Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Setan bangsat


__ADS_3

"Bagaimana Gil? Apa markas BW udah ketemu?" tanya Ella, saat ini dia bersama Ray sedang berada di markas AOD.


"Done, markas BW berada di hutan bagian barat di bawah kaki gunung. Jalan menuju kesana sangatlah berbahaya, banyak sekali ranjau dan juga jebakan. Belum lagi binatang buas yang siap menerkam kita kapan saja," tutur Ragil.


"Kenapa jauh sekali?" Ella menyangga dagu dengan satu kaki yang bertumpu di atas lututnya.


"Mereka memilih markas yang sangat jauh supaya tidak terjangkau oleh gangster lainnya, karena mereka adalah kelompok gangster baru yang belum ahli dan juga menguasai strategi dalam bertarung. Namun mereka cukup piawai dalam membuat racun dan juga senjata," jelas Ragil.


"Berarti kita harus mempersiapkan penawar racun dalam jumlah yang cukup banyak, kemungkinan besar salah satu dari kita akan ada yang terkena ranjau racun itu. Apa lagi kita tidak tau mereka memasang jebakan apa? Kita harus ekstra hati-hati, jangan sampai kita terjebak," ujar Ella.


"Kita juga harus membawa pasukan yang cukup banyak, supaya mempermudah kita untuk mengalahkan mereka. Jangan lupakan tim medis, kita perlu mereka untuk berjaga-jaga, takutnya salah satu dari kita ada yang terluka," tambah Ray.


"Persiapan senjata juga harus memadai, kita benar-benar harus mempersiapkan semua ini dengan matang. Bukan hanya manusia yang akan kita hadapi, tetapi juga hewan buas, bahkan beracun. Mungkin juga tersesat, karena kita tidak tau seluk beluk daerah itu." Ragil terlihat masih fokus dengan laptopnya.


"Ok, kita berangkat kapan?" tanya Ella.


"Besok pagi, supaya kita sampai di sana malam hari dan langsung melakukan penyerangan," ujar Ragil.


"Kalo gitu kita pulang dulu, gue harus nyusuin twins dan juga menyetok asi untuk mereka. Supaya pas gue pergi mereka gak kekurangan asi," Pamit Ella.


"Kalian hati-hati, kita kumpul disini besok pagi," ucap Ragil.


"Jangan lupa persiapkan semuanya, jangan sampai ada yang terlewat." Ray berjalan keluar dengan merangkul Ella.


***********


Malam semakin larut, mereka baru saja sampai di rumah. Ella menggeliat karena dia tertidur saking lelahnya. Ray mengusap lembut kepala istrinya kemudian dia mengecupnya lembut.


"Capek, hm?"


"Sedikit." Ella tersenyum tipis, kemudian dia turun dari mobil dengan di ikuti oleh Ray.


Sesampainya di dalam rumah, mereka melihat rumah tampak sepi. Mungkin penghuni rumah sudah tertidur semua. "Darimana kalian? Kenapa jam segini baru pulang?" Tiba-tiba ada suara berasal dari arah ruang keluarga.


"Abang? Ngapain Abang di sini?" tanya Ella kemudian dia menghampiri Satria.


"Gue kangen sama lo, Dek," ujar Satria.


"Abang waras, kan? Apa abang ke jedot?" Ella menempelkan tangannya di kening Satria.


"Gue sehat walafiat, tapi gak tau kenapa? Gue ke inget mulu sama lo, Dek. Gue gak bisa tidur. Makannya gue samperin kesini, takutnya terjadi apa-apa sama lo," tutur Satria.


"Aku baik-baik aja kok, Bang." Ella mendudukan bokongnya di sofa.


"Tapi muka lo berkata tidak! Lo lagi ada masalah ya, Dek?" Satria duduk di sebelah sang adik.


"Sedikit," jawab Ella.

__ADS_1


"Apa? Cerita sama Abang."


"Hanya masalah kecil."


"Gak yakin gue. Gue itu Abang lo, Dek. Gue kenal elo bukan sehari dua hari, tapi dari orok. Gue tau dan gue bisa baca dari raut muka lo. Kalo yang lagi elo hadapin bukan masalah kecil pan? Karena kalo masalah kecil gak akan bikin lo bingung," tebak Satria.


"Ya, Abang benar."


Ella pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dari mulai masalah Zela, hingga Alvin teman kampusnya yang membantu misi nya. Dia juga menceritakan penculikan Alvin sampai rencananya besok. Setelah Satria mendengarkan penjelasan sang adik, dia memutuskan untuk ikut serta dalam penyelamatan Alvin. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada sang adik tercinta.


"Abang kan mau nikah, gak baik calon penganten bepergian jauh." Ella berusaha membujuk Satria supaya tidak ikut.


"Iya, Sat. Lo kawin seminggu lagi, kalo burung lu di makan burung gimana? Pan berabe," tambah Ray.


"Bodo amat, lagian masa iya burung makan burung. Sesama spesies tidak boleh saling menerkam." Satria pantang menyerah.


"Kalo burung Abang di makan Srigala gimana?" Ella menakuti.


"Sebelum tu Sri makan burung gue, dia udah pingsan duluan. Dah lah gak usah nakutin gue, pokonya gue mau ikut titik gak pake koma apalagi sepasi," ucap Satria yang membuat Ella seketika teringat masalalu.


"Kayak kenal deh kata-kata itu." Ella seperti berpikir.


"Entu kalimat andalan lo dulu waktu masih berlagak oon alias beggo." Satria menarik kepala Ella kemudian dia menghimpit kepala Ella di sela ketiaknya.


"Ih, Abang bau!" Pekik Ella.


"Ok, ok. Tapi jangan salahin aku kalo pulang nanti burung Abang berubah jadi kelomang," putus Ella karena Satria tidak bisa di cegah ketika sudah mempunyai kemauan.


"Yodah cepet tidur sono, terus besok berangkat jam berapa?" Satria melepaskan Ella.


"Ini juga mau tidur, tapi karena aku pulangnya tengah malam. Jadinya di gangguin seten deh." Ella melangkah pergi menuju kamarnya.


"Jadi maksud kamu, Abang setan gitu?!" teriak Satria.


"Baguslah kalo nyadar. Besok pagi jangan lupa harus udah siap, kalo gak aku tinggal." Ella masuk kedalam kamar dengan di ikuti oleh Ray.


"Selamat tidur setan bangsat." Brak! Ray menutup pintu kamar dengan kencang.


"Sialann, dasar pasutri gak ada ahlak!" umpat Satria.


Setelah masuk kedalam kamar mereka langsung tidur karena terlalu lelah, sebelumnya mereka membersihkan diri dulu dan juga berganti baju sebelum akhirnya menuju ke alam mimpi.


Esoknya Ella terbangun dengan begitu pagi, dia langsung menuju ke kamar twins. Dia terlihat memandangi kedua bayi nya, belakangan ini dia terlalu sibuk dan gak punya waktu untuk twins tapi next dia berjanji, dia akan selalu punya waktu untuk twins, dia tidak mau kedua anaknya kehilangan kasih sayang orang tua.


"Ternyata kamu di sini." Ray memeluk Ella dari belakang.


"Lihat deh, mereka lucu banget ya." Ella masih memandangi wajah twins.

__ADS_1


"Tampan dan cantik, semoga kelak kalian akan menjadi seseorang yang berguna dan juga membanggakan." Ray berjongkok untuk menatap lekat kedua anaknya.


"Pipop sayang kalian." Ray mengusap lembut pipi kedua anaknya secara bergantian.


"Oak, oak." Zura menggeliat kemudian menangis.


"Putri cantik Pipop bangun ya." Ray langsung mengangkat Zura dari dalam box.


"Dia haus kak Ray, sini aku kasih nen dulu." Ella mengambil Zura dari dalam gendongan Ray.


"Baru juga gendong bentar," dumel Ray.


"Dia kan haus, emang kak Ray mau ngasih nen? Dari mana? Emang punya sumber asi?" delik Ella.


"Ini." Ray menunjuk dua tombol kecil yang ada di dadanya.


"Apaan itu mah, cuma pajangan doang. Berguna kagak!"


"Yang...."


"Diem, tuh Zam bangun gendong sana," titah Ella.


"Eh, Sayangnya Pipop udah bangun. Sini Pipop gendong, tu tu tu." Ray mengangkat Zam yang baru saja terbangun dari dalam box.


"Twins udah pada bangun ya? Kok kamu gak bangunin Mamah si, Ell." Wina yang tidur menggelar kasur di bawah box twins pun terbangun.


"Kesian, Mama pasti capek jagain twins seharian full."


"Gak kok, Mamah seneng malahan." Wina berlalu masuk kedalam kamar mandi.


"Apa Zam, masih ngantuk, hm? Bobo lagi, Pipop ayun-ayun ya." Ray tampak asik mengajak Zam berbicara.


"Apaan ayun-ayun? Timang-timang kali," koreksi Ella.


"Sini Zura sama, Mamah. Kamu susuin Zam sana." Wina mengambil Zura dari gendingan Ella dan Ella mengambil Zam dari gendongan Ray.


"Baru juga gendong bentar, udah di ambil lagi," gerutu Ray.


"Yodah, kalo gak mau di ambil nih kasih nen," pelotot Ella.


"Ini KW, gak ada isinya." Ray memegang dadanya sendiri.


Lupa jangan jejak yaπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜—


Ada rekomendasi novel bagus lagi nih sembari nungguin Ella up, ini gak kalah seru dan juga gak kalah menarik. Sok atuh mangga kepoin😍


__ADS_1


__ADS_2