
(Siswi jaman sekarang memang tidak punya moral, dosen sendiripun di goda.)
Begitulah kira-kira caption dari salah satu postingan video yang di sebarkan oleh salah satu akun.
(Niatnya bukan mau kuliah, tapi cari mangsa. Dosen pun dia mangsa. Dasar jal*ng.)
Tulis akun yang menyebarkan video Ella yang satunya lagi. Karena memang ada dua video yang tersebar, entah siapa yang mengambil video itu. Yang pasti orang yang tidak suka terhadap Ella tentunya.
"Ngapain juga nge-goda lakik sendiri, tanpa di goda pun dia nemplok bae," gumam Ella setelah dia mengomentari salah satu postingan.
(Elah, pedes amat tu mulut. Kalo ngiri bilang aja nggak usah jelekin orang. Asal kalian tau, aku itu bebas mau ngelakuin apa aja sama bapak dosenku. Bahkan hal yang lebih dari itu, karena dia halal bagiku dan haram untuk kalian.)
Begitulah kira-kira komentar Ella dalam postingan itu. "Posting video juga ah, biar mata mereka melotot," ucap Ella dengan terkekeh.
"Parah kan, Ell videonya. Kurang ajar banget tu yang ngambil video lo diem-diem," ujar Alvin.
"B, aja. Gue bakal post yang lebih parah dari ini." Ella menyeringai.
"Gila, lo! Emang lo udah siap hubungan kalian di ketahui publik?" tanya Diego.
"Ya, siap dong. Daripada semakin banyak spekulasi yang tidak-tidak tentang gue."
"Bener juga sih, tapi nanti pasti bakalan banyak kontroversi, Ell. Secara 'kan lo sama pak Ray siswi dan dosen," ucap Diego.
"Gue tau, dan gue udah siap dengan hal itu."
"Termasuk jika salah satu dari kalian harus di keluarin dari kampus," sahut Kiana.
Sejenak Ella terdiam, "itu nggak akan terjadi. Tapi kak Ray emang ada niatan berhenti jadi dosen, sih. Dia mau nerusin mimpin perusahaan, kasian mertua gue udah tua," tutur Ella.
"Jadi pak Ray nggak bakal ngajar lagi?" tanya Kiana.
"Iya."
"Kapan dia ngundurin diri?" Kali ini Alvin yang bertanya.
"Pas gue akhir smester," jawab Ella.
"Oh."
Ella terlihat membuka sebuah video kebersamaannya dengan Ray yang dia abadikan kala itu. Dia tersenyum simpul sambil membayangkan wajah tampan Ray.
"Aku jadi kangen ...," lirihnya kemudian dia mengupload video itu ke media sosial miliknya.
(Ini baru parah, yang kalian sebarin nggak ada apa-apanya.) Tulis Ella dalam unggahannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Sukma pun datang, dia memberikan materi tambahan sesuai yang dia katakan di jam masuk pertama tadi. Satu jam berlalu, kini tiba saatnya para siswa/siswi untuk berkumpul di aula.
"Kira-kira Pak Dekan mau ngasih informasi apa ya?" ucap Kiana begitu mereka sampai di aula.
"Entah." Ella terlihat menyeka keringat di keningnua karena cuaca begitu panas.
Tak lama Dekan pun datang bersama para Dosen kecuali Ray, dia tidak hadir karena ada rapat penting di kantor yang tak bisa ia tinggalkan. Dekan mulai buka suara menjelaskan prihal mengapa dia mengumpulkan mereka di aula.
"Pak, kami mau protes," ucap salah satu siswi yang berada di barisan paling depan.
"Tentang masalah apa?" Pak Dekan menatap ke arah siswi itu.
"Kami mau, siswi yang bernama Stela Anandira di keluarkan dari kampus ini dengan secara tidak hormat. Dan juga di masukan ke black list, supaya tidak ada kampus yang menerima siswi penggoda ini," ujar siswi itu dengan seringai kemenangan.
"Kenapa saya harus mengeluarkan siswi yang sedang menuntut ilmu." Dekan mengerutkan alisnya.
"Emangnya Bapak mau, kampus ini tercoreng karena ulah siswi penggoda itu!" lantangnya.
"Coba kamu jelaskan duduk perkaranya," pinta Dekan.
"Stela itu siswi penggoda, Pak. Bahkan dia nge-goda dosennya sendiri dengan terang-terangan. Itu sangat kurang ajar sekali 'kan, Pak. Coba bapak cek medsos, udah banyak video dia bertebaran. Bahkan barusan dia meng-upload video yang sangat parah sekali, itu artinya dia udah mengakui kelakuan busuknya," tutur siswi itu dengan menggebu.
"Video?"
Dekan pun mengambil ponselnya dari saku jas, kemudian dia nyalakan dan membuka media sosial. Benar saja, video kebersamaan Ella dan Ray sudar tersebar luas dengan hujatan dan juga umpatan kasar. Bahkan banyak sekali siswi kampus ini yang turut serta menghujat Ella. Apa lagi di postingan yang di bagikan oleh Ella satu jam yang lalu.
"Siapa bilang? Dia nggak akan berani ngeluarin gue." Ella masih terlihat santai.
"Yakin banget, lo." Cibir Alvin.
"Yakin lah, kalo dia berani ngeluarin gue. Berati dia udah siap kehilangan pekerjaan." Ella tersenyum simpul.
"Maksud lo?" Alvin menatap Ella penuh tanya.
"Liat aja nanti."
"Bapak udah liat kan? Parah kan, Pak?" siswi itu kembali berucap.
"Ya, saya sudah lihat." Dekan menatap ke arah Misya.
Yup, siswi yang ngadu itu adalah Misya kakak tingkat Ella.
"Tunggu apa lagi, Pak? Keluarin dia." Misya menunjuk ke arah Ella.
"Punya hak apa kamu? Sehingga mengatur wewenang kampus ini?" Dekat malah menatap tajam Misya.
"Kenapa, Bapak malah belain jal*ng itu?" hardik Misya.
__ADS_1
"Jaga bicara kamu, Misya! Kamu itu seorang siswi, mengapa kelakuan kamu lebih mencerminkan seorang berandalan? Dan seharusnya, kamu cari tau terlebih dahulu kenyataan sebenarnya sebelum berspekulasi sendiri lalu menghujat tanpa tau kebenarannya," ujar Pak Dekan.
"Tuh, dengerin apa yang di bilang Bapak Dekan, alias dewan kantin," celetuk Ella dengan wajah meledek.
"Dewan kampus, Ell." Kiana menyenggol lengan Ella.
"Sama aja, Sama-sama dewan ini."
"Owh saya tau kenapa, Bapak belain siswi penggoda ini. Bapak pasti ada main juga 'kan sama dia?" tuduh Misya.
"Hey Mimis koya alias Misya. Lo punya mulut nggak di sekolahin ya? Itu Dekan woy, dia itu pimpinan kita, dan juga lebih tua dari kita. Omongan lo di jaga dong!" teriak Ella emosi.
"Eh, emangnya ada ya sekolahan mulut? Au ah, adain aja," gumam Ella kemudian.
"Dengan lo ngebela, Pak Dekan. Itu artinya lo mengakui kalo elo ada main sama dia! Gue nggak nyangka, siswi macam lo bisa ngegaet dua pria sekaligus di kampus ini. Wow. Amazing!" Misya bertepuk tangan.
"Nggak nyangka ya, ternyata kampus ini di jadiin tempat penampungan penggoda," terdengar krasak krusuk para siswi yang masih berada di aula.
"Iya, lebih parahnya lagi. Dekan dan juga dosennya malah terkena jeratnya," timpal yang lainnya.
"Diam! Kalian tidak bisa menyimpulkan dengan sendirinya tanpa mengetahui pakta yang sebenarnya. Kalian harus tau, Stela dan Ray itu ada....."
"Serang wanita penggoda itu!" teriakan seorang siswa membuat ucapan Pak Dekan terhenti.
"Hey stop! Apa-apaan ini?" Dekan menjadi kalut saat melihat para siswa/siswi membawa banyak botol dan juga sampah bekas makanan yang entah darimana mereka dapatkan.
"Bagaimana ini, Pak?" Sukma begitu cemas.
"Kamu tahan para siswi dan kamu Kevin tahan para siswa, jangan sampai mereka menyakiti Stela!" teriak Dekan panik.
Mereka pun langsung bergegas begitu juga dengan dosen yang lain. Sementara Dekan, dia mengamankan para siswa yang sangat brutal sekali. Untung saja ada Alvin dan Diego yang menahan mereka supaya tidak menyakiti Ella. Namun tetap saja karena mereka terlalu banyak, Alvin dan Diego terseret.
Sementara itu, Ella tidak dapat berkutik maupun melawan karena ini di area kampus. Tidak mungkin dia melawan para siswa/siswi itu. Bisa-bisa mereka tepar karena sekali tendangan.
"Awh, stop woy!" teriak Ella kala mereka terus melempari nya dengan botol bekas dan juga sampah.
"Anjir! Sakit bego!" Ella menepis benda yang melukai tangannya sampai tergores dan mengeluarkan darah.
"Ngelawan, mereka mati. Nggak ngelawan gue yang mati. Anjer, delima gue." pekik Ella.
"Rasain lo! Makannya jadi cewek jangan murahan!" Misya kini sudah berada di hadapan Ella dengan siswi yang lain. Mereka siap menyerang Ella.
"Ck, gue mahal tau. Kalo murah pasti di jual di pasar loak." Ella mengambil ancang-ancang sembari membaca pergerakan Misya.
"Serang jal*ng ini guys!" teriak Misya.
"Stop! Apa-apaan ini?" teriak seseorang dengan begitu menggelegar dan juga raut wajah yang sudah di liputi amarah membuat suasana yang tadinya riuh mendadak mencekam.
Butuh kopi nih mau lanjutin lagi nya, soalnya ngantuk ayo dong kirim buat otor imut iniππ
__ADS_1
"