Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Nggak jadi healing


__ADS_3

"Kak Ray." Ella langsung bangkit dari atas tubuh Satria.


"Kamu ngapain?" Ray menghampiri Ella.


"Lagi gelitikin, Abang hehe," jawab Ella cengengesan.


"Lain kali jangan gitu lagi ya." Ray merangkul bahu Ella dan membawanya duduk di sofa.


"Kenapa emang?" tany Ella heran.


"Pokoknya nggak boleh aja."


"Gimana Ray masalah di kantor? Udah beres?" tanya Satria yang kini sudah duduk di sofa.


"Aman," jawab Ray singkat.


"Syukur lah kalo gitu."


"Sayang, kamu mau pulang apa nginep?" Ragil mendekati Kiana yang tengah bermain ponsel.


"Ngineplah, ini udah malem masa mau balik. Gue sama Dela juga mau nginep." Galang yang menjawab.


"Betul itu, mending kalian nginep aja. Kamar di sini banyak kok, gratis lagi nggak pake sewa," tambah Ella.


Mereka pun menginap di rumah Ray karena sudah larut malam tidak memungkinkan untuk pulang. Pagi harinya mereka segera bergegas pulang karena ada hal penting yang mesti di kerjakan. Sedangkan Ella masih betah bergulung di dalam selimut. Entahlah, akhir-akhir ini dia menjadi malas ngapa-ngapain, rasanya pengen tidur, tidur dan tidur.


"Sayang bangun, ini udah pagi." Ray menggoyangkan tubuh Ella pelan.


"Males ah, lagian ini hari minggu. Jadi boleh tidur sampe siang ya, kan nggak masuk kantor ini," rengek Ella.


"Iya, tapi kamu belum makan. Isi dulu yu perutnya, nanti tidur lagi sama, Kakak," ucap Ray.


"Emang kak Ray nggak ke kantor?" Ella menatap sang suami.


"Enggak, kan minggu," jawab Ray.


"Kali aja, kemarin juga hari sabtu ke kantor. Biasanya kan diem di rumah atau jalan-jalan."


"Kemarin itu ada yang harus kakak utus, jadi terpaksa pergi ke kantor."

__ADS_1


"Ayok sarapan dulu, nanti cacing di perut kamu pada demo."


"Iya bentar, aku ke kamar mandi dulu."


Sarapan kali ini tidak seramai biasanya, karena tidak ada Wina dan Samsul. Zura dan Zam pun tidak ada karena pagi-pagi sekali Rina dan Andi sudah menjemput kedua bocah itu untuk di ajak jalan-jalan. Alhasil kini Ella merengut karena dia tidak tau kedua anaknya di bawa oleh mamih papih nya.


"Jangan merengut gitu, entar cantiknya ilang di gondol kucing," goda Ray.


"Nggak bakal ilang, ini cantiknya permanen bukan hasil oprasi keresek," ketus Ella.


"Kalau gitu jangan cemberut, nanti kriput terus cepet tua deh," ucap Ray.


"Aku nggak terbuat dari tepung kanji, jadi nggak bakal kriput ya. Kecuali kalo udah tuwir! Emangnya belalai kriput, cih. Kek terong di bakar." Cibir Ella.


"Keriput kalau lagi kedinginan doang, Sayang. Kalau lagi on beuh. Berdiri tegak seperti prajurit yang hendak berperang," ujar Ray.


"Berdiri tegak apanya? Orang suka oleng ke samping." Ella beranjak dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamar.


Ella langsung membersihkan diri kemudian berganti pakaian dengan gaya modis khas anak jaman sekarang. Ray yang melihatnya pun hanya menggeleng, istrinya itu sudah melahirkan dua anak namun tubuhnya masih terlihat seperti anak SMA bahkan dia kasih imut. Ray jadi tidak tenang saat melepas Ella keluar, dia takut istrinya itu di gondol pria lain.


"Sayang ...," lirih Ray.


"Kalau mau keluar, tampilan nya jangan kayak gini dong," melas Ray.


"Maksud kak Ray?"


"Kamu tau nggak? Kamu itu terlihat seperti anak SMA, cantik, imut dan menggemaskan. Kakak nggak mau kamu di taksir pria lain," ucap Ray posesif.


"Jadi aku harus gimana?" Ella jengah menghadapi ke posesifan Ray.


"Tampilan kamu jangan kayak gini." Ray menatap Ella dari atas sampai bawah.


"Terus harus kayak gimana? Apa aku harus pake daster? Terus pake senal teplek kegedean kayak penyanyi tung tung tung ?" geram Ella.


"Itu lebih baik, Sayang," respon Ray yang mana membuat Ella menganga.


"Wah! Parah kak Ray. Yang ada orang malah ngira aku ini orang-orangan sawah. Ck, tak patut." Ella menggelengkan kepalanya prustasi.


"Nggak pa-pa, yang terpenting bagi kakak, kamu tetap cantik."

__ADS_1


"Ogah! Masa iya nanti pas ke kantor aku pake daster terus pake sendal teplek yang ukurannya menelan kaki. Pasti orang ngira aku ini pasien RSJ yang minggat," ucap Ella bergidig.


"Dah ah! Lama-lama bisa gila beneran aku kalo kayak gini. Mana aku belum sempat membuat surat pengunduran diri dari kewarasan lagi. Dan juga surat pindah dari dunia rata ke dunia miring. Mending aku pergi healing cari yang bening-bening." Ella meraih tas slempang nya.


"Tunggu kakak ikut!" Ray mengejar Ella yang sudah berjalan terlebih dahulu.


"Kamu mau kemana? Kakak anterin ya, kita healing sama-sama." Ray meraih pergelangan tangan sang istri hingga membuat si empunya mendadak berhenti dan menatap ke arahnya.


"Apa kak Ray udah mengundurkan diri dari dunia kewarasan?" Ella menatap Ray dari atas sampai bawah.


"Kamu ngomong apa sih, Sayang?" Ray belum ngeuh.


"Hanya orang yang sudah tidak bersatipikat waras, mau keluar rumah cuma pake kolor doang. Mana kolornya ijo lagi, ntar orang-orang ngira, aku lagi jalan sama jelemaan kolor ijo yang imut karena memakai sandal kelinci," ucap Ella dan sontak saja Ray langsung melihat tampilannya.


"Kamu jangan ke mana-mana, kakak ganti baju dulu. Sebentar!" Ray langsung ngibrit ke dalam kamar.


"Benar ya kata orang, cemburu itu bisa bikin gelap mata. Buktinya sendal kelinci aja serasa sepatu kulit, padahal kulit sama bulu itu beda. Kok dia nggak nyadar. Cinta emang buta dan juga bikin mati rasa. Bucin banget dah laki gue. Apa ini karena waktu itu gue taburin dia micin ya? Makannya jadi bucin. Kalo bener, nanti gue taburin lagi ah, biar makin bucin. Sekalian ntar pake royko juga. Biar makin kokoh cintanya," Monolog Ella.


Beberapa saat kemudian Ray telah keluar dengan setelan yang membuat Ella tercengang. Pasalnya dosen muda yang kini merangkak sebagai ceo itu mengenakan kaos putih yang bermotip tengkorak lalu jeans ketat hitam robek-robek di padukan dengan sepatu cat's putih bergaris hitam. Jangan lupakan kaca mata yang bertengger di hidung mancung nya dan jaket levis motip robek ia sampirkan di bahu.


"Kak Ray mau ngamen di mana?" Celetuk Ella yang mana membuat raut wajah Ray yang tadinya tersenyum bangga kini bermuram durja.


"Kok ngamen?"


Harapannya tak sesuai ekspetasi, ia kia Ella akan menyanjungnya, memujinya karena dia tampil seperti anak muda jaman sekarang. Ray pikir Ella akan memujinya tampan dan keren kemudian memeluknya. Nah ini? Dia malah berkata mau ngamen di mana? Apakah dirinya terlihat seperti pengamen jalanan? Sungguh miris sekali.


"Abisnya penampilan Kak Ray mirip kang ngamen yang suka maksa minta duit pas aku jajan bakso di pinggir jalan yang mau masuk nggak itu loh," ujar Ella tanpa dosa.


"Ah! Sudahlah. Mending ngamen beneran aja," lirih Ray sembari berlalu pergi.


"Kak Ray! Healing nya nggak jadi?" tanya Ella dengan berteriak.


"Nggak! Aku belum mandi tung buntung! Tung buntung! Tapi masih buluk pula tung buntung! Tung buntung!" Teriak Ray yang di akhiri dengan bernyanyi tak jelas.


"Apa lagi kalau tidak mandi tung tung tung! Tung tung tung! Pasti bau terasi." Sambung Ella sambil menahan emosi karena tidak jadi healing.


Yuhuu, otor punya cerita bagus nih. Menarik, asik, pokonya rekomen banget deh cuss kepoin👇


__ADS_1



__ADS_2