Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Malam ke epat


__ADS_3

Usai mengeksekusi Rafly, Ella segera bergegas pulang karena dadanya terasa berdenyut. Dia sudah tidak tahan untuk memberikan asinya kepada twins, sepertinya asi nya sudah meluber, terlihat dari baju di bagian dadanya yang merembes dan gunungnya yang mengeras. Sungguh rasanya sakit sekali, Ella melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah.


Waktu menunjukan pukul 18:30, Ella baru saja sampai di rumah. Banyak sekali berbagai pertanyaan yang terlontar dari mulut mertua dan juga suaminya. Mereka begitu cemas akan dirinya yang tak kunjung pulang padahal hari sudah gelap. Ella beralasan dia ada kepentingan dengan temannya, untunglah dia sudah mandi dan juga berganti pakaian sebelum dia pulang, kalau tidak, mereka bisa curiga.


"Ya sudah, kamu makan dulu sana. Pasti kamu belum makan," titah Wina.


"Entar deh, Mih. Aku mau nyusuin twins dulu, dada aku sakit banget gak kuat," ujar Ella.


"Tapi nanti makan ya, setelah nyusuin twins."


"Ok, Mam."


Ella berjalan ke kamar twins, mereka nampaknya sudah tertidur pulas. "Kak Ray... Mereka tidur, gimana ini?" Ella menunjuk dadanya yang terlihat semakin basah.


"Di pompa aja, ya. Masukin ke botol. Lagian mereka udah nen, pasti kenyang," ujar Ray yang berada di belakang Ella.


"Iya, deh."


"Pompanya, di kamar kita, ya. Nanti kakak bantuin," ucap Ray.


"Iya." Ella mengangguk, kemudian dia berjalan ke kamarnya dengan diikuti Ray.


Sesampainya di kamar, Ray langsung membantu Ella melepas bajunya, tak hanya baju. Kacamata Ella pun turut serta di lepasnya. Ella membiarkan saja apa yang di lakukan oleh sang suami, dia sudah tidak tahan lagi, rasanya dadanya seperti akan meledak.


"Jumbo banget, Sayang." Ray menatap lapar gunung jumbo nan keras itu.


"Kan banyak air asi nya, cepet pompa, ini sakit banget," pinta Ella.


Dengan sigap Ray mengeluarkan asi dari kedua dada Ella mengenakan pompa asi. "Botolnya penuh, Sayang." Ray menatap jejeran botol yang telah penuh terisi.


"Terus gimana dong? Ini masih sakit."


Ah!


Ella kaget bercampur nikmat dengan gelayar di tubuhnya saat Ray meraup puncak gunungnya dengan mulut. Dosen itu menyusu dengan rakus di sebelah gunung Ella, sebelah lagi dia remasan dengan tangan.


Glek! Glek! Glek!


Ray terdengar meneguk asi itu seperti bayi kehausan. "Kak Ray... Itu jijik, ih..." Ella menjambak rambut Ray.


"Ini nikmat, Sayang. Gurih dan ada manis-manisnya." Ray tersenyum sumringah.


"Tapi ini bukan le mineral, meskipun ada manis-manisnya tapi jorok.. Ih..."


"Kenapa jorok? Kakak suka semua yang ada di kamu." Kembali meraup gunung yang tadi dia remass dengan tangan.


"Ouhh! Uhh, kak. Udah, stop!" Ella menjambak kuat rambut Ray.


"Kenapa? Kan biar gak sakit lagi." Mendongak menatap Ella yang matanya sudah berkabut.


"Kamu sengaja mancing aku ya?" Kesal Ella.


"Mancing apa, Sayang? Kakak kan gak bawa pancingan, lagian ini bukan di kolam ikan." Ray membalikan omongan Ella dulu.


"Au, ah. Sebel." Ella mengerucutkan bibirnya.


"Ngambekan ternyata Sayangnya kakak." Ray membaringkan Ella di ranjang dan terjadilah.


***********


Tepat pukul tujuh, Kiana keluar dari rumah. Dia sudah izin pada sang ibu, dia bilang ingin pergi jalan bersama teman. Ibunya mengizinkan asal jangan pulang terlalu larut. Untung saja Riki tidak ada, jadi dia tidak perlu berdebat dahulu sebelum pergi.


"Maaf ya, lama." Kiana masuk kedalam mobil Rendi dan duduk di sampingnya.


"Gak, kok. Aku juga baru nyampe," ujar Rendi lembut.


Eh, apa tadi? Aku, dia nyebut dirinya aku? Biasanya kan gue. Boleh nggak sih dia geer kalau Rendi sengaja merubah panggilan jadi lembut karena Rendi menyukainya. Pikir Kiana tersenyum sendiri.


"Ciee, kenapa nih senyum-senyum sendiri?" goda Rendi yang sudah melajukan mobilnya.


"Eng-gak kok, siapa yang senyum-senyum sendiri." Kiana salah tingkah.


"Hm, ngeles lagi."


"Em, sebenarnya kita mau kemana?" Kiana mengalihkan pembicaraan.


"Ada deh, pokonya ke suatu tempat yang pasti kamu suka." Rendi tersenyum misterius.


"Bikin aku penasaran." Kiana mengerucutkan bibirnya.


"Kalo gak lagi nyetir, aku comot tu bibir." Rendi melirik Kiana sekilas.


"Kayak apaan aja di comot," ketus Kiana.


"Terus maunya di apain dong?" goda Rendi sembari menaik turunkan alisnya.


"Apasih? Gak jelas." Kiana terlihat malu-malu.


"Ok, nanti aku jelasin ya." Tersenyum menyeringai.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di sebuah restoran. Rendi membawa Kiana ke tempat yang sudah dia pesan sebelumnya.


"Wau, indah banget!" Seru Kiana kagum.


Di sana terlihat satu meja dengan dua kursi di tengah-tengah taman bunga. Taman itu di terangi dengan lampu warna-warni yang semakin menambah ke indahan taman itu.


"Duduk." Rendi menarikan kursi untuk di duduki Kiana.


"Makasih." Kiana duduk.


Tak lama datanglah para pelayan dengan membawa berbagai hidangan. "Ini semua untuk kita?" Kiana menatap hamparan makanan itu.


"Ya, ini untuk kita." Tersenyum dengan begitu manis.


"Ini banyak banget, apa bakalan abis?"


"Kan biar banyak pilihan."


"Terus kenapa kita duduknya pisah dari yang lain?"


"Karena aku sengaja memesan tempat yang spesial untuk diner kita yang pertama kalinya."

__ADS_1


Kiana nampak tersipu, rasanya ada gelayar di hatinya saat Rendi menyebut kata diner kita. Untuk gadis yang belum pernah berpacaran sama sekali, tentu saja hal seperti ini sangatlah istimewa.


"Ayok makan, atau mau aku suapi?"


Bluss! Pipi Kiana memerah, mengapa sikap Rendi menjadi manis seperti ini? Sungguh Kiana di buat meleleh olehnya.


"Kamu sakit?" Rendi memegang kedua pipi Kiana.


"Enggak kok." Kiana memalingkan wajah.


"Kenapa pipinya merah?" Sebenarnya Rendi tau Kiana salting tetapi dia sangat senang menggoda gadis itu.


"Eng-gak, ayok makan aku laper." Seperti biasa mengalihkan pembicaraan.


"Ya ampun, kamu laper. Ya udah ayok makan, kesianan kamu yang manis ini kelaparan." Mereka pun makan dengan di selingi canda tawa, supaya mencairkan suasana canggung.


Sementara itu, di belahan bumi lainnya. Dimana pasutri baru sedang berbulan madu. Mereka seperti sedang berdebat kecil.


"Beb...." Melas Satria.


"Apa?" ketus Dalina.


"Sekarang, ya?" Bujuk Satria.


"Gak mau!" Kekeuh Dalina.


"Ayolah... Ini udah hari ketiga kita nikah, masa belum juga belah duren." Satria nampak merajuk.


"Kalo sakit gimana? Aku takut ah." Dalina nampak cemas.


"Aku pelan-pelan, kok. Ayolah...." Kembali membujuk.


Dalina mengangguk ragu, mereka berdua memang sama-sama tabu akan bercinta, karena ini adalah yang pertama kali untuk mereka, itupun belum di lakukan karena Dalina masih takut untuk melakukan itu.


Cup!


Satria mulai mendekati sang istri, lalu dia mengecup bibir merah merona istrinya. Mendiamkannya sebentar, kemudian dia menggerakan bibirnya pelan. Semakin lama ciuman yang tadinya pelan semakin luar dan menuntut.


"Eugh!" Leguh Dalina kala tangan nakal Satria memberikan remasan pelan pada puncak gunungnya yang masih terbungkus itu.


Mendengar leguhan merdu Dalina, membuat Satria semakin bergairah terbakar napsu yang sudah menggebu.


Ah!


Desah-desah kecil lolos begitu saja dari mulut Dalina kala Satria melakukan Frovlay yang sangat memabukan. Birahinya semakin meningkat pesat membakar seluruh tubuhnya sehingga terasa panas, peluh menetes di sertai leguhan yang mengalun.


"Indah banget, Beb. Ini lebih indah dari kali Ciliwung," ucap Satria sembari menatap lapar tubuh Dalina yang sudah toples.


"Apa, Yang? Kali Ciliwung? Kamu nyamain tubuh aku sama kali Ciliwung? Bener-bener." Dalina yang terlentang pun langsung bangkit.


"Eh, itu istilah Sayang. Yang jelas lebih indah tubuh kamu dong, Beb." Kembali merebahkan Dalina dan mencumbuinya dengan rakus.


Dari mulai bibir, turun ke leher memberikan banyak tanda kepemilikan di sana. Leguhan Dalina bak penyemangat bagi Satria, dia semakin gencar menjamahh setiap inci tubuh Dalina tanpa terlewatkan. Lidah dan juga bibirnya menyelusuri tubuh molek itu dan bermain di puncak gunung yang sudah mengeras. Mengigitnya kecil, menjilat dan juga menghisapnya bak seorang bayi.


"Yang!" Pekik Dalina saat Satria menurunkan boxer yang dia pakai.


"Kenapa, Beb?" Heran Satria.


"Beb... Masa ngeri? Aturan cewek suka, nah ini malah ngeri astoge, gimana mau enak-enak kalo begini caranya." Satria terlihat frustasi.


"Bentuknya ngeri ih, kayak singkong busuk." Dalina masih menutup matanya.


"Beb... Masa kayak singkong busuk?" lirih Satria.


"Beb..." Satria membuka tangan Dalina yang menutupi wajahnya.


"Astaga! Kenapa gondrong banget kayak orang utan nggak ke urus, Yang!" teriak Dalina.


"Ya, memang gini, coba deh kamu tatap." Satria mendekatkan burungnya ke wajah Dalina.


Plak!


"Huuh, ngeri, Yang." Dalina menggeplak burung Satria yang sudah berdiri tegak menantang itu.


"Beb... Kenapa di tampol!" Pekik Satria.


"Abisnya serem, Yang. Ngeri ih." Dalina bergidig.


"Ya alah gustii. Kapan gue nyoblosnya coba kalo begini mulu?" dumel Satria.


"Cukur dulu, Yang rambutnya biar cakep," titah Dalina.


"Yang bener aja, Beb. Masa di cukur, botak dong burung aku," lirih Satria.


"Pokonya cukur! Kalo enggak, aku gak mau di masukin monster gondrong." Tegas Dalina.


"Harus di cukur, Beb?" Satria memastikan.


"Harus!" Dalina bersidekap dada.


Satria pun kembali memakai boxer dan pakaiannya lengkap. Dalina heran, kenapa harus di pake semua pakaiannya? Terus gimana caranya mencukur itu?


"Kamu mau kemana, Yang?" Dalina bertanya karena penasaran.


"Kan kamu yang nyuruh aku buat botakin ini burung. Ya, aku mau pergi ke salon lah." Satria nampak kesal karena hasratnya belum tersalurkan.


"Ke salon? Kamu pikir mau potong rambut apa pake ke salon segala?" Dalina nampak marah.


"Ya terus kemana? Masa ke tukang tambal ban? Emang burung aku bocor apa?" Delik Satria.


"Ih, sebel! Masa kamu mau memperlihatkan itu ke orang lain sih? Emang kamu gak malu apa? Ah, aku baru inget, kamu kan gak tau malu." Cebik Dalina.


"Terus aku harus gimana?" Bingung Satria.


"Ya, cukur sendiri lah!"


"Pake apa?" tanya Satria.


"Pake golok, sekalian sembelih tu burung." Kesal Dalina.


"Gak jadi malam pertama dong kalo di sembelih?"

__ADS_1


"Biarin, entar aku ganti aja sama gagang cangkul." Dalina menelungkupkan tubuhnya di ranjang.


Satria pun membuka kembali seluruh pakaiannya, kemudian dia berjalan ke kamar mandi.


"Dengan amat terpaksa lo gue botakin demi malam pertama gue, ini juga buat kebaikan lo. Masa udah tiga hari nikah nanggung mulu, baru nyampe gunung stop. Kapan turun lembah dan masuk gua nya coba? Huhh, nganten ter ngenes gue," lirih Satria sembari mencukur habis rambut tebal burungnya.


Beberapa saat kemudian, burung Satria sudah bersih, bahkan mulus tanpa bulu seperti burung bocah. Dia pun kembali masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan acaranya yang tertunda.


"Beb..." Panggil Satria.


"Hm." Dalina masih telungkup.


"Madep sini dong."


Dalina pun menurut, dia langsung berbalik dan atensinya langsung tertuju pada burung Satria yang sudah polos pelontos.


"Wihh, lucu, Yang. Kayak kepala tuyul." Puji Dalina yang langsung menghampiri Satria.


"Kepala tuyul? Gak ada yang bagusan dikit napa," gumam Satria.


"Tapi, kalo di liat-liat ini mirip lolipop gopean yang ada di warung. Bentuknya sama." Dalina mendekatkan mulutnya pada burung Satria.


Ah!


"Tapi kok nggak manis," ucapnya setelah menjilat ujung burung Satria.


"Ya, iyalah. Emangnya ini lolipop."


"Aha! Aku ada ide!" Seru Dalina.


"A-pa?" Satria agak cemas.


"Aku mau jadiin ini, lolipop!" ujarnya.


"Hah," Beo Satria.


"Bentar." Dalina berjalan ke arah nakas.


"Tara!" Serunya sembari menenteng dua kaleng susu.


"Itu untuk apa, Beb?"


"Ini untuk itu." Menunjuk burung Satria.


"Eh, mau di apain?" Satria memegang tangan Dalina yang hendak menuangkan susu ke burungnya.


"Diem deh." Menepis kasar tangan itu.


Kemudian Dalina menuangkan susu putih ke burung Satria yang masih berdiri tegak menantang, Satria hanya pasrah tanpa melawan. Lalu Dalina menuangkan kembali susu coklat dalam jumlah yang cukup banyak.


"Tinggal masukin kulkas, jadi piscok dah," lirih Satria menatap nanar burungnya.


"Oh! Ah! Beb...." Satria yang tadinya menggerutu kini berubah meleguh kenikmatan.


Ya, Dalina menjilat dan juga mengemutt piscok buatannya dengan begitu rakus. Dia menjilati coklat yang melumer ke bawah.


"Kok jadi asin? Perasaan aku gak naburin garam?" bingung Dalina saat rasa susu itu menjadi agak asin.


"Lagi.. Beb.." Satria sudah berkabut gairah.


"Tambahin seres, ya?" Pintar Dalina.


"Jangan... Nanti burungku berlubang di gigitin semut," Cegah Satria.


"Pake abon aja kalo gitu."


"Buntung dong di gigit tikus."


Satria merebahkan Dalina di ranjang, kemudian dia mulai menyerang Dalina kembali. Dia tidak akan membiarkan Dalina lolos kali ini. Mencumbuinya dengan rakus, menjamahh setiap inci tubuhnya sehingga membuat Dalina menggila karena permainan Satria.


"Eughh..." Dalina menggelinjang kenikmatan kala lidah Satria mulai menyusuri dinding guanya.


Rasa geli dan nikmat bercampur menjadi satu. Setelah dirasa Dalina teransang dengan gairah yang sangat memuncak. Satria pun mulai memposisikan tubuhnya bersiap untuk menerobos gua.


"Tunggu, Yang!" pekik Dalina.


"Apa lagi?" Satria sudah tidak bisa menahan hasratnya.


"Itunya kempesin dulu kegedean, kalo nggak muat gimana?"


"Ini bukan balon yang bisa di kempesin."


Satria tetap melanjutkan pembobolannya, perlahan dia menekan kepala burungnya dengan lembut supaya bisa menerobos gua.


"Akhh! Sakit!" jerit Dalina.


"Maaf, Beb... Dikit lagi masuk, sabar ya."


Cup!


Satria mengecup kening Dalina, kemudian dia kembali mendorong burungnya, kali ini dia mendorong dengan agak kuat supaya bisa membobol gawang..


"Akhhhh!" Dalina memekik kala burung Satria berhasi menerobos gawang gua miliknya.


"Golll." teriak Satria banga.


Cup!


Dia membungkam mulut Dalina, dia mencumbu Dalina dengan lembut sebelum dia bergerak supaya Dalina rileks.


"Sakitnya sebentar, Beb. Nanti akan tergantikan kenikmatan." bisik Satria tepat di telinga Dalina.


Satria mulai menggerakan pinggulnya dengan perlahan yang semakin lama semakin cepat. Dalina yang awalnya meringis kini meleguh kenikmatan. Dia merasakan rasa yang tidak pernah di rasakan ya selama ini. Satria terus menghujami gua miliknya dengan tangan yang memberi remasan di kedua gunungnya. Tentu saja hal itu membuat Dalina semakin menggila.


"Ahhkkk! Beb.... Eughhh!" Satria mengerang saat di rasa dirinya akan mencapai puncak.


"Eughhhhh. Ahhh, ohhh!" Dalina pun begitu.


Akhhhhhh!


Akhirnya mereka berdua meleguh panjang secara bersamaan, jadilah malam pertama mereka terlaksana di hari ketiga dan malam ke empat pernikahan mereka.

__ADS_1


Jejak😘😘😗😗


__ADS_2