Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Kebersamaan Ella dan keluarganya


__ADS_3

"Papih kok belum pulang sih, Mih?" tanya Ella yang sedang menyusui Zura.


"Mungkin bentar lagi," jawab Rina yang asik berceloteh dengan Zam.


"Ngapain lo nanyain bokap? Mau nyusu?" sahut Satria yang sedang tiduran di paha Dalina. Kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Apasih bayi gede, nimbrung mulu." Delik Ella.


"Sewot amat, Ibu kecil," balas Satria.


"Mih! Liat, Abang. Dia ngeledekin aku mulu," adu Ella pada sang Ibu.


"Dasar kang ngadu!" Cibir Satria.


"Apa lu kang ledek!" balas Ella sengit.


"Shutt! Kalian bisa nggak sih, sebentar aja diem jangan berisik. Tiap ketemu selalu aja ribut," lerai Rina jengah.


"Abang tu, Mih. Yang mulai."


"Kan elu yang pertama kali ngatain gue, dasar pikun!" Satria malah semakin menjadi.


"Abang jahat! Aku sebel ih," ketus Ella.


"Hayo lo, mau ngadu sama siapa? Sama Mamih di acuhin, Papih belum pulang. Lakik lo molor," ledek Satria karena memang Ray sedang tidur di kamar.


"Mih!" Ella melirik sang ibu dengan memelas.


"Diem, Zam bobo nih," ucap Rina berbisik.


"Lebih sayang cucu daripada anaknya sendiri, Mamih jahat!" keluh Ella.


"Kan ini anak kamu Maemunah. Masa nggak sayang, dasar Belgedes!" Rina bangkit dari duduknya.


"Mamih mau kemana?" tanya Ella.


"Ngambil ulekan buat ngulek otak kamu!" Rina melangkah pergi.


"Siap-siap otak dangkal lo bakal di ulek, Mamih hayo!" ledek Satria yang sudah tidak tiduran lagi di paha Dalina.


"Dasar, Abang luknut!" Ella menatap Satria sengit.


"Sini, Ell. Zura nya. Aku mau gendong," ucap Dalina.


"NIh, tapi jangan di kasih ke Bangsat ya. Nanti anak aku sawan." Ella menyerahkan Zura ke pangkuan Dalina.


"Wah, ngajak gelut lo, Dek!" Satria bangkit dari duduknya.


"Hayo! Siapa takut!" Ella melipat kedua lengan bajunya.


Mereka pun saling menatap dengan sengit, kemudian Ella melompat ke arah Satria sehingga membuat Satria terjengkang. Tak hanya sampai di situ, mereka juga berguling-guling di lantai dengan posisi kaki saling membelit.


"Tom and Jerry, ada aja kelakuannya kayak bocah." Rina yang baru saja menidurkan Zam keluar dari kamar lalu menggeleng melihat tingkak kakak beradik itu.


"Sini, Dal. Mamih mau bawa Zura ke kamar. Kasian kelamaan disini, nanti sawan." Rina mengambil Zura dari gendongan Dalina kemudian dia masuk kembali ke dalam kamar.


"Wah, ada pertandingan seru, nih." Andi yang baru saja datang langsung duduk di samping Dalina.


"Kok pulangnya telat, Pih?" tanya Dalina.


"Macet, Dal. Kendaraan jalannya lamban kek semut. Makannya sampe rumah lama," jawab Andi.


"Gak pa-pa lambat, asal selamat, Pih," ujar Dalina.


"Pengennya cepet, Dal. Kalo perlu melesat kayak vampir. Ah, Papih kok kepengen jadi vampir, ya." Andi menyandar di sofa.


"Jangan, Pih. Nanti manusia abis di gigitin sama, Papih. Emangnya, Papih mau hidup sendirian?"


"Gak bakalan abis, Dal. Palingan mereka juga jadi vampir, gak mungkin 'kan jadi Kadal. Itu mah sepesies kamu."

__ADS_1


"Ih, Papih.... Aku bukan Kadal!" Cebik Dalina.


"Emang kamu bukan Kadal ya, Dal?" tanya Andi tanpa dosa.


"Papih...!" Dalina cemberut.


"Kenapa kamu ketawa, Dal? Papih lucu ya?" Andi menaik turunkan alisnya.


"Aku ngambek, Pih. Bukan ketawa. Papih itu gak lucu, tapi ngeselin," ucap Dalina kesal.


"Makasih pujiannya, Papih emang tampan!"


"Papih, tengil."


"Makasih."


"Abang kalah! Uhuy, aku menang!" Teriak Ella yang kini sedang menduduki perut Satria yang tengah terlentang dengan keringat bercucuran.


"Wah, anak Papih hebat! Ayok, Ell. Serang lagi anak tengil itu," teriak Andi menyemangati.


"Ay-ay, siap kapten!" Ella berhormat dengan semangat.


"Ngatain anak tengil, gak sadar apa? Kalo dia lebih tengil, nyebelin lagi," gerutu Satria dengan napas terengah.


"Abang udah kalah," seru Ella.


"Lu turun napa, Dek! Bisa-bisa gue metong kalo di dudukin sama gajah buntel begini. Nyadar napa, Dek. Badan lo tu bulet kek bal baliter! Gue bisa mati." Satria terkapar lemah.


"Siapa suruh ngeledekin aku? Blee! Lagian masa seksi gini di bilang gajah buntel. Mata, Abang siwer, ya?" Delik Ella.


"Ya lah, serah lu. Sekarang cepet turun!"


"Gak mau!" Ella malah mundur ke belakang.


"Ah! Astaga, Dek! Lu kira-kira dong kalo duduk!" pekik Satria.


"Burung gue lo dudukin dodol! Mana baru tumbuh lagi," kesal Satria.


"Apanya yang tumbuh? Emang burung, Abang di potong ya? Kok bisa tumbuh lagi." Ella menyingkir dari atas tubuh Satria.


"Lu pikir buntut cicak kalo putus bisa tumbuh lagi." Satria bangkit kemudian duduk di samping kiri Dalina.


"Terus apanya yang tumbuh?" Si kepo masih saja bertanya.


"Kamu gak kangen sama, Papih Sayang?" Untung saja Andi bersuara, jadi Satria bebas dari pertanyaan Ella yang harus di jawab sampai ke akarnya.


"Kangen dong, Pih." Ella menghampiri Andi lalu duduk di pangkuannya.


"Dasar bocah!" Cibir Satria.


"Sirik aja, huuh!" Ella menatap sengit Satria.


"Kalian ini, selalu aja gak pernah akur." Andi mengecup kening sang putri.


"Dia yang mulai, Pih." Ella menunjuk Satria.


"Gak boleh gitu, dia abang kamu, Sayang," Nasihat Andi.


"Tapi dia nyebelin, Pih...."


"Iya, sih. Tapi kamu harus Terima, bagaimanapun orang tengil dan nyebelin itu adalah, Abang kamu," ucap Andi.


"Ok deh, Pih."


"Kamu seneng gak? Sekarang udah punya baby?" tanya Andi sembari mengelus rambut panjang Ella.


"Seneng, Pih. Mereka jadi penyemangat buat aku. Aku serasa mimpi, di umur aku yang belum genap 20 tahun sudah menjadi seorang ibu," ujar Ella.


"Papih juga gak nyangka, putri kecil Papih yang selalu merengek ini udah jadi ibu. Ya, walaupun sekarang masih sering merengek, tapi bukan sama, Papih." Andi menatap putrinya penuh kerinduan, pasalnya sudah lama sekali Ella tidak bermanja padanya.

__ADS_1


"Papih tau, gak? Dulu itu aku sempet kesel banget sama, Papih." Ella mendongkak menatap sang Ayah.


"Kesel kenapa?" Andi mengecup pucuk kepala Ella.


"Karena Papih ngejodohin aku sama dosen yang super dingin," jawab Ella.


"Terus, sekarang masih kesel gak?"


"Enggak dong, kan dia udah gak dingin lagi."


"Berati Ray udah hangat ya, sekarang?"


"Iya, Pih. Hangat banget."


"Kamu gak ungkeb dia kan?"


"Kok di ungken si, Pih?"


"Bukannya dulu kamu mau jadiin dia ungkeb bapak dosen, supaya gak dingin lagi."


"Bukannya jadi hangat, Pih. Tapi tambah dingin, kan dia mati kalo di ungkeb," sahut Satria.


"Bukannya kamu yang ngasih saran dulu, Sat?"


"Kan bercanda, Pih. Dasar aja si markonah di anggap beneran."


"Hayoo... Lagi pada ngomongin aku, ya?" Ray yang baru saja bangun tidur menghampiri mereka.


"Kak Ray udah bangun?" Ella menatap ke arah Ray tanpa turun dari pangkuan Andi.


"Kalo belum, yang ada di hadapan lo siapa? Demit." Satria yang menjawab.


"Aku gak nanya sama, Abang," Ketus Ella.


"Gue juga gak ngomong sama lo, orang ngomongnya sama demit. Iya kan mit?" Satria menatap ke sembarang arah.


"Sedeng kali tu orang."


"Sayang... Kok duduk di pangkuan, Papih? Kasian Papih nya abis pulang kerja, pasti dia capek," ucap Ray sambil memandang sang istri yang tengah bersandar di dada Andi.


"Gak Pa-pa kok, Ray. Lagian Papih juga kangen sama putri kecil, Papih ini," ujar Andi.


"Ellaaa!" teriak Rina.


"Apasih, Mih? Kenapa dateng-dateng teriak coba? Aku kan gak gudeg."


"Kamu jahat," ucap Rina mendramatis.


"Mamih kenapa, sih?" Heran Ella.


"Kenapa kamu ngerebut suami, Mamih? Awas! Mamih mau duduk di situ," ujar Rina.


"Pelit! Inikan Papih aku." Ella bangkit dari pangkuan Andi.


"Ini tuh tempat, Mamih. Tempat kamu yang itu." Rina duduk di pangkuan Andi sembari menunjuk kearah Ray.


Ella pun melengos, kemudian dia duduk di pangkuan Ray. Satria juga tidak mau kalah, dia menarik sang istri ke dalam pangkuannya.


"Kak Ray."


"Hm."


"Tadi kakak tidur sama siapa?" tanya Ella saat dia sudah duduk di pangkuan Ray.


"Sendiri," Jawab Ray.


"Tapi kenapa bangunnya berdua?"


Jangan lupa, tap like. Komen, Vote, Fav and hadiah nya juga ya. Biar otor mangat gitu, caelah ngarep gue🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2