
"Siapa juga yang pacaran, orang kita lagi ngobrolin sesuatu," sangkal Diego.
"Masa? Kok ngobrol jaraknya deket gitu? Kek orang mau ciuman." Ella menatap mereka dengan bersidekap dada.
"Bukan mau ciuman, Ell. Tadi pas lagi ngobrol aku kelilipan, terus Diego bantu tiupin." Poky ikut menjelaskan.
"Oh... Tapi gue nggak percaya. Dah ah, mau ngambil minum aus. Bay." Ella melangkah pergi.
Setelah selesai membasahi kerongkongan, Ella kembali ke ruang divisi. Dia melanjutkan pekerjaannya kembali, berkali-kali dia menguap. Rasa bosan dan kantuk menguasai dirinya. Hingga makan siang pun tiba, Ella segera bergegas keluar.
"Lo ngapain di sini, Gil?" tanya Ella pada Ragil yang tengah memesan minuman di kantin.
"Gue 'kan jadi asisten pribadinya, Ray," jawab Ragil.
"Oh ya? Sejak kapan?" Ella mendudukan tubuhnya di hadapan Ragil.
"Sejak Ray ngambil alih perusahaan ini," jawabnya lagi.
"Owh, kok gue nggak tau ya." Ella menyangga dagunya di meja.
"Nggak penting juga lo tau, oh ya. Bukannya ini jam makan siang?" ucap Ragil.
"Iya lah, makannya gue ke kantin. Laper," ujar Ella.
"Eh ngab, lo di tunggu sama lakik lo. Malah makan di kantin." Delik Ragil karena dia tau Ray sedang menungu Ella untuk makan siang bersama.
"Astaga, gue lupa!" Ella segera beranjak pergi.
Sesampainya di depan ruangan Ray, Ella langsung menerobos masuk. Ternyata di sana ada abangnya juga yang sepertinya sedang membicarakan sesuatu dengan Ray. Ella menghampiri mereka kemudian duduk di pangkuan Ray.
"Kenapa baru kesini, hm?" Ray mengecup lembut puncak kepala Ella.
"Tadi ke kantin dulu, akunya lupa kalo mau makan siang bareng, Kak Ray. Hehe," jawab Ella dengan cengengesan.
"Kamu ini, selalu aja kakak di lupain." Ray mengusak rambut Ella gemas.
"Ekhem, di sini ada orang kali." Dehem Satria karena keberadaan nya tidak di anggap.
"Yang bilang situ setan siapa?" Ella menatap malas ke arah abangnya.
"Wehh! Adek nggak ada ahlak lu dasar!" ucap Satria kesal.
"Abang juga tu---"
Cup!
Ray membungkam mulut yang hendak nyerocos itu dengan bibirnya, karena rasa bibir istrinya yang begitu manis membuat Ray terlena dan memperdalam ciuman yang tadinya hanya menempel saja.
"Njirr! Mata soleh gue ternodai. Sialann lu Ray!" pekik Satria memaki Ray namu Ray tidak mendengar nya karena terlalu asik mencumbu sang istri.
"Adik ipar nggak ada ahlak! Gendeng lu pada!" maki Satria lagi kemudian dia bangkit dari duduknya.
"Ayang Kadal.... Ngiler juga gue, balik ah mau nyumbu bini juga," lirih Satria kemudian melangkah pergi dari ruangan Ray.
__ADS_1
Ella meronta menepuk bahu Ray supaya ciuman itu terlepas, dia sangat lapar. Cacing-cacing di perutnya meronta meminta di isi namun Ray malah semakin memperdalam ciumannya hingga Ella memukul belalai Ray yang sudah berdiri tegak, barulah Ray melepaskan ciuman itu.
"Sayang... Kenapa si Bonar di pukul?" melas Ray karena anu nya ngilu.
"Abisnya kak Ray nggak mau lepasin aku. Padahal kan akunya laper," rengek Ella manja.
"Maaf, Sayang. Kakak lupa," cengir Ray.
"Kita keluar yuk cari makan." Ella bangkit dari pangkuan Ray.
"Bentar, Sayang." Ray masih diam.
"Kenapa?" tanya Ella heran.
"Si Bonar ngilu banget, Sayang. Kamu sih mukulnya keras banget. Kalau dia mati gimana?" Ray menatap sang istri dengan wajah memelas.
"Jangan lebai deh, aku tadi cuma getok pelan. Lagian kalo mati gampang, tinggal kubur aja terus cari belalai baru. Kalo perlu pake belalai gajah biar tahan banting," ucap Ella sambil berkacak pinggang.
"Nggak sekalian aja pake sementara tiga roda biar kokoh." Delik Ray sembari bangkit.
"Boleh juga, tambahin beton sekalian." Ella menarik tangan Ray menuju keluar kantor.
Ella mengajak Ray untuk makan di restoran depan kantor, begitu sampai di sana mereka langsung memesan. Karena lapar yang tak tertahankan, begitu makanan tiba Ella langsung saja menyantapnya dengan lahap.
"Akhirnya kenyang juga," ucap Ella setelah makanannya habis.
"Ray," sapa seorang pria yang seumuran dengan Ray.
"Gue abis makan siang, tadinya abis ini gue mau nemuin lo. Eh taunya kita ketemu di sini," jawab orang itu.
"Ada angin apa nih, lo nemuin gue?" tanya Ray.
"Jawabnya sambil duduk, noh kursi kosong," lanjut Ray.
"Ok." Pria itu duduk.
"Gue cuma pengen ketemu aja, udah lama kan kita nggak ketemu. Ngumpul bareng, gue kangen sama kalian ber-empat," ujar Orang itu.
Ray hanya menanggapi nya dengan senyum tipis sembari melihat istrinya yang sedang menatap mereka dengan bingung.
"Kenalin, Sayang. Ini Andra temen kuliah kakak dulu," ucap Ray memperkenalkan temannya pada Ella.
"Hay, Kak," sapa Ella ramah.
"Hay, gue Andra temennya Ray waktu kuliah." Orang itu memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan-Nya.
"Stela." Ray yang menjawab dan menyambut uluran tangan Andra.
"Ck, ternyata si Ray dingin udah bucin," ledek Andra.
"Gue kira lo nggak suka cewek Ray, secara kan lo nggak pernah pacaran maupun ngelirik cewek. Gue kira lo nggak normal," imbuhnya.
"Sialann lo!" Ray melempari Andra dengan kentang goreng di hadapan nya.
__ADS_1
"Emangnya kak Ray nggak pernah deket sama cewek ya, Kak?" tanya Ella.
"Nggak, makannya gue kira nggak normal. Mana sikapnya beuh!"
"Dingin banget ya, Kak? Kayak kulkas berjalan. Aku aja dulu pas deket sama kak Ray berasa kayak di Kutub dan di lapangan," ucap Ella.
"Kok bisa serasa ada di dus tempat sekaligus?" heran Andra.
"Karena dia kan dingin dan datar, makannya serasa di Kutub dan di lapangan. Mana cuek bebek lagi, untung sekarang nggak cuek lagi karena cuek nya udah beredar di pasar dan di warung," ujar Ella.
"Apaan cuek yang di warung?" Andra tidak mengerti.
"Ikan cuek, Kak. Kan banyak di warung, makannya kak Ray nggak cuek lagi karena cueknya pindah ke warung," tutur Ella.
"Sorry, Dra. Bini gue emang gitu." Ray merasa tidak enak.
"Santei aja, Bro. Bini lo lucu, mana cantik lagi," puji Andra yang mana membuat Ray yang tadinya merasa tak enak hati berubah seketika menjadi kesal.
"Dia bini gue," tegas Ray.
"Siapa juga yang bilang bininya kang somay." Delik Andra.
"Aku jadi pengen somay," celetuk Ella.
"Nanti kita cari yah, di sini nggak ada somay, Sayang," ujar Ray.
"Nggak mau nanti, pengen sekarang. Aku mau cari sendiri aja," ucap Ella.
"Kakak anter."
"Nggak mau, pengen cari sendiri aja. Kak Ray tunggu di sini, nanti aku balik lagi ke sini." Ella melangkah pergi dari tempat itu.
Dia berjalan menyusuri jalanan depan kantor untuk mencari kang siomay. Kondisi jalanan cukup ramai karena saat ini jam makan siang.
"Stela, kamu ngapain di sini?" tanya Dafa sang manajer yang hendak menyebrang jalan.
"Lagi nyari kang somay, Pak," jawab Ella sembari melirik sekitar.
"Ngapain nyari tukang somay?" tanya Dafa lagi.
"Mau di ajak dugem," jawab Ella ngasal.
"Kenapa tukang somay mau di ajak dugem, Stela? Dia kan lagi dagang. Apa kamu nggak punya teman? Lagian cewek itu nggak baik pergi ke tempat dugem," ucap Dafa.
"Etdah si bapak, di anggap serius lagi. Mana ada orang cari kang somay mau di ajak dugem? Ya mau beli somay lah, Pak," ujar Ella sembari mendelik kemudian dia berlalu pergi.
"Manajer abal-abal, masa gitu aja percaya? Bisa bangkrut ni perusahaan. Kalau manajer nya gampang percayaan dan mudah di tipu. Pak Dafa, pak Dafa ... Di mana sih dia naruh otaknya? Apa di kulkas? Makanya jadi beku dan juga telmi," gumam Ella sembari menyusuri jalanan.
"Nah itu dia kang otak! Eh kang somay!" pekik Ella kala melihat grobak yang bertuliskan somay.
Hay semua, jangan lupa jejak ya. Dan satu lagi, otor punya rekomendasi cerita yang sangat bagus nih. Seru, nggak membosankan. Pokonya patut di coba deh. Cuss kepoin👇
__ADS_1