
Seminggu berlalu dengan begitu cepat, begitu juga Dalina yang kesehatannya mulai berangsur pulih. Baby Sasa juga mulai berisi dengan pipi yang gembul, sepertinya dia ingin menyaingi pipi gembulnya twins. Kehadiran Baby Sasa membuat Wina senang bukan main, pasalnya dia bisa menguasai twins tanpa harus berebut lagi dengan Rina, karena kini fokus Rina teralihkan kepada Baby Sasa.
"Mam, aku berangkat, ya." Ella menyalami tangan mertuanya.
"Hati-hati, Ell," ucap Wina.
"Iya, Mam." Ella berjalan keluar dari rumah.
Dia pergi ke kampus dengan membawa mobil sendiri, pasalnya Ray pagi-pagi sudah pergi karena ada urusan kantor. Yups, saat ini tugas Ray bukan hanya di kampus, melainkan juga di kantor, mengurus perusahaan besar Wardana. Dia pergi ke kampus hanya sesekali saja, toh sudah ada Sukma yang menggantikannya.
"Itu kayak, Dela," gumam Ella saat dia di tengah perjalanan menuju kampus.
"Iya, itu bener Dela. Ngapain dia di sini?" Ella menghentikan mobilnya tepat di samping Dela yang tengah berdiri di pinggir jalan.
"Del!" panggil Ella sedikit berteriak.
"Loh, Ella. Ngapain kamu di sini?" Dela menoleh.
"Justru kamu yang ngapain di sini? Mana berdiri di pinggir jalan lagi. Mau beralih profesi jadi polantas?"
"Em, itu, Ell. Aku lagi nungguin angkot lewat." Dela nampak tersenyum kaku.
"Nungguin angkot? Di sini? Emangnya kamu mau kemana?" tanya Ella penasaran.
"Itu, aku mau ke rumah lamaku, Ell. Mau ngambil barang yang ketinggalan," ujar Dela.
"Terus, kamu nggak masuk kuliah hari ini?"
"Kayaknya enggak deh, Ell."
"Nanti ketinggalan materi, Busuk loh, Del. Kamu tau kan dia gimana, salah sedikit aja ngamuknya kek banteng mau bertelor," ucap Ella.
"Nggak pa-pa deh, Ell. Aku udah biasa kena omelah, Bu Sukma. Ya udah, kamu berangkat gih, nanti telat lagi."
"Yakin nggak mau kuliah? Mending kuliah dulu, Del. Ntar ngambil barangnya sama aku pas udah pulang kuliah," tawar Ella.
"Nggak, Ell. Aku mau ambil sekarang aja," tolak Dela.
"Ya udah deh, aku anterin aja yuk?"
"Nggak usah, Ell. Aku bisa sendiri. Mendingan kamu berangkat aja, nanti telat."
"Em, ok deh. Aku berangkat ya." Ella melajukan kembali mobil yang sedang di kendarai nya.
Bebera saat kemudian, Ella telah sampai di pelataran kampus. Dia langsung turun dari mobil kemudian berjalan memasuki gedung kampus. Saat dia berjalan melewati para siswi yang sedang bercengkrama. Sama-sama Ella mendengar namanya di sebut-sebut. Apakah dirinya menjadi topik pembicaraan? Namun Ella hanya acuh dan berlalu pergi melewati mereka begitu saja.
"Tumben lo rajin, Ki. Jam segini udah ada di kampus." Ella mendudukan tubuhnya di kursi yang biasa dia tempati dengan atensi yang menatap ke arah Kiana.
"Takut kena semprot, Bu Sukma dia, Ell." Diego yang menjawab.
"Apaan sih, enggak lah. Aku lagi pengen datang pagi aja, lagian di rumah bosen nggak ada kegiatan," ujar Kiana.
__ADS_1
"Btw lo udah baikan sama, Abang lo?" tanya Ella.
"Udah, kita udah damai kayak adek kakak pada umumnya," jawab Kiana.
"Syukurlah, gue turut seneng, Ki."
"Waktu itu gue liat lo di bioskop sama cowok, itu abang lo ya, Ki. Soalnya gue nggak liat wajahnya, karena dia pake masker dan juga kaca mata," celetuk Alvin.
"Em, ah waktu itu, ya? I-ya, dia abang aku," jawab Kiana.
"Kalian deket banget ya sekarang, sampe rangkulan gitu. Lo juga kayaknya nyaman banget sama dia, apa lagi pas dia gandeng tangan lo." Alvin kembali berbicara.
"Kamu buntutin aku ya, Vin? Kok kamu sampe tau sedetail itu?" tuduh Kiana.
"Ngapain juga buntutin lo, kayak nggak ada kerjaan lain aja. Gue cuma ngucapin apa yang gue laiat secara nggak sengaja," tutur Alvin.
"Lagian nggak pa-pa kali, Ki. Kalo elo deket sama abang lo. Itu malahan bagus daripada musuhan, gue juga dulu gitu sama Bangsat sebelum aku nikah, kita selalu jalan bareng, nonton bareng. Sampe orang ngira ngira kita itu pasangan kekasih," ujar Ella.
"Asal jangan Abang-abangan aja," celetuk Alvin.
"Maksud kamu?" Kina langsung menatap ke arah Alvin.
"Maksud gue asal jangan abang angkat aja, nanti lo baper. Tapi kan kalian masih satu ayah meski beda ibu, jadi aman lah," ujar Alvin.
"Oh, iya lah. Mana mungkin aku baper sama abang sendiri."
"Ekhem, ngomong-ngomong kulkas lagi rusak ya, Vin?" Ella menatap Alvin.
"Lagi konslet kali, Ell," sahut Diego.
"Pantesan."
"Kalian ngomongin apa si?" Bingung Alvin.
"Kulkas rusak!" jawab Ella dan Diego secara bersamaan.
"Aku nggak nyangka, Ell. Ternyata kamu nggak sepolos yang kami kira," ucap salah satu siswi yang baru saja memasuki ruangan.
"Iya, kami pikir kamu perempuan baik-baik. Ternyata kamu cuma perempuan munafik," tambah siswi yang satunya lagi.
"Kalian ngomon apa sih?" Ella menatap heran dua mahasiswi itu.
"Jangan pura-pura nggak tau deh, Ell. Kami semua udah tau siapa kamu. Jujur, kami kecewa sama kamu!"
"Ternyata kamu nggak lebih dari seorang, jal*ng!"
Kedua siswi itu pun berlalu pergi dan duduk di kursi mereka masing-masing.
"Maksud mereka apa ya, Ell?" Alvin bersuara.
"Entahlah, gue juga bingung."
__ADS_1
"Ini pasti ada gosip yang nggak bener nih, Ell. Pantes aja tadi di depan pada berkerumun. Rupanya lagi gosipin kamu karena nama kamu di sebut-sebut," ujar Kiana.
"Ya, gue juga denger sih pas cewek-cewek nyebut-nyebut nama lo. Gue kira hanya ngobrol biasa, karena gue dengernya samar-samar," timpal Diego.
"Kita harus cari tau, pasti ada yang nggak beres," ucap Alvin.
"Nggak perlu, biar gue aja," cegah Ella.
"Lo yakin bisa sendiri? Biar kita bantuin ya," ucap Diego.
"Nggak usah, Go. Gue bisa atasin ini sendiri."
"Tapi kalau ada apa-apa kasih tau kita, ya." kiana menatap Ella penuh kecemasan.
"Iya, kalian tenang aja. Ini bukan lah perkara sulit bagi gue."
Tak lama kemudian Bu Sukma pun datang, mereka langsung terdiam dan mengikuti pembelajaran Sukma.
Satu jam berlalu, matkul sudah selesai. Ella dkk pun berjalan keluar menuju perpus mencari refrensi buku yang bagus untuk matkul besok.
Di tengah perjalanan, banyak sekali siswi yang menatap sinis ke arah Ella. Tak hanya itu, mereka juga berbisik dengan badan bergidik seolah Ella adalah hal yang menjijikan.
"Gue tau, gue cantik. Tapi nggak usah gitu juga natap nya, ntar mata kalian copot ngegelinding kayak bola bekel," ucap Ella saat melewati kerumunan siswi yang sedang memperbincangkannya.
"Percuma cantik, kalo kelakuan busuk." Cibir salah satu siswi.
"Kelakuan gue nggak busuk kok, karena udah di kulkas jadi awet," kelakar Ella.
"Udah ketauan masih aja ngeles, dasar jal*ng! Pandai sekali bersilat lidah!" Cibir siswi berambut pirang.
"Bukan hanya bersilat lidah, tapi dia pandai berbelit lidah," timpal siswi berambut sebahu.
"Iyalah, kan dia jal*ng. Apapun pasti pandai, termasuk berbelit... Ya, kalian taulah!"
"Maksud kalian apa?!" bentak Ella emosi.
"Wiss, jal*angnya ngamuk nih!" ejek mereka.
"Atas dasar apa kalian nuduh gue kayak gitu? Punya bukti nggak? Inget jangan asal kalau bicara, gue bis aja nuntut kalian dengan pencemaran nama baik!" murka Ella.
"Heloww! Kita nggak sembarangan nuduh, semua orang udah tau ke busukan lo. Dasar wanita penggoda!"
"Jangan asal ya kalo ngomong! Temen aku nggak seperti itu!" bentak Kiana.
"Halah! Temen jal*ng aja di bela."
"Punya mulut di jaga dong, Mbak! Situ anak kuliahan, bukan berandalan. Ngomong kok seenak jidat, mana belum tau lagi ke benarannya. Itu sama aja fitnah. Dan kalian tau kan? Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuh. Mbak-mbaknya bisa di tuntut lo, karena hal ini." Diego angkat bicara.
"Tuntut aja, kami nggak takut. Karena kami punya bukti yang kuat. Dan liat aja, sebentar lagi kelakuan busuk ******* ini akan kami sebarkan di media sosial. Biar semua orang tau kebejatan dia." Menunjuk ke arah Ella.
Yuhhhuuu, jan lupa tap jempol. Komen and Vote, ini hari senin loh. Jangan lupa vote ya😘😘😘😘
__ADS_1