
"Hukuman apa yang mau lo kasih sama curut ini, Ray?" tanya David yang sudah bisa menghentikan tawanya meski atensinya tetap saja melirik sekilas ke arah kaki Ray.
"Pastinya sesuatu yang nggak pernah dia bayangin," jawab Ray dengan menyeringai.
"Tolong, Kak. Ampuni saya... Saya benar-benar menyesal, Kak..." Mohon Aksa dengan memelas.
"Sudah terlambat! Menyesal pun tiada gunanya. Untuk apa menyesal sekarang? Harusnya kamu berpikir seribu kali sebelum melakukan itu." Ray menatap Aksa dengan di liputi amarah.
"Saya sudah memberikan kamu satu kesempatan, namun kamu menyia-nyiakan kesempatan itu. Jadi jangan salahkan saya, jika kali ini saya tidak akan mengampunimu," sambung Ray penuh penekanan.
"Makannya mikir dulu kalo mau berbuat sesuatu, kayak situ punya nyawa seribu aja." Cibir David.
"Saya sudah memutuskan, kalau kamu akan saya kirim ke pulau yang paling terpencil di mana tidak ada kehidupan di sana. Kamu akan hidup sendiri dan merasakan arti kesepian yang sesungguhnya. Saya harap dengan ini otak kotor kamu akan kembali jernih, saya ingin kamu jera dengan apa yang saya lakukan kali ini," tutur Ray.
"Tapi kamu tenang saja, semua kebutuhan kamu selama di sana. Akan di sediakan oleh anak buah saya," lanjut Ray.
"Saya mohon, Kak. Jangan lakuin itu, saya tidak mau berpisah dengan keluarga saya...," mohon Aksa sembari bersujud di kaki Ray.
"Bangun kamu! Jangan sujud di kaki saya. Kasihan sandal cantik istri saya akan terkena air mata buaya kamu!" bentak Ray.
"Bangun lo, Curut! Percuma lo sujud begitu. Keputusan si Ray nggak bakal bisa di ganggu gugat!" David menarik kerah belakang baju Aksa.
"Aku mohon, Kak... Jangan lakuin ini." Aksa tetap tidak mau bangun. Justru kini dia malah memeluk erat kedua kaki Ray.
"Bawa dia ke markas, Vid. Jangan lupa persiapkan ke berangkatkan nya," perintah Ray.
"Ok. Tarik dia, Gil." David melirik ke arah Ragil.
"Hm."
Mereka berdua pun membawa Aksa ke dalam mobil secara paksa. Untung saja cafe itu sudah sepi, jadi tidak ada orang yang melihat mereka membawa Aksa. Untuk pemilik cafe itu. Pemiliknya adalah Galang, jadi kelakuan Ray dkk sudah tidak asing bagi para pegawai di sana.
"Beginilah kalo punya istri cantik." Ray menghela napas sepenuh dada kemudian dia bangkit.
"Haiss, ini sandal malu-maluin banget. Mau di buang, ntar bini gue marah." Ray berjalan keluar dari cafe dengan sandal hello kitty yang masih menempel di kakinya.
"Tren baru, Mbak!" ucap Ray saat berpapasan dengan salah satu pegawai cafe di parkiran.
Pegawai itu hanya bisa tersenyum canggung, pasalnya dia merasa terciduk oleh Ray. Karena sedari tadi dia terus memperhatikan kaki Ray dengan menahan tawa.
Karena malam sudah semakin larut, bahkan hampir menjelang dini hari. Ray pun segera pulang, dia takut sang istri akan terbangun dan mendapati dirinya tidak ada. Pastilah Ella akan marah besar dan memberondong nya dengan berbagai pertanyaan.
"Huuhh, untung dia masih tidur," gumam Ray lega karena melihat Ella masih tertidur dengan nyenyak begitu dirinya sampai.
"Mulai sekarang, kakak akan menjaga kamu lebih ketat lagi. Kakak nggak mau kejadian ini terulang kembali." Ray naik ke atas ranjang dan mengecup bibir Ella sekilas.
"Selamat tidur, Sayang." Ray memeluk erat Ella kemudian dia menyusul sang istri menuju ke alam mimpi.
Ke esokan harinya Ella bangun lebih awal dari biasanya. Dia segera menghampiri twins yang masih tertidur. Dia menyempatkan diri untuk melihat kedua anaknya dan mengecupinya secara bergantian.
__ADS_1
"Tumben pagi-pagi udah kesini, Ell?" tanya Wina yang memang masih tidur di kamar twins.
"Lagi kangen twins aja, Mam," jawab Ella.
"Kalau, Mamah masih ngantuk. Mamah tidur lagi aja," lanjutnya.
"Enggak, Ell. Mamah mau bikin bubur buat mereka," ujar Wina.
"Kenapa nggak nyuruh Bibi aja, Mam?"
"Twins 'kan cucu kesayangan, Mamah. Jadi, Mamah pengen bener-bener ngurusin mereka, Ell."
"Hm. Ya udah deh, nanti aku mau belajar ya, Mam bikin bubur bayi," ucap Ella.
"Iya, nanti pas kamu libur kuliah."
"Sekarang kamu fokus kuliah aja dulu, buat twins Mamah yang urus," ujar Wina.
"Iya, Mam."
****************
"Mah!" teriak Ray yang baru saja terbangun.
"Iya, Ray," sahut Wina dari kamar twins.
"Istri aku kemana, Mah?" tanya Ray.
"Kenapa dia nggak bangunin aku coba?" gerutu Ray.
"Lagian kamu habis dari mana coba? Tumben kesiangan," ucap Wina.
"Nggak dari mana-mana, Mah." Ray berlalu pergi.
Beberapa saat kemudian, Ray telah siap. Dia pun segera berangkat ke kampus tanpa sarapan terlebih dahulu. Sesampainya di kampus, dia tidak pergi ke ruangannya melainkan langsung ke pakultas Ella. Ternyata di sana sudah ada Sukma yang mengajar.
"Biar saya lanjutkan," ucap Ray begitu dia masuk.
"Baik, Pak. Tadi saya gantikan karena saya pikir bapak tidak akan datang." Sukma tersenyum tipis kemudian dia berjalan keluar.
Ray pun melanjutkan Sukma mengajar, dia melihat ke arah sang istri yang nampak begitu serius mengerjakan tugas. Bahkan Ella sama sekali tidak menatap ke arahnya sampai mata kuliah pertama selesai.
"Kamu kenapa, Sayang?" Ray menarik tangan Ella yang hendak keluar bersama dengan yang lain.
"Nggak pa-pa," ketus Ella.
"Kamu marah sama, Kakak?" tanya Ray dengan menatap lamat wajah Ella.
"Marah kenapa? Emangnya aku punya alasan untuk marah? Atau kak Ray ngelakuin sesuatu sehingga kak Ray nanya seperti itu?" tanya Ella balik.
__ADS_1
"Bukan gitu."
"Lalu?"
"Kamu seperti menghindar aja dari, Kakak. Pertama nggak bangunin, Kakak. Kedua pas kakak datang kamu seakan acuh," jelas Ray.
"Oh, kak Ray kesiangan? Emang semalam nggak tidur sampai kesiangan gitu?" sindir Ella.
"Bukan nggak tidur, tapi tidur kakak terlalu nyenyak. Mungkin karena kakak tidur sambil meluk kamu," kisah Ray.
"Oh, ya?" Ella melepas tangan Ray yang menggenggam tangannya.
"Kak Ray nggak pinter bohong," ucap Ella dengan sinis.
"Kakak nggak bohong, Sayang," terang Ray.
"Mau jujur sendiri atau aku yang cari tau." Ella menatap Ray dingin dan juga mengerikan, tiada lagi wajah polos Ella, yang ada hanya wajah yang sering ia perlihatkan saat berhadapan dengan musuh.
"Maksud kamu apa, Sayang." Ray masih mengelak.
"Aku tau kamu menyembunyikan sesuatu. Aku tidak bodoh, Ray. Aku bukan bocah yang bisa kamu tipu." Ella berucap dengan ekpresi datar namun aura yang ia pancarkan membuat hawa sekitar begitu mencekam.
"Apa ini soal semalam?" Ray menatap Ella lembut.
"Jelaskan!" Singkat namun penuh makna.
"Ok, tapi di ruangan Kakak ya."
"Hm."
Ella pun berjalan terlebih dahulu menuju ke ruangan Ray dengan di susul eh Ray dari belakang. Sesampainya di sana, Ella langsung mengunci pintu ruangan Ray begitu mereka berdua sudah masuk.
"Katakan?!" Ella mendorong Ray perlahan hingga terduduk di sofa.
"Jadi semalam, Kakak itu pergi ke cafe untuk------"
"Aksa!" Ella memotong ucapan Ray.
"Kamu udah tau, Sayang?" Seketika Ray langsung menatap dalam manik mata Ella.
"Jelaskan!" Masih dengan nada yang dingin.
"Kakak ngasih hukuman sama anak itu, karena kakak nggak Terima dia ngelecehin kamu," ujar Ray.
"Detailnya?"
"Jadi, anak buah kakak yang jagain kamu mergokin dia. Itu beberapa bulan yang lalu. Lebih tepatnya saat dia baru masuk ke kampus. Itu juga kakak masih kasih toleransi. Tapi sekarang dia udah bener-bener keterlaluan, jadi kakak nggak bisa kasih dia toleransi lagi," terang Ray.
"Mergokin apa? Bicara yang detail, Sedetail-detailnya. Jangan setengah-setengah begini," geram Ella.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Jadi...."
Jejak😘😘😘😘😘😘