
Ella nampak berpikir apa yang membuat suaminya seperti ini? Kemudian dia mengingat pembicaraannya pada hari jum'at dengan teman divisinya tentang pria tampan. Apakah Ray mendengar pembicaraan mereka? Pikir Ella.
"Kak Ray, asal kak Ray tau. Aku itu suka kak Ray yang apa adanya, mau itu dekil, buluk. Apapun itu aku tetap suka. Jika kak Ray denger aku ngomong suka pria muda, tampan dan keren. Itu hanyalah sebuah candaan untuk menanggapi mereka, menghilangkan kepenatan juga di tengah lelahnya bekerja," ujar Ella meyakini Ray.
"Beneran?" tanya Ray memastikan.
"Iya."
*************
Waktu berjalan terasa begitu cepat, hari senin sudah tiba, Ella kembali di sibukan dengan rutinitas di kantor. Berkutat dengan laptop dan juga tumpukan berkas.
"Ell," panggil Ragil saat Ella hendak menaiki lift menuju ke ruangan Ray, dia merasa rindu dengan suaminya maka dari itu Ella memutuskan untuk menemui Ray.
"Kenapa, Gil?" Ella berbalik menatap Ragil.
"Ada yang mau gue omongin," ucap Ragil.
"Tentang?"
"DB," jawab singkat Ragil yang di mengerti oleh Ella.
DB, artinya dunia bawah. Ragil sengaja tidak menyebutkan gangster AOD, atau apapun itu karena mereka sedang berada di tempat umum, takutnya ada orang yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"Temui gue selepas makan siang nanti di ruangan, Ray," ujar Ella.
"Ok."
Ella melanjutkan langkahnya kembali untuk menemui sang suami, sebenarnya dia penasaran tentang apa yang akan di bicarakan oleh Ragil. Karena selama magang, Ella jarang sekali mengurusi dunia bawah yang selalu ada dalam kendalinya kini nyaris tidak terkontrol olehnya. Dia tidak tau apa yang terjadi dengan dunia bawah saat ini. Jika biasanya dia selalu memantau dan juga mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi seperti memprediksi sebuah serangan dadakan dengan mempersiapkan semuanya, tetapi kali ini tidak! Dia menyerahkan semua itu kepada Ragil dan David, fokusnya kini hanya untuk keluarga dan kelancaran kuliahnya.
"Kak Ray." Ella memeluk Ray yang sedang memeriksa berkas dari belakang.
"Sayang, tumben kesini sebelum makan siang," heran Ray.
"Emangnya aku nggak boleh kesini sebelum makan siang," ucap Ella cemberut.
"Bukan gitu, Sayang. Cuma nggak biasanya aja." Ray menarik Ella ke dalam pangkuannya.
"Aku kangen sama, Kak Ray." Ella mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
__ADS_1
"Tumben." Ray mengecup bibir ranum Ella sekilas.
"Aku juga nggak tau, Tiba-tiba kangen aja," ucap Ella.
Ray semakin mempererat pelukannya, kemudian dia menatap kedua hazel Ella dalam. Cup! Sebuah kecupan mendarat di bibir ranum itu yang semula kecupan berubah menjadi lumataaan. Ray menyapu setiap inci bibir Ella meneroboskan lidahnya masuk ke dalam sela mulut Ella. Ciuman mereka semakin memanas dengan gairah yang semakin memuncak. Ray yang sudah tidak tahan pun langsung menggendong tubuh Ella seperti koala membawanya masuk ke dalam kamar tempat istirahat Ray.
Euh!
Ella meleguh kala Ray mulai menjamah setiap inci dari tubuh Ella. Menikmati setiap ke indahan tubuh Ella dengan tangan dan juga bibir nya, Ella semakin belingsatan kala tangan ramah Ray mulai menyelusup ke dalam gua miliknya dengan lidah yang menyapu kedua ujung puncak gunung Ella secara bergantian.
"Emh! Kak Ray ah!" Ella meremas kuat rambut Ray sehingga membuat rambut rapih Ray berantakan.
"Keluarkan, Sayang. Ruangan ini kedap suara," bisik Ray saat melihat Ella mengigit bibir bawahnya guna menahan suara yang keluar dari mulutnya.
"Ah! Euhg!" Semakin menjadi kala tongkat bisbol Ray sudah berhasil menerobos masuk kedalam guanya.
Entah sejak kapan mereka berdua toples, Ella tidak menyadarinya karena dia terlalu asik menikmati setiap sentuhan Ray yang mampu membuatnya melayang ke awang-awang. Satu jam berlalu, mereka baru menyudahi aktipitasnya lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Untung di ruangan tempat Ray beristirahat ada baju ganti, jadi Ella tidak pusing memikirkan baju ganti.
"Sini kakak bantu." Ray mengambil alih hairdryer dari tangan sang istri.
Ray membantu Ella sampai rambut sang istri mengering, Ella tersenyum manis. Entah mengapa akhir-akhir ini dia selalu ingin dekat dengan Ray.
"Ayo, aku udah laper," jawab Ella.
Mereka pun berjalan keluar dengan Ella yang terus bergelayut manja di tangan kekar Ray. Itu tidak masalah buat Ray, dia tidak risih sama sekali. Malahah dia senang istrinya bersikap seperti itu, jadi otomatis seluruh dunia akan tau jika Ella adalah miliknya. Restoranny tidak jauh, hanya di sebrang kantor jadi tidak memerlukan waktu yang lama mereka sudah sampai di restoran tersebut.
"Kamu mau pesen apa, Sayang?" tanya Ray setelah mereka sampai dan duduk di salah satu meja.
"Aku lagi pengen makan nasi goreng kambing," jawab Ella.
"Nasi goreng kambing?" Ray mengerenyit, pasalnya sang istri tidak menyukai daging dari hewan tersebut namu mengapa kali ini dia mesesan itu.
"Iya, kayaknya enak deh. Yang ekstra pedas," ucap Ella.
"Yaudah." Ray memanggil pelayan untuk memesan makanan yang di inginkan sang istri, dirinya pun sama memesan nasi goreng itu namun tidak pedas.
"Oh ya, Kak Ray. Tadi Ragil bilang ingin menyampaikan sesuatu," ucap Ella kini mereka sedang menunggu pesanan datang.
"Tentang?"
__ADS_1
"Db."
"Apa yang terjadi?" tanya Ray karena selama ini dia juga sibuk dengan urusan perusahaan jadi tidak sempat memantau dunia bawah.
"Entahlah, Ragil belum cerita. Aku tadi nyuruh dia buat nemuin aku di ruangan kak Ray selepas makan siang," ujar Ella.
"Semoga nggak terjadi sesuatu apapun yang dapat membahayakan kita," ucap Ray sedikit khawatir.
"Semoga aja."
Tak lama pesanan mereka datang. Dengan segera mereka menyantapnya karena lapar, Ella terlihat sangat lahap bahkan dia tidak mengeluh sedikitpun seperti biasanya jika Ray memesan nasi goreng kambing, Ella akan menggerutu karena bau namun kali ini tidak padahal dia memakannya bukan hanya mencium wanginya.
"Balik kantor yuk, Kak Ray," ucap Ella setelah makanan mereka habis.
"Tumben buru-buru?"
"Aku penasaran sama informasi yang akan di sampaikan Ragil," jawab Ella.
"Kakak juga penasaran sih, yaudah ayok." Ray menggandeng tangan Ella keluar dari resto.
Setelah sampai di luar Ella berhenti.
"Kenapa?"
"Mau beli kentang buat camilan, kak Ray duluan aja," ucap Ella cengengesan.
"Kenapa nggak dari tadi coba." Ray mengusak pucuk kepala Ella.
"Kalau gitu kakak duluan ya."
"Ok kak Ray." Ella tidak langsung masuk, melainkan dia malah menatap suaminya yang mulai berjalan pergi. Ray terlihat berkali-kali lebih tampan di matanya saat ini. Ella tersenyum tipis namun seketika senyumannya pudar saat melihat sebuah mobil melaju kencang dan suaminya sedang menyebrang.
"Kak Ray awass!" teriak Ella.
jejak guys😘
ini otor punya rekomendasi cerita bagus, hot and bikin nagih. cus ah kepoin sambil nunggu Ella up👇
__ADS_1