
"Sayang." Ray menoel pipi Ella yang tengah tertidur di ruang keluarga, lebih tepatnya dia tertidur di kasur lipat yang di gelar sengaja tempat Ella menonton sembari rebahan.
"Apa?" Ella yang tengah terpejam pun mengerejap.
"Tidurnya di kamar, yuk," ajak Ray.
"Gak mau," Ella memindahkan kepalanya yang tadi di bantal keatas pangkuan Ray.
"Elusin," manja Ella.
"Apanya?" tanya Ray.
"Kepalanya, ih," ketus Ella.
"Kirain itunya." Ray mulai mengelus kepala sang istri dengan lembut.
"Dasar mesum!" Ellla mencubit lengan Ray yang tengah mengelus kepalanya.
"Siapa yang mesum, pikiran kamu tu yang ngeres sayang." Ray mencubit pipi Ella gemas.
"Itu tadi kata kak Ray, kirain itunya. Mesum itu kak," ucap Ella.
"Orang yang kakak maksud itunya tuh, perutnya. Kamunya aja ngeres." Ray menjawil hidung Ella.
"Tapi kalau mau, ayok deh kakak elusin dengan senang hati," goda Ray.
"Gak mau." Ella langsung bangkit dari rebahannya.
"Mau kemana?"
Ella tidak menjawab, dia malah melengos begitu saja masuk kedalam kamar. Ray pun dengan cepat langsung menyusul sang istri dan segera menuntunnya.
Setelah sampai di dalam kamar, Ella langsung mencari ponselnya, kemudian dia menelpon sang abang untuk menagih janjinya yang konon katanya akan membawa sang kekasih kesini. Di telpon, Ella mengomel kepada Satria karna tak kunjung kesini, padahal dia sudah terburu-buru pulang dari rumah Dela karna takut abangnya kesini tapi dia tidak ada di rumah. Setelah di omeli, Satria pun bilang jika dia akan segera kerumah Ella setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Kesel tau, aku kan udah nunggu dari tadi. Eh, abang masih kerja," gerutu Ella.
"Mungkin Satria lagi banyak kerjaan yang gak bisa di pending, kamu tunggu aja, ya." Ray berusaha menenangkan sang istri.
Ella pun mengangguk, kemudian dia berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Ray yang terlalu hawatir langsung menyusul Ella, dia takut sang istri terpeleset. Ray juga membantu istrinya itu untuk mandi setelah ia sampai di dalam. Dari mulai menggosok punggung sampai mencuci rambut, karna Ella ingin keramas.
Glekk,
Ray menelan salivanya kasar saat melihat penampakan gunung favoritnya yang kini sudah berukuran lebih besar dari biasanya, gunung itu seperti melambai-lambai agar Ray menyentuhnya. Ray terus menatap gunung itu dengan tatapan liar.
"Sial, melihatnya saja udah bikin si Bonar tegang." gumam Ray dalam hati.
"Kenapa berhenti?" tanya Ella karna Ray tiba-tiba menghentikan aktipitasnya menyabuni tubuh Ella.
"Kakak gak kuat Ell," lirih Ray.
__ADS_1
"Pegal?" Ray menggeleng.
"Kesemutan?" Ray menggeleng lagi.
"Lalu apa?" bingung Ella.
"Kakak gak kuat lemes,"ucap Ray memelas.
" Lemes kenapa? kak Ray kan udah makan,"heran Ella.
"Tapi kakak belum nyusu, gak nyusu lemes bestie." Ray hendak mengarahkan tangannya untuk menyentuh benda yang sedari tadi menggodanya.
"Inget, kak Ray lagi puasa. Jadi gak boleh macem-macem." Ella menepis kasar tangan nakal Ray.
"Yah, di pending aja yah puasanya. Masa puasa dobel sih, Yang. Sekarang puasa, setelah lahiran puasa lagi. Auto lumutan dah ini belalai." Ray mengelus pelan tongkat bisbol yang sudah jadi belalai kembali karna ikutan lemas.
"Biarin aja, biar akaran sekalian." Ella bangkit dari bathub dan berjalan ke shower untuk membilas badannya.
"Yang... Belalainya tegang lagi, gimana ini." Ray menunjuk kebawah.
"Solo karir aja sono." Ella kini sudah berdiri di hadapan Ray dengan tubuh yang polos.
Glekk,
"Kamu kayak bolu pengantin aja, Yang. Bisa di lihat tapi tidak bisa di sentuh, apalagi di makan." Ray mnghembuskan napasnya kasar.
Sementara Ray, dia langsung masuk kedalam bathub dengan pakain yang masih lengkap. Dia merendam tubuhnya yang sudah memanas supaya dingin kembali.
"Sabar, ini semua adalah ujian kita berdua Nar. Semoga saja kita bisa melaluinya ya, lu juga jangan nakal, jangan bangun mulu. Tidur aja ya, sampe sangkar lu di buka lagi." Ray berbicara sambil menatap si Bonar yang mulai tertidur kembali.
****************************
Ella kini sudah terlihat cantik dengan dress hamil berwarna pink muda, dia juga memoles wajahnya dengan make up tipis. Liptin pink cery yang membuatnya tampak imut, dia juga mengenakan sedikit blus on di pipinya agar terlihat lebih fres.
"Kamu cantik sekali, Sayang. Mau kemana?" Ray yang sudah berpakaian lengkap menghampiri Ella.
"Gak mau kemana-mana kok, emang kalo dan-dan harus mau pergi aja?" Ella melirik kearah Ray.
"Gak juga sih, cuma tumben aja kamu dan-dan pas lagi di rumah," ujar Ray.
"Kan, abang sama pacarnya mau dateng, jadi aku harus tampil cantik." Ella bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan keluar dari kamar dengan di ikuti Ray.
Seperti biasa, Ray akan selalu menuntun sang istri karna langkah Ella terlihat begitu ngilu bagi Ray, apalagi Ella berjalan sembari memegangi perut buncitnya.
Kini Ella dan Ray tengah duduk di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Satria yang akan datang bersama sang kekasih.
Beberapa saat kemudian, terdengar deru mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah mereka. Ella pun langsung bangkit dan berjalan kedepan karna dia sudah tidak sabar ingin melihat siapa kekasih abangnya. Setelah sampai di luar, Ella hanya melihat sang abang saja yang turun dari mobil dan berjalan menghampirinya.
"Loh, kok Abang sendirian? pacar Abang mana?" tanya Ella saat Satria sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
"Ada kok, noh masih di mobil," ujar Satria.
"Ya ampun, Abang tu bener-bener ya. Masa pacarnya di tinggalin di mobil, aku heran dah. Kok ada ya manusia modelan begini." Ella geleng-geleng kepala sembari menatap tajam Abangnya.
Tak lama keluarlah sosok wanita cantik dengan dres biru muda selutut dan juga tanpa lengan. Ramput hitam pekat tergerai indah, dengan riasan wajah yang natural. Wanita itupun berjalan mendekat menghampiri mereka.
"Hai Ell, apa kabar?" sapa wanita itu.
"Baik, kak," jawab Ella yang tampak heran kenapa wanita cantik ini tampak sudah mengenalnya.
"Wih, lama gak ketemu kandungan kamu udah gede aja ya, Ell," ucap wanita itu sembari mengelus pelan perut buncit Ella.
Ella hanya diam sembari memperhatikan wanita cantik yang berada di hadapannya itu, sudah lama tidak ketemu? berarti mereka sudah sering ketemu dong? tapi kenapa Ella tidak ingat wanita ini siapa, wajahnya memang mirip seseorang, tapi tidak mungkin. Dari segi penampilan saja sangat berbeda, apalagi cara jalan dan juga sikapnya.
"Emangnya kita pernah ketemu ya, Kak?" tanya Ella.
"Ya ampun, kamu melupakan aku, Ell. Sungguh teganya."
Hai reader tersayang, maaf ya otor baru up lagi. Dalam bulan ini otor banyak sekali bolong ya, karna dalam bulan ini cobaan bertubi-tubi menimpa keluargs otor. Dari mulai ayah yang pergi menyusul ibu ke surga. Di susul adiknya nenek juga meninggal setelah tujuh hari ayah pergi, esoknya kakak otor juga sesak hingga pingsan dan di larikan kerumah sakit.
Terimakasih banyak buat yang udah setia nunggu dan juga mantengin cerita receh dari otor gadungan ini ya dan maaf bila ceritanya tidak sesuai ekspetadi kalian, salam sayang dariku untuk kalian semua😘😘😘😘
Oh ya, mampir juga kesini ya, di jamin ceritanya bagus. Alurnya tidak membosankan ceritanya juga bikin baper, dan menyentuh hati yuk coba deh kepoin, kalian gak bakal nyesel pokonya.
Blurb :
Judy yang meninggal akibat kecelakaan mobil, harus mengikat jiwanya kepada sistem dan pergi ke berbagai buku untuk menjadi umpan meriam.
Judy pikir tugasnya sangat mudah, yaitu menjadi umpan meriam yang menjadi batu loncatan untuk kisah cinta pemeran utama laki-laki dan pahlawan wanita saja dan saat pemeran utama pria dan wanita bersama , dia akan pergi ke dunia . Tetapi kemudian, dia menemukan ...... Dia telah mengambil naskah yang salah???
Kenapa pria yang seharusnya sangat ganas , tidak mempedulikan apapun dan hanya bersikap lembut kepada nyonya rumah malah seperti anjing susu di depannya?kenapa pria yang seperti es yang seharusnya tidak peduli apapun selain nyonya rumah sangat perhatian padanya???
Dunia pertama "4 pangeran tampan dan Cinderella"
Pangeran sekolah : "aku akan melakukan apapun untuk memilikimu ,karena kau hanya milikku."
Jenius dengan EQ rendah : " aku tidak tahu rasanya mencintai, tapi aku akan belajar jika itu untukmu"
Playboy yang suka mempermainkan wanita :" Jika aku tahu rasa sakit dipermainkan, maka aku tak akan pernah mempermainkan hati seseorang."
Batu es : " aku pikir hatiku dingin, tetapi ternyata hatiku bisa menjadi hangat saat bertemu denganmu."
Judy : " apa yang aku lakukan???(•_•)"
System 014 : "kenapa semua pemeran utama laki-laki mengejar tuan rumah, bukan bersama pahlawan wanita?? (°∆°)"
Cepat pakai Np, 1 V 1, hewan peliharaan yang manis tidak disalahgunakan, tidak ada logika.
__ADS_1