
Karena kesal di tertawakan, Ray langsung saja beranjak dari sana dengan menghentakan kakinya ke lantai. Kesal dan juga cemburu menjadi satu, pria itu nampak bermuram durja. Sementara si biang usil hanya tertawa sembari menatap kepergian sang Pipop.
"Mom, Pop nyot dodot. Hihihi. Pop, kayak bayi," ucap Zura terkekeh.
"Usil banget si, Sayangnya, Mimom ini." Ella menghampiri Zura kemudian mengecupi kedua pipi bocah itu gemas.
"Habisnya muka, Pop. Nggak enak di pandang, Mom. Kayak keset toilet umum, jelek, dekil lagi," seloroh Zura.
"Tapi, Pop tampan 'kan?"
"Tampanan Gagal, Pop udah tua," celoteh bocah itu.
"Wkwkwk, kalau ada orangnya ngamuk ni pasti di katain tua," sahut Satria terkekeh.
"Om sesat juga tua, sesama olang tua jangan saling meledek," ucap Zura yang membuat Satria terdiam dengan bibir yang mengerucut.
"Fefz, bener tuh kata, Ara. Sesama orang tua jangan saling meledek." Ella menatap sang abang dengan tatapan mengejek.
"Dah lah, ayo Dot balik. Atau lo mau ngejogrog di mari ngapelin bini orang?" Satria menatap ke arah Nando.
"Nggak, Bang. Mau ngikut pulang aja, meskipun masih betah, tapi gue masih sayang nyawa, Bang. Takut di amuk singa," sahut Nando segera bangkit.
"Yodah yok balik."
"Bentar, Bang. Mau ganti baju dulu," ujar Nando karena dia masih mengenakan seragam.
"Eits, jangan di ganti, Dodo. Kamu harus pulang pake baju itu," ucap Ella.
"Jadi anak SMA lagi dong, Ell?"
"Heem, yodah sono balik. Awas jangan di lepas bajunya sebelum sampe rumah," ancam Ella.
"Iya, iya. Yok Bang balik."
"Yok, Dek, gue balik dulu ya," ucap Satria seraya menghampiri sang adik kemudian mengecup lembut keningnya.
"Iya, Bang. Hati-hati di jalan ya, kalian." Ella menatap sang abang sembari tersenyum.
"Gue boleh ngecup kening lo juga, Nggak, Ell?" Canda Nando.
"Nggak!" Suara menyeramkan tiba-tiba muncul dari arah belakang.
"Yok, Bang cabut. Keburu singa ngamuk!" Nando ngibrit terlebih dahulu mendahului Satria.
Ella terkekeh melihat ketakutan Nando, kemudian wanita hamil itu melirik kearah sang suami yang wajahnya masih di tekuk.
"Sayang ... Aku ngidam lagi nih." Ella bergelayut manja di lengan kekar sang suami.
"Nggak, kamu ngidamnya yang aneh-aneh. Bikin aku ke bakar tau nggak," ucap Ray dengan cemberut.
"Masa? Sini aku cium, bau gosong nggak?" Ella mengendus aroma tubuh sang suami.
"Enggak bau gosong kok, malah bau---" Ella tidak melanjutkan ucapannya.
"Bau apa?" Ray menatap lekat wajah sang istri yang semakin hari semakin cantik dan juga mempesona, membuatnya harus ekstra menjaganya dari godaan-godaan setan mata keranjang.
"Emm, bau susu sapi. Kamu kan habis nyot-nyot dot." Ella berbisik di telinga Ray.
"Sayang..."
__ADS_1
"Ampun! Yang. Hukum aku, tapi di ranjang ya!" pekik Ella saat Ray mengangkat wanita hamil itu dan menggendongnya ala bridal style.
"Pop! Ala mau di gendong juga!" teriak bocah yang selalu membuat Ray kesal.
"Ck! Gagal romantis deh," dengus Ray kemudian menurunkan Ella dan segera menangkap sang putri yang melompat kedalam gendongannya.
.
.
.
Semenjak menjadi istri dari seorang Satria baja hitam, eh. Satria Ardana maksudnya. Dalina tidak lagi di kejar oleh sang ibu tiri yang selalu memaksa ingin menjualnya kepada juragan jengkol pete dsb. Kini kehidupannya berkali-kali lipat menjadi lebih bahagia, apalagi kini dirinya sudah di karuniai buah hati yang bernama micin alias Sasa.
"Sa, liat ponsel bunda nggak?" tanya Dalina yang sedang sibuk merapihkan baju Sasa.
"Nggak Bund," jawab bocah itu.
"Kemana ya ponselku? Perasaan tadi di kasur Sasa," gumam Dalina.
"Bunda mau keluar dulu nyari ponsel, sapa tau nyelip di sofa ruang santai. Kamu diem aja di kamar. Di luar lagi di pel sama bibi, takutnya nanti ke peleset," ucap Dalina.
"Ya, Bun."
Dalina pun berjalan keluar dari kamar Sasa, antensinya menyapu ke seluruh sudut ruangan guna mencari ponsel yang kemungkinan terselip.
"Bi Izah, liat ponsel aku nggak?" tanyanya pada Bi Izah.
"Nggak, Neng. Dari tadi bibi beres-beres tapi nggak nemu ponsel," ujar Bi Izah.
"Kemana ya? Di ruang santai nggak ada, di ruang tamu juga nggak ada. Mana aku mau nelepon Satria lagi," gerutu Dalina.
"Mungkin juga, aku cek lah kalo gitu." Dalina beranjak menuju kamarnya.
Disana dia mengobrak-abrik seluruh isi kamar guna mencari keberadaan sang ponsel namun nihil keberadaannya tidak di temukan, kalau sudah begini apakah dia harus membuat lembaran brosur kehilangan atau melapor pada bang polis? Tetapi belum genap 24 jam setelah si ponsel hilang dan tak kunjung di temukan.
"Nggak ada juga! Kemana ih dirimu ponsel. Aku kan mau nelepon ayang. Kangen," keluh Dalina kesal.
Dia pun beranjak keluar dengan wajah di tekuk, bibir mengerucut dan hidung kembang kempis seperti ikan terdampar di daratan. Wanita itu pun segera menghampiri bi Izah untuk meminjam ponselnya, dia hendak menelepon ponselnya menggunakan ponsel bi izah supaya deringan ponsel itu bisa membantunya menemukan ponsel itu sebelum lapor mpok lusi eh polisi.
"Nah itu suaranya, Neng," ucap Bi Izah.
"Iya ya, Bi. Tapi kok suaranya dari kamar Sasa," sahut Dalina.
"Coba atuh si Neng cek kesana," usul bi Izah.
"Iya, Bi." Dalina segera beranjak dengan ponsel bi Izah masih berada dalam genggamannya.
"Suaranya makin deket, berati bener di kamar Sasa."
"Sa, ponsel Bunda di sini kan?" Dalina mendekati bunyi ponselnya yang tepat berada di samping Sasa.
"Lah! Ini ponsel Bunda." Dalina mengambil ponselnya yang tertutup bedcover di atas ranjang Sasa, ponsel itu berada di dekat paha mungil Sasa.
"Kenapa Sasa nggak bilang sama, Bunda? Hm. Tadi Sasa bilangnya nggak liat ponsel Bunda," cecar Dalina kesal.
"Kan Bunda nanyanya, Sasa liat ponsel Bunda nggak? Yaudah Sasa jawab enggak. Kalena Sasa emang nggak liat ponsel Bunda. Tadi cuma nggak sengaja ke pegang tapi nggak Sasa liat, suel deh. Kalo Bunda nanyanya Sasa tau ponsel Bunda dimana? Pasti Sasa jawab tau soalnya tadi ke pegang tapi nggak di liat, tapi Sasa tau itu ponsel," celoteh gadis kecil yang sering Ella sebut dengan panggilan Micin itu.
"Sasaaa!" geram Dalina yang kesal karena dia sudah mondar-mandir seperti orang ora genah hanya untuk mencari sang ponsel yang ternyata berada di dekat paha mungil sang putri.
__ADS_1
.
.
.
Wanita yang dulu sempat di sia-sia kan oleh David, kini menjadi prioritas utama untuk pria itu. Hampir setiap harinya dia habiskan untuk mengejar cinta Poky sang mantan istri satu jam nya. Agaknya David sudah sadar sepenuhnya jika tahta dalam hatinya sudah terisi penuh oleh sang mantan istri, bahkan nama sang Quin yang dulu sempat menguasai relum hatinya kini sudah terhempas jauh sampai ke luar angkasa.
"Pokoknya hari ini gue harus bis ngajakin Poky makan siang," ucap David semangat sebelum memasuki perusahaan Wardana untuk menemui sang pujaan hati.
Berjalan dengan gagah dan penuh wibawa memasuka area perusahaan membuat para karyawan wanita terpesona, tak bisa di pungkiri, seorang David memanglah tampan dan nyaris sempurna untuk di jadikan pria idaman. Wajah yang tampan dengan alis tebal hidung mancung bibir seksi dan juga bulu mata lentik, rahang tegas dengan bentuk tubuh yang nyaris sempurna menjadi daya tarik tersendiri untuk mantan suami satu jam Poky itu.
Sesampainya di ruangan tempat Poky bekerja, David langsung menyapa wanita itu dengan ssenyuman terbaik nya. Akan tetapi seperti biasa, Poky hanya menanggapi dengan senyuman tipis dan menoleh sekilas kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
"Makan siang bareng yuk, Pou," ajak David penuh harap.
"Aku udah bawal bekel dari kosan." Kata-kata itulah yang selalu David dengar kala mengajak Poky makan siang namun pria itu tidak akan menyerah begitu saja.
"Denger-denger ada restoran yang baru buka nggak jauh darisini. Kita cobain yuk," ajak David pantang menyerah.
"Kamu aja, aku lagi males keluar," sahut Poky tanpa menatap David.
"Ayolah, Pou. Aku gendong deh, mau?" David menatap lekat penghuni relum hatinya, tapi belum menghuni ranjangnya itu.
"Nggak, Dav. Aku sibuk, kamu makan sendiri aja sana. Lagian kalau aku mau, aku bisa jalan sendiri nggak perlu di gendong karena aku bukan wanita lumpuh," ujar Poky.
"Sibuk apasih? Aku udah bilang kok sama si Ray kalo aku mau ngajakin kamu makan siang dan udah di izinin kok," terang David.
"Aku nggak bisa dan aku nggak mau, Dav. Kenapa sih kamu maksa banget?" Akhirnya Poky menatap Pria yang selalu menghantui hidupnya itu.
"Karena aku mau makan siang sama kamu, Pou," jawab David.
"Kenapa harus sama aku? Masih banyak cewek lain. Kenapa kamu nggak ajak mereka aja," ucap Poky.
"Karena aku maunya kamu, bukan mereka ataupun yang lain." David berucap dengan atensi yang menatap dalam menyelami indra penglihatan Poky.
"Em, kenapa maunya sama aku. Kan aku ini bukan siapa-siapa kamu," ujar Poky gugup karena terus di pandangi oleh David.
"Siapa bilang bukan siapa-siapa?" David meraih kedua tangan Poky.
"Kamu itu penghuni hati aku, Pou, aku cinta sama kamu."
Sontak saja perkataan David membuat Poky membeku, tak bisa di pungkiri. Dia juga mencintai pria itu. Bahkan sudah lama sekali, Poky mencintai David pada pandangan pertama dalam peristiwa itu.
"Bukannya kamu cinta sama, Ella?"
Deg!
Kenapa Poky bisa mengetahui perasaannya dulu terhadap Ella? Pikir David.
"Ka-mu tau itu?"
"Ya, aku tau. Dan aku juga tau alasan di balik peristiwa itu, ini semua karena perasaan kamu pada Ella kan? Pada malam itu kamu mabuk karena kamu nggak Terima Ella menikah sama Pak Ray. Iya kan?" cecar Poky.
"Iya, tapi percayalah, Pou. Di hati aku udah nggak ada nama Ella sedikitpun. Di sini cuma ada kamu." David menunjuk dadanya sendiri.
"Aku nggak butuh kata-kata yang bisa jadi bulshit. Aku butuh butuh pembuktian, Dav. Buktiin kalau kamu emang benar-benar mencintai aku," ucap Poky tegas.
"Ok, akan buktikan bahwa ucapanku bukan hanya sekedar kata-kata."
__ADS_1