Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Semut nakal


__ADS_3

"Loh, kok kita ke apartemen?" Ella menatap sekelilingnya saat Ray mendaratkan tubuhnya di sopa, karena Ray menggendongnya dari mobil hingga masuk ke dalam apartemen.


Ray tidak menjawab, melainkan dia malah menatap Ella tajam. Kemudian dia mendekati Ella, lalu...


Srekk!


Satu kali tarikan, mini dress Ella terbelah dua.


"Ya ampun! Dress mehong gue!" Pekik Ella.


Tanpa aba-aba, Ray langsung membungkam bibir Ella dan menyerangnya dengan rakus. Kedua tangannya berkelana mencari pengait yang menutupi keindahan gunung ke sukaanya. Setelah terlepas, Ray langsung memberi remasan lembut namun namun menuntut dengan bibir yang masih saling bertautan. Ella merasa napasnya kian tercekat karena tidak mampu mengimbangi ciuman bringas Ray.


Bughh!


Bugh!


"Huhh! Huhh! Huh! Aku nggak bisa napas," ucap Ella ngos-ngosan setelah tautan bibir mereka terlepas.


"Itu hukuman untuk istri yang nakal," ucap Ray dingin.


"Ma-af, bukan aku yang ngajak," bela Ella.


"Kenapa kamu nggak nolak?" todong Ray.


"Er, aku. Em." Ella bingung harus menjawab apa.


"Karena kamu juga mau? Iya? Kamu mau menjadi pusat perhatian para laki-laki. Mempertontonkan kemolekan dan juga ke indahan tubuh kamu ini? Iya begitu? Aku kecewa sama kamu." Ray berlalu pergi dari hadapan Ella dengan wajah kacau, dia masuk ke dalam ruang kerja yang ada di apartemen nya dengan membaningkan pintu cukup keras.


"Huaaa! Bapak dosen marah, gimana ini?" Bingung Ella kemudian dia melangkah masuk ke dalam kamar dengan posisi tubuh setengah toples.


"Nggak ada baju di sini, ponsel juga di mobil. Terus gue gimana?" Ella menatap tubuhnya yang hanya mengenakan segitiga biru, karena dress dan kacamatanya sudah hancur tak berbentuk.


"Mana kak Ray marah lagi, suee bettt dah," selorohnya bingung.


"Mending gue mandi." Ella masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian dia telah selesai mandi, dia keluar dengan mengenakan handuk minim yang hampir memperlihatkan hutan rimbanya.


"Gue pake apaan ya?" Ella membuka lemari yang ada di kamar itu dan di sana hanya terdapat dua buah kemeja putih.


"Kak Ray nggak pernah nyimpen baju apa di sini?" gerutunya kemudian mengambil salah satu dari dua kemeja putih itu.


"Lebih baik." Ella menatap pantulah tubuhny di cermin. Kemeja putih ke dodoran setengah paha, yang begitu tipis bahkan menerawang apa saja yang ada di dalamnya.


Karena bosan berada di dalam kamar, Ella pun melangkah keluar, dia mendudukan tubuhnya di sofa. Lalu meraih remot dan menyalakan televisi.


"Nggak ada yang menarik." Ella menggunta-ganti chanelnya.


"Laper lagi," lirihnya.


"Apa aku keluar aja ya? Cari makan. Tapi, masa iya begini?" bingungnya.


Tak lama kemudian, nampak Ray keluar dari ruang kerja dengan ekpresi wajah yang masih sama, datar, dingin. Dia melewati Ella begitu saja tanpa meliriknya sama sekali. Dia berjalan ke arah dapur, rupanya dia mengambil minum. Kemudian dia kembali dan duduk di hadapan Ella tanpa berucap sepatah katapun. Dia hanya sibuk memainkan ponselnya.


Ting nong!


Terdengar suara bel berbunyi, Ella pun segera beranjak untuk membukakan pintu. Namun suara bariton dingin tegas dan menusuk menghentikannya.


"Biar saya saja." Ray melangkah melewati Ella.


"Kulkas berjalan come back," lirih Ella.


"Kompor nyala nggak ya? Mau masak air panas, terus di siramin ke kak Ray, biar dia hangat lagi. Atau di ungkeb? Ah iya di ungkeb biar cepet hangatnya," gumam Ella sembari mondar-mandir.


"Makan!" Suara bariton Ray seketika membuat Ella menoleh padanya.


"Iya." Ella langsung duduk dan mengambil kotak berisi makanan yang di bawa oleh Ray.


Perasaan Ella begitu tak karuan saat ini, gara-gara ide konyol Dela membuat dirinya harus terjebak dalam situasi seperti ini. Ella merobek kotak dari kardus yang berisi ayang crispy itu. Bukan untuk mengambil isinya, melainkan dia malah memakan sobekan kardus itu dengan mata yang melihat ke sembarang arah. Dia mengunyah kardus itu, entah melamun atau apa? Atau mungkin Ella tidak sadar kalau yang ia kunyah itu bukanlah makanan.


"Apa kamu mau menjadi, Omnivora?" Suara dingin Ray menyadarkan Ell.


"Eh, kenapa?" Ella malah bertanya pada Ray.


"Apa kamu mau menjadi, Omnivora? Pemakan segala," ketus Ray.


"Hah?" bingung Ella namun seketika dia merasakan benda aneh berada di mulutnya.


"Cuih! Cuih! Kenapa aku makan kardus?" gumamnya sembari berlari menuju wastafel.

__ADS_1


"Lucu." Ray terkekeh pelan.


Seketika Ray langsung merubah raut wajahnya kembali saat Ella sudah berjalan ke arahnya.


"Kenapa kak Ray nggak cegah aku sih pas makan kardus," oceh Ella yang kembali duduk di sofa.


"Mana saya tau, saya kira kamu mau mencoba jadi, Omnivora," respon Ray datar.


"Dasar es balok nyebelin!" Kesal Ella yang membuat Ray terkekeh dalam hati.


"Omnivora itu apa ya, Kak Ray?" lanjutnya dengan wajah bingung.


"Memangnya kamu tidak tau?" tanya Ray masih dengan wajah datarnya.


"Nggak, emang Omnivora itu apa? Oh iya, aku tau. Omnivora itu virus yang waktu itu merajalela ya?" serunya.


"Itu Omicron," delik Ray.


"Oh, terus Omnivora apa dong?" tanyanya kembali.


"Omnivora itu hewan pemakan segala," jawab Ray ketus.


"Apa? Jadi, kak Ray pikir aku ini hewan, hah? Tega banget, istri sendiri di bilang hewan. Dasar suami kejam! Tak berprike-istrian," Pekik Ella murka.


"Loh, kok jadi kamu yang marah?" heran Ray.


"Ya jelas marah lah! Siapa yang nggak marah di bilang hewan? Aku ini manusia, bukan hewan!" sengit Ella berapi-api.


"Bukan gitu maksudnya itu." Ray jadi bingung sendiri.


"Itu apa, hah?" Ella berdiri di hadapan Ray dengan berkacak pinggang.


Glek!


Ray menelan salivanya kasar, kala melihat bagian-bagian tubuh istrinya yang tercetak jelas dan juga menerawang di balik kemeja putih yang di kenakannya.


Ella menyeringai karena telah berhasil membalikan keadaaan. Sekarang dirinya lah yang berkuasa di sini.


"Aku nggak bermaksud, seperti itu, Sayang...," melas Ray.


Yesss!


Dalam hati Ella bersorak girang karena suaminya sudah kembali ke mode normal. Mode kulkas berjalan sudah of.


Begitu sampai di dalam, Ella langsung mengunci pintu kamar kemudian dia duduk di tepi ranjang.


"Kurang sontrek nih, harusnya kan ada sontrek nya. Kumenangis.... Membayangkan.... Dirimu menyebut aku hewan.... Harus selalu kau tau... Aku lagi nyanyi sambil nunggu... Pintu di dobrak..." Ella bersenandung tidak jelas.


"Muehehe, gue puas ngerjain kak Ray. Siapa suruh balik jadi kulkas berjalan. Gue bales baru tau rasa lu." Ella tersenyum penuh kemenangan.


"Sayang.... Buka pintunya... Kakak minta maaf," ucap Ray di luar kamar.


"Wkwkwk, jadi dia yang minta maaf. Stela memang cerdik, pewangi ruangan gituloh." Ella terkekeh.


"Sayang...."


"Nanana, dududu. Aku nggak denger." Ella bersenandung kecil.


"Kayaknya dia bakal dobrak pintu nih," lirih Ella kemudian dia naik ke atas ranjang dan bergulung dengan selimut tebal.


Brakk!


Benar saja Ray mendobrak pintu dengan sekali dobrak langsung terbuka. Dia langsung masuk ke dalam dan naik ke atas ranjang. Tanpa ba, bi, bu. Dia langsung menyerang Ella dengan bringas dia membuat Ella mengerang dan juga meleguh ke enakan. Jadi lah malam itu Ray menghukum Ella sampai menjelang pagi. Dia terus menghujami gua Ella sampai beberapa kali pelepasan.


"Auto nggak bisa jalan besok, ngesot dah gue," lirih Ella sebelum akhirnya dia tertidur pulas karena ke lelahan.


Di sisi lain, Dela sama halnya dengan Ella. Dia terus di tunggangi Galang dengan berbagai macam posisi. Galang seakan tidak puas menjamah tubuh Dela, bahkan dia meninggalkan tanda ke pemilikan hampir di seluruh tubuh Dela.


"Udah, A. Aku cape.." melas Dela.


"Berjoget tidak capek," ucap Galang dingin namun menusuk.


"Nggak bisa jawab kan." Galang kembali menyerang Dela.


"Maaf, A... Aku khilaf," lirih Dela.


"Khilaf yang terencana," sindir Galang.


"Bukan gitu...."

__ADS_1


"Terus gimana?"


"Pokonya minta maaf, janji deh nggak bakal di ulangi lagi," ucap Dela.


"Minta maaf yang benar," kata Galang.


Dela yang tau kemauan Galang pun langsung beranjak naik ke atas tubuh Galang. Dela langsung mengambil alih kendali, sehingga membuat Galang menyerang kenikmatan. Tetapi itu tak membuat Galang puas, mungkin karena kekesalan nya yang melihat sang istri bergoyang di hadapan pria lain dengan baju terkutuk. Dia kembali mengambil alih dan menyerang Dela sampai Dela lemas.


Jika kedua pasutri itu menyelesaikan masalah mereka di atas ranjang. Lain halnya dengan Kian dan Ragil. Mereka kini tengah berada di sebuah danau yang indah. Mereka duduk di kursi yang ada di pinggir danau.


"Ma-af." Kiana menunduk tanpa mau melihat ke arah Ragil.


"Senang?" Satu kata yang keluar dari mulut Ragil membuat Kiana tak mampu menjawab.


"Apa faedahnya kamu melakukan itu?" tanya Ragil dingin.


"Em, aku." Kiana bingung harus menjawab apa.


"Melepas penat? Iya?"


"I-ya," jawab Kiana gugup.


"Emang nggak ada cara lain selain pergi ke club? Berjoged tidak jelas dengan menggunakan baju terkutuk," kata Ragil.


"Kamu bisa cerita ke aku, kita kan bisa pergi ke suatu tempat. Jalan-jalan misalnya untuk melepas kepenatan kamu. Nggak harus pergi ke club, Ki," lanjutnya kesal.


"Maaf." Hanya itu yang bisa di ucapkan Kiana.


"Janji nggak akan di ulangi lagi?" Ragil mengangkat wajah Kiana yang menunduk sehingga mereka saling bersilang pandang.


"Iya, janji," lirih Kiana.


"Kalau ada apa-apa, cerita ke aku. Jangan seperti ini." Ragil mulai menghangat kembali.


"Iya, makasih." Seketika Kiana langsung memeluk Ragil.


"I love you, Sayang," bisik Ragil.


"I love you too, Kak," balas Kiana.


Mereka pun berpelukan di pinggir danau dan juga di tengah malam yang dingin. Semilir angin menerpa kulit, membuat tubuh seketika menggigil. Ragil langsung membuka jaket yang ia kenakan dan memakaikan nya pada Kiana, setelah itu dia menggendong Kiana dan membawanya ke mobil.


Ke esokan harinya, Ella sudah pulang ke rumah keluarga Wardana dengan langkah gontai dan juga lemas. Si kembar yang melihat itu pun langsung menghampiri sang mimom karena khawatir.


"Mom ndak puang alem? Ana Mom?" tanya Zura setelah berada di hadapan Ella.


"Er, Mom tadi nginep di apartemen," jawab Ella.


"Emen? Ko bobo di emen? Emen itu kan kecil, Mom. Manis agi," ucap Zura.


"Bukan permen, Sayang. Tapi apartemen, kayak rumah gitu," ujar Ella.


"Oh, mom. Itu apa een eah?" tanya Zura lagi.


"Hah?" Ella langsung meraba lehernya.


"Mom di gigit ulat? Apa di gigit semut?" Kali ini Zam yang bertanya.


"Ah, iya. Mom di gigit semut, Zam." Ella tersenyum kaku.


"Banyak, ya. Mom jangan bobo di apartemen lagi kalau banyak semut. Nanti Mom habis di makan semut," ujar Zam.


"Iya, Boy."


"Atau, nanti aku ikut ke apartemen aja, Mom. Nanti aku bawa pestisida buat bunuh semut nakalnya," ucap Zam yang mana membuat Ray menelan salivanya kasar.


"Ua uga, ua au ijak emutnya ampe mati. Teus ua mau bakal emutnya ampe gocong," timpal Zura yang membuat Ray bergidig.


"Oma juga, Oma mau bejek semutnya, mau Oma tumbuk terus di jadiin perkedel. Di goreng lalu di kasih ke kucing," timpal Wina yang baru saja datang sembari mendelik ke arah Ray.


"**** na, akal, Oma," adu Zura.


"Nggak tau diri ya semut nya, kudu di beri pelajaran. Di jadiin rempeyek. Ya ampun, tubuh mulus mantu, Mamah jadi kayak macan tutul begini, astaga!" Wina menggeleng melihat penampakan tubuh Ella.


"Iya, tubuh Mimom jadi belang kayak Zebra," tambah Zam.


"Zam, Zura. Kita musnahkan semut nakalnya." Wina melirik ke dua cucunya.


"Lets go, Omah. Serang semut nakal," seru Zam.

__ADS_1


"Go!"


Jejak😘😘😘


__ADS_2