Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Menghabiskan waktu bersama para sahabat


__ADS_3

Di halaman belakang rumah Wardana kini nampak begitu ramai dengan tenda yang berjajar seprti di tempat camping. Malam ini adalah malam minggu, jadi malam ini para anak muda habiskan dengan bersenang-senang. Dari mulai mendirikan tenda untuk mereka bermalam nanti hingga membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh yang akan di terpaksa semilir angin sejuk di malam hari.


"Anak-anak udah pada bobo, Sayang?" tanya Ray yang melihat Ella sudah kembali dari dalam rumah.


"Udah, Kak Ray. Mereka udah pules," jawab Ella sembari menghampiri kerumunan orang yang duduk berlesehan di atas karpet bulu yang tergelar di atas rumput hijau.


Malam ini nampak ramai sekali karena hampir seluruh sahabat dekat Ella hadir. Di sana ada pasangan, Dela&Galang. Satria&Dalina. Ragil&Kiana. Adit&Siska. Ella&Ray dan sisanya para jomblo yaitu. David, Poky, Alvin, Diego.


"Guys, coba dong nyanyi. Biar suasananya makin romantis gitu," usul Kiana.


"Bener tuh kata, Kia. Siapa di sini yang bisa nyanyi?" timpal Dela.


"Bangsat aja, 'kan waktu di pernikahannya dia nyanyi bagus banget tuh," ujar Ella.


"Boleh tuh, ayo, Yang nyanyi." Dalina menyahut sembari menatap sang suami.


"Ogah, Sayang... Suara aku lagi serak-serak seret. Yang lain ajalah," tolak Satria.


"Ray aja kalau gitu yang nyanyi, gimana Ray?" Dalina melirik ke arah Ray.


"Nggak bisa, Dal. Gue cuma hapal lagu cicak nemplok di dinding doang," respon Ray.


"Ya udah deh nggak usah nyanyi." Dalina mendelik.


"Lo aja, Dave yang nyanyi. Gue waktu itu pernah denger lo nyanyi, dan suara lo lumayan bagus," ucap Ella.


"Ok." David segera meraih gitar.


"Wah! Pas banget nih, dengerin lagu sembari menyantap sosis bakar dan kawan-kawannya." Diego datang bersama dengan Alvin sambil membawa nampan berisi bakar-bakaran.


"Wiss, enak nih masih anget," seru Ella.


"Cepet, Dave nyanyi. Biar serasa lagi makan di cafe," imbuhnya.


David pun mulai memetik senar gitar yang dia pegang. Dia cukup pasih bermain gitar seperti sudah terbiasa.


"Cinta... Mengapa singgah di hatiku? Kau salah... Memilih tempat dan waktu. Tak sadar aku menahan rasa, aku tersiksa.... Houooo... " David begitu menghayati setiap bait lagu yang ia nyanyikan.


"Cinta.... Galau aku menimbang... Rasa aku, atau sahabatku... Pantas kah ku abaikan hati yang menangis, Menginginkan mu." Suara David terdengar begitu merdu di tengah malam sunyi dengan semilir angin menembus pori.


"Wih, nyanyinya menghayati banget nih," ledek Diego.


"Kayaknya lagu itu pengalaman, Bang David sendiri deh," tambah Alvin.


"Hayooo, Kak David suka sama siapa?" seru Kiana heboh.


"Suka sama pacar orang kali, atau istri orang?" tebak Galang dengan mengejek.


"Eh, dodol. Yang dia nyanyiin pan rasa aku atau sahabatku? Jadi kemungkinan dia suka sama pacar sahabat, atau nggak istri sahabatnya," koreksi Satria.


"Apaan sih kalian, gaje banget." David mendelikan matanya jengah.


"Lagian elo nyanyinya lagu begitu, mana di resapi pake banget lagi," ujar Galang.


"Kan biar enak di denger," kilah David.


Sementara itu, ada dua wanita yang hanya terdiam. Entah apa yang mereka pikirkan. Namun detik berikutnya atensi mereka teralihkan pada David yang kembali bernyanyi.


"Aku janda kembang, cantik dan menawan


Walau bukan perawan, tapi menggoda iman


Jadi rebutan orang." David bernyanyi dengan tangan gemulai yang menyentuh erotis pipinya dan mata berkedip genit.


"Aku janda kembang, cantik dan menawan


Barulah satu bulan, selesai perceraian


Gantian bawa lamaran." Lanjut bernyanyi sembari mencolek dagu Ragil.


"Apasih lo, gelay." Ragil menepis kasar tangan David.


"Kalian mau nuduh gue lagi kah? Kalau lagu yang gue nyanyiin itu pengalaman gue sendiri." David menatap ke arah mereka semua.


"Sorry dory semangka ya, gue bukan jakem, alias janda kembang. Gue itu duda kembang yang hot cetar membahana badai." David berkata dengan kedua lengan yang ia buat gemulai dan juga gerakan tubuh bak seorang pria gemulai pula.


"Njirr! Jijay banget lo, Vid. Kek waria yang sering nangkring di gang mawar tau nggak." Ejek Galang.


"Eh, apa tadi? Lo bilang lo duda? Astaga, Vid! Kapan lo kawinnya? Atau jangan-jangan lo kawin sama Mbek yang ada di belakang markas lagi," sambung Galang.


"Mbek mah, selingkuhannya dia," koreksi Ragil.


"Mantan bininya sape dong?" Satria menimpali.


"Mantan bini nya si David?" tanya Ragil.


"Iya, masa mantan bini lo."


"Kalo mantan bini nya si David mah, beuhh! Lo tau nggak bodynya aduhai emplok cendol. Belakangnya padat berisi bulet." seru Ragil.


"Yang bener lo?" Kali ini Galang yang bertanya.


"Bener, kalo nggak percaya. Dateng aja ke markas. Rumahnya ada di sebelah selingkuhan nya si David," ujar Ragil.


"Buahaha, jadi mantan bini lo. Bou, Dave. Alias kerbau." Ella tertawa terbahak-bahak.


"Astoge nggak ada yang bener lo semua," jengah Satria.


"Kayak lo bener aja," sindir Ella.


"Ledek aja teros... Ledek, asal kalian tau, gue punya mantan bini cantik kok. Ya, walau sesaat," ucap David serius.


"Uhuk! Uhuk!" Seseorang tiba-tiba tersedak.


"Kamu nggak pa-pa," tanya Dalina yang di balas gelengan kepala olehnya.

__ADS_1


"Canda ae lo, Vid." Cebik Galang.


"Kalo nggak percaya yodah." David berlalu pergi menuju ke dalam rumah.


"Sayang cobain deh bakso bakar nya." Ray menyodorkan satu tusuk bakso bakar ke hadapan Ella.


"Iya, enak. Tapi kemanisan," ucap Ella setelah dia memakan bakso itu.


"Karena yang bakar manis, jadi bakso bakarnya kemanisan deh," sahut Diego.


"Manis apaan, kecut iya," respon Ella.


"Kecut kek jeruk purut, makannya nggak laku," ejek Alvin.


"Ngaca woy! Emangnya situ laku? Sesama jomblo jangan saling mengejek," balas Diego.


"Siapa bilang gue jomblo, gue udah punya pacar kali," sombong Alvin.


"Emangnya iya? Nggak percaya gue."


"Dia emang udah punya pacar kok, waktu itu kita liat dia nonton bareng di bioskop sama pacarnya , iya kan. By?" ujar Siska kemudian dia melirik Adit.


"Iya bener, dia udah punya pacar. Waktu di bioskop aja mesra banget," sahut Adit.


"Wah, punya punya pacar nggak bilang-bilang lo, Vin. Tau gitu ajak kesini sekalian," ucap Ella yang di balas cengiran oleh Alvin.


"Ah! Berati di sini yang jomblo cuma gue doang dong?" melas Diego.


"Kasian bener nasib lu, GO." Satria menepuk pundak Diego yang memang duduk di sebelahnya.


"Sama, Kak Poky aja. Dia kan jomblo juga," celetuk Ella.


"Uhuk! Uhuk!" David yang sedang menyantap sosis bakar tiba-tiba tersedak.


"Riweh amat sih, Dave. Ketimbang makan sosis aja kesedak." Ella menyodorkan sebuah mangkok.


"Nih minum!" Titahnya.


"Lo pikir gue bebek, di kasih air kobokan," ketus David.


"Ini air kobokan ya? Gue pikir air minum, soalnya ada jeruknya." Cengir Ella.


"Sejak kapan air minum di taroh di mangkok?" sengit David.


"Santey aja kali nggak usah sewot, lo lagi pms ya? Terus tadi lo dari dalem ngapain? Ganti pembalut," cerca Ella.


"Iya, puas lu," jengah David.


Malam semakin larut membuat suasana kian semakin dingin, namun mereka belum juga masuk ke dalam tenda. Mereka malah berjejer mengelilingi api unggun sembari bernyanyi ria. Untuk yang sudah punya anak, seperti Satria Dalina, Galang Dela dan Ella Ray. Mereka semua menitipkan anaknya kepada para orang tua. Jarang-jarangkan mereka menghabiskan waktu bersama para sahabat seperti ini.


"Kamar mandi di mana yah, Neng?" tanya Poky kepada Ella.


"Ada di deket dapur, Kapok dari sini lurus aja, terus belok kiri," jawab Ella.


"Oh kitu, nya atuh." Poky segera beranjak darisana.


Brukk!


Poky menabrak seseorang sampai dirinya terjatuh ke lantai yang dingin. Tetapi tidak dengan orang yang di tabrak nya, dia masih kokoh berdiri tegak. Alih-alih menolong Poky, orang itu malah berlalu pergi meninggalkan Poky seorang diri.


"Harusnya teh aku yang marah, kunaon jadi tibalik?" gerutu Poky yang masih terduduk di lantai.


"Kenapa lo duduk di lantai?" tegur Diego yang hendak ke kamar mandi pula.


"Aku teh jatuh, A," jawab Poky.


"Oh jatuh, sini gue bantu." Diego mengulurkan tangannya.


"Tidak usah, saya teh bisa sendiri," tolak Poky.


"Oh ya udah," ucap Diego namun tidak beranjak dari sana.


"Aww, kunaon pinggang saya teh sakit pisan nya." Poky yang hendak berdiri pun urung karena pinggangnya terasa sakit.


"Mungkin karena hentakan pas jatuh tadi, sini gue bantu aja." Diego mengulurkan tangannya dan kali ini Poky menerima uluran itu.


"Makasih," ucap Poky canggung karena dia begitu dekat dengan Diego.


"Sama-sama."


"Lo mau kemana? Biar gue bantu," tawar Diego.


"Tidak perlu, A. Saya teh mau ke kamar mandi. Masa iya mau di bantuin atuh," ujar Poky.


"Oh, ya udah gue tunggu di sini aja. Biar nanti balik ke halaman bareng," ucap Diego.


"Aa nya, duluan aja nggak pa-pa," ucap Poky.


"Udah, cepet ke kamar mandi. Gue tunggu di sini."


"Nya atuh, sajedap." Poky berlalu pergi ke kamar mandi.


Tak lama kemudian, Poky sudah keluar dari kamar mandi. Mereka pun berjalan bersama menuju ke halaman kembali dengan Diego yang menuntun Poky. Saat sudah sampai di sana, semua atensi langsung tertuju pada mereka, namun ada satu atensi yang menatap mereka dengan tatapan sulit di artikan.


"Ciee, Gogo gercep bener dah," goda Ella.


"Apasih, Ell. Gue cuma bantuin dia doang. Dia jatuh tau nggak dan pinggangnya sakit," ujar Diego.


"Kapok, Jatuh. Ya ampun. Mana yang sakit?" Seketika Ella langsung menghampiri Poky.


"Udah di bilang pinggang, pake nanya lagi. Gudeg lu." Cibir Diego.


"Sakit banget ya, pinggangnya? Aku panggilin dokter ya," ucap Ella dengan menatap Poky.


"Eh, nggak usah atuh, Neng. Cuma sakit sedikit. Nanti oge sembuh," tolak Poky.

__ADS_1


"Beneran?" Ella memastikan.


"Iya, di istirahatin bentar ge, sembuh inimah, Neng," ujar Poky.


"Ya udah, Kapok masuk tenda duluan aja, istirahat gih. Nanti si Kia sama Siska nyusul," titah Ella.


"Saya masuk tenda duluan atu nya," ucap Poky kemudian dia berlalu masuk kedalam tenda.


Setelah Poky masuk ke dalam tenda, Ella pun berjalan menghampiri sang suami yang tengah bercengkrama dengan Galang dan juga Satria. Sementara Ragil dan Adit tengah bermesraan dengan pasangan masing-masing.


"Kak Ray, aku ke kamar bentar ya," pamit Ella.


"Mau ngapain, Sayang?" tanya Ray.


"Mau ngambil sesuatu," jawab Ella.


"Mau kakak temenin?" tawar Ray.


"Nggak usah, aku bisa sendiri kok," tolak Ella.


"Ya udah, jangan lama-lama."


"Siap."


Ella pun berjalan masuk ke dalam rumah, kemudian masuk ke dalam kamarnya. Di sana dia langsung mencari laptop yang biasa ia gunakan. Dia mengutak-ngatik laptopnya dengan waktu yang cukup lama. Entah apa yang dia kerjakan? yang jelas wajahnya nampak serius sekali.


"Gue yakin ada sesuatu," gumam Ella.


Dia kembali berkutat dengan laptopnya namun kali ini dia sedang melakukan penyelidikan tentang hal yang lainnya. Dia mencari tau tentang identitas Arga, musuh bebuyutan Papihnya. Ella terlihat menyeringai saat ia sudah menemukan sesuatu, sepertinya dia akan membuat rencana setelah ini.


"Huuhh, beres." Ella menyimpan laptop nya kembali kemudian dia berjalan keluar dari kamar.


"Mamah belum tidur?" tegur Ella pada Wina yang sedang menonton di ruang kelurga.


"Belum ngantuk, Ell. Jadi, Malah nonton aja," jawab Wina.


"Mam, aku boleh nanya nggak?" Ella duduk di samping Wina.


"Boleh dong, mau nanya apa?"


"Em, Malah kan dulu satu kampus sama Mamih aku."


"Iya, terus?"


"Mamah kenal nggak, sama yang namanya Arga?" tanya Ella.


"Arga? Arga Baskoro?"


"Iya, Mam. Orang yang suka sama Mamih aku."


"Iya, tau. Emangnya kenapa?"


"Mamah bisa ceritain dikit nggak tentang dia?"


"Ok, Arga itu bisa di bilang anak broken home. Dia dulunya terkenal pendiam, tidak suka bersosialisasi dengan orang sekitar namun, setelah dia mengenal Mamih kamu, dia berubah 180 derajat. Dia menjadi sosok yang humoris dan gampang akrab dengan orang lain. Dia cinta mati sama Mamih kamu, tapi tidak dengan mamih kamu, dia cintanya sama Andi. Papih kamu. Dari situ dia mulai berubah kembali, tapi jadi sosok yang jahat, suka membuli, malak dan semacamnya," terang Wina.


"Jadi semua ini karena cinta." Ella manggut-manggut


"Ya, terkadang cinta membuat orang menjadi gelap mata."


Merekapun lama sekali berbincang, banyak sekali yang Ella tanyakan kepada mertuanya gk hingga akhirnya dia pamit untuk kembali ke halaman belakang.


"Lama banget, Sayang." Ray langsung menarik sang istri ke dalam pangkuannya begitu dia tida di sana.


"Tadi ngobrol dulu sama, Mamah bentar," jawab Ella.


"Emangnya, Mamah belum tidur?"


"Belum, dia lagi nonton sinetron ikan terbang."


"Kalau kalian ngantuk, kalian tidur duluan aja," ujar Ella pada mereka.


"Gue nanti aja, belum ngantuk. Kamu bobo duluan gih, Sayang. Pasti udah ngantuk," ucap Ragil sembari menatap Kia.


"Iya deh, aku bobo duluan ya. Udah ngantuk berat," ujar Kiana.


"Kamu juga, tidur sana, Yang. Bareng sama, Kak Kia," ucap Adit pada Siska.


"Iya, deh. Aku tidur duluan ya, By," pamit Siska yang di balas anggukan kepala plus senyuman manis oleh Adit.


"Kia tunggu," Siska menyusul Kiana.


"Abang sama, Kadal. Udah bobo duluan ya?" tanya Ella.


"Iya, Sayang. Mereka udah bergulung dalam selimut sedari tadi," jawab Ray.


Ella pun menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ray, dia mencari kehangatan di sana. Nyaman, satu kata itu mampu mendeskripsikan apa yang tengah di rasakan ya saat ini. Hingga atensinya menatap pergerakan seseorang yang berjalan masuk ke dalam rumah, sepertinya ia akan pergi ke dapur atau ke kamar mandi.


"Aku ke kamar mandi dulu ya, Kak Ray. Kebelet pipis," izin Ella.


"Kakak anterin ya, udah malem," ujar Ray.


"Er, nggak usah, Kak. Aku sendiri aja," tolak Ella yang langsung saja ngibrit.


"Dave," tegur Ella pada David yang sedang berdiri di depan kulkas.


"Eh, my Quin. Ada apa?" David langsung berbalik.


"Gue ada pertanyaan, tapi lo harus jawab dengan jujur," ucap Ella.


"Pertanyaan apa sih? Serius amat kayaknya." David terkekeh.


"Poky." Satu nama itu membuat David membeku.


Jejak😘😘

__ADS_1


Like, comen and Vote. Kopinya juga dong biar nggak ngantuk ni mata. Bunga juga nggak papa😍 mode ngarep on🤣


__ADS_2