
Hari ini Ell berangkat ke kampus dari rumah orang tuanya, karena mereka masih menginap di sana. Ray sudah pergi terlebih dahulu karena ada rapat dadakan. Jadilah Ella berangkat sendiri, namun ada untungnya juga Ray berangkat terlebih dahulu. Jadi dia bisa melepas rindu dengan si Moci, moge kesayangannya yang sudah lama tidak dia tunggangi.
"Lo yakin mau berangkat naek moge, Dek? Mending bareng, Abang aja yok," ucap Satria yang hendak berangkat ke kantor.
"Aku kangen sama, Moci, Bang. Jadi aku mau berangkat naik, Moci aja," jawab Ella.
"Moci entu makanan, Oneng. Lo pake jadi nama motor, nggak banget. Apa kata orang, nanti pas nanya lo naek apa? Terus lo jawab naek Moci, mana bisa moci di naikin? Pan lembek." Satria malah tertawa.
"Au, ah. Kesel aku sama, Abang. Selalu aja ngeledekin aku." Ella menaiki motornya yang sudah dia panaskan sebelumnya.
"Hati-hati, Dek. Jangan ngebut," nasihat Satria saat Ella hendak melakukan motornya.
"Asiap!"
Brum! Brum! Brum!
Ella melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, hingga dalam sekejap dia sudah tidak terlihat lagi.
"Asiap apaan, kalo tetep bae ngebut," gerutu Satria sembari masuk ke dalam mobilnya.
**************
Saat ini Ella sudah sampai di kampus, dia segera memarkirkan motornya dan melepas helm fullface miliknya sehingga menampilkan wajah cantik Ella dengan rambut yang tergerai indah. Banyak pasang mata yang melihatnya kagum, mereka tidak tau saja jika gadis cantik nanti mempesona ini sudah mempunyai dua buah hati.
"Wih, tumben lo pake motor." Diego yang baru saja tiba langsung menghampiri Ella.
"Lagi pengen aja. Btw lo berangkat sendiri?" Ella menatap ke arah Diego.
"Yo'i, sama siapa lagi emangnya?"
"Eh, iya. Gue lupa, elo kan jomblo," ledek Ella.
"Liat aja, sebentar lagi gue bakalan punya pacar," ucap Diego percaya diri.
"Pede amat, Bang... Emang situ laku?" Canda Ella.
"Mungkin laku kalo di jual murah," jawab Diego.
"Yodah, ntar gue bawa ke pasar loak."
"Wey, kalian pada ngobrolin apa sih?" Kiana tiba-tiba datang dari belakang mereka.
"Ngagetin aja lo, Ki. Eh, btw lo berangkat sama siapa, Ki?" tanya Ella.
"Sama kak Galang," jawab Kiana.
"Galang?"
"Iya."
"Terus Dela mana? Kenapa nggak bareng?" tanya Ella lagi.
"Kata kak Galang, Dela masih ngurusin Gala, jadi nggak bisa bareng. Mungkin bentar lagi dateng," ujar Kiana.
"Jadi, Galang sengaja jemput lo ke rumah?"
__ADS_1
"Iya."
"Dia sampe nggak nungguin Dela demi jemput elo?"
"Iya, Ell. Katanya takut aku telat kalo nunggu Dela beres."
Ella menghela napas sepenuh dada, "Sebaiknya lo jangan terlalu deket sama Galang."
"Loh, kenapa emang? Kak Galang kan sahabatnya Kak Rendi," heran Kiana.
"Iya gue tau, tapi 'kan kita nggak tau gimana perasaan Dela. Mungkin aja dia cemburu sama ke selatan lo dengan Galang. Bahkan Galang lebih memprioritaskan elo daripada nungguin dia," tutur Ella.
"Bener kata, Ella. Bagaimanapun juga, Galang itu pria ber-istri. Jadi sebisa mungkin lo harus jaga jarak dari dia," timpal Diego yang sedari tadi menyimak.
"Ok." Kiana pergi melewati mereka begitu saja.
"Apa omongan gue keterlaluan banget ya, Go?" Ella menatap Diego.
"Nggak kok, lo 'kan cuma ngingetin dia." Diego tersenyum tipis.
Merekapun melangkah memasuki gedung kampus karena mereka masih di parkiran. Saat hendak memasuki ruangan fakultas mereka, Ella mendadak berhenti.
"Kenapa?" tanya Diego yang berada di belakang Ella.
"Kak Ray sama siapa itu?" Ella menunjuk ke arah Ray yang sedang berjalan be-iringan dengan seorang wanita.
"Mungkin dosen baru," tebak Diego.
"Dosen baru?"
"Dosen untuk jurusan apa?" Ella melirik Diego.
"Manajemen," jawab Diego.
"Loh, bukannya jurusan itu di pegang kak Ray?"
"Lo pikir jurusan manajemen cuma satu semester doang? Pak Ray pasti keteteran kalo ngehendel sendirian. Apa lagi kalo udah ada urusan sama istrinya, pasti dia lempar tugas ke pak Kevin," ucap Diego.
"Jadi mulai sekarang kak Ray ngajarnya bakal aplusan sama orang itu?"
"Mungkin, yuk ah masuk." Diego menggiring Ella masuk ke dalam.
"Serasa jadi bebek gue." Ella mendudukan bokongnya di kursi yang biasa dia duduki.
"Untung nggak telat." Dela yang baru saja datang langsung duduk di samping Ella.
"Lo naik apa kesini, Del?" Ella melirik sang sahabat yang masih ngos-ngosan, mungkin karena dia berlari.
"Ojek," jawab Dela sembari mengambil air minum dari dalam tasnya.
"Emangnya Galang nggak nganterin?"
"Dia belum balik pas aku mau berangkat."
"Kenapa nggak bareng aja pas dia nganterin, Kiana?"
__ADS_1
"Aku masih sibuk ngurusin Gala, Ell. Soalnya Mamah lagi di luar kota ikut Papah perjalanan bisnis," ujar Dela.
"Terus Gala sekarang di rumah sama siapa?"
"Sama, Mbok."
"Hai, Ki." Dela menyapa Kiana yang duduk di samping kananya, jadi posisi dia duduk berada di tengah-tengah Ella dan Kiana.
"Hai." Kiana tersenyum tipis.
"Kamu kenapa kok murung? Masih inget kak Rendi ya?" tanya Dela dengan ramah.
"Iya." Kiana hanya menjawab dengan singkat.
"Sabar ya, kamu pasti bisa melewati ini," ucap Dela yang di balas Kiana dengan anggukan.
"Siang." Ray masuk ke dalam ruangan dengan wajah dinginya, namun kali ini dia diikuti oleh seorang wanita di belakangnya.
"Siang, Pak!"
"Mungkin kalian bertanya-tanya, siapa wanita yang di samping saya?" Ray melirik wanita itu.
"Jadi, perkenalkan. Beliau adalah dosen baru kalian yang akan menggantikan saya jikalau saya sibuk. Namun hanya sewaktu-waktu saja, jika saya keteteran. Namanya adalah Ibu Sukma Azalia," tutur Ray.
"Halo semuanya, perkenalkan nama saya Ibu Sukma, dosen baru di sini," ucap Sukma memperkenalkan diri.
"Salam kenal, Bu. Selamat datang di kampus kami," ucap mereka serempak.
"Terimakasih atas sambutannya." Sukma tersenyum tipis.
"Berhubung hari ini saya ada urusan penting, jadi yang mengajar kalian kali ini adalah Ibu Sukma," ujar Ray.
Mereka mengangguk tanda mengerti, setelah memperkenalkan Sukma, Ray pun berjalan keluar dari dalam ruangan. Sekilas dia menatap ke arah Ella dengan tersenyum tipis saat dia melewati Ella.
"Disini saya akan melanjutkan materi yang di bahas oleh, Pak Ray kemarin. Kalian sudah paham bukan dengan materi yang di ajarkan, Pak Ray kemarin?" Sukma menatap ke arah mereka secara bergantian.
"Sudah, Bu," jawab mereka serempak.
"Bagus! Jadi saya bisa lanjut ke materi selanjutnya."
Sukma nampak menerangkan materi dengan lugas dan berwibawa seperti dosen pada umumnya. Wajahnya juga cenderung datar tanpa senyuman sama halnya dengan Ray. Ella yang sedang menyimak sedikit curi-curi pandang pada dosen baru itu.
'Cantik, jangan sampe kak Ray tergoda oleh dosen baru ini' gumam Ella dalam hati. Belum apa-apa dia sudah cemas, padahal jika di lihat dari segi pisik lebih cantikan Ella. Hanya saja tampilan Sukma lebih dewasa dan terkesan anggun dengan make up yang memadai, kalau Ella kan jarang bersolek jika pergi ke kampus.
"Kenapa kamu malah melamun? Bukannya memperhatikan saya!" tegur Sukma pada Ella.
"Maaf, Bu," ucap Ella.
"Lain kali jangan di ulangi lagi, jika dosen sedang menerangkan materi, perhatikan, simak baik-baik supaya kamu faham. Ngerti kamu?" Sukma berbicara dengan tegas.
"Iya, Bu. Saya mengerti." Ella mengangguk samar.
"Bagus!"
Tap jempol, ok. Komen and Vote juga dehππ
__ADS_1