Istri Kecil Dosen Muda

Istri Kecil Dosen Muda
Undangan reuni


__ADS_3

Setelah mendapat somay dan menghabiskannya, Ella tidak menghampiri suaminya kembali yang tengah mengobrol dengan teman lamanya. Dia malah pergi menuju ke kantin untuk mencari Dela dan juga Kiana.


"Kalian belum selesai makan siang?" Ella menghampiri meja yang terdapat Dela dan juga Kiana.


"Belum, Ell. Makannya masih ngunyah." Kiana yang menjawab.


"Btw, lo udah tau si Ragil jadi aspri lakik gue?" tanya Ella pada Kiana.


"Iya, tau. Emangnya kenapa?" tanya Kiana balik.


"Berati cuma gue doang yang nggak tau," ucapnya.


"Em, abis ngantor kita Hangout yuk," ajak Ella.


"Hangout?" Dela yang bertanya.


"Iya, dah lama kita nggak pergi bareng," ujar Ella.


"Udah lama kamu bilang, yang waktu itu kita joget-joget dan berakhir jadi macan tutul bukannya pergi bareng." Cebik Dela.


"Itu 'kan ide elu, Del. Ayolah, jalan ke mall. Kita shoping," bujuk Ella.


"Nggak ngelakuin aneh-aneh lagi 'kan?" Kiana yang bertanya.


"Nggak, cuma shoping doang."


"Ok lah, tapi kamu yang traktir ya," pinta Dela.


"Bener tuh, sekali-kali di traktir istri Ceo," timpal Kiana.


"Ok, siapa takut. Kita ajak Poky juga sekalian," usul Ella.


"Boleh, biar lebih rame."


Ella berjalan kembali ke dalam ruangan divisi mengerjakan tugasnya. Sampai waktu jam kerja habis dia pun bergegas keluar untuk menemui para sahabatnya. Sebelum menemui sahabatnya, dia berpamitan kepada Ray terlebih dahulu sekaligus meminta kunci mobil.


"Let's Go, guys. Kita happy-happy," seru Ella sembari menaiki mobilnya yang di ikuti oleh ketiga sahabatnya.


Sampai di mall, mereka bergegas turun berjalan beriringan menyusuri setiap sudut mall, mencari barang-barang yang akan mereka beli. Lama mereka berputar di dalam mall, dari mulai memilih tas, sepatu, sampai setelan kerja.


"Ella," sapa seseorang yang sedang berdiri di samping Ella.


"Dodo." Ella menatap orang yang menyapanya.


"Lagi ngapain di sini?" tanya Nando basa-basi.


"Lagi nyari cebong," jawab Ella ngasal.


"Bukannya lagi milih sepatu."


"Udah tempe pake nanya lagi," ketus Ella.


"Ell, bisa nggak sih kita bersahabat kayak dulu lagi. Gue sedih ngeliat lo yang acuh kayak gini," ungkap Nando.


"Gue udah punya suami, jadi gue nggak buka lowongan sahabat cowok," ucap Ella tegas.


"Apa gue harus jadi cewek dulu supaya lo mau jadi sahabat gue lagi?" Nando menatap Ella lekat.


"Boleh, sih. Tapi bukan buat jadi sahabat gue. Tapi buat nemenin para waria yang suka ngamen di gang belakang rumah," ujar Ella.


"Oh iya, Ell. Tiga hari lagi, Anak-anak angkatan kita ngadain reuni. Lo dateng ya, ini undangan nya," ucap Nando.

__ADS_1


"Gue nggak bisa," tolak Ella.


"Lo bawa aja, siapa tau lo mau dateng. Gue tunggu." Nando meraih tangan Ella dan menyerahkan undangan itu kemudian dia berlalu pergi.


"Siapa, Ell?" tanya Kiana.


"Temen SMA gue dulu," jawab Ella.


"Itu apaan?" Menunjuk sesuatu di tangan Ella.


"Undangan reuni."


"Wih seru nih, pasti banyak cogan. Aku ikut dong," sahut Poky.


"Inget Diego, Kapok," ucap Ella.


"Ihh, apaan sih. Orang aku nggak ada apa-apa sama si Diego mah," Kesal Poky.


"Masa? Nggak percaya tuh," ledek Ella.


"Kamu mah gitu, Neng. Beneran ih, suer."


"Jadi Kapok jomblo nih sekarang?" goda Ella.


"Bisa di bilang kitu, jomblo tapi happy," jawab Poky.


"Kalau gitu, Kapok sama David aja. Dia kan juga jomblo," pancing Ella.


Seketika raut wajah Poky berubah sendu, dia yang tadinya ceria kini berubah murung. Ella bisa menangkap perubahan itu, dia juga penasaran. Apakah Poky suka sama David? Atau mungkin udah cinta gitu? Kalau iya, maka Ella akan membantu Poky memperjuangkan cintanya. Jika tidak bisa di gapai juga, maka Ella akan membuat Poky mencintai pria lain.


"Em, udah kan belanjanya teh. Kita pulang aja atuh yuk, aku teh capek. Pegel oge," ucap Poky mengalihkan pembicaraan.


Dela dan Kiana saling pandang, mereka heran dengan raut wajah Poky yang berubah seketika. Bukannya tadi dia ceria dan juga semangat saat membicarakan cowok ganteng. Tetapi mengapa setelah mendengar nama David di sebut wajahnya berubah menjadi murung.


"Markas? Markas naon?" Poky yang tidak tau menjadi bingung.


"Tempat tongkrongan." Dela yang menjawab.


"Oh kitu, aku kira apa. Ya udah atuh hayu, aku ikut juga ya," ajaknya.


"Kapok yakin mau ikut?" tanya Ella memastikan, karena dia takut Poky tidak mau bertemu dengan David begitu juga sebaliknya.


"Iya, yakin. Aku pengen tau tempat tongkrongan kalian teh seperti apa?" jawabnya yakin.


"Ok deh ayok, lo ikut juga kan, Del?"


"Ikut dong, gue pengen lanjut belajar menembak," jawabnya semangat.


"Cenah tongkrongan? Kunaon aya tembak-tembakan sagala?" heran Poky.


"Buat ngilangin jenuh, Kapok. Yodah cepetan ke kasur kita bayar, abis itu cuss otw markas." Ella berjalan mendahului.


"Kasir, Ell. Kasur itu untuk tidur," koreksi Kiana.


"Iya iya, untuk tidur dan juga main kuda-kudaan," ucap Ella asal jeplak.


Selesai membayar mereka langsung meluncur ke markas. Sampai di sana Poky hanya terbengong menatap bangunan yang ada di hadapannya dan juga suasana sekeliling bangunan itu.


"Kenapa, Kapok?" Ella membuyarkan lamunan Poky.


"Serem," lirihnya bergidig.

__ADS_1


"Ini dimana, Neng? Kenapa jauh pisan dari kota? Apa ini teh di tengah hutan?" lanjutnya.


"Hm, seperti itulah. Ayok masuk." Ella menarik tangan Poky masuk kedalam menyusul kedua sahabatnya yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Astaga ni bocah! Udah nemplok bae." Ella menggeleng saat melihat Kiana yang sudah menempel pada Ragil yang sepertinya juga baru sampai.


"Biarin, blee. Sirik aja." Kiana menyandarkan kepalanya di bahu Ragil.


"Sendiri aja lo, Gil? Si Curut kemana?" tanya Ella pada Ragil.


"Au, di tempat latihan kali," tebak Ragil.


"Aku mau ke tempat latihan menembak ya, Ell," ucap Dela.


"Yodah sono, tapi jangan godain para anggota gue ya," sahut Ella.


"Enggak lah, aku kan udah punya Aa Galang," kata Dela dengan mendelik kemudian berlalu pergi.


"Kapok mau ikut sama si Udel?" Ella menatap Poky yang matanya masih menelisik bangunan itu.


"Enggak ah, Neng. Takut aku denger suara tembakan," jawab Poky.


"Kalo gitu, ikut gue aja yuk. Daripada jadi nyamuk di sini." Ella menatap sinis pasangan yang nampak larut dalam keromantisan kemudian menarik Poky pergi.


"Hai Dave!" Ella menyapa David yang tengah berlatih dengan berteriak.


"Nggak usah teriak, Ell. Gue nggak budek." David menyaut tanpa melihat ke arah Ella.


"Kali aja lo nggak denger." Ella berjalan menghampiri David sementara Poky hanya mematung di ambang pintu ruangan tanpa mengikuti Ella.


"Tumben kemari? Ada hal penting?" tanya David yang masih fokus berlatih.


"Emangnya gue boleh kesini kalo ada hal yang penting doang gitu?" Ella mendelik.


"Sama siapa kesini?" tanya David.


"Sama si Udel, si Bucin Kia. Terus sama Kapok," jawab Ella.


"Kapok?" ulang David.


"Kak Poky."


David seketika langsung menghentikan aktivitas nya, dia menatap ke arah Ella kemudian atensinya terfokus pada seseorang yang berdiri mematung di ambang pintu.


"Ngapain dia kesini?" tanyanya kepada Ella dengan ketus.


"Kapok? Dia ikut main sama gue. Emangnya kenapa? Kok lo sewot gitu sih?" ledek Ella.


"Gue nggak suka!" sarkas David.


"Kapok sini." Ella malah memanggil Poky yang di balas anggukan.


"Ah! Kok malah di panggil?" David terlihat kesal saat Poky berjalan memdekat.


"Nggak usah kesal gitu, Dave. Kapok nggak akan ganggu lo ini, kan dia udah ada yang punya," ucap Ella.


"Maksud lo?" David seketika menatap wajah Ella dengan penuh tanya.


Jangan lupa jejak guys, maaf ya otor upnya telat dan jarang soalnya badan otor lagi nggak fit.


Otor punya rekomendasi cerita bagus untuk kalian, coba deh keopin sembari nunggu otor up. ceritanya bagus, menarik dan nggak ngebosenin. Cuss kepoin,

__ADS_1




__ADS_2