
"Emang kita pernah kenal?" tanya Ella yang tengah menatap lekat wanita itu.
"Iyalah, Ell. Kan kamu yang nolongin aku dan bawa aku ke kota ini, " ujar wanita itu.
"Kadal, kakak kadal? " tebak Ella.
"Iya, siapa lagi,"delik Dalina.
"Woahh, kok kadal bisa berubah kayak gini. Bukannya kadal tomboy, burik, buluk lagi. Sekarang kok bisa cantik gini sih? putih, mulus, peminin beuh, pantes Abang suka," decak Ella kagum.
"Lu muji apa ngeledek si, Dek?"cebik Satria.
" Dua-duanya, Bang. Tapikan ngeledeknya yang dulu, sekarang mah pan di puji. Iyakan kadal cantik."Ella melirik Dalina.
"Serah kamu aja, Ell." Dalina tersenyum tipis.
"Eh, aku baru eungeh. kadal sekarang juga sopan, dulu 'kan ngomongnya kasar, lu gue lagi," ucap Ella.
"Mending ngobrolnya di dalem yuk? pegel ngobrol disini, mana berdiri lagi," ucap Ray.
"Dari tadi kek di ajak masuk." Satria langsung nyelonong masuk kedalam rumah.
"Wey, Bangsat! cewek lu ketinggalan!"teriak Ella.
"Lu bawain dah, Dek. Gue buru-buru kebelet!"balas Satria yang juga berteriak.
Karna hari sudah menjelang malam, Ella pun memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan makan malam. Sembari menunggu, mereka bercengkrama di ruang keluarga sambil menonton Derama. Ella tanpa henti menanyai Dalina tentang bagaimana bisa dia berubah seperti ini dan juga kenapa dia bisa menjadi kekasih sang abang, bukannya dulu mereka tidak akur bahkan mereka selalu bertengkar setiap saat. Dalina pun menjawab dengan sejujur-jujurnya tanpa ada yang di tutup-tutupi.
"Oh begitu, hm, cinta itu seperti misteri ya. Dia gak bisa ditebak pada siapa dia akan berlabuh," ucap Ella saat Dalina sudah selesai bercerita.
"Iya, Ell. Aku juga tidak percaya cintaku akan berlabuh pada orang yang dulu teramat aku benci." Dalina tersenyum sendiri kala mengingat tingkah dia dan Satria dulu.
"Karna cinta dan benci itu beda tipis." Satria yang tadinya duduk disopa pun menghampiri mereka yang berlesehan di karpet.
"Makannya jangan terlalu membenci seseorang, karna bisa jadi cinta akan tumbuh di antara kebencian itu." Ray juga ikut pindah.
"Kalo kita bencinya sama sesama jenis, bakal jatuh cinta juga dong?" tanya Ella.
__ADS_1
"Ya kagak lah, Markonah. Emang lu mau sama sesama jenis, kalo gue mah ogah." Satria bergidig.
"Kalo ke sesama jenis, bukan benci berubah jadi cinta. Tapi benci berubah menjadi genderang perang," sahut Ray.
"Nah lu bener, Ray. Apalagi cewek sama cewek, beuh main jambak-jambakan tuh sampe botak." Satria tertawa ngakak.
"Eh, mana ada. Aku gak pernah tuh kayak gitu,"delik Ella.
" Masa? terus kalo gak pernah, siapa dong yang waktu itu berantem di SMA sampe jambak-jambakan. Udah gitu kepala lawannya sampe pitak sebelah lagi,"ujar Satria.
"Setan kali." Ella menyandarkan kepalanya di dada Ray.
"Pantes aja punya adek kek elu kudu punya kesabaran ekstra, ternyata elu setan." Satri menatap Ella serius.
"Maksud lu apa bang?" Ella menatap tajam Satria.
"Kan tadi lu bilang lu setan, ya pantes gue kudu banyak sabar menghadapi tingkah dan godaan adik setan yang terkutuk kek elu," cengir Satria.
"Bangsatt, aku bukan setan ya!" kesal Ella.
"Iya, Bi. Makasih."
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke meja makan untuk makan malam, Ella seperti biasa melayani Ray walau kini tak secekatan dulu karna perut buncit nya yang membuat dia kesusahan berjalan, Dalina juga melayani Satria dengan baik, dia sudah terbiasa melakukan itu, karena semenjak dia bekerja di rumah Wirawan dia selalu melakukan itu.
"Bentar lagi lu puasa ya, Ray," ucap Satria di sela menyantap makanannya.
"Bukan sebentar lagi, tapi gue udah puasa." Ray menggigit paha ayam yang di pegangnya dengan rakus.
"Pantes aja lu gigit paha ayam sampe rakus begitu, ternyata udah gak nyantap paha adek gue lagi. Sian deh lu, puasa sebelum waktunya," ledek Satria.
"Mendingan gue puasa sebelum waktunya, nah elu, dari orok puasa mulu, kapan bukanya. Sian dah tu perkutut lumutan." Ray membalas ledekan Satria.
"Tenang, sebentar lagi perkutuk gue bakal dapet sarang. Jadi dia kagak bakal kedinginan, apalagi lumutan," ujar Satria bangga.
"Diam! kalian itu mau makan apa ngerumpi, hah! mana ngomongin perkutut lagi, Lama-lama aku potong tuh perkutut, aku cincang terus di goreng!" ucap Ella kesal karena dia jadi tidak konsen menyantap makanannya.
"Gimana motongnya Ell? kan itu alot," tanya Dalina.
__ADS_1
"Kok alot? bukanya keras ya."tanya balik Ella.
" Masa keras mulu si Ell kayak kehidupan aja, ya alot dong kalo dia lagi mati,"ujar Dalina.
"Kalo mati gak bisa bangun lagi dong, harusnya kalo dia lagi tidur alotnya, kalo bangun keras kayak sifatnya abang," koreksi Ella.
"Ah, iya juga ya." Dalina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aha, aku ingat!" seru Ella.
"Apa?"
"Belalai, of. Tongkat bisbol, on." Ella berucap dengan berbinar.
"Ck, tadi dia bilang diem. Mau makan apa ngerumpi? eh sekarang dia yang ngerumpi Ray, mana sobat kita lagi yang mereka gibahin." Satria melirik kearah Ray.
"Cewek memang begitu, ingin menang sendiri. Dia yang ngelarang, eh dia yang ngelakuin juga," ujar Ray.
Jangan lupa, like, comen and vote yaππππ
Hay mampir yuk kesini, ceritanya asik, menarik dan tidak membosankan. pokonya patut di coba, kalo engga kalian bakal nyesel karna telah melewatkan cerita sebagua iniπ
Bulrb _kesandung cinta anak bau kencur_
Steve pemuda ganteng yang telah dua kali di sakiti karena pengkhianatan. Dia lalu menjauh dari lawan jenis.
Namun siapa sangka dia malah tertarik pada gadis kecil adik temannya.
Gadis kecil yang sulit dia dapat karena mengira Steve beda keyakinan, sebab sejak ibunya meninggal memang steve ikut omanya.
Saat mereka mulai dekat, ada saja batu sandungan dari pemuja Steve
Mampukah Steve memiliki cinta anak bau kencur itu?
Mampukah si kecil bertahan terhadap badai kiriman pemuja Steve?
__ADS_1