Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Tidur di alam baka


__ADS_3

"Pantes aja burung lo kena tembak, nggak pake sangkar rupanya," celetuk Ray.


"Apanya yang nggak pake sangkar, Ray?" David datang menghampiri di ikuti oleh Ragil.


"Tuh." Ray menunjuk Langit yang sedang memegangi burung keriput nya.


"Astaga! Lo apain tu burung Ray? Bentuknya udah kayak terong panggang di oles selai strawberry," pekik David.


"Terong ke gedean, itu kecil kayak burung pipit," timpal Ragil.


"Iya ya, kok bisa kecil gitu?" sahut Ray.


"Mungkin kurang gini," ucap David.


"Atau cacingan? Makannya kecil gitu." Ragil ikut-ikutan berkata absurd.


"Kayaknya telat tumbuh, jadi mati sebelum berkembang," ujar Ray.


"Akhhhh! Sialaamn kalian semua!" teriak Langit menggema.


"Suruh siapa berani bermai-main sama gue hah?" Ray mendekati Langit kemudian berjongkok di hadapannya.


"Liat aja, gue bakal bales semua perbuatan lo. Akhh!" murka Langit.


"Silahkan, kalau elo masih bisa selamat karena apa? Karena gue nggak akan ngelepasin orang yang telah mengganggu ke tentraman hidup gue bebas begitu aja," ucap Ray dengan aura dingin dan juga menakutkan membuat Langit merinding seketika.


"Karena elo nggak bisa bunuh gue, jadi, gue yang akan ngebunuh elo!" Ray mencengkram kuat dagu Langit kemudian menghempaskannya dengan kasar.


Dorrr!

__ADS_1


Akhhhhh!


"Ini baru tepat sasaran." Ray menyeringai kala dirinya berhasil menembak telur burung.


"Gila! Pecah nggak tuh Ray," pekik Ragil.


"Kayaknya pecah, tapi nggak pa-pa. Nanti di bikin telor dadar buat jadi santapan kucing markas," sahut Ray.


Yang di maksud kucing markas itu adalah harimau yang memang di pelihara di markas.


Teriakan Langit semakin menjadi, ingin bangkit dan menyerang Ray namun tubuhnya tidak kuat lagi untuk bangkit. Rasa sakit tak dapat ia tahan. Hanya teriakan dan erangan yang menggema memenuhi gendang telinga orang yang berada di sana. Langit mulai berpikir jika ia salah memilih lawan. Dia yang merasa percaya diri karena yakin akan menang melawan Ray. Dia percaya diri karena dia adalah ketua gangster no 10 terkuat di New York. Dia tidak tahu saja jika gangster yang di pimpin Ray menduduki peringkat no 1 terkuat di kota ini.


"Di atas langit masih ada langit, jangan sombong dengan apa yang kamu punya." Ray menepuk bahu Langit sebelum akhirnya dia menusuk jantung Langit dengan belati milik Langit sendiri.


"Ka-u." Langit terbatas sebelum akhirnya dia memejamkan mata dan menghembuskan napas terakhirnya.


"Mati dia Ray?" tanya David.


"Tidur di alam baka ya?" David terkekeh.


"Hem."


Blasss!


Ray menebas kepala Langit dengan katana yang ia ambil dari balik punggungnya.


"Main bola yuk," ajak Ray sembari menendang kepala Langit.


"Ogah! Tu matanya melotot Ray." David menunjuk bola mata Langit.

__ADS_1


"Perasaan tadi udah merem dah. Kok kebuka lagi? Belum ngantuk ya lo?" Ray menatap kepala Langit.


"Bisa gila kita ngomong sama kepala buntung. Mending balik yok, suruh anak buah kita beresin ini dan kasih ni jasat si Langit mendung ke kucing markas atau nggak ke ikan piranha," ucap Ragil.


"Ok, ayok balik. Gue juga mesti ke rumah sakit lagi," sahut Ray.


"Bereskan semua ini. Jangan sampai ada jejak yang tertinggal." Ray menatap para anggotanya yang sedang berjejer rapih.


"Siap laksanakan, King!" seru mereka serempak.


"Bagus!" Ray mengacungkan jempolnya kemudian berlalu pergi di ikuti oleh David dan juga Ragil.


Ray tidak langsung ke rumah sakit, dia pergi kr markas dahulu untuk membersihkan diri dan juga berganti pakaian. Setelah itu barulah dia pergi ke rumah sakit. David dan Ragil turut serta ikut karena mereka ingin menjenguk Ella. Di perjalanan Ray nampak sibuk berkutat dengan laptopnya, entah apa yang pria itu kerjakan. Dia duduk di kursi belakang sedangkan Ragil dan David di kursi depan dengan Ragil yang mengemudi.


"Ray, apa keluarga Gautama nggak akan curiga saat tau anak pertamanya ngilang," ucap David membuka obrolan.


"Nggak akan dan mereka juga tidak akan peduli," jawab Ray.


"Maksud lo? Bagaimana bisa nggak peduli? Si Langit kan anak pertama keluarga itu, apa lagi anak keduanya si Sesil udah mati. Jadi otomatis cuma si Langit yang mereka punya saat ini," heran David.


"Lo nyari tau informasi kurang lengkap. Nggak ada bakat lo jadi detektif," ujar Ray.


"Siapa juga yang mau jadi detektif, yang mau jadi detektif mah noh, si botak dua," celetuk Ragil.


"Nggak botak dua-duanya, yang satu punya rambut secuil."


"Itu bukan rambut, tapi antena," sahut Ragil yang sedari tadi menyimak.


Ada lagi nih rekomendasi cerita yang menarik, cuss lah kepoin di jamin suka dan bikin nagih😍

__ADS_1




__ADS_2