Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
klien Papih Andi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Ella sudah berangkat, namun bukan ke kampus melainkan ke tempat Poky ngekost. Dia menghampiri Poky di sana untuk mengajaknya pergi ke kantor sang ayah.


"Kapok udah siap?" tanya Ella di ambang pintu kosan Poky.


"Udah, Neng. Hayuk atuh berangkat," ajak Poky.


"Yuk let's Go," seru Ella kemudian mereka berjalan ke arah motor Ella.


"Mani tinggi pisan motornya, Neng. Kumaha atuh naeknya susah?" Poky memandangi motor sport merah Ella karena yang hitam sudah rai'b.


"Motornya nggak tinggi kok, Kapok nya aja yang pendek." Cengir Ella.


"Enya nya, kayaknya mah saya nya yang ke pendekan. Tapi da tumbuh ke samping oge heunte. Berati tumbuhnya kemana ya?" heran Poky.


"Ke samping nggak ada, kek atas apa lagi. Aha aku tau, Kapok nggak tumbuh," gelak Ella.


"Ais, masa iya?"


"Udah ah, hayuk atuh cepetan naik." Ella menirukan gaya bicara Poky.


"Susah, Neng," ujar Poky.


"Ya elah. Sini aku bantu." Ella yang sudah naik ke atas motor mengulurkan tangannya.


"Nggak akan jatuh ini teh, Neng?" tanya Poky setelah dia berhasil duduk di atas motor.


"Nggak dong, Kapok. Kalo jatuh palingan juga ke bawah," jawab Ella enteng.


"Enya atuh jatuh mah ke bawah, masa iya ke atas." Cebik Poky.


Ella melajukan motornya dengan perlahan meninggalkan halaman kosant, sepanjang perjalanan dia terus bertanya tentang kehidupan Poky, tentang keluarganya juga hingga pada saat Ella menanyakan David, Poky menjadi terdiam membisu.


"Kapok," panggil Ella karena Poky hanya diam saja di belakangnya.


"Ah, iya," respon Poky.


"Kapok, kenal kan sama David?" ulang Ella bertanya.


"Er, kenal sih eng-gak. Cu-ma, tau aja. Iya, gitu," jawab Poky.


"Tau gimana maksudnya?" Ella masih belum puas dengan jawaban Poky.


"Wah! Ini gedungnya ya, Neng? Mani gede, tinggi lagi," seru Poky mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Kapok, ini kantor Papihnya aku." Ella memarkirkan motornya.


"Yuk masuk," ajak Ella.


Mereka pun masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi itu dengan ber-iringan. Para karyawan memang sudah mengenal Ella, namun hanya sebagian. Sebagian besarnya tidak tau karena Ella jarang ke kantor. Mereka hanya mengetahui pewaris Wirawan itu adalah Satria.


"Papih ada kan, Mba?" tanya Ella pada resepsionis.


"Ada, Non. Beliau sudah menunggu, Non Stela," jawab resepsionis itu ramah.


"Ok, makasih, Mbak."


"Yuk, Kapok. Kita ke ruangan, Papih."


Sesampainya di depan ruangan Andi, Ella langsung nyelonong masuk begitu saja. Di sana terlihat ada Andi yang sedang berbincang dengan Satria.


"Kamu udah dateng, Sayang," sapa Andi.


"Udah, Pih. Makannya ada di sini." Ella langsung menghampiri sang Papih dan duduk di pangkuannya.


"Emang kursi penuh, Dek?" sindir Satria.


"Penuh," jawab Ella tanpa melirik Satria.


"Duduk, Po," titah Andi pada Poky.


"Ah, Baik, Pak." Poky mendudukan bokongnya di sofa yang berhadapan dengan Andi.


"Ini dia orang yang, Papih ceritakan, Sat. Tolong kamu carikan pekerjaan yang pas untuknya," ucap Andi sembari melirik Satria.


"Ok, Pih."


Kemudian Satria menghubungi sekretaris nya, setelah dia datang. Satria pun meminta sekretarisnya untuk menggetes Poky. Jadi, di ruangan itu tinggalah Satria, Ella dan Andi.


"Tumben manja sama, Papih, hm?" Andi mengusak lembut puncak kepala Ella.


"Emangnya nggak boleh aku manja sama, Papih?" Cemberut Ella.


"Boleh dong, malahan Papih seneng. Kan udah lama kamu nggak manja sama, Papih," respin Andi.


"Ck, kayak bocah aja," decak Satria.


"Sirik aja lu," sengit Ella.


"Sirik sama bocah tengil kaya lo? Ogah! Nggak level." Satria mendelik.


"Aku bukan bocah ya," ucap Ella tak Terima.


"Terus apa? Yang suka duduk di pangkuan itu kan bocah!" ledek Satria.


"Dasar bangsat nyebelin," kesal Ella.


"Apaan lu, dasar pecel lele." balas Satria.

__ADS_1


"Bangsat buluk!"


"Pecel lele basi."


"Sudah-sudah, kalian ini berantem mulu kalo ketemu," lerai Andi.


"Dia yang mulai, Pih." Ella menunjuk Satria.


"Apaan, kok gue?" Delik Satria.


"Ya emang elu."


"Sebentar lagi klien datang, Papih ada meeting. Kalian jangan berisik ya," ucap Andi.


"Meetingnya di sini, Pih?" tanya Ella.


"Iya, di sofa situ. Kalian diem jangan ribut." Andi menunjuk sofa yang satunya lagi.


"Siap, Pih." Ella turun dari pangkuan Andi.


"Hekk, astaga Dek! Kalo mau duduk bilang-bilang napa," omel Satria karena dia kaget begitu Ella duduk di pangkuannya.


"Bang, adek mau duduk," ucap Ella tanpa dosa.


"Telat, Maemunah!" Kesal Ella namun tetap saja ia memeluk sayang sang adik.


"Udah, jangan ribut. Papih kesana dulu, klien udah di depan." Andi beranjak dari duduknya kemudian dia menyambut kliennya yang baru saja datang.


"Mari masuk, Pak Rayen," ucap Andi ramah.


"Terimakasih, Pak Andi." Rayen masuk kedalam.


"Silahkan duduk." Andi menatap Ray dan juga sekretarisnya.


"Jadi kliennya kak Ray? Tapi kok mereka kaku gitu sih? Kayak nggak saling kenal." Heran Ella.


"Itu pormal bego! Mereka kan lagi meeting. Jadi ceritanya si Ray itu klien Papih bukan mantunya," ujar Satria berbisik.


"Oh gitu, berati di sini aku juga harus bersikap sebagai anak, Papih. Yaitu klien kak Ray. Bukan istrinya." Ella mendongkak menatap sang abang.


"Betul itu." Satria mengusak poni Ella.


"Ok deh, berati di sini aku belum kenal dia? Kan belum kenalan," ucapnya lagi.


"Boleh lah boleh, serah lu aja, Dek." Satria memainkan ponselnya dengan posisi yang masih memangku sang adik.


Tak lama kemudian pintu kembali di ketuk dan munculah seorang pria yang seumuran dengan Andi. Dia nampak sekilas menatap Ella sebelum bergabung bersama Ray dan Andi.


"Abang itu siapa?" tanya Ella berbisik.


"Kenapa?" Satria menatap wajah sang adik yang nampak di liputi amarah.


"Dia jahat, Bang," ujar Ella.


"Maksud lo?"


"Nanti aku ceritain." Ella menatap tajam ke arah Arga.


Sementara itu, atensi Ray terus mencuri pandang ke arah Ella di sela perbincangan mereka. Ray nampak cemburu karena sang istri duduk di pangkuan pria lain. Padahal itu abangnya, tetapi tetap saja Ray cemburu. Bahkan saking cemburunya sampai membuat dia tidak fokus.


"Bagaimana, Pak Ray? Apakah, Bapak setuju dengan usulan saya?" tanya Andi yang sama sekali tidak di respon Ray, karena fokusnya terus tertuju pada Ella.


"Pak Ray," tegur Andi.


"A-h iya, kenapa, Pak?" Ray langsung menarik pandangannya dari Ella.


"Sepertinya Pak Ray tidak fokus, atau Bapak tidak serius dengan kerja sama ini?" Arga yang berbicara.


"Bukan seperti itu, Pak Arga. Saya hanya sedang memikirkan sesuatu tadi, jadi tidak fokus." Koreksi Ray.


"Oh, apa karena kelakuan tidak senonoh anak, Pak Andi." Arga menatap sinis ke arah Satria dan juga Ella.


"Maksud bapak? Tidak senonoh apa ya?" Andi merasa tersinggung.


"Kita tau, Satria sudah menikah. Dan saya tau istrinya bukan ini. Sekarang dia berbuat jinah di sini, di kantor ini. Tapi, Pak Andi tidak menegurnya, bahkan terkesan membiarkannya begitu saja. Sungguh pengusaha yang tidak patut di contoh," ujar Arga dengan wajah sinis.


"Maaf, Om. Siapa ya, yang berbuat jinah?" Ella yang sudah turun dari pangkuan Satria langsung menghampiri mereka.


"Siapa lagi kalau bukan kamu, wanita murahan. Mencemarkan nama baik perusahaan saja." Arga menatap Ella tidak suka.


"Bapak jangan sembarangan nuduh ya, dia itu bukan wanita murahan. Tapi adik saya," marah Satria tidak Terima adiknya di katai seperti itu.


"Adik? Huhh! Hanya alibi saja." Arga tidak percaya.


"Gadis ini memang adik dari, Satria. Putri saya." Andi bersuara dengan penuh penekanan.


"Bukan gadis, Pih. Tapi mantan gadis." Koreksi Ella yang seketika langsung mendapat sikutan sang abang.


"Apa?" Ella menautkan kedua alisnya.


"Bukan waktunya bercanda," bisik Satria.


"Ih, siapa yang bercanda. Aku ini kan emang mantan gadis," ucapnya tanpa dosa.


"Dia saja mengaku, jika dia wanita murahan! Kalian masih ingin membelanya? Cih, dasar keluarga sampah!" Cibir Arga.


"Siapa juga yang ngaku wanita murahan? Aku tu cuma bilang mantan gadis. Ihhh, si Om nya halu. Ngarang mulu kerjaannya. Lagian ya, Om. Keluarga aku itu, keluarga manusia. Bukan keluarga sampah. Coba cium deh, wangi kan? Nggak bau busuk seperti kelakuan, Om." Ella menyodorkan sebelah tanganya yang seketika langsung di tepis kasar oleh Arga.

__ADS_1


"Huaaa! Papih! Tangan aku atit, Pih! Om ini jahat, tabok dia, Pih! Tabok pantat buluknya!" adu Ella sambil memeluk Andi dan juga menunjuk Arga.


"Cup, cup, cup. Mana yang sakit? Sini, Papih liat." Andi meraih sebelah tangan Ella.


"Ini, Pih. Atit tau. Omnya nakal. Kudu di kasih pormalin biar mati." Ella merengek manja yang mana membuat Satria mendelik sebal.


"Bocah tengik!" bentak Arga.


"Huaaa, Abang.... Om jelek itu ngatain aku." Kini Ella beralih memeluk Satria.


"Udah jan mewek, nanti, Abang geprek, Om jeleknya sampe bengek." Satria menepuk-nepuk pundak sang Adik.


"Keluarga aneh!" Cibir Arga.


"Om jelek tu yang aneh. Udah nuduh sembarangan. Marah-marah nggak jelas lagi. Om setres ya? Atau jangan-jangan, Om lagi nyalonin diri jadi ODGJ?" tebak Ella dengan tatapan mengejek.


"Ahh! Kerja sama kita batal! Saya tidak mau bekerja sama dengan perusahaan tidak Frofesional seperti ini," kesal Arga.


"Saya juga tidak mau bekerja sama dengan pembuat onar seperti anda." Balas Andi sengit.


"Sebaiknya, Pak Rayen juga tidak usah bekerjasama dengan perusahaan ini. Saya yakin, Pak Rayen akan rugi di kemudian hari." Arga mengompori Ray.


"Kompor-kompor," celetuk Ella.


"Meledug! Bom dug! Dak!" Sambung Satria.


"Diam kalian!" bentak Arga.


"Aku imut, aku diam, Om. Nggak lari-lari, apalagi lari dari kenyataan karena nggak bisa move on," Ejek Ella.


"Kalau memang sekiranya, Pak Arga tidak mau bekerjasama dengan perusahaan, Pak Andi. Silahkan, Pak Arga angkat kaki dari sini." Ray yang sudah geram pun angkat bicara.


"Angkat tangan juga sekalian," timpal Ella.


"Mending angkat jemuran, pan udah mendung bentar lagi ujan," timbrung Satria.


"Mendung bukan berati bakal hujan, sama halnya dengan sedih yang tidak selalu menangis," ujar Ella.


"Keluarga tidak jelas! Setres!" Arga beranjak pergi dengan kemarahan yang memuncak.


"Orang dia yang nggak jelas, kita mah jelas, iyakan? Apalagi aku, jelas cuantik," ucap Ella percaya diri.


"Huhh, pede sekali anda." Cibir Satria sembari mengusak rambut Ella.


"Abang... Rambut aku berantakan...," rengek Ella.


"Pak Rayen, apakah, Bapak tetap ingin melanjutkan kerjasama kita?" tanya Andi kepada Ray.


"Tentu saja, Pak Andi," jawab Ray pormal.


"Syukurilah kalau begitu, silahkan duduk kembali, Pak Ray," ucap Andi.


"Baik, Pak Andi." Ray kembali duduk di tempat semula.


"Sat, Ell. Kalian duduk juga." Andi melirik kedua anaknya.


"Iya, Pih," jawab mereka bersamaan.


"Eits, lo mau ngapain?" Satria menatap Ella yang berdiri di hadapan-Nya.


"Duduk," jawab Ella.


"Elah, Dek. Lo pikir gue kursi di dudukin mulu." Delik Satria.


"Mirip sih, sama-sama empuk." Cengir Ella sembari mendudukan bokongnya di paha kanan Satria.


"Manja banget sih, punya adek satu." Satria mengecup puncak kepala Ella.


"Kita lanjutkan saja pembicaraan tadi, Pak Ray. Anggap saja mereka angin lalu," ucap Andi.


"Baik, Pak." Atensi Ray menatap tajam Satria seolah tidak rela kakak iparnya itu mengecupi sang istri.


Satria yang melihat itu pun malah sengaja memanasi, Ray. Dia mendekap erat tubuh sang adik kemudian dia mengecupi seluruh wajah sang adik kecuali bibir.


"Sayang... Sini duduknya di pangkuan, Kakak." Ray seketika langsung bangkit dan menarik lengan Ella.


"Pih.... Alien, Papih ganjen ih. Masa dia manggil aku, Sayang terus narik tangan aku," adu Ella kepada Andi.


"Maklum saja, kamu kan cantik. Jadi kamunya di genitin." Andi terkekeh.


"Pih... Udah ah, pormal-pormalan nya. Kesel aku." Ray merengek seperti anak kecil.


"Eh, dia Papih aku. Kenapa bapak manggil, Papih juga," sengit Ella.


"Sayang... Ih kamu gitu. Nggak lucu tau." Ray menarik Ella kedalam pelukannya.


"Eh tunggu." Ella mendorong Ray.


"Apa lagi?" Ray menatap Ella gemas.


"Kita 'kan belum kenalan. Bapak maen peluk aja. Kenalan dulu atuh," ucap Ella kemudian dia menarik tangan sebelah kanan Ray.


"Nama aku Stela Anandira yang cantik pari purna putrinya Papih Andi yang tampan cakrawala. Adiknya abang Satria yang jeleknya tiada tara." Ella tersenyum manis plus imut pula.


"Huhhhh....." Ray menepuk jidat kemudian menarik napas sepenuh dada.


Jan lupa jejak biar gasss lagiπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜—

__ADS_1


__ADS_2