Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Pukulan telak


__ADS_3

Brakk!


Suara gebrakan terdengar begitu keras di tengah perbincangan mereka, seketika arah pandangan mereka tertuju pada suara itu. Terlihat di sana empat orang pereman berbadan kekar dengan tato yang memenuhi tubuhnya dan juga rambut gondrong wajah dekil sedang beradu mulut dengan seorang pedagang wanita paruh baya. Tidak hanya itu, salah satu dari mereka bahkan menghancurkan dagangan wanita itu sehingga membuat wanita itu menangis tersedu dan berteriak histeris.


"Ell, lo mau kemana?" teriak Diego saat melihat Ella berjalan kearah keributan itu.


"Beresin mereka." Ella hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan langkahnya kembali.


"Ikutin yuk? takutnya Ella kenapa-napa," ajak Kiana.


Diego dan Alvin mengangguk setuju, sedangkan Jesika dia hanya mendelik kesal. Karena dia berpikir Ella selalu saja mencari sensasi supaya mendapat perhatian dari Diego.


"Om-om lagi nyari apa? kenapa dagangan ibunya di ubrak-abrik? Om nyari kecoa ya? Atau nyari undur-undur?" tanya Ella polos saat dia sudah sampai di lokasi keributan.


"Elah ni bocah ganggu aja. Pergi lo sono sebelum gue timpuk!" ucap Pria yang rambut nya di kuncir sembari mengambil ketupat dagangan ibu itu dan hendak di lempar pada Ella.


"Enak tu, Om ketupat. Sekalian di kupas dong Om. Jangan lupa pakein, tahu, toge, kerupuk sama sambal kacang nya ya." Ella berkata sembari tersenyum manis.


"Kurang ajar lo bocah, beraninya nantangin gue," marah pria itu kemudian dia melemparkan ketupat tadi kearah wajah Ella.


Hap!


Alvin yang baru saja datang langsung menangkap ketupat itu kemudian membuangnya asal. "Huaa, Vivin. Untung ada kamu, kalo enggak, wajahku yang cantik pari purna cetar membahana ini bakalan penyok," ucap Ella lebay.


"Lebay banget lo, makannya jangan caper. Sok-soan mau nolongin taunya nyali nya cuma se uprit, lemah," cibir Jesika tetapi Ella malas menanggapi.


"Wah, wah, wah. Banyak pahlawan kesiangan rupanya. Lihat saja nanti Kalian pasti akan menyesal karena telah mencampuri urusan kami, bersiaplah untuk mati." Pria berambut ikal nampak menatap mereka tajam dengan menyeringai.


"Kita bukan pahlawan, Om. Om liat deh, kita gak pake kostum kan? Lagian mana ada pahlawan kesiangan di sore hari, gak pas, Om. Yang bener pahlawan kesoren. Satu lagi, Om. Kita belum siap mati, gimana dong? Gimana kalau Om aja yang mati?" ucap Ella dengan wajah imut nan menggemaskan.


"Jangan banyak bacot, kalian pergi dari sini. Atau gak kalian akan mati dengan mengenaskan! Untuk sekarang gue masih mengampuni kalian, asalkan kalian pergi," ujar Pria bertopi.


"Mending habisin aja, Bos," ucap pria berambut ikal pada pria bertopi.


"Sudahlah, hanya sekelompok bocah ingusan. Mereka bukan ancaman. Tapi sebelum mereka pergi, kuras dulu hartanya." Bos pereman itu tersenyum miring.


"Serahkan semua barang berharga kalian!" Pria berambut ikal menodong mereka dengan sebuah pistol.


"Ampun, Om. Jangan sakiti kami," ucap Kiana takut.


"Kalian boleh ambil semua barang gue, tapi plis jangan bunuh kami." Diego tampak mengeluarkan dompet dan juga ponselnya dari dalam saku jaket.


"Bunuh saja dia, Om. Jangan kami, kan dia yang nantang, Om." Jesika yang gemetar karena pistol itu kini tepat berada di hadapannya sambil menunjuk Ella.


"Cepat serahin barang lo, jangan banyak bacot!" Pria itu merampas tas milik Jesika.

__ADS_1


"Jangan, Om. Itu uang jajan gue selama sebulan. Nanti gue shoping gimana dong?" ucap Jesika memelas.


"Balikin barang mereka," ucap Alvin dingin.


"Apa lo bilang? Balikin? Enak aja, tidak bisa." Pria itu memandang Alvin remeh.


Bughh!


Alvin menonjok perut pria berambut ikal itu. "Kurang ajar lo bocah!" marah Pria itu kemudian dia mengambil ancang-ancang untuk membalas serangan Alvin.


Bughh!


Bugh!


Dughh!


Dakk!


Perkelahian sengit antara pria berambut ikal dengan Alvin pun tidak ter elakkan lagi. Gerakan Alvin lumayan gesit, walaupun tidak sepasih Ella. Tapi cukup lumayan untuk skil bertarung seorang laki-laki dingin sepertinya.


Saat pria berambut ikal bertarung dengan Alvin, pria rambut kuncir menghampiri mereka dengan tatapan genit, matanya jelalatan. Dia menatap kagum wajah cantik Ella kemudian dia menatap lapar pada dada dan paha Jesika yang terekspos, karena Jesika mengenakan baju yang bagian dadanya rendah dan juga rok mini setengah paha.


"Mau bermain denganku manis?" Pria rambut kuncir mencolek dagu Jesika.


"Jangan sentuh gue!" pekik Jesika.


"Gue takut Ki, gue gak bisa berantem,",ujar Diego.


" Wajah sangar, nyali hello kitty. Udah ganti aja tu celana pake rok."Delik Ella.


"Rupanya kalian lebih memilih mati daripada pergi," ucap pria bertopi


"Udah aku bilang, kita gak mau mati. Mending Om aja, ya. Om kan udah tua, udah bau tanah pula," tawar Ella.


"Ikat mereka!" perintah Pria bertopi yang sudah kesal pada pria berpipi codet.


"Siap, Bos." Pria pipi codet mengeluarkan sebuah tali tambang dari dalam saku jaketnya.


"Om, kita bukan kambing, kenapa mau di iket?"


"Diam!"


"Ini diem kok, enggak lari-lari. Kuping Om buta yah?" celetuk Ella.


"Diam atau mulut lo gue sumpel," ancam pria tadi sembari mengeluarkan pisau runcing dari saku celananya.

__ADS_1


"Pake ketupat kan, Om? Jangan lupa sambel kacang nya ya, Om," ucap Ella dengan mata yang meneleng membaca gerakan tubuh pria pipi codet supaya tidak kecolongan.


Brukk!


Ella langsung menendang kuat pria pipi codet saat dia hendak melayangkan pisau itu pada Ella karena kesal dengan semua ucapan Ella, untung saja Ella pandai membaca gerak tubuh jadi dia bisa menghindar sebelum terkena.


"Ell awas!" teriak Kiana saat melihat pria bertopi melempar belati dari arah belakang Ella.


Seketika Ella berbalik lalu bersalto untuk menendang belati itu dengan mengenakan kakinya. Trang! Belati itu terpental kearah grobak, untung saja tidak mengenai orang.


Ella melihat Alvin sepertinya mulai kelelahan, dia pun segera menyerang ketiga pereman itu secara bersamaan supaya dia bisa cepat membantu Alvin. "Gede juga nyali lo, sampe mau lawan kita bertiga," ucap Pria rambut kuncir dengan nada mengejek.


"Pastilah, aku kan tidak seperti kalian. Badan gede, nyali cuma seujung kuku," cibir Ella.


"Bener-bener pengen mati rupanya kamu bocah sialan." Murka pria bertopi.


"Aku gak pengen mati, Om. Tapi pengen sosis bakar toping mayones, eum Yumi."


"Serang!" pria berpipi codet amarahnya sudah memuncak, begitu juga dengan dua pria lainnya.


Mereka langsung menyerang Ella secara membabi buta, tetapi dengan santainya Ella menangkis semua serangan mereka, Ella belum melawan, dia masih menangkis serangan saja. Karena jika dia melawan saat ini juga, teman-teman nya pasti akan bingung dan curiga. Pasalnya pukulan telak nya bisa membuat mereka pingsan seketika. Apalagi jika mereka melihat Ella membunuh, pastilah mereka akan takut dan berpikir yang tidak-tidak.


"Kalian bawa ibu itu ke tempat yang aman, cepat! Jangan lupa beri minum dan tenangin dia!" teriak Ella.


"Tapi lo gimana, Ell?"teriak Diego cemas.


"Tenang aja, gue bisa atasin ini. Cepat bawa ibu itu." Ella menunjuk ibu pedagang yang sudah lemas karena tadi sempat melawan.


Diego dan Kiana pun menuruti perintah Ella, mereka membawa ibu itu ke tempat yang aman dan juga nyaman. Setelah mereka benar-benar pergi, Ella langsung saja mengeluarkan jurusnya. Yaitu pukulan telak di dada yang akan membuat mereka pingsan.


Bughh!


Bughh!


Bughh!


Mereka bertiga langsung tergeletak tak sadarkan diri. Sementara para pedagang dan orang-orang yang ada di sana mereka semua sudah pergi sedari pereman itu tiba, makannya tidak ada yang menyaksikan mereka bertarung. Karena setiap kali para pereman datang, mereka akan melarikan diri atau sembunyi. Mereka takut pada pereman itu, yang selalu bertindak kasar bahkan tidak segan membunuh. Naas saja seorang ibu penjual ketupat tidak sempat melarikan diri.


"Kalo bukan di keramaian, udah gue bunuh kalian!" kesal Ella.


"Gue harus nyediain tempat yang aman dan nyaman buat mereka jualan. Kasian mereka jualannya gak tenang gini, gue yakin pereman di daerah sini bukan hanya mereka, pasti masih banyak komplotan lain yang akan membahayakan mereka," lanjutnya bergumam.


"Alvin!" Ella tersadar dan langsung berlari kearah Alvin yang mulai sempoyongan karena tak sanggup melawan pria berambut ikal yang lebih kuat daripa yang lain.


Jangan lupa tinggalkan jejak biar up lagi😘😘

__ADS_1


Coba deh baca novel ini, cerita tentang perjodohan juga, tapi di warnai dengan perjuangan cinta yang rumit membuat geregetan. Sekaligus penasaran dengan endingnya. Sok kepoin di jamin gak bakal nyesel.



__ADS_2