Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Di terima


__ADS_3

"Cobain deh." Dalina menyedorkan cilok kedepan mulut Satria.


"Enak gak, nih?" tanya Satria.


"Coba, dulu."


Satria pun langsung melahapnya, dia mengecap rasa baru pada lidahnya. Ternyata Satria nampak suka dengan rasa cilok itu, terbukti dari tangannya yang langsung merebut cilok yang di pegang oleh Dalina.


"Enak, kan?" ucap Dalina.


"Banget, Beb." Satria memakan cilok itu dengan rakus.


"Pelan-pelan makannya,"


Setelah cilok yang dimakannya habis tak tersisa, Satria pun pergi mencuci tangan dan juga mengambil minum. Kemudian dia melangkah kembali menghampiri Dalina, dia menatap lekat wanita yang telah mengisi hatinya dan juga hari-harinya. Dia tidak menyangka jika dirinya akan jatuh cinta kembali, setelah dulu dia merasakan jatuh cinta dan patah hati yang bersamaan.


"Beb, aku mau ngomong serius." Satria berjongkok di hadapan Dalina yang tengah duduk di kursi.


"Eh, kok jongkok?"


"Beb, aku merasa umur kita sudah tidak muda lagi untuk bermain-main dalam sebuah hubungan. Aku mau kita menjalani hubungan ini dengan serius, aku mau kita melangkah ke jenjang berikutnya, yaitu pernikahan. Aku tau hubungan kita masih seumur jagung, tapi percayalah, cinta yang kupunya untukmu tulus. Aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku ingin memilikimu seutuhnya dan menjalin bahtera cinta dalam sebuah ikatan."Satria terlihat menarik napas panjang.


"Dalina Azahra, will you marry me?" Satria mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cic-cin dari saku jaketnya.


"Sat, aku gak tau harus ngomong apa? yang pasti aku begitu senang dan juga terharu dengan pernyataan kamu." Dalina terlihat berkaca-kaca.


"Tapi, Sat. Kamu tau 'kan bagaimana asal-usul ku? aku sekarang hanya seorang anak sebatang kara yang tak punya siapa-siapa. Ayah dan ibuku sudah berada di alam sana, aku juga tidak punya sanak dan saudara. Aku hanya punya ibu tiri jahat yang ingin melenyapkan ku,"ucap Dalina sedih.


"Aku tidak peduli dengan latar belakang mu, mau seperti apapun kamu, bagaimanapun kehidupan mu, aku tidak perduli. Yang aku tau, aku mencintaimu apa adanya, cintaku tulus. Aku tidak akan memandang siapa kamu? darimana asalmu? aku akan menerima semua kekurangan dan juga kelebihan mu. Jadi, kamu mau kan menikah dengan ku?"Satria menggenggam erat tangan Dalina.

__ADS_1


"Ya, aku mau." Dalina mengangguk pelan dengan mata yang masih berkaca-kaca.


"Serius?" Dalina mengangguk lagi.


"Yeee! Mih! Satria bakalan kawin, Mih!" teriak Satria girang.


"Ye, kawin, kawin, gue bakal kawin!" Satria malah berjoget sembari menyanyi dengan begitu keras sehingga orang-orang yang berada di dalam kamar twins A pada keluar kecuali Ella.


"Kenapa sih, elu teriak-teriak?" tanya Ray yang datang bersama para orang tua.


"Iya, Sat. Kamu kenapa?" tanya Rina.


"Aku bakal kawin, Mih! lamaran aku diterima," ucap Satria girang.


"Serius kamu, Sat?" tanya Rina memastikan.


"Serius, Mih. Tanya aja Dalina." Satria melirik sang kekasih yang nampak malu-malu.


"Iya, Tan." Dalina menjawab dengan pelan.


"Syukurkah, akhirnya anak sableng ini gak jomblo lagi." Rina terlihat menarik napas lega.


"Kamu ngelamar pake cin-cin kan, Sat?"tanya Rina pada Satria.


" Ya, pake dong Mih. Masa enggak, malu-malu in aja kalo cuma pake kata-kata doang mah,"ujar Satria.


"Lah, terus mana? kok jari Dalina belum ada cin-cin nya?" heran Rina.


"Ini, Mih." Satria menunjukan kotak cin-cin yang belum dibukanya dan masih dia genggam.

__ADS_1


"Astaga Satria! kalo udah ngelamar, terus diterima. Kamu pakein dong cin-cin nya bukan malah di kekepin gitu!" ucap Rina sedikit ngegas.


"Lupa, Mih. Saking senengnya tadi," cengir Satria.


"Dia kan malah ngedahuluin teriak-teriak, Mih. Daripada pasang cin-cin," sahut Ray.


"Bukan hanya teriak, tapi joget juga," celetuk Dalina.


"Hehe, kan seneng Beb mau kawin." Satria cengengesan.


"Nikah, Sat, nikah. Kawinnya entar kalo udah nikah. Mentang-mentang belum di kasih gendong twins, jadi ngebet pengen ngadon,"cibir Ray.


" Diem lu, pelit,"ketus Satria.


"Kalo lamarannya sudah diterima, berati kita tinggal nentuin kapan mereka nikah nya. Iya kan?" ucap Andi.


"Iya, Pih. Lebih cepat lebih baik," ujar Rina.


"Betul itu, gimana kalo besok aja," celetuk Satria.


"Dipikir nikah itu apaan, Kodir. Seenaknya bae besok, emang nikah gak perlu persiapan? ini nikah Sat, bukan kawin yang tinggal bles!" ucap Rina.


"Makannya kawin aja dulu yang gampang, nikahnya entar,"ucap Satria tanpa dosa.


" Lu mau pilih mana, Sat? rumah sakit? apa kuburan?"Andi menunjukan kedua tangannya yang sudah ia kepalkan seperti orang hendak menonjok.


"Pilih kamar ajalah yang enak, yuk Beb ngamar." Satria mengedipkan matanya pada Dalina.


"Bangsaaatttt!!!!"

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya, ya😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2