Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
pendekatan Rendi


__ADS_3

Mon maaf, bocil skip aja ya. Takut kena mental🤭🤗


Happy Reading😘


Begitu sampai di dalam kamar, Ray langsung mengunci pintu setelah menurunkan istrinya. Setelah itu dia langsung menarik Ella ke dalam pelukannya.


Ah!


Suara merdu Ella lolos begitu saja dari mulut mungilnya kala Ray mulai menyerangnya dengan begitu beringas. Dia memagut bibir Ella, dengan tangan ramahnya (rajin menjamah) yang mulai menyusuri bagian-bagian tertentu.


"Em, kak Ray.... Heuh!" Leguh Ella saat Ray memainkan puncak gunung nya.


Ray mulai membuka satu persatu kain yang Ella kenakan sampai tanggal semua tanpa tersisa dengan posisi yang masih berdiri.


"Kamu semakin seksi, Sayang." Ray menatap tubuh Ella dengan kilatan gairah yang membara.


"Jangan natap gitu..." Ella langsung menutup bagian sensitif nya dengan kedua tangannya.


"Kenapa, hm?" Ray mulai mengecupi leher jenjang Ella.


"Aku, ah. Ma-lu, euh!" Ella meleguh kenikmatan.


"Seperti pengantin baru aja kamu." Ray mengangkat tubuh Ella, kemudian dia mendudukannya di meja riah.


Emh!


Ray kembali mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Ella, dia memagut bibir itu dengan lembut yang semakin lama semakin panas. Mereka saling bertukar saliva dengan hasrat yang sama-sama menggebu.


"Shett, ahh. Kak Ray." Ella menggelinjang kenikmatan saat lidah Ray bermain di puncak gunung nya.


Ray mel*mat dan juga memberikan gigitan kecil pada puncak gunung Ella, sehingga membuat Ella semakin terbakar gairah, tubuhnya semakin memanas.


"A-ku udah gak kuat, kak Ray. A-yok. Ah!" Pintar Ella yang sudah tidak tahan lagi.


"Ayok apa, Sayang?" goda Ray yang sejenak menghentikan aktivitas nya.


"Ih, kak Ray...." Cemberut Ella yang langsung menyilangkan tangannya di dada.


"Kenapa di tutup?" Ray meraih kedua tangan Ella.


"Males ah... Kak Ray, gitu..."


"Gitu kenapa, hm?" Ray menatap wajah Ella yang nampak begitu kesal.


"Au ah, aku sebel." Kini wajah berkabut gairah ituh berubah seketika menjadi murah.


"Hey, mau kemana?" Ray menahan tubuh Ella yang hendak turun.


"Pulang!" Ketua Ella.


"Sayangnya kakak ngambek, ceritanya."


"A..."


Ray kembali membungkam mulut Ella yang mengerucut itu, dia menyerang kembali istrinya dengan gerakan lembut yang semakin lama semakin beringas. Dia, menyusuri seluruh kulit tubuh Ella dengan menggunakan lidahnya sehingga membuat Ella blingsatan. Apa lagi tangan ramah Ray kini bermain di area guanya, tangan itu bermain lembut di sana memberi kenikmatan tiada tara untuk Ella.


Ah!


Desah kecil keluar dari mulut Ella, dia sampai memejamkan mata saking nikmatnya permainan dosen muda itu. "Eugh, kak.. Ayok, eugh." Ella mengerang, dia ingin segera mencapai puncak.


"Ma-sukin, euh. A-ku udah gak tahan. Ah!" ucap Ella terbata-bata, tiada lagi rasa malu saat dia mengungkapkan itu, karena rasa malunya terkalahkan oleh hasratnya yang sudah memuncak.


"Baiklah, Sayang. Kamu yang minta, hm.." Ray yang sudah menanggalkan pakaian nya pun segera mengambil posisi.


"Tunggu dulu..." Cegah Ella saat Ray sudah siap dalam posisinya.


"Kenapa?" tanya Ray heran.

__ADS_1


"Jangan di sini, nanti mejanya patah. Kalo akunya nyungseb gimana? Kan tenaga kak Ray kayak kuda," jawab Ella.


"Huhh, ok. Kita pindah." Menghela napas panjang, kemudian mengangkat tubuh sang istri menuju Ranjang.


Ray mendudukan tubuhnya di tepi ranjang dengan Ella berada di pangkuannya, mereka kini saling berhadapan dengan napas satu sama lain yang memburu.


"Kamu yang bergerak ya, Sayang," pinta Ray yang menentang kan sedikit tubuhnyak ke belakang.


"Ok, siapa takut." Ella tersenyum menyeringai.


Ella mengalungkan tangannya di leher Ray, kemudian dia mulai menggerakan pinggulnya secara perlahan yang semakin lama semakin cepat.


"Emhh, kamu sudah jago sekarang. Euh!" Ray begitu menikmati permainan Ella.


"Iya dong, kan biar kak Ray puas dan gak tergoda sama si Citel rombeng," ucap Ella.


Melihat istrinya mulai kesal, mungkin karena teringat Zela. Ray pun segera membungkam bibir Ella, menciumnya dengan panas dan juga bringas sampai Ella kewalahan mengimbangi ciuman itu.


"Huh, aku eungap kak Ray." Ella mendorong Ray.


"Napas Sayang," ucap Ray dengan suara seraknya.


"Ini juga napas, kalo nggak napas mati dong." Kesal Ella.


"Ah! Kak Ray, euhhh!"


Ella meleguh kala Ray menciumi leher jenjangnya, menghis*pnya dengan penuh gairah, meninggalkan begitu banyak tanda kepemilikan di sana. Tak hanya sampai di situ, Ray jug menjelajahi dada Ella, dia memberi banyak stempel bertebaran di sana. Bermain-main dengan puncak gunung yang sudah mengeras dengan mulutnya, dia menjilat dan juga menggigitnya kecil membuat Ella semakin terangsangg.


"Eughh, Kak Ray." Ella merasa sudah tidak kuat.


Ray pun membaringkan Ella di ranjang, kemudian dia mengambil alih permainan, dia menghujami gua Ella dengan tempo yang begitu cepat, sehingga Ella menggelinjang dengan suara desah merdu yang tak dapat dia kontrol. Dia terus meleguh, menikmati hujaman Ray.


"Aku mau ke-luar, ahh!" erang Ella.


"Kita sama-sama, em. Okey." Ray semakin mempercepat tempo nya.


"Ahhh! Shett. Eughhh!"


Tubuh mereka memanas, bergetar hebat secara bersamaan kala cairan kenikmatan menyeruak dari inti masing-masing. Saling memeluk erat, seakan tak mau lepas dari kenikmatan itu.


********************


"Kamu pulang sama siapa?" Rendi sedang melakukan pendekatan pada Kiana, rupanya dia sangat tertarik pada gadis polos itu.


"Sama Diego dan Alvin," jawab Kiana jujur.


"Kamu mau aku anter gak?" tawar Rendi.


"Gak usah, kan ada mereka berdua," tunjuknya pada Alvin dan Diego yang sedang berkumpul dengan Ragil dan juga David.


"Sepertinya mereka pulangnya masih lama," ucap Rendi.


"Iyakah? Tapi ini udah malem," ujar Kiana.


"Hm, coba tanya aja mereka," usul Rendi.


Kiana pun mengangguk, kemudian dia berjalan menghampiri dua sahabatnya. "Kalian pulangnya masih lama, ya?" tanya Kiana saat sudah berada di hadapan mereka.


"Iya Ki, sepertinya kita pulangnya larut. Kita ada urusan," jawab Diego.


"Terus aku gimana?" Kelas Kiana.


"Mau gue pesenin taksi onlen?" tawar Alvin.


"Gak usah, biar gue aja yang nganterin," Sahut Rendi yang berada di belakang Kiana, rupanya dia menyusul.


"Ide bagus, lo pulang sama Bang Rendi aja, lebih aman," ujar Alvin.

__ADS_1


"Sama buaya kok aman, yang ada temen lo di mangsa," Cibir David.


"Ni orang, dari tadi nimbrung mulu. Gak ada kerjaan lain apa?" Sewot Rendi.


"Kerjaan gue ya itu, ngerecokin orang."


"Dasar aneh," Cibir Ragil.


"Kayak lo gak pernah aja."


"Kapan gue recokin orang, gak guna tau gak."


"Yuk, Ki. Aku anterin pulang. Gak baik lama-lama di sini, kamu bisa tertular virus gila," ajak Rendi.


"Emang ada ya, virus gila?" tanya Kiana polos.


"Itu, buktinya mereka terkena virus gila," jawab Rendi.


"Terus kenapa gak di isolasi, kenapa di biarin berkeliaran?" tanya Kiana lagi.


"Di pikir hewan apa berkeliaran?" Delik David.


"Nanti di isolasi di kandang macan, yuk ah pulang." Rendi menarik tangan Kiana.


"Jangan pegang tangan aku!" Kiana langsung menepis tangan Rendi.


"Kenapa? Aku kan cuma megang tangan doang gak macem-macem." Rendi menatap ke arah Kiana.


"Kak Rendi kan temennya mereka, jadi aku gak mau di pegang. Takutnya kak Rendi tertular virus gila juga," Jawab Kiana.


"Huhhh." Rendi menghela napas sepenuh dada, rupanya ucapan dia menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


"Makanya Neng, jaga jarak dari tu orang. Takutnya lo tertular," ucap David mengompori.


"Diem lu, Setan!"


Akhirnya Rendi mengantar pulang Kiana dengan posisi berjauhan, bahkan Kiana memilih duduk di kursi belakang. Dia tidak mau duduk di depan karena takut tertular Rendi.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di alamat yang di sebutkan oleh Kiana. "Tulis nomor kamu di sini." Rendi menyerahkan ponsel nya pada Kiana yang sudah turun dan berdiri di luar mobil, tepatnya di samping Rendi.


"Nomor HP?" tanya Kiana.


"Iyalah, masa iya nomor togel," Kelakar Rendi.


"Ih, kak Rendi suka main judi ya? Gak boleh tau kak, judi itu dosa," ucap Kiana.


"Siapa juga yang suka main judi?" Rendi nampaknya mulai kesal.


"Itu tadi nyebut nomor togel."


"Gue bercanda, Ki. Lu tau bercanda gak sih?" geram Rendi.


"Kenapa kak Rendi marah-marah? Aku salah apa coba?" Cemberut Kiana.


"Lo gak salah, gue yang salah."


"Terus kenapa gak minta maaf? Orang salah itu harus minta maaf."


"Dah lah, lo mau ngasih nomor gak si? Kesel gue." Dumel Rendi.


"Minta maaf dulu, katanya kak Rendi salah."


"Astaga! Ok gue minta maaf ya," ucap Rendi.


"Eh bentar, emangnya kak Rendi salah apa?" tanya Kiana heran.


"Au, ah. Gue balik dah sebelum gue kena virus gila beneran." Rendi mengambil ponselnya dari tangan Kiana kemudian dia berlalu pergi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Katanya mau minta nomor? Kok gak jadi? Aneh. Apa emang dia maunya nomor togel?" gumam Kiana.


Jangan lupa tinggalkan jejak biar otornya semangat up😘😘😘


__ADS_2