
"Kangen banget sama tempat ini," ucap Ella setelah mereka sampai di markas AOD.
Memang setelah mereka pulang dari mall, Ella memutuskan untuk singgah di markas terlebih dahulu dan Dela ingin ikut serta. "Bagaimana kabar kalian?" tanya Ella pada jejeran anggota AOD yang sedang berjaga.
"Baik, Quin," jawab mereka serempak.
Setelah menyapa para anggotanya, Ella pun langsung saja masuk kedalam markas dengan diikuti oleh Dela. Didalam markas dia melihat David yang tengah tertidur pulas dan Ragil sedang fokus dengan laptop, entah apa yang sedang Ragil kerjakan.
"Serius amat, lagi ngerjain apa nih?" Ella langsung mendudukan tubuhnya disamping Ragil.
"Eh, kamu Ell. Kapan datang?" Ragil langsung mendongkak begitu mendengar suara Ella.
"Barusan, kamu lagi ngerjain apa sih, Gil?" tanya Ella lagi.
"Oh, ini. Gue lagi bikin desain senjata baru untuk para anggota AOD," ujar Ragil.
"Mana, sini liat." Ragil pun menunjukannya.
"Bagus, kamu memang pandai dalam membuat desain sederhana tapi elegan," puji Ella.
"Jangan muji gitu, nanti hidung gue terbang," kelakar Ragil.
"Tenang aja, hidung kamu gak bakalan terbang karna sayapnya belom kering,"
Ragil tidak hanya memperlihatkan desain senjata, tetapi dia juga memperlihatkan berbagai desain kalung gelang dah juga seragam yang akan di kenakan anggota AOD nanti, tak lupa dia juga membuat jubah kebesaran Quin and King AOD yang baru. Ella begitu menyukai seluruh desain buatan Ragil. Pantas saja Ray masih mempertahannya sampai saat ini, ternyata selain jago dalam bela diri dan juga cerdik dalam mengatur strategi Ragil juga sangatlah ahli dalam desain dan juga IT.
"Nih bocah masih aja molor, woy bangun!" Ella menatap David yang masih berkelana di alam mimpi.
"Kebo dia, susah di banguninnya," ujar Ragil.
"Aku ada ide." Ella terlihat menyeringai.
"Apa?" tanya Dela penasaran.
Tanpa menjawab pertanyaan Dela, Ella langsung saja bangkit lalu berjalan kearah dapur. Beberapa saat kemudian Ella telah kembali dengan membawa satu ember air. "Eh, jangan dulu di siram deh. Mendingan di make up dulu." Ella mengeluarkan lipstik, Eyeliner dan juga eyeshadow.
"Lu mau ngapain si, Ell?" bingung Ragil.
__ADS_1
"Mau nyoba ngerias orang, penasaran, bagus gak sih riasan aku?" ujar Ella yang tengah bersiap untuk memoles wajah David.
Tangan yang masih nampak berisi itu, kini tengah merias wajah David. Dari mulai memakaikan lipstik tak beraturan hingga eyeliner yang dia poleskan dimata dengan membentuk bulat melingkati mata. Jangan lupakan eyeshadow yang menempel begitu tebal di wajah David yang mana membuat wajah itu semakin tak karuan.
"Beres, sekarang tinggal mandi." Ella meraih ember yang dibawanya tadi dan...
Byurrr!
"Banjir! anjrit banjir oncom!" teriak David yang langsung terbangun.
"Ayok cepet lari, nanti tenggelam!" teriaknya lagi sembari meraih paper bag yang ada di meja.
"Woy! gak ada banjir. Ya, kali banjir di panas terik!" teriak Ella saat melihat David hendak sampai di ambang pintu.
"Jadi gak ada banjir?" David berbalik dengan wajah cengo nya.
"Gak ada, sini balik," ucap Ella.
David pun berjalan kembali kearah mereka dengan kondisi basah kuyup dan juga wajah hancurnya. Bayangkan saja riasan acakadul tersiram air akan seperti apa jadinya?
Brukk!
"Astaga kaca mata kuda!" pekik Ragil saat menatap kearah isian paper bag yang berserakan, kebetulan yang pertama kali di lihatnya adalah kaca mata berwarna merah.
"Segitiga bermerah?!" David menatap segitiga yang berwarna senada dengan kacamata.
"Ya ampun, Dave. Kenapa paper bag nya ada di kamu, sih?" cecar Ella dengan wajah memerah semerah isi paper bag itu.
"Ini punya lo, Ell? Sorry gue gak nyadar kalo itu paper bag. Gue kira itu peti harta karun yang ada di mimpi gue," cengir David.
"Minggir!" kesal Ella sembari menyenggol David lalu dia memasukan kembali benda-benda itu kedalam paper bag.
"Ell, ngapain lo beli kelambu? Emangnya dirumah si Ray banyak nyamuk?" tanya David sembari mengambil sebuah lingerie putih transparan dari tangan Ella.
"Ini bukan kelambu, Dave!" Ella langsung merebut kembali lingerie itu.
"Terus apa dong? saringan kelapa?" Sepertinya David masih penasaran.
__ADS_1
"Ini namanya lingerie, dan elo gak boleh tanya lagi ini apa dan apa kegunaannya? Lebih baik sekarang lo ngaca," ucap Ella jengah.
"Kenapa kudu ngaca? gue udah tau kok, kalo muka gue tampan," pede David.
"Tampan kok jomblo, gak laku ya? Iyakan. Dah ah gue mau ke ruang bawah tanah dulu buat ngeliat di Rafia." Ella hendak melangkah, tapi sebelumnya dia meraih sebuah cermin dahulu lalu dia arahkan ke David supaya dia mengaca.
"Astaghfirullah! ini demit darimana, Ell? jelek amat."David belum sadar jika itu dirinya.
"Bagus Dave, disaat orang lain muji dirinya sendiri lo malah ngehina. Hahaha," ujar Ragil sembari tertawa..
"Bentar-bentar, gue masih belum konek ini. Apa jangan-jangan?" David kembali menatap wajahnya di cermin.
"Oh Tuhan! ini beneran gue? sumpah jelek amat ni muka, lu apain muka gue, Ell?" lanjutnya memekik.
"Cuma di rias kok, supaya cakep. Dah ah, aku mau kebawah dulu. Bay," ucap Ella sembari melangkah pergi, sementara Dela, dia tidak mau ikut dan memilih menunggu di ruang santai saja.
"Kalo begini bukannya cakep, tapi ancur muka gue," gerutu David kesal.
"Wes, santei bro. Jangan ngedumel mulu, bukankah cinta yang tulus itu, selain merelakan jug harus berkorban," ucap Ragil, kemudian dia melangkah pergi untuk menyusul sang Quin.
Di ruang bawah tanah, terlihat Ella sedang berjalan kearah Rafly dengan tatapan yang sulit di artikan. Yang pasti sorot mata Ella memancarkan aura yang tidak biasa, Ella berjalan dengan begitu berwibawa dan juga wajah yang serius.
"Aku sudah siap menerima tantanganmu," ucap Ella saat dirinya sudah berada di dekat Rafly.
"Aku pikir kamu sudah mati." Rafly mentap Ella masih dengan tatapan yang sama, yaitu tatapan kebencian.
"Aku tidak akan mati semudah itu, sebelum aku membunuh mu!" ucap Ella dengan seringai tajamnya.
"Bocah tengik seperti mu ingin membunuhku? mimpi. Itu semua tidak akan pernah terjadi, karena aku lah yang terlebih dahulu akan membunuh mu." Rafly berucap dengan pancaran dendam membara.
"kita lihat saja nanti." Ella tersenyum tipis, tetapi senyuman itu mengandung banyak arti dan juga petaka bagi lawan bicaranya.
"Lepaskan aku! bukankah kamu sudah menyanggupi nya untuk duel? Tapi kenapa kamu masih mengurungku, hah?!" murka Rafly.
"Apa kamu takut kalah denganku?" lanjutnya dengan wajah mengejek.
"Takut padamu? itu tdak mungkin! tunggu saja hariitu tiba, dimana nyawa kamu akan terlepas dari badan!"
__ADS_1
Jejak😘