
"Eh, bapak dosen." Ella melirik orang yang berbicara di belakangnya.
"Ngapain disini, bapak dosen?" tanya Ella.
"Ikut, saya," ucap Ray dingin.
"Gak mau, ah. Ngapain coba ikut sama bapak dosen? mendingan disini makan bakso." Ella nampak acuh dan kembali memakan bakso yang di pesan Kiana.
"Ayok ikut, atau mau saya gendong, hm?" ucap Ray lembut tapi penuh penekanan.
"Maaf, Pak. Lala nya lagi makan. Kalau bapak ada keperluan biar saya aja, kan kita sepakultas," sahut Diego menyelah.
"Saya tidak ada urusan sama kamu," ujar Ray dingin.
"Gogo, nama aku Stela, ih. Bukan Lala dan nama panggilannya, Ella," ucap Ella mengoreksi.
"Terserah gue dong mau manggil lo apa, kan lo juga manggil gue sesuka hati lo," ujar Diego.
"Au, ah," kesal Ella.
"Jangan cemberut gitu dong, jelek tau. Senyum dong, biar teh tawar yang gue minum ini terasa manis," ucap Diego bercanda.
"Basi," Alvin yang menjawab.
"Apa bicara itu mahal, ya? sampe-sampe kulkas berjalan ini irit banget bicaranya." Ella menatap Alvin sekilas.
"Hm," hanya itu yang keluar dari mulut Alvin.
"Stela!" Panggil Ray dengan nada yang kesal.
"Ais, bapak dosen masih disini rupanya. Aku pikir udah pergi," cengir Ella.
"Ayo cepat ikut," ajak Ray dingin.
"Astaga, bisa beku akunya kalo gini terus. Di depan kulkas berjalan. Di belakang es balok. Ck, besok-besok kudu bawa kompor ini biar mereka menghangat," gerutu Ella sembari melirik Alvin dan juga Ray.
"Stela!" panggil Ray lagi.
"Iya bapak dosen bentar, ini sayang tau basonya sebiji lagi. Kesianan kalo gak di makan bisa nangis," ucap Ella setelah itu dia langsung memasukan satu baso berukuran sedang kedalam mulutnya.
"Uwah, yuk." Ella bangkit dengan mulut yang masih mengunyah.
"Eh, bentar belum bayar." Ella yang hendak melangkah pun menoleh kebelakang kembali.
__ADS_1
"Biar gue aja yang bayar, Ell," ucap Diego.
"Ma..."
"Gak usah, biar saya yang bayar." Ray menaruh sepuluh lembar uang merah di dekat mangkok baso bekas Ella.
"Ini kebanyakan, Pak. Baksonya sepuluh ribu bukan satu juta," ucap Kiana yang sedari tadi diam saja.
"Kamu ambil saja kalau kebanyakan," ujar Ray dingin sembari berlalu pergi dengan menarik tangan Ella.
"Mereka itu ada hubungan apa sih?" tanya Kiana penasaran.
"Mana gue tau, emang gue bapaknya," ketus Diego.
"Cih, giliran sama Ella aja ramah. Sedangkan sama gue? ketus banget lo, Gogolo," cebik Kiana.
"Hm,"
"Astaga, bener kata Ella. Besok gue kudu bawa kompor biar ni dua patung es cair," gerutu Kiana yang melihat sikap Diego yang berubah dingin sama seperti Alvin.
****************************
Sedangkan Ella, dia kini sudah berada di ruangan Ray. Dia tengah duduk di sopa dengan santainya tanpa mempedulikan tatapan mengintimidasi dari Ray.
"Lalala, dududu. Serasa jadi terdakwa gue," gumam Ella dengan mata yang memicing untuk melihat Ray yang masih dengan posisi yang sama, yaitu berdiri tegak dengan mata yang tak lepas dari Ella.
"Bapak doseenn, ngomong dong. Akunya kesel tau di kacangin. Kacang kan murah, jangan ngacangin mulu napa bapak dosen," ucap Ella sembari membalas tatapan Ray yang masih tidak bergeming.
"Isst, ngapain coba di tarik kesini kalo dianya mau jadi patung? mana mukanya datar lagi kayak dada si ulet keket," cebik Ella.
"Heloowww! Bapak dosen! gak pegel apa tu kaki berdiri mulu? itu juga muka kesian di tekuk entar kusut, kriput kayak belalay pas bobo." Ella bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Ray.
"Kak Ray..." pada akhirnya Ella kembali ke panggilan biasa.
"Ngomong dong, nanti jadi patung beneran gimana? akunya kan gak mau jadi jamu. Entar gak ada yang peyuk-peyuk. Cium-cium sama nganu-nganuin aku." tangan nakal Ella mulai menyusuri dada bidang Ray.
Ella mengelus pelan dada bidang itu kemudian dia membuka satu kancing kemeja Ray dan menyelusupkan tangannya untuk mencari tombol kecil mainan kesukaannya. Tak hanya sampai disitu, Ella juga mengelus erotiis rahang tegas Ray sehingga membuat si empunya tubuh memanas.
Cup! Ella mengecup bibir Ray dengan lembut. "Wow, belalainya bangun!" pekik Ella.
"Hay belalai? gimana bobonya nyenyak? ututu, udah bangun aja, mau berjelajah ya? hooh. Tapi kesianan guanya masih di perboden. Sekarang bobo aja, lagi ya." Ella mengelus lembut belalai Ray kemudian dia melangkah hendak keluar dari ruangan Ray.
"Sayang!"
__ADS_1
"Akhirnya latihan jadi patungnya selesai juga, udah berhasil kah?" Ella berbalik menatap Ray.
"Eits, mau apa?" Ella langsung menghindar ketika Ray mendekatinya.
"Dia sudah bangun, kamu yang sudah memancingnya, Sayang," ucap Ray sembari menunjuk ke arah si Bonar yang sudah berdiri tegak.
"Biarin aja, biar dia latihan jadi patung yang berdiri tegak kayak yang punya," ketus Ella sembari melangkah pergi.
"Terus ini gimana, Sayang?"melas Ray.
" Biarin aja, siapa suruh ngacangin aku. Ella di lawan."Ella pergi meninggalkan ruangan Ray dengan raut wajah kesal.
Ketika berada di halaman kampus, dia tersadar jika dia tidak membawa mobil. Akhirnya dia pun memutuskan untuk memesan ojek online saja supaya cepat sampai di rumah karena dadanya sudah terasa berat dan berdenyut, mungkin air asinya sudah banyak makannya dadanya terasa sakit.
Setelah sampai di rumah, Ella pun buru-buru masuk kedalam kamar twins dan langsung menyusuinya. "Ah, lega," ucap Ella yang kini tengah menyusui Zura di dada kirinya karena Zam tadi sudah menyusu di dada kanannya.
"Gimana, Ell. Hari pertama kamu kuliah lagi? apa saja yang kamu lakuin?" tanya Wina.
"Ya, gitu lah, Mam. Cuma belajar, makan di kantin dan liatin orang belajar jadi patung," ujar Ella.
"Emang ada orang yang belajar jadi patung? aneh-aneh aja." Wina tampak menggeleng.
"Ada, Mam. Emang dia tuh aneh, nyebelin lagi," ucap Ella sembari menidurkan Zura di samping Zam yang sudah tertidur pulas.
"Eh, saling berhadapan mereka. Lucu banget sih," gumam Ella gemas.
"Kalo nyebelin jangan di deketin, ntar bikin kamu darah tinggi." Wina menyenderkan punggungnya ke sofa.
"Asiapp, aku ke kamar dulu ya, Mam." Ella melangkah masuk kedalam kamarnya lewat pintu penghubung setelah dia puas menatap twins.
Sampai di kamar, Ella langsung saja mandi karena tubuhnya sudah terasa lengket. Setelah selesai mandi dia pun segera berganti pakaian dengan mengenakan hotpants setengah paha dan juga kaos putih ketat yang menampilkan lekuk tubuhnya.
"Astaga, kenapa aku tinggalin kak Ray di kampus dengan kondisi sepeti itu," ucap Ella sembari menatap dirinya di cermin.
Pikirannya sudah berkelana, dia membayangkan yang tidak-tidak tentang suaminya. Bagaimana jika dia mencari pelampiasan? bagaimana jika dia menyentuh wanita lain? ulet keket. Seketika nama itu membuatnya gelisah.
"Gawat! ini gak bisa di biarin!" Ella bangkit dari duduknya dan hendak berbalik untuk melangkah keluar.
"Apanya yang gawat, Sayang?" tanya Ray yang ternyata sudah bersandar di tembok kamar mereka.
"Em... Itu, apa ya." Ella terlihat gugup saat di tatap oleh Ray.
__ADS_1
"Eh, kok kak Ray udah ganti baju, sih?" Ella menatap Ray curiga karena tadi Ray mengenakan setelan khas dosennya.