah ngerasain enak-enak."


Rendi hanya bisa menghela napas panjang, dasar Ella. Omongannya sudah mencemari otak suci Kiana. Apa katanya enak-enak? Apa Kiana tau artinya enak-enak.


"Anterin aku pulang yuk, Kak. Ini udah malem," pinta Kiana.


"Ok, ayok."


Rendi pun mengantarkan Kiana pulang karena waktu sudah mulai larut malam. Sepanjang perjalanan, Rendi selalu melirik kearah Kiana. Gadis yang telah berhasil memenangkan hatinya, dia berjanji. Dia akan menjaga Kiana dengan sepenuh hati. Dia tidak akan menodai Kiana, sama seperti pada mantannya dulu.


"Makasih, Kak," ucap Kiana saat mereka sudah sampai di depan rumah Kiana.


"Sama-sama, sampai ketemu besok. Sayang." Rendi melambaikan tangannya pada Kiana yang sudah turun.


Setelah Kiana turun, Rendi tidak langsung pergi. Melainkan memandang Kiana yang hendak berjalan masuk.


"Ngapain pulang?! Gak usah pulang aja sekalian!" Bentak seorang pria saat Kiana hendak melangkah masuk.


"Eh, Abang.." Kiana menyapa dengan tersenyum manis.


"Gue bukan abang lo, gue nggak sudi di panggil abang sama anak haram kayak lo." Riki memandang Kiana jijik.


"Maaf," lirih Kiana.


"Kenapa sih? Lo gak mati aja, gue muak tau nggak terus-terusan liat muka lo di rumah ini," sengit Riki.


"Kenapa, kamu benci banget sama aku? Padahal aku juga nggak mau terlahir seperti ini," lirih Kiana dengan menahan air mata.


"Karena elo anak haram dan juga anak pembawa sial. Kehadiran lo, cuma membuat keluarga ini menderita. Lebih baik lo pergi darisini dan jangan pernah kembali lagi, supaya keluarga ini tenang," ucap Riki dengan sorot mata penuh ke bencian.


"Gak ada satu pun anak yang terlahir sebagai pembawa sial, semua anak itu anugrah!" Rendi yang sudah geram mendengar hinaan yang terlontar untuk kekasihnya pun turun menghampiri mereka.


"Lo siapa? Gak usah ikut campur urusan gue!" Riki menatap tajam Rendi.


"Gue Rendi, pacarnya Kiana. Dan gue gak Terima pacar gue di perlakuin kayak gini sama bajingan kayak lo!" Marah Rendi sembari menunjuk wajah Riki.


"Lo pacarnya atau pelanggannya jal*ng ini, hah?" Riki bersidekap dada.


"Jaga omongan lo, bangsat! Pacar gue bukan jal*ng!" Rendi begitu murka.


"Dia itu *******, lo udah ketipu sama tampang sok polosnya." Riki tersenyum mengejek.


Bugh!


Rendi langsung memukul perut Riki dengan begitu keras, dia tidak Terima wanita yang dia cintai di perlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Kurang ajar!"


Bughh!


Riki membalas pukulan Rendi dengan lebih keras.


Bugh!


Bughh!


Bugh!


Mereka saling memukul dengan amarah yang sama-sama memuncak.


"Stopp! Berhenti." Kiana berdiri di tengah-tengah mereka.


"Stop, aku mohon..." lirih Kiana.


"Hahhh!" Teriak Riki, kemudian dia masuk kedalam rumah meninggalkan mereka.


"Kenapa kamu ngalangin aku buat ngabisin pria bajingan itu?" Amarah masih mengusai Rendi.


"Jangan... Dia itu abang aku, dan aku juga gak mau kamu terluka," lirih Kiana kemudian dia berhambur memeluk Rendi.


"Abang? Abang macem apa yang gak ngakuin adiknya sendiri? Bahkan dia gak mau di panggil abang sama kamu." Rendi membalas pelukan Kiana, dia memeluk Kiana dengan begitu erat.


"Dia memang benci aku, tapi aku sayang sama dia. Aku gak peduli mau dia bilang apapun tentang aku, mau dia hina aku. Aku rela," ucap Kiana yang terisak di pelukan Rendi.


***"***"""****"***"****


"Yang...." Panggil Dalina pada Satria yang sedang berada di kamar mandi.


"Apa, Beb?" Satria menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.


"Aku pengen pipis," ucap Dalina manja.


"Ya udah tinggal pipis aja si, Beb." Satria yang sudah selesai mandi pun keluar hanya dengan mengenakan handuk saja.


"Apa kamu bilang? Tinggal pipis aja? Kamu tau gak ini tuh sakit..." Kesal Dalina.


"Iya tau, terus aku harus gimana, Beb?" bingung Satria.


"Balikin ke perawanann aku biar gak jadi sakitnya," ketus Dalina.


"Di pikir beli baju apa bisa di balikin lagi?" Delik Satria.


"Kamu jahat! Kan udah aku bilang jangan belah duren dulu," pekik Dalina.


"Terus nunggu sampe kapan? Sampe durennya busuk berjamur gitu? Baru di belah."


"Bebeb emesku yang cantik, ayok Ayang yang ganteng ini anterin ya, pipisnya." Satria merangkul bahu Dalina yang masih polos.


"Gendong..." Rengek Dalina.


"Ya udah sini, uh.. Gemes deh." Satria langsung menggendong Dalina ala bridal style menuju ke kamar mandi.


"Sekalian mandi, ya." Satria menatap lembut Dalina yang sedang duduk di closet.


"Pipisnya juga belum..."


"Kenapa belum? Malu ya, karena aku liatin?" goda Satria.


"Nggak, aku gak malu. Tapi takut..." lirih Dalina.


"Takut kenapa, hm?"


"Takut sakit... Ini perih banget tau nggak, dan rasanya seperti ada yang ngeganjel gitu. Atau jangan-jangan..." Dalina tidak melanjutkan ucapannya.


"Jangan-jangan apa, Beb?"


"Coba liat burung kamu?" Dalina menatap aset Satria yang terbungkus handuk.


"Kenapa burung aku?" Heran Satria.


"Buka aja, jangan banyak tanya." Dalina langsung menarik handuk Satria.


"Tuh, kan!" Pekik Dalina.


"Kamu kenapa sih, Beb?" Satria semakin bingung.


"Burung kamu pasti ketinggalan setengah di dalem. Buktinya ini jadi kecil keriput menciut kayak gini. Semalem kan besar," ucap Kiana.


"Burungnya kan bobo, Beb. Makannya jadi mencitut, bukan ketinggalan di dalem," ujar Satria.


"Terus yang ngeganjel ini apa?"


"Au, kodok mungkin."


"Yang...."


Tak terasa satu bulan telah berlalu, begitu juga dengan hubungan Rendi dan Kiana. Mereka nampak semakin dakat, bahkan Kiana sudah tidak ragu untuk menceritakan semua keluh kesah dan juga masalahnya pada Rendi. Satria dan Dalina juga semakin mesra, walaupun belum ada tanda-tanda hadirnya calon buah hati. Apa lagi Ella dan Ray, mereka semakin lengket dan tak bisa terpisahkan.

__ADS_1


"Sayang, hari ini kita jalan yuk?" ajak Ray pada sang istri yang sedang mengajak main twins.


"Jala?" Mendongkak menatap Ray.


"Iya, mumpung weekend."


"Tapi twins gimana? Kan Mamah sama Papah lagi pergi," tanya Ella.


"Kita ajak twins jalan-jalan juga," ujar Ray.


"Twins di ajak?"


"Iya."


"Serius?"


"Iya, Sayang. Ya udah yuk siap-siap."


"Yeee! Jalan-jalan sama twins!" Seru Ella girang.


Setelah selesai bersiap, merekapun pergi ke taman bermain. Di sana banyak sekali anak-anak yang bermain dan juga berlarian. Twins juga nampak senang di bawa ke sana. Terlihat dari bibir mungilnya yang selalu tersenyum.


"Kalau twins udah besar pasti bakalan kayak mereka." Ella menunjuk para bocah yang sedang berlarian.


"Hm, mereka pasti lucu dan gak bisa diem kayak mereka," imbuh Ray.


"Kak Ray... Aku haus," ucap Ella.


"Bentar yah, Kakak beli minum dulu. Kamu jangan kemana-mana," ujar Ray.


"Ok." Ella mengacungkan jempolnya.


Ray pun melangkah pergi untuk mencari minuman, sementara Ella menunggu sembari mengajak twins berceloteh.


"Adik kamu lucu, Dek," ucap seorang ibu yang berjalan melewati Ella.


"Adek?"


"Iya, adek kamu lucu sekali. Mamahnya kemana? Kok kamu yang ngajak main?" tanya ibu itu lagi.


"Pasti Mamahnya sibuk ya, kamu baik banget sampe mau jagain adek kamu. Biasanya anak muda paling enggan jagain adeknya." Ibu itu tersenyum melihat Ella.


"Tapi mereka bukan..."


"Saya permisi ya, jagain adeknya baik-baik" Ibu itu berlalu pergi.


"What! Adek? Segitu unyu nya kah muka gue? Sampe mereka bilang twins adek gue," gumam Ella.


"Dek, itu adiknya nangis," ucap sorang bapak yang sedang mengasuh anaknya sambil menunjuk ke arah Zura.


"Ah, iya. Pak." Buru-buru Ella mengambil Zura dari kereta dorongnya.


"Cup, cup cup. Sayang. Zura kenapa, hm? Bosen ya? Atau pengen Mimi?"


"Adik kamu sepertinya haus, cepat kasih ke ibu kamu biar di kasih asi," ucap bapak tadi.


"Ini anak saya, Pak," ujar Ella.


"Ada-ada aja kamu, adik sendiri di bilang anak," ucap bapak itu kemudian dia berlalu pergi mengejar anaknya.


Ella pun kesal, dia menekuk wajahnya. Kemudian dia mengambil ponsel dan membuka kamera. "Emang muka aku kayak bocah, ya?" lirih Ella.


"Ini, Sayang minumnya." Ray menyerahkan satu cup jus alpukat.


Ella pun segera mengambilnya. "Zura kenapa nangis?" Ray menatap Zura yang berada di gendongan Ella.


"Dia haus, pengen nen," ketus Ella.


"Ya udah, kasih nen dong."


"Kasih aja ke Mamanya biar di kasih nen." Masih dengan nada yang ketus.


"Hah?" Bingung Ray.


"Mamanya kan kamu, Sayang."


"Aku kakaknya."


"Kakak? Sebenarnya kamu kenapa sih, Sayang?" Ray semakin bingung.


"Huaaa... Kak Ray, mereka gak percaya twins anak aku. Mereka bilang twins adek aku. Huuu," adu Ella.


"Mereka siapa, hm?" Ray mengelus pucuk kepala Ella.


"Ibu-ibu sama bapak-bapak."


"Ya udah gak pa-pa. Mungkin mereka bilang gitu karena kamu masih imut, Sayang. Tapi, kamu tetap Mamah twins, Mamut. Mamah imut." Ray mengecup kening Ella.


"Mimom..."


"Iya, Mimom."

__ADS_1


"Sekarang kasih nen dulu Zura nya ya."


"Hm." Ella mengangguk kemudian dia menyusui Zura.


__ADS_2