
Ray berjalan dengan tergesa memasuki area kampus, tadi dia berpikir sang istri akan menyusulnya ke kamar karna dia ingin bermanja sebentar, tapi nyatanya istrinya itu malah berangkat terlebih dahulu.
Di koridor dia melewati kerumunan mahasiswa yang tengah berbincang, Ray tidak peduli dengan apa yang mereka perbincangkan tapi saat samar-samar dia mendengar nama sang istri disebut dia pun langsung saja menghentikan langkahnya.
"Lo liat gak tadi si Stela?"tanya mahasiswa A.
"Iya liat, dia cantik banget ya. Body nya beuh lebih indah daripada gitar sepanyol."Jawab mahasiswa B.
"Bener-bener kayak bidadari ya dia, gue jadi pengen milikin tu cewek."ucap mahasiswa C.
"Jangan ngimpi, gue yang bakalan dapetin Stela cantik, imut seksi cetar membahana pokonya."
"Kita liat aja, siapa yang bakal dapetin Stela."
"Kita harus bersaing secara sehat bro."
"Gue setuju."
Ray masih mendengarkan perbincangan mereka dengan hati yang bergemuruh.
"Yang mereka omongin beneran Stela istri gue kan?"gumam Ray seraya melangkah menuju kedalam kelas Ella tanpa pergi ke ruangannya terlebih dahulu.
Ray melangkah dengan cepat, dia ingin melihat penampilan sang istri mengapa para mahasiswa tadi begitu memuji dan mendambakannya.
"Loh, kak Ray udah dateng? kenapa langsung kesini? bukannya jam pelajarannya lima belas minuts lagi ya?"tanya Ella tanpa sadar telah memanggil Ray kak di hadapan para mahasiswa/mahasiswi sepakultasnya.
"Hari ini jam pelajaran sengaja saya majukan. Karna saya akan ada urusan di luar."Jawab Ray dingin dengan mata yang terus menatap kearah Ella.
"pantas saja mereka begitu mengagumi istri gue, ternyata dia benar-benar cantik dan juga seksi hari ini. Ck gue gak rela lekukan tubuh dan juga paha mulusnya terekpost gue harus mempercepat jam pelajaran supaya gue bisa membawanya pulang dan memberinya pelajaran."ucap Ray dalam hati dengan mata yang terus memicing kearah Ella.
Jam pelajaran pun di mulai, Ray kali ini tidak fokus dalam mengajar karna paha mulus sang istri yang terekspost membuatnya tidak tenang, apalagi saat dia melihat tatapan nakal dari para mahasiswa yang satu pakultas dengan Ella. Mereka terlihat menatap Ella dengan lekat dan juga penuh damba.
"Fokus lah pada materi yang saya ajarkan."ucap Ray sengit pada para pria itu.
"Baik pak."
Ray sangat kesal, mengapa waktu terasa lama sekali berputar. Dia terlihat begitu prustasi kadang dia menjambak rambutnya sendiri.
"Bapak Dosen sehatkan?"tanya Ella.
"Ya, saya sehat. Memangnya kenapa?"Ray menatap Ella dengan tatapan begitu tajam.
__ADS_1
"Aku pikir bapak Dosen sakit kepala, makannya dari tadi ngejambak rambut sendiri."ujar Ella.
"Cepat selesaikan tugasmu."ketus Ray.
"Bapak Dosen kenapa sih? lagi pms ya? perasaan dari tadi entu muka engga bersahabat banget."Mulut lemes itu masih saja nyerocos.
"Stela, kamu bisa diam tidak? cepat selesaikan tugas mu jangan mengoceh saja."geram Ray.
"Akunya dari tadi diam kok bapak Dosen, akunya juga enggak ngoceh, aku hanya bertanya saja, apakah itu salah."Jawab Ella tanpa rasa takut.
"Sudah kan bertanya nya? sekarang cepat kerjakan tugas mu Stela."tegas Ray.
"Iya bapak Dosen, jangan marah-marah mulu dong nanti cepet tua, mukanya keriput rambutnya ber uban loh mau."ledek Ella.
Ray tidak menanggapi ocehan Ella, dia langsung saja duduk di kursinya kemudian dia memeriksa soal yang telah di kerjakan oleh para mahasiswa/mahasiswinya kemarin.
"Ell, kamu kok berani banget sih ngelawan pak Ray. Kamu gak liat tadi mukanya pak Ray serem banget ih."bisik Siska yang kebetulan duduk disebelah Ella.
"Gak tuh, biasa aja."Jawab Ella.
"Top banget deh lo Ell, baru elo doang yang berani ngelawan Dosen dingin itu."bisik Viky yang duduk di belakang Ella.
Ray yang melihatnya pun menjadi semakin marah, karna posisi Viky berbisik sangat tepat di telinga Ella dan menurut Ray itu terlihat sangat intim sekali.
"Masa lima menit lagi sih pak. Ini masih banyak loh."protes mereka.
"Empat menit, lima puluh delapan detik lagi."
Mereka pun buru-buru mengerjakan tugas dari Ray dengan tergesa dan juga panik.
"Kejem amat sih pak Ray."ucap mereka.
"Waktu selesai, sekarang kumpulkan."ucap Ray.
Mereka pun mengumpulkannya kedepan, saat giliran Ella, dia mengumpulkan tugasnya dengan wajah yang begitu kesal.
"Ah, pulpen aku jatuh pak."ucap Ella saat dirinya berada di dekat meja Ray dan dia menjatuhkan pulpen itu tepat di dekat kursi Ray.
Ella melangkah mendekat kearah kursi Ray untuk mengambil pulpennya.
"Uhh."pekik Ray saat sepatu lancip Ella menginjak kakinya dengan begitu keras.
__ADS_1
"Bapak Dosen kenapa?"tanya Ella dengan wajah polosnya.
"Tidak papa."Ray menjawab sembari menahan sakit di kakinya yang kini berdenyut.
Ella pun berjongkok untuk mengambil bolpointnya.
"Bagaimana rasanya bapak Dosen kejam? sakit tidak?"bisik Ella saat dirinya hendak berdiri kembali.
"Pulpennya udah ketemu nih, permisi ya bapak Dosen."Ella melangkah kembali untuk duduk di kursinya meninggalkan Ray yang mukanya memerah menahan kesal.
"Apa yang kamu lakukan padanya?"bisik Siska.
"Hanya memberinya sedikit pelajaran."Jawab Ella santai.
"Pelajaran hari ini telah usai sampai disini."ucap Ray.
"Dan untuk kamu Stela, kamu ikut keruangan saya."Ray menatap tajam kearah Ella.
"Ok."Jawab Ella acuh.
Ella pun melangkah mengikuti Ray untuk menuju keruangannya. Di sepanjang perjalanan para mahasiswa menatap kearah Ella dengan tatapan penuh damba, tak hanya itu mereka juga secara terang-terangan menggoda Ella, ada yang menggombalinya ada juga yang meminta nomor ponselnya. Tapi Ella tidak menanggapinya dia hanya acuh sembari terus berjalan mengikuti Ray. Berbeda dengan Ray, kini hatinya semakin bergemuruh, rasa marah cemburu bercampur menjadi satu. Ingin rasanya dia mengurung Ella agar tidak ada satu pria pun yang menatap istrinya.
"Loh kok keparkiran sih?"Ella tidak sadar bahwa ia telah mengikuti Ray ke parkiran bukan ke ruangannya.
"Masuk."dingin Ray sembari membuka pintu mobilnya.
"Iya iya. Kak Ray kenapa sih? dari tadi marah-marah mulu, jangan-jangan bener nih kak Ray lagi pms ya?"ucap Ella.
Ray tidak menanggapi ocehan Ella, dia langsung saja masuk kedalam mobil setelah menutup pintu yang berada di sebelah Ella. Ray melajukan mobilnya dengan begitu kencang tapi Ella tidak takut, dia sudah biasa dengan yang namanya kebut-kebutan.
Tak ada satupun obrolan yang keluar dari mulut mereka, Ella malas sekali untuk bicara pada suaminya yang sedang dalam mode kulkas berjalan dia malah asik dengan game kesukaannya yaitu cacing warna-warni, sedangkan Ray dia terlalu di liputi oleh rasa cemburu sehingga membuatnya malas untuk bicara pada sang istri yang tidak mengerti perasaannya.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan.
"Ngapain kita ke apartemen?"tanya Ella karna Ray membawanya ke apartemen miliknya.
"Kakak ingin memberi hukuman padamu yang telah berani mengekspost apa yang telah menjadi milik kakak, sehingga membuat mata nakal mereka jelalatan. Ingat ini, ini dan ini semua hanya milik kakak, tidak boleh ada yang menatapnya selain kakak."ucap Ray dengan penuh penekanan sembari menunjuk bagian tubuh Ella yang terekspost.
"Oow, berudu siap-siap ya. Bakal ada gempa dasyat lagi inimah. Pegangan yang kuat ya, nanti kamu kejedot."lirih Ella dengan menatap Ray yang matanya sudah di penuhi kabut gairah.
Tripel up, mana nih jempolnya tap dong 😘😘😘😘
__ADS_1
Comen juga jangan lupa, sama Vote ya💕💕💕💕